kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 1 Juli 2007 tarukan valas
 

POTRET


Prof. H. Wahyu

Manfaatkan Sumber Daya Alam, Kembali kepada Kearifan Lokal

TAMU kita kali ini Prof. H. Wahyu, Guru Besar Sosiologi dan Ketua Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Banjarmasin, mengenai kearifan lokal. Menurut Prof. H. Wahyu, intinya dari kearifan lokal adalah bagaimana memandang dan mengelola sumber daya alam itu sedemikian rupa sehingga memberikan perimbangan yang proposional untuk kemaslahatan umat manusia baik di bidang ekonomi maupun sosial. Misalnya Banjarmasin, secara potensial memiliki sumber daya perairan yaitu sungai di samping pertanian. Jadi dari segi kearifan lokal, sungai harus dimanfaatkan semaksimal mungkin seperti menjadi sarana transportasi sekaligus sarana rekreasi. Berikut petikan wawancara dengan Prof. H. Wahyu.

-------------

 

BELUM lama ini Anda dilantik menjadi Guru Besar, di situ ada pidato pengukuhan Anda tentang kearifan lokal. Tentang kearifan lokal, apakah hal-hal seperti itu masih hidup di dalam kultur budaya setempat?

Berangkat dari sebuah pengukuhan Guru Besar, ada satu bentuk kegelisahan saya pribadi atau mungkin juga oleh kebanyakan masyarakat di Kalimantan Selatan (Kalsel) terhadap gejala fenomena sosial yang terjadi. Fenomena sosial itu sepertinya agak sulit dituntaskan secara baik karena mungkin terkontaminasi oleh sebuah kekuasaan. Saat ini ada juga sebuah pemikiran, saya sebagai seorang akademisi perlu juga berbicara dalam perspektif keilmuan, bagaimana memandang jagat raya khususnya alam semesta ini harus dikelola sebaik-baiknya dan memberikan kemakmuran dan kemaslahatan bagi kepentingan manusia.

 

Apa misalnya persoalan yang terjadi?

Persoalan yang paling menggelitik adalah adanya pengelolaan sumber daya alam dipandang sebagai sebuah objek dan dikuras habis-habisan. Orang memandang sumber daya alam sebagai suatu objek yang memang mesti dikuras, dikeruk dan dihabiskan untuk pemuasan sebuah kepentingan. Konsekuensi dari pandangan seperti ini akan membawa dampak yang lebih serius ketika itu dilakukan tanpa perencanaan yang jelas. Contoh nyata di Kalsel. Hutan mulai terkikis hampir habis, kemudian sekarang sudah bergerilya masuk ke batu bara dan biji besi. Proses semacam ini adalah suatu proses yang mencoba menguras sumber daya alam yang sungguh-sungguh kurang memperhatikan kearifan lokal.

 

Menurut Anda, sumber daya alam seperti hutan itu mesti diapakan?

Seharusnya direboisasi seperti sebuah kearifan yang sejak dulu nenek moyang kita lakukan. Mereka lebih mengutamakan revitalisasi pertanian, misalnya seperti pada perkebunan karet. Kenapa itu tidak dioptimalkan oleh masyarakat dengan difasilitasi pemerintah. Sekarang lahan-lahan yang ada mulai dikeruk batu baranya dan tanahnya diaduk-aduk sehingga akhirnya rusak.

 

Apakah kearifan lokal yang Anda maksud tadi untuk mencegah perusakan sumber daya alam ini?

Intinya, kearifan lokal ini bagaimana memandang dan mengelola sumber daya alam itu sedemikian rupa sehingga memberikan perimbangan yang proposional untuk kemaslahatan umat manusia di bidang ekonomi maupun sosial. Ini agak kurang diperhatikan.

 

Apakah pemerintah yang kurang memperhatikan hal tersebut?

Ya, tentu dalam hal ini harus arif mengambil kebijakan termasuk juga fokus ke ekonomi untuk mendapatkan sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang besar untuk kepentingan bangsa. Pembangunan itu untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran manusia. Jadi pembangunan yang memarjinalkan masyarakat berarti pembangunan yang tidak sesuai dengan harapan kita bersama. Itu yang kita lihat sekarang.

 

Dalam konteks ini, bagaimana dampaknya ke masyarakat?

Dampak yang dirasakan paling sangat pragmatis dan realistis seperti peristiwa yang terjadi di Banjarmasin kemarin. Terjadi sikap anarki seperti menjungkirbalikkan truk-truk pengangkut batu bara yang merusak jalan oleh rakyat. Hal ini sudah mulai terjadi, sikap masyarakat sudah begitu sangat anarkis. Kebijakan yang diambil pemerintah saat ini mungkin harus kebijakan menyeluruh. Saya kira pemerintah daerah saja tidak cukup, tapi harus ada keterkaitan dengan pusat. Masyarakat saat ini mungkin sangat menderita, yang nampak dan terasa oleh semua pihak adalah kalau sedang jalan. Dulu, 10-15 tahun yang lalu, kalau kita menelusuri sungai begitu menikmati perjalanan yang indah, asyik, dengan menghirup udara begitu sejuk. Sekarang kita naik mobil atau kendaraan lainnya penuh rasa waswas dan ketakutan. Itu yang terjadi sekarang.

