Ngaben
Massal,
Tingkatkan Kebersamaan
Amlapura
(Bali Post) -
Ketua
Maha
Gotra Pasek
Sanak
Sapta Rsi (MGPSSR)
Pusat Prof. Dr. dr.
Wayan
Wita, Sp.JP., Bupati
Karangasem I
Wayan
Geredeg dan
Ketua PHDI Bali Drs. IGN
Sudiana
menyatakan upacara
ngaben
atau pitra
yadnya
bersama (massal)
dapat
meningkatkan kebersamaan
di
kalangan umat Hindu
di Bali,
dan
kebersamaan merupakan
hal
penting dalam
ngeyasahang
karya.
Wita,
Bupati
Geredeg dan
Sudiana
menyampaikan itu
saat
menghadiri upacara
ngaben,
mamukur dan
nuntun
Dewa Hyang
secara
massal Kamis (13/9)
kemarin
di Muncan,
Selat,
Karangasem.
Wita
mengatakan
dengan
kian banyaknya
masyarakat
Bali menggelar
upacara
sistem bersama (massal)
menunjukkan
bahwa Tri
Hita
Karana kian
benar-benar
diimplementasikan
dalam
kehidupan sehari-hari,
sehingga
tak
sebatas konsep.
Di
lain
pihak salah
seorang
penasihat karya Prof.
Dr. Made Titib
menyampaikan
pitra
yadnya secara
massal
itu digagas
cukup lama.
Di
mana
beberapakali digelar
rembuk
antartokoh keluarga
dadia.
Menurutnya,
diperlukan
waktu yang lama
dengan
memberikan pemahaman,
serta
mengubah sikap
dalam
masyarakat sehingga
tumbuh
kebersamaan. Akhirnya,
lanjut
Titib, upacara
itu
bisa diikuti 44
dadia
dari berbagai
wangsa
dari dadia
Kuta
Waringin, Tangkas
Kori
Agung, Pasek
Gelgel,
Pasek Kayu
Selem,
Pulasari, Pasek
Bendesa
dan keluarga
Pasek yang lain.
Upacara
itu
mengabenkan 56 sawa (orang
telah
meninggal), serta 363
mamukur.
Prof. Titib
mengatakan
sangat
membanggakan pitra
yadnya
di Muncan
itu
bisa dilaksanakan
secara
bersama bahkan
lintas
soroh, karena
ada program
di
dalam AD/ART MGPSSR agar
jika ada
pengabenan agar
tak
dilakukan secara
sendiri-sendiri.
Titib
mengatakan
cukup
banyak mukjizat yang
dialami
warga yang mempersiapkan
upacara
itu sejak
dari
awal. Di
mana
semua upakara
bebantenan
dan yang
lain dikerjakan
dengan
mengikuti dasar
sastra agama.
Semua
bebantenan
dikerjakan
anak
muda berumur 28
tahun
dibimbing Sri Mpu
Istri
dari Geria
Wates,
Duda. ''Kajang
dikerjakan
seorang
pemuda berumur 21
tahun
masih mahasiswa IHDN
Denpasar.
Semuanya
tak
lepas dari
simbolis
dan
filosofis,'' ujar
Titib.
Pada
kesempatan
itu,
Wita dan
Bupati
Karangasem juga
menyerahkan
dana
punia
atau sarin
canang
kepada panitia.
Geredeg
menekankan agar ke
depan
tetap mengutamakan
penggunaan
hasil
pertanian
seperti
buah-buahan
lokal
untuk sarana
upacara
bebantenan. Hal
itu
juga dalam
rangka
melestarikan alam,
serta
tanaman buah
lokal.
Sejumlah
tari
wali dalam
upacara
kemarin juga
dipersembahkan
sekaa
dari Yayasan
Panti
Asuhan Darma
Jati
Denpasar. (013/*)