kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 1 Juli 2007 tarukan valas
 

OPINI


''Keto Kone...''

''KEBENARAN adalah sejarah yang menang. Dharma dan Adharma  selalu saling mengalahkan. Tidak ada kebenaran sejati dalam hidup ini. Kebenaran sejati, ketika roh bersenggama dengan Brahman. Om Shanti Shanti Shanti Om. Selamat Hari Raya Galungan. Rahayu."

Untaian kata itu diterima Rubag dalam bentuk short message service (SMS) di hari Penampahan Galungan, dari sebuah nomor yang tak tercatat dalam memori hand phone Rubag. Sejak hari itu hingga Umanis Galungan, di hand phone Rubag, tidak kurang dari 50 SMS yang kebanyakan dari nomor dikenal masuk. Berbeda dengan SMS sebelumnya, hampir tidak ada yang berceloteh tentang dharma dan adharma, kebenaran dan kemurtadan, kemenangan dan kekalahan, apalagi tentang roh yang bersenggama dengan Brahman. Agaknya, mereka sudah bosan berbicara soal moral dan kebenaran, meski keyakinan terhadap keberadaan Ida Sang Hyang Widi tetap tidak goyah.  Hakikatnya, mereka tetap bersyukur karena masih dikaruniai hidup dan kehidupan hingga saat SMS itu dikirim.

"Meski aku tahu kalau yang menang dalam Hari Raya Galungan adalah perusahaan telepon karena hujan lebat SMS mengguyur beberapa hari, namun demi basa-basi dan tidak mau dikatakan  sombong, aku terpaksa membalas. Aku cuma mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, semoga tidak berhalangan dan berbahagia. Cuma itu!" tutur Rubag.

"Ya, itulah risiko sebagai mahluk sosial, saling menyapa. Memang saat ini menang dan kalah, benar dan salah, tidak diukur dari sudut moral spiritual, tapi jumlah simpanan di bank, aset berupa tanah dan mobil serta kedudukan yang dicapai seseorang di masyarakat berkat kekayaan itu. Coba perhatikan kompetisi di bidang politik, ekonomi dan hukum yang terjadi akhir-akhir ini di Tanah Air. Pemenangnya selalu segelintir orang berduit, bahkan dengan uang berlimpah mereka berhasil menggaet kedudukan tinggi, selanjutnya menambah isi pundi-pundi dan merekayasa hukum," sahut Minggik.

"Syukurlah ucapanmu cukup bersahaja, tidak seribet SMS yang kau terima, Bag! Apalagi kalau ucapan itu diimbuhi kalimat berbau rohaniah 'kebenaran sejati adalah roh bersenggama dengan Brahman', kau bisa dianggap sebagai pertapa yang biasa bersemedi di cafe atau karaoke. Terlepas, mungkin yang kau maksud 'senggama' itu adalah bersatunya Atman dengan Brahman yang juga berarti kematian. Terlebih bila ucapan seperti itu kau tujukan pada orang-orang yang berstatus 'pemenang' yang biasa berpikir pragmatis, kau bisa ditertawai sebagai babakan pule. Karena sukses yang telah berhasil diraih, bagi mereka, adalah kebenaran sejati.  Mereka mungkin tidak peduli, apa itu roh, apa itu Brahman, karena dunia fana bagi mereka lebih penting daripada alam baka," ujar Dewa Ngurah.

"Mungkin ucapan seperti itu cocok bagi orang-orang yang menekuni dan meyakini isi lontar 'Atma Prasangsa', yakni kisah perjalanan roh setelah meninggal menuju akhirat," celetuk Rantun.

"Wah, pengetahuanku tidak sejauh itu. Karena itulah aku merespon SMS itu dengan 'Oh, begitu ya?'. Celakanya, pengirim SMS itu rupanya jago debat, dia gusar dan mengatakan aku tidak bisa menjawab ucapannya. Padahal, setahuku, ucapannya adalah pernyataan, bukan pertanyaan yang harus dijawab. Agar tidak berdebat kusir dan membuang pulsa, seperti mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk memenangkan kuis, aku tinggalkan dia dengan kekesalannya. Lagi pula aku ingat ucapan terakhirnya, 'rahayu," tutur Rubag.

