Warung
Global
Terlambat,
Pernyataan
Diknas
Propinsi Bali
TIDAK
henti-hentinya
masalah yang
menerpa
dunia pendidikan
kita.
Setelah
terdengar
kabar
bahwa pemerintah
tak
turut campur
dengan
pembiayaan sekolah
yang berarti
masing-masing
sekolah
diberikan wewenang
untuk
mengatur ''rumah
tangganya''
sendiri.
Pemerintah
memberikan
kesan
lepas tangan
terhadap
dunia
pendidikan, kini
diikuti
oleh Diknas
Propinsi yang
membuka
keran otonomi
bagi
sekolah.
Ini
menjadi
kekhawatiran masyarakat,
karena
biaya pendidikan yang
makin
tinggi dan
tidak
terkontrol.
Bahkan
lebih
mengkhawatirkan lagi
jika
semakin jarang
anak-anak
bisa
menikmati pendidikan.
Pernyataan
Diknas
dinilai terlambat,
sebab
biaya sekolah
sudah
telanjur terbayarkan.
Itulah
opini yang muncul
dalam
Acara Warung Global
dengan
topik ''Otonomi
Sekolah
Bukan Alat
Penekan
Ortu Siswa'' yang
disiarkan Radio Global FM
Bali, Kamis (26/7)
kemarin.
Berikut
rangkumannya.
==================
Guatama
di
Tampaksiring tidak
melihat
bahwa pendidikan
itu
murah, namun
malah
sebaliknya membuat
hati
semakin sedih
saja.
Orangtua
siswa
dibuat
susah payah
mengumpulkan
biaya
pendidikan, dan
pendidikan
murah
semakin sulit
dicapai.
Ini
bisa
dilihat dari
sekolah
negeri yang mestinya
dibiayai
pemerintah,
namun
dengan seenaknya
memungut
biaya
pendidikan.
Kalau
benar
tak ada
maksud
menekan, berarti
berlakukan
sanksi
bagi oknum yang
melanggar.
Ditambahkan
Wayan
Belog di
Denpasar
dan
Dewa Winaya
di
Tabanan, sebelum
pemerintah
ingin
lepas tangan alias
tak
ingin bertanggung
jawab
lebih dalam,
terlebih
dahulu
ubah peraturan yang
ada
dalam GBHN, dengan
persetujuan
seluruh
rakyat, mengingat
hal itu
bertujuan
untuk
mencerdaskan kehidupan
bangsa.
Di
tengah
kesulitan ekonomi,
biaya
pendidikan terus
naik.
Sejalan
dengan hal
itu
maka semakin
banyak pula
mereka yang
tak
bisa menikmati
pendidikan,
masyarakat
malah
dibuat bingung
dengan
cara
pikir
pemerintah itu,
apa
jadinya negara
ini.
Kekhawatiran
Ledang Asmara
di
Denpasar bahwa
secara
gampang liberalisasi
di
sekolah terbuka
lebar,
buktinya sekolah
menarik
iuran yang tidak
kongkret.
Sebagai
mantan guru,
ia
sangat
menyesalkan hal
ini.
Jika demikian
siapa
pihak yang
akan
bertanggung
jawab
melindungi orangtua
murid?
Bali Education Watch ke
mana?
Jika
hal ini
dibiarkan
kita
sebagai masyarakat,
terutama
orangtua
murid,
akan
dirugikan.
Ngurah
Setyawan
di Ubud
menjelaskan
bahwa Bali Education Watch
kini
tengah memaksimalkan
diri di
Jembrana.
Bahkan,
kini
sudah memulai
programnya
di Ubud,
dengan
harapan segala
keluhan
bidang pendidikan
bisa
ditangani dengan
baik.
Dia
juga berharap
selain
Jembrana bisa
diikuti
oleh kabupaten
lain
dalam menjawab
berbagai
keluhan
masyarakat tentang
biaya
pendidikan yang kian
mahal.
Setia
di
Tabanan berharap agar
Mendiknas
rutin
terjun ke
bawah,
pantau dan
jangan
hanya menerima
laporan ABS
saja.
Menyikapi
situasi
ini, bisa
saja
laporan yang disajikan
ke
pusat tak
sesuai
dengan kebenaran.
Sejatinya
biaya
pendidikan sudah
kian
mahal.
Nang
Chekov
di Payangan yang
setuju
dengan pendapat yang
lain,
menyarankan agar yang
berwenang berbenah
diri
berkomitmen untuk
benahi
dunia pendidikan.
Jika
tak ada
satya
wacana maka
harapan
untuk menikmati
sekolah gratis
makin lama
tercapai.
Sebab,
tiap semester
buku-buku
pelajaran
berganti
terus,
begitu juga
banyak
masalah pendidikan
lainnya.
Walek
di
Gelogor dan
Ketut
Nasir di
Panjer
menilai dunia
pendidikan
kita
sudah di
ambang
kehancuran.
Kalau
tak ada
niat
baik dari
pemerintah,
Diknas
dan juga
semua
pihak, dunia
pendidikan
tak
bisa diselamatkan.
Mungkin
lepas tangan
pemerintah
hanya
tahap percobaan
saja,
namun sampai
kapan
hal ini
akan
jadi
percobaan, apakah
tidak
dipikirkan efeknya
ke
depan. Yang
bisa
dilakukan masyarakat
adalah
hanya berpasrah
diri.
Agung
Adnyana
di Denpasar
juga
mengakui hal
itu.
Menurutnya,
semestinya
pihak-pihak
terkait
duduk bersama,
membentuk
tim
verifikasi yang
membicarakan
masalah
pendidikan kita agar
memiliki
standardisasi.
Biaya
tinggi
memang sungguh
ironis.
Oleh
karena
itu, tak
ada
kata terlambat
untuk
berbentuk, asal
betul-betul
transparan.
Gede
Biasa
di Denpasar
menyatakan
bahwa
kesan ikut-ikutan
Diknas
atas kebijakan
pemerintah
seolah
tak memperhatikan
bagaimana
urgennya
masalah
pendidikan ini
membuat
masyarakat kelimpungan.
Di
sini
pemerintah tak
boleh
tutup mata
dan
telinga.
Selain
itu,
Kadek Mako
di
Kedewatan menilai
pernyataan
Diknas
Propinsi Bali terlambat,
jika
hal ini
tetap
dibiarkan maka
liberalisme
gaya
baru segera
tercipta,
dan
sila kelima
Pancasila
tak
akan terwujud.
Mestinya
pemerintah
mengkaji
terlebih
dahulu.
Sekolah
yang diyakini
bisa
mengubah nasib
generasi
kita
justru keadaannya
malah
berbalik yakni
mempermainkan
nasib
orang. *
sikha