 

Mengapa sampai terjadi demikian?

Itu karena truk-truk berjalan bisa sampai 6-7 secara berderet, sehingga kita sulit sekali untuk melakukan perjalanan-perjalanan yang begitu mengasyikan. Kemudian jalannya rusak-rusak, bahkan banyak kejadian masyarakat celaka seperti tergilas. Sepanjang jalan, bentuk rumah-rumah juga sudah tidak indah lagi, penuh debu. Ini sudah 15 tahun berjalan, sudah lama sekali.

 

Apakah selama ini tidak ada respons dari pemerintah terhadap persoalan ini?

Saya sudah sering ke daerah. Mereka memang mengeksploitasi lahan di daerah masing-masing, tapi bupati dan gubernur tidak punya kewenangan untuk menyentuhnya karena masalah perizinan surat itu ada di pusat, yaitu Jakarta. Tempat atau daerah mereka digali dan diekploitasi, sedangkan berbagai keputusan tetap berada di tingkat pusat. Daerah mungkin hanya mendapatkan bagian fee sekian persen saja.

 

***

 

DALAM konteks kekinian, apakah kultur kearifan lokal punya kemampuan untuk menghadapi berbagai persoalan saat ini?

Secara teoritis, yang disebut sebuah kultur atau budaya itu merupakan kumpulan, gagasan, ide, yang dijadikan sebagai pilar pedoman oleh komunitas masyarakat dalam berperilaku hidup bermasyarakat. Kultur itu ada dua hal. Ketika kita berbicara tentang masalah gagasan bagaimana membangun masyarakat yang baik, bagaimana membangun budaya yang baik, kalau itu hanya diperbincangkan dalam sebuah wacana, maka itu hanya sekadar sebuah pengetahuan budaya. Namun ketika budaya itu kita implementasikan dalam sebuah sikap baru, itu baru kita akui sebagai sikap hidup masyarakat. Dalam perspektif kearifan lokal, nilai-nilai luhur yang lama harus menjadi ciri khas identitas masyarakat banyak.

 

Bisa dirinci maksudnya lebih jauh?

Dulu, sungai menjadi sarana transportasi bahkan juga menjadi sebuah aspek kehidupan, mungkin untuk kegiatan mencuci, mandi, dan segala macamnya. Sungai difungsikan sedemikian rupa. Sekarang masyarakat telah bergeser ke penggunaan sarana transportasi jalan darat sehingga sungai-sungai seperti ditinggalkan begitu saja. Adanya perkembangan yang begitu cepat, tuntutan masyarakat, dinamika kehidupan mobilitas masyarakat dan juga muncul beraneka kendaraan, membuat masyarakat memiliki pilihan-pilihan menarik untuk sarana transportasi. Saya melihat bahwa adanya keterbatasan aspek geografis Banjarmasin, jalan semakin lama semakin terbatas  seiring dengan jumlah penduduk dan kendaraan terus bertambah.

 

Lantas, apa yang perlu dilakukan?

Perlu dilakukan revitalisasi kembali sungai-sungai yang ada. Sungai menjadi pilihan alternatif untuk kita gunakan kembali. Mungkin dari segi perjalanan relatif lama tetapi menggunakan kendaraan sungai itu juga bisa menjadi tempat rekreasi untuk bersantai. Memang kalau perjalanan melalui sungai bisa memakai waktu 3-4 jam, sedangkan melalui darat mungkin dua jam. Tetapi sungai menjadi satu pilihan yang menarik ketika kita harus jalan darat menghadapi kendaraan batu bara yang sangat menakutkan. Artinya, sungai dihidupkan kembali, ditata kembali sedemikian rupa sehingga bisa dimanfaatkan sebagai sarana angkutan umum. Selain itu, sungai bisa juga dihidupkan sebagai tempat wisata sehingga masyarakat dapat berkunjung dari mana-mana.

 

Berarti di situ ada perpindahan sarana fisik, yaitu transportasi. Apakah peralihan itu juga berpengaruh terhadap nilai-nilai dan karakter tertentu dari masyarakat?

