''Keto Kone...''
''KEBENARAN
adalah sejarah yang menang. Dharma dan Adharma selalu saling
mengalahkan. Tidak ada kebenaran sejati dalam hidup ini. Kebenaran
sejati, ketika roh bersenggama dengan Brahman. Om Shanti Shanti
Shanti Om. Selamat Hari Raya Galungan. Rahayu."
Untaian kata itu diterima Rubag dalam bentuk short message service
(SMS) di hari Penampahan Galungan, dari sebuah nomor yang tak
tercatat dalam memori hand phone Rubag. Sejak hari itu hingga
Umanis Galungan, di hand phone Rubag, tidak kurang dari 50 SMS
yang kebanyakan dari nomor dikenal masuk. Berbeda dengan SMS
sebelumnya, hampir tidak ada yang berceloteh tentang dharma dan
adharma, kebenaran dan kemurtadan, kemenangan dan kekalahan,
apalagi tentang roh yang bersenggama dengan Brahman. Agaknya,
mereka sudah bosan berbicara soal moral dan kebenaran, meski
keyakinan terhadap keberadaan Ida Sang Hyang Widi tetap tidak
goyah. Hakikatnya, mereka tetap bersyukur karena masih
dikaruniai hidup dan kehidupan hingga saat SMS itu dikirim.
"Meski aku tahu kalau yang menang dalam Hari Raya Galungan adalah
perusahaan telepon karena hujan lebat SMS mengguyur beberapa hari,
namun demi basa-basi dan tidak mau dikatakan sombong, aku
terpaksa membalas. Aku cuma mengucapkan selamat merayakan Hari
Raya Galungan dan Kuningan, semoga tidak berhalangan dan
berbahagia. Cuma itu!" tutur Rubag.
"Ya, itulah risiko sebagai mahluk sosial, saling menyapa. Memang
saat ini menang dan kalah, benar dan salah, tidak diukur dari
sudut moral spiritual, tapi jumlah simpanan di bank, aset berupa
tanah dan mobil serta kedudukan yang dicapai seseorang di
masyarakat berkat kekayaan itu. Coba perhatikan kompetisi di
bidang politik, ekonomi dan hukum yang terjadi akhir-akhir ini di
Tanah Air. Pemenangnya selalu segelintir orang berduit, bahkan
dengan uang berlimpah mereka berhasil menggaet kedudukan tinggi,
selanjutnya menambah isi pundi-pundi dan merekayasa hukum," sahut
Minggik.
"Syukurlah ucapanmu cukup bersahaja, tidak seribet SMS yang kau
terima, Bag! Apalagi kalau ucapan itu diimbuhi kalimat berbau
rohaniah 'kebenaran sejati adalah roh bersenggama dengan Brahman',
kau bisa dianggap sebagai pertapa yang biasa bersemedi di cafe
atau karaoke. Terlepas, mungkin yang kau maksud 'senggama' itu
adalah bersatunya Atman dengan Brahman yang juga berarti kematian.
Terlebih bila ucapan seperti itu kau tujukan pada orang-orang yang
berstatus 'pemenang' yang biasa berpikir pragmatis, kau bisa
ditertawai sebagai babakan pule. Karena sukses yang telah berhasil
diraih, bagi mereka, adalah kebenaran sejati. Mereka mungkin
tidak peduli, apa itu roh, apa itu Brahman, karena dunia fana bagi
mereka lebih penting daripada alam baka," ujar Dewa Ngurah.
"Mungkin ucapan seperti itu cocok bagi orang-orang yang menekuni
dan meyakini isi lontar 'Atma Prasangsa', yakni kisah perjalanan
roh setelah meninggal menuju akhirat," celetuk Rantun.
"Wah, pengetahuanku tidak sejauh itu. Karena itulah aku merespon
SMS itu dengan 'Oh, begitu ya?'. Celakanya, pengirim SMS itu
rupanya jago debat, dia gusar dan mengatakan aku tidak bisa
menjawab ucapannya. Padahal, setahuku, ucapannya adalah
pernyataan, bukan pertanyaan yang harus dijawab. Agar tidak
berdebat kusir dan membuang pulsa, seperti mengirim SMS
sebanyak-banyaknya untuk memenangkan kuis, aku tinggalkan dia
dengan kekesalannya. Lagi pula aku ingat ucapan terakhirnya,
'rahayu," tutur Rubag.
