Warung
Global
Bali Bopeng
karena
Kesalahan Semua
Pihak
GUBERNUR
menuding
bupati
dan wali
Kota
tidak
tegas menjalankan
perda,
sehingga Bali bopeng.
Siapa
sih yang
sebenarnya
tidak
tegas, bukankah
kedudukan yang
lebih
tinggi itu
gubernur?
Bukankah
pernyataan
ini
justru sebuah
pengakuan
ketidakberhasilan
memimpin
Bali.
Kalau
ada
bawahan gubernur yang
lemah
dan tidak
tegas
kenapa tidak
ditindak?
Ini
berarti
budaya ewuh
pakewuh
masih kental
melekat.
Bali
bopeng
adalah akibat
otonomi
daerah yang kebablasan,
sehingga
memunculkan raja-raja
baru di
daerah
dan membuat
Gubernur
tidak ''dianggap''
atau
dicuekin.
Demikian
pendapat
masyarakat yang
terungkap
dalam
acara Warung Global
dengan
topik ''Gubernur
Tuding
Bupati tak
Tegas'', yang
disiarkan Radio Global FM
Bali, Sabtu (21/07).
Berikut
rangkumannya
==========================
Agung
Adnyana
di Sanur
menilai Bali
bopeng
bukan karena
bupati
dan wali
kotanya yang
tidak
tegas tetapi
dari
pusat, propinsi
sampai
daerah kabupaten
semua
itu ada
korelasinya.
Dalam
hal ini
jangan
hanya menyalahkan
tingkat II
saja.
Mengingat,
semua
sangat berkaitan.
Seperti
kasus
loloan jangan
hanya
bupati disalahkan
tetapi
juga pusat
dan
propinsi. Kita
harus
berpikir untuk
tidak
saling menyalahkan
dan
melemparkan tanggung
jawab.
Perda
selama
ini tumpang
tindih
akhirnya saru
gremeng.
Walek
di
Tabanan merasa
bingung,
siapa
sih yang sebenarnya
tidak
tegas, bukankah
kedudukan yang
lebih
tinggi itu
gubernur.
Kalau
ada
bawahan gubernur yang
lemah
dan tidak
tegas
kenapa tidak
ditindak?
Gubernur
bukankah
selama
ini sudah
tahu,
tetapi diam
saja.
Ini
berarti
budaya ewuh
pakewuh
masih kental
melekat.
Pemimpin
harus
kreatif, dan
untuk yang
akan
datang
harus cari
pemimpin
kreatif
tidak diam-diam
saja,
karena kalau
diam
bukan pemimpin
namanya.
Bupati
juga
harus punya
andil
untuk memberi
tahu
kepada gubernur
apabila
ada kerusakan
di
daerahnya.
Dan, gubernur
tetap
harus bertanggung
jawab
pada kerusakan
lingkungan.
Agung
Purnawijaya
di
Gianyar menyatakan,
dalam
hal ini
kita
jangan selalu
menyalahkan
Gubernur,
melainkan
marilah
kita berpikir
pola-pola
pemerintahan
sekarang
ini
terutama di era
reformasi.
Dulu
kepada camat
saja
sudah takut
sekarang
ini
sama
gubernur
sudah
tidak takut
lagi.
Dulu
bupati
biar sedang
tidur
tengah malam
disuruh
datang, pasti
segera
datang.
Namun
sekarang
tidak
mungkin mau,
ini
karana undang-undang
otonomi yang
mengambang
tidak
karuan.
Masing-masing
daerah
sudah memperlihatkan
diri
sebagai raja-raja kecil
di
daerahnya.
Contoh
saja
kasus geothermal sampai
sekarang
tidak
jelas.
Gubernur
tidak
bisa ngomong
apa-apa.
Ini
otonomi yang
disalahartikan
dan ini
pelajaran
bagus
untuk calon
gubernur
mendatang.
Adnyana
di
Pedungan mengatakan
saling
menyalahkan itu
tidak
baik.
Ini
akibat
memikirkan PAD yang tinggi
sehingga
Bali
bopeng.
Boleh
saja
memikirkan PAD tetapi
harus
ingat. ''Kita
semestinya
pelajari
masalahnya.
Siapa pun
gubernur yang
akan
datang
tidak bisa
menangani
lingkungannya
kalau
sikap mentalnya
tidak
berubah,'' ujarnya.
Belum
Mengakomodasi
Sementara
itu,
Agung Putra
Denpasar
mengatakan
perda
sebenarnya tidak
dilanggar,
tetapi
perda belum
bisa
mengakomodasi perkiraan
akan
ada
kerusakan lingkungan,
sehingga
perda pun
tidak
bisa menjangkau
ke arah
itu.
Contohnya
siapa yang
bisa
menebak saat
itu,
kalau akibat
galian C
bisa
membuat
Bali
bopeng.
Pemimpin Bali
di masa
mendatang
harus
mempunyai kemuliaan
hidup,
bukan kemuliaan
materi
dan pasti
pemimpin
seperti
ini akan
dikenal
sejarah.
Gubernur
juga
harus berani
melawan
instruksi pusat yang
merusak
lingkungan.
Ketut
Nasir
di Denpasar
mengatakan
susah
mengembalikan Bali
seperti
tahun 70-an. Prinsip
otonomi
harus ada
tapi
otonomi tingkat
propinsi.
Hilangkan
otonomi
tingkat kabupaten.
Karena
inilah
sumber kekisruhan
yang membuat
gubernur
tidak ''dianggap''.
Bali
bopeng
semua lempar
tanggung
jawab
untuk itu.
Untuk
itu, prinsip
pemimpin yang
akan
datang
harus mempunyai
kesadaran yang
tinggi
pada lingkungan
dan agama.
Sudira
di
Batuan menuding
bupati
dan wali
kota
tidak
tegas. Dan,
apakah
gubernur sendiri
sudah
tegas?
Contohnya
Perda 134
tahun 74
tentang
stil
Bali
tidak
efektif, lihat
saja
banyak bangunan yang
tidak
berstil Bali.
Perda-perda
dibuat
tentu ada
sanksinya
bagi yang
melanggar,
tetapi
kenapa tidak
dilaksanakan.
Gede
Biasa
di Denpasar
mengatakan
logikanya
seorang
pemimpin harus
punya
pengetahuan leadership untuk
mengkoordinasi
bawahannya.
Kalau
pernyataan
ini
dikeluarkan oleh
seorang
gubernur, hal
itu
justru memperlihatkan
kegagalan
memimpin
dari
gubernur bersangkutan.
Untuk
me-recovery
Bali
perlu
waktu yang lama dan
diperlukan
pemimpin yang
didukung
seluruh
lapisan masyarakat.
Dan, semua
pihak
harus punya
komitmen
untuk
itu.
Goatama
di
Tampaksiring berpendapat,
bupati
tidak tegas
karena
gubernur juga
tidak
tegas, maka
jelas
bawahannya
tidak
tegas pula.
Janganlah
selalu
mencari alasan
pembenar
di saat
masa
tugas
akan habis.
Kunci
kebijakan
ada
pada gubernur
dan
bupati, terutama
bersikap
pada investor yang
melanggar
lingkungan.
Gubernur
dan
bupati harus
berani
membatalkan investasi
yang jelas-jelas
bisa
merusak lingkungan.
Sutama
di
Denpasar menyatakan
jangan
hanya lingkungan yang
perlu
dibenahi, tetapi
juga
para pemungut
pajak yang
menilep
uang untuk
kepentingan
pribadi.
*
bram