kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 23 Juli 2007

 Nusantara


Air Mata Dessi

PELAJAR kelas IV SD di Papua, Dessi Kokorule, mengeluh kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang mahalnya biaya sekolah. Keluhan itu makin menyesakkan dada ketika ungkapan itu diiringi mata yang memerah kemudian air mata menetes lalu menangis lantaran orangtuanya sudah tak sanggup lagi menanggung biaya sekolah yang makin bertambah berat.

''Biaya sekolah yang ditanggung orangtua saya sangat berat, terlalu mahal. Saya takut tak bisa melanjutkan sekolah, padahal saya ingin sekolah,'' ucap bocah berusia 10 tahun dengan meneteskan air mata. Presiden Yudhoyono bersama Ibu Negara Ny. Ani Yudhoyono serta beberapa menteri dan ratusan undangan hanya tertegun mendengar keluhan Dessi.

Pertemuan Dessi dan Presiden memang tidak berhadapan langsung. Dessi berada di Papua, SBY di Teater Rama-Sinta Ancol, Jakarta. Pelajar SD dan Presiden melakukan perbincangan jarak jauh melalui teleconference berkaitan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2007, Minggu (22/7) kemarin. ''Mendengar keluhan itu, Presiden berjanji sekuat tenaga mengabulkan permintaan mereka.''

Dessi juga mengadukan soal standar Ujian Nasional (UN) yang cukup tinggi untuk siswa di Papua, sehingga banyak pelajar tidak lulus. Presiden langsung menjawab, ''Memang penetapan mekanisme ujian nasional masih ada kekurangan, namun tujuan ujian nasional adalah agar mutu pendidikan Indonesia makin baik dibanding negara lain. Jadi standar ujian nasional itu semata-mata untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, seperti Singapura, Thailand, dan Vietnam. Tidak ada niatan mengucilkan daerah lain.''

Setelah Dessi, giliran Alfred Demianus Mayor juga di Papua mengadu kepada Presiden. Pelajar SMP itu meminta ada makanan tambahan buat pelajar di Papua, mengingat dulu pernah ada jatah namun dihapus dengan alasan tidak jelas. ''Kami juga meminta agar dibangunkan asrama pelajar di Papua untuk menampung siswa yang rumahnya di daerah pedalaman. Jarak tempuh ke sekolah cukup jauh, saya minta ada asrama sehingga saya dan teman-teman bisa belajar dengan tenang,'' katanya didampingi Gubernur Papua Barnabas Suebu.

Selain berbincang dengan anak di Papua, SBY juga melakukan teleconference dengan anak-anak di Aceh. Salsabila meminta pemerintah membangun sarana ibadah di setiap sekolah karena di Aceh sudah diberlakukan syariat Islam. Sementara Kevin Maulana sempat menanyakan daerah asal dan kehidupan Presiden Yudhoyono pada masa kecil. ''Saya ingin jadi presiden seperti bapak,'' ujar Kevin, disambut tepuk tangan.

Kepala Negara meminta agar anak Indonesia menjadi anak rajin beribadah, rajin belajar, rajin berolah raga, patuh pada orangtua, dan patuh pada guru. Rajin beribadah merupakan pemenuhan aspek spiritual, rajin belajar aspek intelektual, rajin berolah raga adalah aspek fisik. Patuh kepada orangtua dan guru merupakan pemenuhan aspek sosial.

SBY juga mengajak semua orangtua memberikan bimbingan pengasuhan dan perhatian yang terbaik kepada anak-anak. Ia milik masa depan kita, masa depan bangsa. Ia milik negeri ini yang akan melanjutkan pembangunan negeri ini menjadi negeri yang lebih baik di masa akan datang. Tanggung jawab orangtua tidak boleh lepas, sesibuk apa pun orangtua. Tolong perhatikan putra-putrinya. Bimbinglah, asuhlah. ''Lakukan upaya membina sebaik-baiknya, berikan hak-haknya, hak pengasuhan, pendidikan, kesehatan dan melindungi mereka dari kekerasan,'' ucapnya sambil berharap agar anggaran untuk anak-anak diberikan yang cukup.

Peringatan HAN 2007 diwarnai penyerahan trofi kepada lima anak-anak berprestasi Indonesia. Ahmad Hulaefi (18) dari cabang olah raga wushu yang memenangkan medali perak Kejuaraan Asia Junior Singapura 2005, Taryadi Tesar (18) dari cabang olah raga renang yang memenangkan medali emas Special Olympics Games Singapore 2005 dan medali perunggu Special Olympics Games Singapore 2005. Tiga anak berprestasi lainnya yakni Pemenang Pemimpin Muda Indonesia Asep Ramdhani (16), Kadek Ridoi Rahayu (16) dan Joko Sukamto (17).

Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono memberikan sumbangan kepada Pemda NAD dan Papua masing-masing berupa dua buah Mobil Pintar. Juga menyaksikan pentas seni anak-anak dan meresmikan Museum Pentas Prestasi yang menampilkan hasil karya anak Indonesia terbaik di tingkat nasional maupun internasional, baik di bidang seni, iptek seperti robot, roket hasil karya anak Indonesia yang berprestasi dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia di dunia internasional. * endy

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)