"Menyimak penuturanmu, kukira, pengirim SMS itu bukan jago debat,
tapi pemburu kebenaran! Dia mirip pemburu hantu yang sering tampil
di TV, yang memasukkan hasil perburuannya ke botol-botol. Konon,
jumlah hantu di dunia sama banyaknya dengan jumlah manusia. Nah,
bila ada manusia yang meninggal, seperti halnya hantu yang
dimasukkan ke botol, akan lahir pula bayi lain disusul hantu baru,
sehingga keseimbangan dunia terjaga. Keto kone!" kilah Renok.
"Beh, kau tak jauh berbeda dengan pengirim SMS itu, Nok !
Kau bicara soal hantu, seakan-akan kau adalah salah satu dari
hantu itu. Mirip seperti pengirim SMS yang mengatakan bahwa
kebenaran sejati terjadi ketika roh bersenggama atau bersatu
dengan Brahman. Apakah dia pernah mati, lalu bangkit dari
kematian, kemudian bertutur tentang kisah persatuan roh dengan
Brahman, seperti mekanik menguraikan ikhwal mesin? Seandainya pun
dia pernah mati suri selama beberapa hari, lalu hidup sehat
kembali, penuturannya juga perlu diragukan. Kecuali mungkin
ada saksi atau orang lain yang mengalami hal yang sama dalam waktu
bersamaan dengan penuturan yang persis sama," tukas Minggik.
"Hahaha..., seperti iklan rupiah, harus dilihat, diraba dan
diterawang! Sing ada celepuk sing ada legu, sing tepuk sing
nyandang gugu! Aku pernah dengar cerita seperti pendapat Renok,
tentang jumlah hantu sama dengan jumlah manusia. Mungkin itu
menyebabkan pikiran orang-orang sering dipengaruhi hantu
kebohongan. Bahkan dalam pikiran satu orang pun kadang-kadang
berkecamuk pendapat yang berbeda dan kontradiktif mengenai satu
masalah. Misalnya, soal kebenaran. Pikiran yang berubah-ubah
mengenai kebenaran melahirkan sebutan 'munafik' dan 'oportunis'.
Orang Jawa menyebut pikiran orang seperti itu esuk dhele sore
tempe. Inilah penyebab keributan terus menerus yang sering
berujung pada bentrok fisik," komentar Rantun.
"Kebenaran bersifat abstrak, karenanya sulit didefinisikan.
Di zaman demam demokrasi ini, kebenaran mensyaratkan dukungan
suara terbanyak. Makanya tokoh yang pendukungnya banyak pada suatu
saat, setiap ucapannya dianggap suara kebenaran. Namun ketika
bintangnya pudar, apalagi dicopot dari kedudukan secara tidak
hormat, apa pun yang diucapkannya dianggap kebohongan. Bahkan
orang-orang yang sebelumnya mengaku abdi setia, tangan kanan,
asisten bahkan kerabat, serentak menjauh, karena di mata mereka
tokoh tersebut tiba-tiba tampak seperti berpenyakit menular," kata
Renok.
"Kini aku sependapat denganmu, Nok! Karena abstrak alias tak
berwujud, bagiku, kebenaran hanyalah sebuah nama. Ironisnya, semua
manusia yang sejak lahir hingga meninggalkan dunia fana untuk
kembali ke alam baka, sibuk mencari benda yang tidak dikenalnya.
Dalam pencarian itu, masing-masing berusaha melukiskan kebenaran
di otaknya dan menganggapnya sebagai kebenaran sejati. Kebenaran
yang dilukis orang lain disebut palsu, sehingga muncul debat yang
berujung pada bentrok fisik. Sikap yang ingin memonopoli kebenaran
ini dimulai sejak manusia menghuni planet biru ini hingga kini
tetap berlangsung. Lalu, benarkah kebenaran sejati itu ada di
akhirat?" tanya Minggik.
"Aku bukan Dewa atau manusia setengah Dewa, sehingga tidak bisa
menjawab pertanyaanmu. Aku juga bukan balian sakti yang sok tahu
dunia niskala, sehingga tadi ketika ngomong tentang hantu pun, aku
akhiri pernyataanku dengan 'keto kone'. Karena begitu yang
kudengar dari orang lain, sedangkan aku cuma pengulang atau
repeater. Pendapat tentang kebenaran sejati ada di akhirat, aku
kira, juga berkategori 'keto kone', karena aku yakin itu hasil
dari nguping. Aku malah khawatir, bila pendapat itu diyakini
sebagai suara Tuhan, mendorong orang jadi ekstrim, lalu merindukan
kematian. Pelaku bom bunuh diri pun nekat mengakhiri hidupnya
karena janji-janji surga," jawab Renok.
* aridus