Lukisan Kaca Desa Nagasepaha di PKB 2007
Mengkondisikan Kebebasan Kreasi
Berkembang
TEMA
ibarat sebuah pintu masuk pada sebuah karya seni dan merupakan
salah satu aspek paling luar yang lebih cepat dijamah publik. Ada
yang menganggap, untuk membangun tema yang indah harus melalui
bentuk yang indah pula. Jika tidak, sebuah kaya seni dianggap
tidak padu atau cacat.
-------------
Maka teknik berkarya seni menjadi sebuah persoalan
yang tidak boleh diabaikan. Pada tema pulalah ada pesan atau makna
atau yang disebut isi dari sebuah karya seni. Oleh sebab itu,
lukisan-lukisan Bali klasik serta karya di awal perkembangan seni
lukis Bali gaya Ubud, membangun tema atau isi serta bentuk yang
indah. Dengan kata lain, melukis berarti menerapkan disiplin yang
ketat untuk mewujudkan bentuk dan isi yang indah. "Seni itu
indah".
Sang Pelopor
Jika dari situ melihat lukisan-lukisan kaca dari
Desa Nagasepaha, Buleleng, yang dikerjakan sejak 1927, ada banyak
hal menarik yang dapat diceritakan. Mewujudkan suatu yang indah
bukanlah hal mudah ketika harus berhadapan dengan bahan kaca
sebagai kanvas, warna yang khusus, serta teknik yang menyesuaikan.
Persoalan ini mengemuka pada pameran lukisan kaca Desa Nagasepaha
pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2007 ini.
Sejak tokoh pertama yakni I Ketut Negara --
kemudian diberi sebutan Jero Dalang Diah -- yang dalang sekaligus
ahli membuat wayang kulit mengerjakan seni lukis kaca, sampai kini
generasi pelukis Desa Nagasepaha mengerjakan lukisan kaca. Ini
sudah sekitar 70 tahun berjalan, dimulai sekitar tahun 1927.
Konon, Jero Dalang Diah semula didatangi oleh I Wayan Nitia yang
ingin dibuatkan lukisan wayang dengan menyodorkan contoh lukisan
kaca dari Jepang. Itulah awal mula munculnya seni lukis kaca
Nagasepaha. Demikian seorang dosen STKIP, IGN Wiednyana,
menuturkan suatu hari ketika lukisan kaca Nagasepaha dipamerkan di
Museum Puri Lukisan Ubud pada 23 April s.d. 23 Mei 2000.
Kini, karya-karya seni lukis kaca Desa Nagasepaha
dipamerkan di Ruang Kriya di arena PKB 2007. Di situ ada banyak
ragam gaya. Ada gaya seni lukis wayang didukung Jero Dalang Diah,
sang pelopor atau bapak dari seni lukis kaca Desa Nagasepaha.
Diikuti antara lain oleh I Nyoman Subrata (1942), I Nyoman Netep
(1960), Kadek Subrata (1982), I Made Sukrawa (1972), I Ketut Sekar
(1949), I Wayan Arnawa, I Ketut Suamba (1942), Gede Kenak Eriada
dan salah satu pelukis perempuan Ni Made Nurining. Kemudian gaya
lain, di luar gaya wayang didukung pelukis muda seperti I Ketut
Sentosa.
Beberapa lukisan gaya wayang dibangun dengan latar
belakang pepohonan dibuat naturalis. Gaya naturalistik itu konon
dipengaruhi lukisan-lukisan pemandangan buatan Sukaraja (Jawa
Tengah) dan lukisan gaya Jelekong (Jawa Barat) yang banyak beredar
di Bali hingga ke pelosok desa. Penelitian para dosen STKIP (1992)
menjelaskan bahwa gaya wayang sekaligus digabung dengan gaya
naturalustik menjadi periode tersendiri dalam perkembangan seni
lukis kaca ini.
Kemudian perubahan mengarah pada satu gaya wayang
dengan latar dekoratif menandai perkembangan selanjutnya. Di luar
itu, masih ada sejumlah nilai lain yang bisa diketengahkan
misalnya pemakaian warna yang mirip gaya lukisan young artist
dominan penggunaan warna dasar, garis kontur yang sangat kuat
bahkan cenderung kaku dan tidak elastis karena pengaruh bahan kaca
dan postur wayang pendek menandai lukisan wayang kaca Nagasepaha.
