Air Mata Dessi
PELAJAR
kelas IV SD
di Papua,
Dessi
Kokorule, mengeluh
kepada
Presiden Susilo
Bambang
Yudhoyono (SBY) tentang
mahalnya
biaya
sekolah.
Keluhan
itu
makin menyesakkan
dada ketika
ungkapan
itu
diiringi mata yang
memerah
kemudian air mata
menetes
lalu menangis
lantaran
orangtuanya
sudah
tak sanggup
lagi
menanggung biaya
sekolah yang
makin
bertambah berat.
''Biaya
sekolah yang ditanggung
orangtua
saya
sangat berat,
terlalu
mahal.
Saya
takut
tak bisa
melanjutkan
sekolah,
padahal
saya ingin
sekolah,''
ucap
bocah berusia 10
tahun
dengan meneteskan air
mata.
Presiden
Yudhoyono
bersama
Ibu Negara
Ny.
Ani
Yudhoyono
serta
beberapa menteri
dan
ratusan undangan
hanya
tertegun mendengar
keluhan
Dessi.
Pertemuan
Dessi
dan Presiden
memang
tidak berhadapan
langsung.
Dessi
berada
di Papua, SBY di
Teater
Rama-Sinta Ancol,
Jakarta.
Pelajar
SD dan
Presiden melakukan
perbincangan
jarak
jauh melalui
teleconference berkaitan
peringatan
Hari
Anak Nasional (HAN)
2007, Minggu (22/7)
kemarin.
''Mendengar
keluhan
itu, Presiden
berjanji
sekuat
tenaga mengabulkan
permintaan
mereka.''
Dessi
juga
mengadukan soal
standar
Ujian Nasional (UN)
yang cukup
tinggi
untuk siswa
di Papua,
sehingga
banyak
pelajar tidak lulus.
Presiden
langsung
menjawab, ''Memang
penetapan
mekanisme
ujian
nasional masih
ada
kekurangan, namun
tujuan
ujian nasional
adalah agar
mutu
pendidikan Indonesia makin
baik
dibanding negara
lain. Jadi
standar
ujian nasional
itu
semata-mata untuk
meningkatkan
mutu
pendidikan di
Indonesia, seperti
Singapura,
Thailand, dan Vietnam.
Tidak
ada niatan
mengucilkan
daerah lain.''
Setelah
Dessi,
giliran Alfred Demianus
Mayor juga
di Papua
mengadu
kepada Presiden.
Pelajar
SMP itu
meminta ada
makanan
tambahan buat
pelajar
di Papua, mengingat
dulu
pernah ada
jatah
namun dihapus
dengan
alasan tidak
jelas.
''Kami
juga
meminta agar dibangunkan
asrama
pelajar di Papua
untuk
menampung siswa yang
rumahnya
di
daerah pedalaman.
Jarak
tempuh
ke sekolah
cukup
jauh, saya
minta
ada asrama
sehingga
saya
dan teman-teman
bisa
belajar dengan
tenang,''
katanya
didampingi Gubernur
Papua Barnabas Suebu.
Selain
berbincang
dengan
anak di Papua, SBY
juga
melakukan teleconference
dengan anak-anak
di Aceh.
Salsabila
meminta
pemerintah membangun
sarana
ibadah di
setiap
sekolah karena
di Aceh
sudah
diberlakukan syariat
Islam.
Sementara Kevin
Maulana
sempat menanyakan
daerah
asal dan
kehidupan
Presiden
Yudhoyono
pada
masa kecil.
''Saya
ingin
jadi presiden
seperti
bapak,'' ujar Kevin,
disambut
tepuk
tangan.
Kepala
Negara meminta agar
anak Indonesia
menjadi
anak rajin
beribadah,
rajin
belajar, rajin
berolah raga,
patuh
pada orangtua,
dan
patuh pada guru.
Rajin
beribadah
merupakan
pemenuhan
aspek spiritual,
rajin
belajar aspek
intelektual,
rajin
berolah raga adalah
aspek
fisik.
Patuh
kepada
orangtua dan guru
merupakan
pemenuhan
aspek
sosial.
SBY juga
mengajak
semua
orangtua memberikan
bimbingan
pengasuhan
dan
perhatian yang terbaik
kepada
anak-anak.
Ia
milik
masa depan
kita,
masa depan
bangsa.
Ia
milik
negeri ini yang
akan
melanjutkan pembangunan
negeri
ini menjadi
negeri yang
lebih
baik di
masa
akan datang.
Tanggung
jawab
orangtua tidak
boleh
lepas, sesibuk
apa
pun orangtua.
Tolong
perhatikan
putra-putrinya.
Bimbinglah,
asuhlah.
''Lakukan
upaya
membina sebaik-baiknya,
berikan
hak-haknya, hak
pengasuhan,
pendidikan,
kesehatan
dan
melindungi mereka
dari
kekerasan,'' ucapnya
sambil
berharap agar anggaran
untuk
anak-anak diberikan
yang cukup.
Peringatan
HAN 2007 diwarnai
penyerahan
trofi
kepada
lima
anak-anak
berprestasi Indonesia. Ahmad
Hulaefi (18)
dari
cabang olah raga
wushu yang
memenangkan
medali
perak Kejuaraan Asia
Junior Singapura 2005,
Taryadi
Tesar (18) dari
cabang
olah raga renang yang
memenangkan
medali
emas Special Olympics Games Singapore 2005
dan
medali perunggu
Special Olympics Games Singapore 2005.
Tiga
anak
berprestasi lainnya
yakni
Pemenang Pemimpin
Muda Indonesia
Asep
Ramdhani (16), Kadek
Ridoi
Rahayu (16) dan
Joko
Sukamto (17).
Ibu
Negara Ani
Bambang
Yudhoyono memberikan
sumbangan
kepada
Pemda NAD dan Papua
masing-masing
berupa
dua buah Mobil
Pintar.
Juga
menyaksikan pentas
seni
anak-anak dan
meresmikan Museum
Pentas
Prestasi yang menampilkan
hasil
karya anak Indonesia
terbaik
di tingkat
nasional
maupun
internasional, baik
di
bidang seni,
iptek
seperti robot, roket
hasil
karya anak Indonesia
yang berprestasi
dan
menjadi kebanggaan
bagi Indonesia
di
dunia internasional.
*
endy