Serba-serbi Jatuh Cinta
Bangau Jatuh Cinta (2)
BURUNG
cetrung terbang lagi ke rumah Gelatik. Ia tak habis pikir mengapa
tuannya rela berbuat seperti itu.
"Maaf, Gelatik! Demi cinta Tuan Bangau sudah
memotong paruhnya. Sekarang aku disuruh mengantarkan kamu ke
rumahnya," kata Cetrung setelah tiba di rumah Gelatik.
"Kasihan bangau yang tidak berparuh itu," jawab
Gelatik. "Tapi masih ada syarat lain."
"Syarat apa itu?"
"Suruh ia memotong sayapnya. Aku takut kalau-kalau
sayap yang lebar itu membuat nafasku sesak. Satu lagi, suruh ia
memotong kakinya yang terlalu panjang. Bukankah pengantin yang
bersanding itu harus kelihatan serasi sehingga sedap dipandang
mata?" jawab Gelatik dengan senyum yang dibuat-buat.
"Mana calon istriku?" tanya Bangau setelah melihat
anak buahnya kembali dengan tangan hampa.
"Ada lagi syaratnya, Tuan!" kata Cetrung. Dengan
wajah sedih burung kecil dan kurus itu pun menjelaskan kedua
syarat itu.
"Ha, ha! Kalau cuma itu, baiklah!" Burung bangau
segera mengambil pisau lalu memotong kedua sayap dan kedua
kakinya.
"Nah, bawalah Gelatik ke sini sekarang juga!"
perintah Bangau.
Sesungguhnya, burung cetrung itu ingin mencegah
tindakan bangau. Tetapi Tuan Bangau yang keras hati itu tidak akan
memperdulikan kata-kata anak buahnya. Burung cetrung itu kelihatan
murung dan pucat. Ia sangat sedih melihat keadaan tuannya. Burung
bangau itu tidak lagi berparuh, tidak bersayap dan tidak berkaki.
"Cinta itu benar-benar buta!" kata Cetrung komat-kamit di tengah
perjalanan menuju rumah Gelatik.
"Apa kabar, sahabatku?" sapa burung gelatik setelah
melihat burung utusan itu hinggap di depan rumahnya.
"Maaf, Gelatik! Burung bangau itu benar-benar
mencintaimu. Demi kamu ia korbankan paruhnya, demi kamu ia
korbankan sayap dan kakinya. Tuanku sudah tidak dapat berbicara,
tidak dapat terbang dan tidak dapat berdiri. Kasihanilah ia,
Gelatik. Sekarang ikutlah bersamaku ke rumahnya!"
"Kasihan Bangau yang setia itu," jawab Gelatik.
"Tapi masih ada satu syarat yang terakhir."
"Syarat apa itu?"
"Suruh Tuanmu menjemputku dengan pawai yang meriah.
Bawalah tandu pengantin dan iringan bleganjur. Aku dan Bangau akan
duduk bersanding di atas tandu itu."
Bangau sangat senang mendengar laporan burung
cetrung yang terakhir itu. Kemudian ia memanggil burung belatuk
untuk membunyikan kulkul. Dalam waktu singkat burung-burung
berkumpul dan bersorak gembira menyambut berita pernikahan yang
menggembirakan itu. Burung enggang dipercaya memimpin pawai.
Burung-burung yang bertubuh kekar mendapat tugas memikul tandu dan
memegang payung.
Burung-burung penyanyi menabuh bleganjur. Burung
yang paling cocok memukul kempur adalah burung hantu yang bernama
I Celepuk. Pukulannya yang keras dan tidak goyah itu sangat
menentukan irama bleganjur. Tetapi sayang, burung hantu itu
menolak. Katanya, sejak beberapa hari ia sakit demam. Akhirnya
pawai yang meriah itu diiringi bleganjur tanpa kempur.
Burung bangau yang duduk di atas tandu merasa
dirinya seperti pangeran. Burung enggang acapkali memberi
peringatan kepada pemegang payung. Ia takut kalau-kalau sang
pangeran diterpa terik matahari. Menjelang tiba di halaman rumah
Gelatik, suara bleganjur menghentak-hentak dan nyanyian burung
makin membahana.
Burung gelatik yang sedang tidur terpaksa bangun.
Matanya merah dan membelalak. "Hai, Bangau!" teriaknya. "Dalam
keadaan sempurna pun aku tidak mencintaimu, apalagi dalam keadaan
tidak berparuh, tidak bersayap dan tidak berkaki," kata burung
yang cantik itu lalu terbang entah ke mana.
Burung bangau itu pingsan di atas tandu. Pawai
berhamburan dan burung-burung kembali pulang. I Celepuk, burung
hantu yang mengaku demam itu tertawa terbahak-bahak. "Bodoh kamu!
Mudah benar diolok-olok Gelatik, ha, ha, ha..!" katanya.
Burung-burung yang ikut pawai marah. Mereka
mengejar I Celepuk. "Cungkil matanya! Cungkil matanya!" teriak
mereka. Burung hantu itu terbang ketakutan. Untung ia menemukan
sebuah tempat persembunyian yang sangat rahasia. Karena
takut tercungkil, di tempat itu sepanjang hari ia memejamkan
matanya. Tetapi pada malam hari, ketika semua burung tertidur, ia
membuka matanya lebar-lebar. Waktu itulah ia mencari makan dan
memukul kempur. "Puk, puk, puk!" demikian bunyi kempur itu.
* made taro