Pada karya I Ketut Suamba dengan judul
"Bhagawadgita", persoalan teknik melukisnya dapat mengatasi bahan
kaca untuk menghasilkan garis kontur yang tipis, elastis. Dia
mampu menaklukkan sebuah tantangan yang tidak semua orang dapat
melakukannya. Dengan demikian lukisannya menempati posisi
tersendiri, khas seni lukis Bali Kuno dengan warna hitam-putih
hanya tanpa aburan. Suatu yang menarik ingatan tentang penerapan
disiplin yang ketat dalam tata krama seni lukis Bali sementara di
lain pihak sejumlah lukisan dengan teknik melukis seadanya,
penggunaan warna murni serta menunjukkan hanya satu postur wayang,
justru nampak khas. Sebuah kesenian wayang yang berpijak dari
kesederhanaan serta mengandung kesan religius.
Kebebasan Ekspresi
Ada hal lain lagi yang unik dalam komunitas para
pelukis dari Desa Nagasepaha ini. Dalam sebuah lukisan ada tokoh
wayang Delem membaur dalam lingkungan manusia terlibat nonton
televisi. Sebuah narasi lintas teks di mana Delem yang hidup dalam
dunia wayang bermigrasi ke dunia manusia. Lukisan itu berjudul
"Terpelincir" (2007, 70x50 cm, cat minyak di kaca) karya I Ketut
Sentosa. Unsur poster pada lukisannya nampak dari tulisan besar
diletakkan di atas figur menegaskan tentang tema yang dimaksud
mengarah ke tema sosial tergelincirnya pesawat Garuda tempo hari.
Beberapa figur manusia dengan posisi samping, mirip posisi wayang
kulit dan tokoh Delem (tokoh rakyat dalam dunia pewayangan)
diketengahkan tengah menonton TV menyaksikan tayangan berita
pesawat Garuda yang terpelincir.
Bagaimana kita membaca pesan dari lukisan ini?
Sebuah tema yang lain yang menjelaskan sebuah totalitas
pendobrakan atas pakem yang sudah ada. Mitos berkesenian dilabrak.
Sebuah karya yang lain, juga dibuat oleh Sentosa, seperti mengajak
kita pada kesadaran multikultur yang dibangun dengan hadirnya
perempuan berjilbab di tengah kerumunan orang menawar kain dan
lagi-lagi tokoh Delem nongol di situ.
Delem menjadi suatu yang fokus agaknya jika hadir
di mana-mana. Tokoh pejabat bawah di struktur pemerintahan dunia
pewayangan ini identik dengan si mulut besar yang menurut istilah
lokal disebut "i bungut gebuh" yang NATO (no actions talk only).
Sebuah gaya identifikasi yang khas dan menawan untuk masa
sekarang. Sebuah interpretasi zaman di mana Pilkada membara dan
orang jualan kecap di mana-mana sebagai barang asongan. Dan Delem
adalah hamba kebudayaan di situ.
Sudah 75 tahun lebih sang tokoh yakni Jero Dalang
Diah melakoni kehidupan berkutat dengan seni lukis kaca hingga
kini masih dikerjakan di Nagasepaha. Beberapa periode proses
pencarian hingga memunculkan perubahan-perubahan yang memberikan
ruang bebas ekspresi. Seorang pelukis boleh saja menuangkan bentuk
wayang dengan latar naturalistik, dekoratif atau datar satu warna
atau mirip tenda Drama Gong di tahun 1970-an. Atau, tidak ada yang
sakral. Beda seperti misalnya melihat perkembangan seni lukis
Kamasan yang tidak mau keluar dari pakem tema maupun bentuk.
Akhirnya kita berharap, akan ada orang peduli untuk
mengkondisikan kebebasan kreasi ini untuk berkembang terus. Desa
Nagasepaha terlalu jauh untuk jangkauan para turis yang sekadar
ingin buah tangan untuk dibawa pulang ke negerinya, namun harapan
kita lebih jauh dari hubungan semacam itu.
* i nyoman
wirata