Kekuatan Manajemen ala Sri Krishna
Judul
: The Gita of Management
Panduan bagi Eksekutif Muda
Berwawasan Modern
Pengarang : Ananda Krishna
Tebal
: 322 halaman + ix
Penerbit : PT Gramedia
-------------
PADA
awalnya, kebijaksanaan spiritual kuno Bhagavadgita mungkin
terdengar aneh untuk dijadikan panutan para manajer masa kini yang
terpacu angka. Naskah kuno itu menceritakan percakapan Krishna
dengan Arjuna, seorang kesatria yang tengah menghadapi krisis
moral menghadapi sebuah perang besar yang menentukan.
Salah satu pesan utamanya: pemimpin yang penuh
pengertian seharusnya mampu menguasai segala dorongan ataupun
emosi yang menutupi penilaian logis. Pemimpin yang baik itu tidak
egois, mampu berinisiatif dan fokus pada tugas ketimbang terobsesi
dengan hasil atau perolehan finansial. Intinya, seorang pemimpin
mesti mendahulukan tujuan sebelum diri sendiri. Nilai-nilai ini
sangat bisa diterapkan dalam kepemimpinan korporat saat ini.
Di masyarakat, di mana hukum rimba masih berlaku,
Sun Tzu adalah cahaya lilin yang dapat menerangi rimba itu. Sun
Tzu mewakili manusia primordial, di mana hukum yang berlaku adalah
fight or flight -- melawan untuk keluar sebagai pemenang atau
melarikan diri dari medan laga. Sun Tzu adalah Nabi bagi mereka
yang percaya bahwa kekerasan hanya dapat dilawan atau dihadapi
dengan kekerasan. Berbasiskan konsep dasar itu ia menyusun Seni
Perang, untuk memberi kita kemenangan dan orang modern dengan
antusias menerapkannya dalam bisnis.
Bagi Sun Tzu, pengarang risalah manajemen "The Art
of War" yang sempat populer, kemenangan harus menjadi "tujuan
utama" memenangi peperangan menyangkut disiplin pantang mundur.
Agar termotivasi, pasukan harus melihat adanya "keuntungan jika
berhasil mengalahkan musuh". Bagilah hasil rampasan dengan rekan
sejawat dan anak buah. Berikan bagian dari daerah jajahan kepada
mereka.
Sedangkan Bhagavad Gita memuat kebijaksanaan
Krishna. Ia lebih fokus pada pikiran dan tindakan, bukan pada
hasil. Berikut ini konsep Krishna: "Jangan pernah melakukan
sesuatu hanya karena imbalan". Tindakan yang dilakukan hanya demi
hasrat duniawi akan berujung kegagalan. Lakukan sesuatu dengan
baik. Dengan demikian hal-hal yang baik akan menjadi kenyataan.
Setiap orang harus bekerja, tak seorang pun dapat
menghindari pekerjaan. Dan seorang pekerja mesti berpikir pula.
Tapi apa yang mesti dipikirkannya? "Bukan hasil akhir, tetapi cara
untuk melaksanakan tugasmu dengan baik," kata Krishna. Sri Krishna
memahami waktu sebagai kontinuitas. Apa yang biasa disebut "masa
lalu" tidak terputuskan dari "masa kini". Apa yang disebut "masa
depan" juga terkait dengan "masa kini" walau tidak atau belum
tampak -- bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa
melihat sejauh itu.
Seni Perang
Anand Krishna dalam buku ini mengajak orang untuk
sungguh-sungguh memahami falsafah dasar seni perang Sun Tzu (Sun
Tzu's, "The Essensials of War") benar-benar sebagai sebuah
falsafah seni perang yang tentunya diperuntukkan bagi insan
militer di zamannya dan tidak sesuai jika diimplementasikan atau
dikaitkan dengan manajemen perusahaan masa kini. Dalam kata lain,
falsafah itu berisi tentang semangat berperang, bukan seni
berbisnis.
Menurut Anand Krishna, kita perlu naik kembali ke
ketinggian kebijaksanaan Sri Krishna. Sri Krishna dan Bhagavad
Gita berasal dari budaya kita sendiri dari budaya Nusantara yang
menjadi bagian dari peradaban Sindhu. Peradaban ini oleh para
sejarawan Arab disebut Hindu, oleh Barat disebut Indo, Indies,
Hindia, India, Indonesia, dan sebagainya. Dalam buku ini penulis
tidak sedang berbicara tentang apa yang sekarang disebut "agama
Hindu", tetapi tentang budaya Indo, tentang nilai-nilai luhur yang
terdapat dalam kearifan lokal kita di kepulauan Nusantara.
Menurut Anand Krishna, kita menjadi besar bukan
karena Sun Tzu. Kita menjadi besar karena nilai-nilai luhur
kebudayaan dan kearifan lokal kita. Lontar-lontar yang masih
tersisa adalah bukti nyata akan kemegahan dan kebesaran kita di
masa silam. Bukan saja kemegahan dan kebesaran materi, juga
rohani. Nilai-nilai yang telah menjadi pondasi bagi bangsa dan
negara kita. Nilai-nilai yang mengantar kita pada puncak kemegahan
baru di masa mendatang. Jika kita belajar untuk memberi tanpa
mengharapkan imbalan, persis seperti yang dilakukan oleh alam,
kita menjadi alami.
Dalam buku ini Anand Krishna menunjukkan kekuatan
manajemen ala Sri Krishna yakni berkarya tanpa pamrih. Dikemas
dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, Anand
Krishna meramunya untuk para eksekutif muda berwawasan modern dan
para pemimpin bangsa. Dalam sejarah bangsa, kita dapat menemukan
sosok versi Gita ini dalam diri Bung Karno. Ia tidak membangun
Indonesia untuk menjadi negeri tertutup seperti Cina di masa lalu,
tetapi negeri yang terbuka. Terbuka bagi kemajuan serta
perkembangan dan perubahan.
* pt.
sripuji astuti w.,
National Integration
Movement Denpasar