kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 1 Juli 2007 tarukan valas
 

KELUARGA


Serba-serbi Jatuh Cinta
Bangau Jatuh Cinta (2)

BURUNG cetrung terbang lagi ke rumah Gelatik. Ia tak habis pikir mengapa tuannya rela berbuat seperti itu.

"Maaf, Gelatik! Demi cinta Tuan Bangau sudah memotong paruhnya. Sekarang aku disuruh mengantarkan kamu ke rumahnya," kata Cetrung setelah tiba di rumah Gelatik.

"Kasihan bangau yang tidak berparuh itu," jawab Gelatik. "Tapi masih ada syarat lain."

"Syarat apa itu?"

"Suruh ia memotong sayapnya. Aku takut kalau-kalau sayap yang lebar itu membuat nafasku sesak. Satu lagi, suruh ia memotong kakinya yang terlalu panjang. Bukankah pengantin yang bersanding itu harus kelihatan serasi sehingga sedap dipandang mata?" jawab Gelatik dengan senyum yang dibuat-buat.

"Mana calon istriku?" tanya Bangau setelah melihat anak buahnya kembali dengan tangan hampa.

"Ada lagi syaratnya, Tuan!" kata Cetrung. Dengan wajah sedih burung kecil dan kurus itu pun menjelaskan kedua syarat itu.

"Ha, ha! Kalau cuma itu, baiklah!" Burung bangau segera mengambil pisau lalu memotong kedua sayap dan kedua kakinya.

"Nah, bawalah Gelatik ke sini sekarang juga!" perintah Bangau.

Sesungguhnya, burung cetrung itu ingin mencegah tindakan bangau. Tetapi Tuan Bangau yang keras hati itu tidak akan memperdulikan kata-kata anak buahnya. Burung cetrung itu kelihatan murung dan pucat. Ia sangat sedih melihat keadaan tuannya. Burung bangau itu tidak lagi berparuh, tidak bersayap dan tidak berkaki. "Cinta itu benar-benar buta!" kata Cetrung komat-kamit di tengah perjalanan menuju rumah Gelatik.

"Apa kabar, sahabatku?" sapa burung gelatik setelah melihat burung utusan itu hinggap di depan rumahnya.

"Maaf, Gelatik! Burung bangau itu benar-benar mencintaimu. Demi kamu ia korbankan paruhnya, demi kamu ia korbankan sayap dan kakinya. Tuanku sudah tidak dapat berbicara, tidak dapat terbang dan tidak dapat berdiri. Kasihanilah ia, Gelatik. Sekarang ikutlah bersamaku ke rumahnya!"

"Kasihan Bangau yang setia itu," jawab Gelatik. "Tapi masih ada satu syarat yang terakhir."

"Syarat apa itu?"

"Suruh Tuanmu menjemputku dengan pawai yang meriah. Bawalah tandu pengantin dan iringan bleganjur. Aku dan Bangau akan duduk bersanding di atas tandu itu."

Bangau sangat senang mendengar laporan burung cetrung yang terakhir itu. Kemudian ia memanggil burung belatuk untuk membunyikan kulkul. Dalam waktu singkat burung-burung berkumpul dan bersorak gembira menyambut berita pernikahan yang menggembirakan itu. Burung enggang dipercaya memimpin  pawai. Burung-burung yang bertubuh kekar mendapat tugas memikul tandu dan memegang payung.

Burung-burung penyanyi menabuh bleganjur. Burung yang paling cocok memukul kempur adalah burung hantu yang bernama I Celepuk. Pukulannya yang keras dan tidak goyah itu sangat menentukan irama bleganjur. Tetapi sayang, burung hantu itu menolak. Katanya, sejak beberapa hari ia sakit demam. Akhirnya pawai yang meriah itu diiringi bleganjur tanpa kempur.

Burung bangau yang duduk di atas tandu merasa dirinya seperti pangeran. Burung enggang acapkali memberi peringatan kepada pemegang payung. Ia takut kalau-kalau sang pangeran diterpa terik matahari. Menjelang tiba di halaman rumah  Gelatik, suara bleganjur menghentak-hentak dan nyanyian burung makin membahana.

Burung gelatik yang sedang tidur terpaksa bangun. Matanya merah dan membelalak. "Hai, Bangau!" teriaknya. "Dalam keadaan sempurna pun aku tidak mencintaimu, apalagi dalam keadaan tidak berparuh, tidak bersayap dan tidak berkaki," kata burung yang cantik itu lalu terbang entah ke mana.

Burung bangau itu pingsan di atas tandu. Pawai berhamburan dan burung-burung kembali pulang. I Celepuk, burung hantu yang mengaku demam itu tertawa terbahak-bahak. "Bodoh kamu! Mudah benar diolok-olok Gelatik, ha, ha, ha..!" katanya.

Burung-burung yang ikut pawai marah. Mereka mengejar I Celepuk. "Cungkil matanya! Cungkil matanya!" teriak mereka. Burung hantu itu terbang ketakutan. Untung ia menemukan sebuah tempat persembunyian yang sangat rahasia. Karena   takut tercungkil, di tempat itu sepanjang hari ia memejamkan matanya. Tetapi pada malam hari, ketika semua burung tertidur, ia membuka matanya lebar-lebar. Waktu itulah ia mencari makan dan memukul kempur. "Puk, puk, puk!" demikian bunyi kempur itu.

 

* made taro

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com