kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 1 Juli 2007 tarukan valas
 

DESAIN


Kekuatan Manajemen ala Sri Krishna

Judul            :  The Gita of Management
                       Panduan bagi Eksekutif Muda
                       Berwawasan Modern
Pengarang    :  Ananda Krishna
Tebal           :  322 halaman + ix
Penerbit       :  PT Gramedia

-------------

 

PADA awalnya, kebijaksanaan spiritual kuno Bhagavadgita mungkin terdengar aneh untuk dijadikan panutan para manajer masa kini yang terpacu angka. Naskah kuno itu menceritakan percakapan Krishna dengan Arjuna, seorang kesatria yang tengah menghadapi krisis moral menghadapi sebuah perang besar yang menentukan.

Salah satu pesan utamanya: pemimpin yang penuh pengertian seharusnya mampu menguasai segala dorongan ataupun emosi yang menutupi penilaian logis. Pemimpin yang baik itu tidak egois, mampu berinisiatif dan fokus pada tugas ketimbang terobsesi dengan hasil atau perolehan finansial. Intinya, seorang pemimpin mesti mendahulukan tujuan sebelum diri sendiri. Nilai-nilai ini sangat bisa diterapkan dalam kepemimpinan korporat saat ini.

Di masyarakat, di mana hukum rimba masih berlaku, Sun Tzu adalah cahaya lilin yang dapat menerangi rimba itu. Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana hukum yang berlaku adalah fight or flight -- melawan untuk keluar sebagai pemenang atau melarikan diri dari medan laga. Sun Tzu adalah Nabi bagi mereka yang percaya bahwa kekerasan hanya dapat dilawan atau dihadapi dengan kekerasan. Berbasiskan konsep dasar itu ia menyusun Seni Perang, untuk memberi kita kemenangan dan orang modern dengan antusias menerapkannya dalam bisnis.

Bagi Sun Tzu, pengarang risalah manajemen "The Art of War" yang sempat populer, kemenangan harus menjadi "tujuan utama" memenangi peperangan menyangkut disiplin pantang mundur. Agar termotivasi, pasukan harus melihat adanya "keuntungan jika berhasil mengalahkan musuh". Bagilah hasil rampasan dengan rekan sejawat dan anak buah. Berikan bagian dari daerah jajahan kepada mereka.

Sedangkan Bhagavad Gita memuat kebijaksanaan Krishna. Ia lebih fokus pada pikiran dan tindakan, bukan pada hasil. Berikut ini konsep Krishna: "Jangan pernah melakukan sesuatu hanya karena imbalan". Tindakan yang dilakukan hanya demi hasrat duniawi akan berujung kegagalan. Lakukan sesuatu dengan baik. Dengan demikian hal-hal yang baik akan menjadi kenyataan.

Setiap orang harus bekerja, tak seorang pun dapat menghindari pekerjaan. Dan seorang pekerja mesti berpikir pula. Tapi apa yang mesti dipikirkannya? "Bukan hasil akhir, tetapi cara untuk melaksanakan tugasmu dengan baik," kata Krishna. Sri Krishna memahami waktu sebagai kontinuitas. Apa yang biasa disebut "masa lalu" tidak terputuskan dari "masa kini". Apa yang disebut "masa depan" juga terkait dengan "masa kini" walau tidak atau belum tampak -- bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu.

 

Seni Perang

Anand Krishna dalam buku ini mengajak orang untuk sungguh-sungguh memahami falsafah dasar seni perang Sun Tzu (Sun Tzu's, "The Essensials of War") benar-benar sebagai sebuah falsafah seni perang yang tentunya diperuntukkan bagi insan militer di zamannya dan tidak sesuai jika diimplementasikan atau dikaitkan dengan manajemen perusahaan masa kini. Dalam kata lain, falsafah itu berisi tentang semangat berperang, bukan seni berbisnis.

Menurut Anand Krishna, kita perlu naik kembali ke ketinggian kebijaksanaan Sri Krishna. Sri Krishna dan Bhagavad Gita berasal dari budaya kita sendiri dari budaya Nusantara yang menjadi bagian dari peradaban Sindhu. Peradaban ini oleh para sejarawan Arab disebut Hindu, oleh Barat disebut Indo, Indies, Hindia, India, Indonesia, dan sebagainya. Dalam buku ini penulis tidak sedang berbicara tentang apa yang sekarang disebut "agama Hindu", tetapi tentang budaya Indo, tentang nilai-nilai luhur yang terdapat dalam kearifan lokal kita di kepulauan Nusantara.

Menurut Anand Krishna, kita menjadi besar bukan karena Sun Tzu. Kita menjadi besar karena nilai-nilai luhur kebudayaan dan kearifan lokal kita. Lontar-lontar yang masih tersisa adalah bukti nyata akan kemegahan dan kebesaran kita di masa silam. Bukan saja kemegahan dan kebesaran materi, juga rohani. Nilai-nilai yang telah menjadi pondasi bagi bangsa dan negara kita. Nilai-nilai yang mengantar kita pada puncak kemegahan baru di masa mendatang. Jika kita belajar untuk memberi tanpa mengharapkan imbalan, persis seperti yang dilakukan oleh alam, kita menjadi alami.

Dalam buku ini Anand Krishna menunjukkan kekuatan manajemen ala Sri Krishna yakni berkarya tanpa pamrih. Dikemas dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, Anand Krishna meramunya untuk para eksekutif muda berwawasan modern dan para pemimpin bangsa. Dalam sejarah bangsa, kita dapat menemukan sosok versi Gita ini dalam diri Bung Karno. Ia tidak membangun Indonesia untuk menjadi negeri tertutup seperti Cina di masa lalu, tetapi negeri yang terbuka. Terbuka bagi kemajuan serta perkembangan dan perubahan.

 

* pt. sripuji astuti w.,
  National Integration
  Movement Denpasar

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com