Rivalitas Menghangat, Masyarakat Harus
Waspada
Atensi krama Bali akhir-akhir ini tertuju pada
aktivitas para tokoh/figur publik di dalam menarik simpati
masyarakat dengan berbagai program yang menyasar pada level grass
root dengan berbagai kemasannya.
Sepintas kalau diamati ada tokoh dengan sangat
vulgar mengatakan keinginannya untuk menduduki kursi Bali 1 dengan
dalih ngayah, walaupun belum jelas memiliki kendaraan politik yang
mengusungnya. Ada juga tokoh yang malu-malu kucing untuk tampil,
bahkan menyatakan tidak ingin dicalonkan, tahu-tahu gambarnya
beredar di beberapa tempat. Ini jelas mengekspresikan kegelisahan
kader partai yang tidak rela kendaraan politiknya dipakai
nonkader.
Mencermati geliat pilkada yang masih setahun lagi,
krama Bali harus mewaspadai sebab kita mempertaruhkan Bali 5 tahun
ke depan. Dengan pengalaman beberapa kali pemilu dan pilkada kita
bisa mengambil hikmahnya.
Ke depan kita haruslah memiliki pemimpin yang
tangguh, bisa menjaga Bali dari berbagai skenario yang ingin
menghancurkan Bali. Pemimpin terpilih harus memiliki bargaining
position yang kuat terhadap pusat, sehingga Bali tidak dijadikan
sapi perahan. Contohnya masalah visa on arrival, otonomi khusus
yang gagal, pajak PBB yang naik 500% dan yang terakhir munculnya
UU 23/2006 yang mengatur masalah kependudukan, ini perlu
diwaspadai. Kuncinya kembali kepada rakyat Bali yang memiliki
kedaulatan untuk memilih pemimpinnya, pastikan pilihan dengan hati
nurani demi ajeg Bali tidak berdasar money politic.
Dalam interval setahun ke depan kita pasti sudah
bisa menentukan pilihan yang tepat untuk memilih pemimpin yang
pantas mengawal Bali dengan titik berat pada masalah keamanan
sebagai destinasi pariwisata dunia, dengan latar belakang budaya
religius yang kuat. Terakhir kita berharap para figur yang ingin
bertarung di Bali 1, bertarunglah secara fair play, ingat hukum
karma pala.
I Wayan
Sudiana, BSC
Jln. Tukad Yeh Aya 146
Renon, Denpasar