kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 14 September 2007

 Bali


Ngaben
Massal, Tingkatkan Kebersamaan 

Amlapura (Bali Post) -
Ketua
Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Pusat Prof. Dr. dr. Wayan Wita, Sp.JP., Bupati Karangasem I Wayan Geredeg dan Ketua PHDI Bali Drs. IGN Sudiana menyatakan upacara ngaben atau pitra yadnya bersama (massal) dapat meningkatkan kebersamaan di kalangan umat Hindu di Bali, dan kebersamaan merupakan hal penting dalam ngeyasahang karya.

Wita, Bupati Geredeg dan Sudiana menyampaikan itu saat menghadiri upacara ngaben, mamukur dan nuntun Dewa Hyang secara massal Kamis (13/9) kemarin di Muncan, Selat, Karangasem. Wita mengatakan dengan kian banyaknya masyarakat Bali menggelar upacara sistem bersama (massal) menunjukkan bahwa Tri Hita Karana kian benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tak sebatas konsep.

Di lain pihak salah seorang penasihat karya Prof. Dr. Made Titib menyampaikan pitra yadnya secara massal itu digagas cukup lama. Di mana beberapakali digelar rembuk antartokoh keluarga dadia. Menurutnya, diperlukan waktu yang lama dengan memberikan pemahaman, serta mengubah sikap dalam masyarakat sehingga tumbuh kebersamaan. Akhirnya, lanjut Titib, upacara itu bisa diikuti 44 dadia dari berbagai wangsa dari dadia Kuta Waringin, Tangkas Kori Agung, Pasek Gelgel, Pasek Kayu Selem, Pulasari, Pasek Bendesa dan keluarga Pasek yang lain.

Upacara itu mengabenkan 56 sawa (orang telah meninggal), serta 363 mamukur. Prof. Titib mengatakan sangat membanggakan pitra yadnya di Muncan itu bisa dilaksanakan secara bersama bahkan lintas soroh, karena ada program di dalam AD/ART MGPSSR agar jika ada pengabenan agar tak dilakukan secara sendiri-sendiri. Titib mengatakan cukup banyak mukjizat yang dialami warga yang mempersiapkan upacara itu sejak dari awal. Di mana semua upakara bebantenan dan yang lain dikerjakan dengan mengikuti dasar sastra agama. Semua bebantenan dikerjakan anak muda berumur 28 tahun dibimbing Sri Mpu Istri dari Geria Wates, Duda. ''Kajang dikerjakan seorang pemuda berumur 21 tahun masih mahasiswa IHDN Denpasar. Semuanya tak lepas dari simbolis dan filosofis,'' ujar Titib.

Pada kesempatan itu, Wita dan Bupati Karangasem juga menyerahkan dana punia atau sarin canang kepada panitia. Geredeg menekankan agar ke depan tetap mengutamakan penggunaan hasil pertanian seperti buah-buahan lokal untuk sarana upacara bebantenan. Hal itu juga dalam rangka melestarikan alam, serta tanaman buah lokal. Sejumlah tari wali dalam upacara kemarin juga dipersembahkan sekaa dari Yayasan Panti Asuhan Darma Jati Denpasar. (013/*)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)