Tetap Menggeliat, Teater di Kampus Seribu
Jendela
TERNYATA,
Kampus Seribu Jendela atau Kampus Undiksha (dulu IKIP Negeri
Singaraja) tak pernah sepi dari kegiatan teater. Selain mahasiswa
yang tergabung dalam UKM teater, juga mahasiswa Jurusan Pendidikan
Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, serta Jurusan Pendidikan
Bahasa Inggris tak pernah berhenti berkarya.
Hal ini lantaran di kedua jurusan tersebut ada mata
kuliah drama yang mewajibkan mahasiswa menampilkan pentas teater
sebagai bentuk tugas akhir. Jurusan Pendidikan Bahasa dan sastra
Indonesia, misalnya, memunculkan kuliah drama pada Semester II,
sedangkan Bahasa Inggris pada Semester VI, setelah mahasiswa
menyelesaikan kuliah Inroduction to Literatura, Poetry, dan Prose.
Pekan lalu, Senin (18/6) dipentaskan "Ghost" karya
Henrik Ibsen dengan sutradara Ayu Artha Sucianingsih dan Wulan
Dewi, Selasa (19/6) naskah "Blood Wedding" karya Ferderico Garcia
Lorca, sutradara Dayu Chintami dan Indah Puspita yang merangkap
koreografer. Minggu (24/6), dipentaskan naskah "Salome" karya
Oscar Wilde sutradara Nurul Kinayah, Novy dan Pande Sumartini.
Pentas digelar di Aula FBS Jl. A Yani 67 Singaraja.
Semua naskah itu dibawakan dalam bentuk teater
realis. "Blood Wedding" yang pernah terkenal di Indonesia dalam
terjemahan "Pernikahan Darah" pada awal 1960-an, dibawakan dengan
sangat rapi. Naskah yang sangat puitis sebagaimana sifat
karya-karya Lorca yang puitis, dibawakan pula dengan tarian dan
nyanyian secara live.
Sejumlah lagu dinyanyikan oleh sejumlah pemain dan
juga oleh sutradara, ditingkah petikan gitar Bayu. Naskah tragedi
modern tersebut menyangkut masalah upacara perkawinan yang
menghasilkan kematian mempelai lelaki dan Leonardo Felix yang
sudah beristeri dan beranak satu. Kostum gaya Spanyol harus
disiapkan, termasuk sombrero, topi khas petani Spanyol.
Untuk "Ghost" yang di Indonesia dikenal lewat
sadurannya berjudul "Hantu Sang Tumenggung", kerabat kerja harus
juga menggarap panggung dan bagian bawah. Di bawah dibangun sebuah
taman dengan sejumlah tanaman hidup dan sebidang lapangan rumput,
padahal di atas panggung mereka harus siapkan ruang kerja Mr.
Alvin almarhum yang cukup realis.
Dalam drama "Salome", kostum merupakan probel
utama, karena seluruhnya harus disiapkan, tak mungkin pinjam atau
beli. Kostum raja, ratu, prajurit, orang-orang Yahuni, Nasaren,
dan tokoh-tokoh lain. Belum lagi tokoh utama, Nurul Kinayah yang
juga sutradara harus pula menari.
Pada semester-semester sebelumnya, Jurusan Bahasa
Inggris menampilkan karya-karya lain oleh Eugene Ionesco, Albert
Camus, George Bernard Shaw, dan lain-lain, semuanya dibawakan
dengan gaya realis. Namun karena tak pernah tersinggung
pemberitaan, banyak yang mengira bahwa kegiatan seni di Kampus
Seribu Jendela itu melempem.
* sunaryono
basuki ks.