Ini bisa kita ambil contoh dari adanya jembatan yang menghubungkan sungai Barito. Sekarang dampak yang yang paling nyata adalah sarana transportasi sungai menjadi mati semua. Padahal itu adalah sumber kehidupan rakyat kecil. Sekarang dengan matinya penggunaan sarana transportasi sungai, rakyat kecil juga berpikir mencari pekerjaan lain. Pekerjaan utama masyarakat kan memang di sungai. Di sana ada speedboat, longboat, kemudian kelotok. Misalnya, kita ke Kapuas memakai speedboat bisa satu jam, memakai longboat mungkin 2 jam. Perahu itu sarana angkutan yang memang sejak dulu sudah dipakai. Kalau kita ke Marabahan bisa setengah jam dan bisa menikmati dan bersantai-santai dari atas longboat melihat pemandangan. Jadi terlihat ada nilai perilaku hidup mereka dalam konteks penggunaan sarana transportasi sungai. Cara memandang mereka terhadap lingkungan penuh dengan sebuah kesahajaan dan mungkin cara memandang mereka juga penuh sikap-sikap tulus yang halus. Ketika sekarang menggunakan sarana transportasi darat yang sudah memakai waktu kecepatan, membuat ada perilaku masyarakat bergegas dengan segala kecepatan perilaku yang ingin segala cepat tuntas.

 

Kondisi geografis Banjarmasin agak berbeda. Di Jawa, transportasi lebih banyak melalui darat. Apakah ini artinya kita sebetulnya harus lebih membudidayakan atau merevitalisasi atau memaksimalkan hal-hal yang kita punya sebagai masyarakat lokal?

Konsep budaya ini di dunia saja tidak ada yang murni. Saya kira semua mengalami sebuah dinamika dan pembauran satu sama lain. Saya memang agak kurang sependapat ketika konsep budaya itu diseragamkan. Itu sebuah pemaksaan terhadap potensi sumber daya. Kalsel khususnya Banjarmasin secara potensial memiliki sumber daya perairan di samping pertanian. Jadi, jika kita berangkat dari sebuah potensi dasar ini mengapa potensi tersebut tidak dioptimalkan seiring juga dengan pilihan-pilihan alternatif darat.

 

Maksudnya?

Maksudnya, ketika masyarakat menggunakan pilihan-pilihan sarana transportasi darat mungkin saat itu mobilitas penduduk dan  sarana kendaraan juga memang terbatas. Namun sekarang, penduduk dan kendaraan makin tambah, sedangkan ruang kehidupan tidak bertambah, maka akan mulai timbul persoalan. Orang bisa bertengkar atau berkelahi karena tempat parkir. Mungkin bisa timbul kekerasan juga karena tabrakan di jalan. Saya kira dampak-dampak negatif itu terjadi karena kita hanya memilih ke daratan. Saya kira menariknya budaya adalah selalu beradaptasi dengan tuntutan hidup masyarakat.

 

Apa upaya yang sudah dilakukan pemerintah selama ini?

Yang dihadapi masyarakat dari adanya pengambilan sumber daya alam batu bara adalah perjalanan masyarakat menjadi susah karena kendaraan angkutan batu bara menggunakan jalan negara. Sekarang kehidupan dan berumah tangga di pinggir jalan sudah tidak damai lagi penuh dengan debu sehingga orang tidak bisa berjualan lagi. Kalau dulu makanan tradisional ada di sepanjang jalan, sekarang tidak bisa jualan dan membeli makanan yang juga penuh dengan debu. Di sisi lain, mungkin lahan-lahan yang seharusnya bisa mereka optimalkan menjadi tidak bisa. Ini juga satu persoalan. Upaya yang dilakukan pemerintah mungkin hanya menggunakan rencana dengan pilihan adanya jalan yang memungkinkan tidak menggunakan jalan negara. Itu baru rencana. Ini mungkin baru bisa dilakukan dalam 2-3 tahun ke depan. (*)


---------------------
 

PERSPEKTIF BARU dimuat sebagai sindikasi 12 koran se-Indonesia, berupa transkrip wawancara radio yang disiarkan sindikasi ratusan stasion radio melalui Jaringan Radio KBR 68 H dan Global FM Bali, Prima FM Banda Aceh, Maya Pesona FM Mataram, Andika FM Kediri, DPFM Palembang, Pahla Budi Sakti Serang, Gita Lestari Bitung, Poliyama FM Gorontalo, Mustika FM Banjarmasin, Bravo FM Palangkaraya, Gemaya FM Balikpapan, Lesitta FM Bengkulu, Zoo FM Batam, Star Radio Tangerang, BQ FM Balikpapan, Gema Mahasiswa FM Purwokerto, Andalas FM Lampung, Dino FM Samarinda, Strata FM Pare-Pare, Radiorama Cirebon.

PERSPEKTIF BARU ONLINE: http://www.perspektifbaru.com

E-mail: yayasan@perspektifbaru.com

Hak cipta pada Yayasan Perspektif Baru, faks. (021) 722-9994, telp. (021) 727-90028 (hunting)

--------------

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com