"Menyimak penuturanmu, kukira, pengirim SMS itu bukan jago debat, tapi pemburu kebenaran! Dia mirip pemburu hantu yang sering tampil di TV, yang memasukkan hasil perburuannya ke botol-botol. Konon, jumlah hantu di dunia sama banyaknya dengan jumlah manusia. Nah, bila ada manusia yang meninggal, seperti halnya hantu yang dimasukkan ke botol, akan lahir pula bayi lain disusul hantu baru, sehingga keseimbangan dunia terjaga. Keto kone!" kilah Renok.

"Beh, kau tak jauh berbeda dengan pengirim SMS itu, Nok !  Kau bicara soal hantu, seakan-akan kau adalah salah satu dari hantu itu. Mirip seperti pengirim SMS yang mengatakan bahwa kebenaran sejati terjadi ketika roh bersenggama atau bersatu dengan Brahman. Apakah dia pernah mati, lalu bangkit dari kematian, kemudian bertutur tentang kisah persatuan roh dengan Brahman, seperti mekanik menguraikan ikhwal mesin? Seandainya pun dia pernah mati suri selama beberapa hari, lalu hidup sehat kembali, penuturannya juga perlu diragukan.  Kecuali mungkin ada saksi atau orang lain yang mengalami hal yang sama dalam waktu bersamaan dengan penuturan yang persis sama," tukas Minggik.

"Hahaha..., seperti iklan rupiah, harus dilihat, diraba dan diterawang! Sing ada celepuk sing ada legu, sing tepuk sing nyandang gugu! Aku pernah dengar cerita seperti pendapat Renok, tentang jumlah hantu sama dengan jumlah manusia.  Mungkin itu menyebabkan pikiran orang-orang sering dipengaruhi hantu kebohongan. Bahkan dalam pikiran satu orang pun kadang-kadang berkecamuk pendapat yang berbeda dan kontradiktif mengenai satu masalah. Misalnya, soal kebenaran. Pikiran yang berubah-ubah mengenai kebenaran melahirkan sebutan 'munafik' dan 'oportunis'. Orang Jawa menyebut pikiran orang seperti itu esuk dhele sore tempe. Inilah penyebab keributan terus menerus yang sering berujung pada bentrok fisik," komentar Rantun.

"Kebenaran bersifat abstrak, karenanya sulit didefinisikan.  Di zaman demam demokrasi ini, kebenaran mensyaratkan dukungan suara terbanyak. Makanya tokoh yang pendukungnya banyak pada suatu saat, setiap ucapannya dianggap suara kebenaran. Namun ketika bintangnya pudar, apalagi dicopot dari kedudukan secara tidak hormat, apa pun yang diucapkannya dianggap kebohongan. Bahkan orang-orang yang sebelumnya mengaku abdi setia, tangan kanan, asisten bahkan kerabat, serentak menjauh, karena di mata mereka tokoh tersebut tiba-tiba tampak seperti berpenyakit menular," kata Renok.

"Kini aku sependapat denganmu, Nok! Karena abstrak alias tak berwujud, bagiku, kebenaran hanyalah sebuah nama. Ironisnya, semua manusia yang sejak lahir hingga meninggalkan dunia fana untuk kembali ke alam baka, sibuk mencari benda yang tidak dikenalnya. Dalam pencarian itu, masing-masing berusaha melukiskan kebenaran di otaknya dan menganggapnya sebagai kebenaran sejati. Kebenaran yang dilukis orang lain disebut palsu, sehingga muncul debat yang berujung pada bentrok fisik. Sikap yang ingin memonopoli kebenaran ini dimulai sejak manusia menghuni planet biru ini hingga kini tetap berlangsung. Lalu, benarkah kebenaran sejati itu ada di akhirat?" tanya Minggik.

"Aku bukan Dewa atau manusia setengah Dewa, sehingga tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku juga bukan balian sakti yang sok tahu dunia niskala, sehingga tadi ketika ngomong tentang hantu pun, aku akhiri pernyataanku dengan 'keto kone'. Karena begitu yang kudengar dari orang lain, sedangkan aku cuma pengulang atau repeater. Pendapat tentang kebenaran sejati ada di akhirat, aku kira, juga berkategori 'keto kone', karena aku yakin itu hasil dari nguping. Aku malah khawatir, bila pendapat itu diyakini sebagai suara Tuhan, mendorong orang jadi ekstrim, lalu merindukan kematian. Pelaku bom bunuh diri pun nekat mengakhiri hidupnya karena janji-janji surga," jawab Renok.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com