Mengkhawatirkan
Abrasi
Pantai di Indonesia
Jakarta (Bali Post) -
Abrasi
pantai Indonesia
saat
ini dinilai
sudah
mencapai tingkat
mengkhawatirkan.
Lebih
dari 30 ribu
kilometer pantai,
atau
sekitar 40 persen
dari 80
ribu kilometer bibir
pantai
rusak akibat
abrasi.
Kondisi rawan
ini
menyebabkan potensi
dampak
bencana yang lebih
buruk
ketimbang sebelumnya.
Bencana yang
akan
kerap terjadi
antara lain
gelombang
besar,
pasang laut
luar
biasa, erosi
pantai,
sedimentasi pantai,
tsunami, angin
badai,
gempa bumi
dan
banjir.
Demikian
disampaikan
Dirjen
Sumber Daya Air (SDA)
Departemen PU
Iwan
Nursyirwan Diar
di Jakarta,
Sabtu (22/9).
Disisi lain,
lanjutnya,
pemerintah
hanya
bisa menargetkan
perbaikan
bibir
pantai yang rusak
sepanjang 250 kilometer
sampai
tahun 2009. "Dari
kerusakan yang begitu
besar,
kita memang
tidak
bisa berbuat
banyak,
selain luasnya
pantai
di Indonesia juga
karena
anggaran yang terbatas
senilai
Rp 423 milyar,"
ujarnya.
Untuk
mencegah
terjadinya
abrasi yang
lebih
buruk lagi,
saat
ini pihaknya
sudah
melakukan pengamanan
pantai,
berupa pemecah
gelombang, revetment,
pembentukan
tembok
laut dan
juga
membentuk groin. "Groin ini
dibangun
di
pantai pada
posisi
tegak lurus
garis
pantai agar dapat
menahan
amterial sediment," jelasnya.
Selain
membuat groin, PU
juga
melakukan pengamanan
pantai
dengan menanam
tanaman
hutan pantai yang
bisa
meredam gaya
lingkungan
laut yang
menimbulkan
bencana."Namun
bencana
laut tsunami tidak
dapat
ditanggulangi oleh
bangunan
pengaman
seperti groin
ataupun
hutan bakau,"
kata
dia.
Adapun
untuk
kasus bencana
gempa
di Bengkulu,
Iwan
mengatakan terdapat
sekitar 11 kilometer
pantai yang
rusak,
terutama Bengkulu
arah
utara dari
Bengkulu
sampai
Muko-Muko."Kerusakannya
memang tidak
lurus,
tetapi di
beberapa
tempat
sampai 3 meter ke
daratan
dan panjangnya
mencapai 11 kilometer,"
urai
Iwan seraya
menambahkan
untuk
bibir pantai
dari
Muko-Muko sampai
ke
Padang tidak
mengalami
kerusakan
berat.
Kepala
Pusat Data,
Statistik
Informasi
Departemen
Kelautan
dan
Perikanan (DKP) Saut
Hutagalung
menyatakan,
belum
dapat membenarkan
atau
penilaian menyalahkan
bahwa 40
persen
bibir pantai
di Indonesia.
Pihaknya
akan
melakukan verifikasi
terlebih
dahulu
kepada direktorat
bina
pesisir serta
konservasi yang
selama
ini menanganinya.
Menurutnya,
rusaknya
bibir
pantai di
perairan Indonesia
akibat
abrasi itu
tidak
terlepas dari
geologi,
kekuatan
ombak
laut serta
pusaran
angin menjadi
faktor .
Namun,
kondisi tersebut
juga
kerap terjadi
dikarenakan
tidak
kuatnya daya
dukung
tata ruang
pesisir
akibat menguatnya
mobilitas
ekonomi
penduduk. Apakah
itu
berbentuk pengembangan
properti,
perumahanan
atau
industri. (kmb1)