Pencarian Tiada Henti Gabrig
PENCARIAN
dalam proses kreatif kesenirupaan I Wayan Gabrig seakan memang
tidak pernah henti. Sebagai salah satu pelukis yang tergabung
dalam Himpunan Pelukis Sanur (HPS), Gabrig selalu berupaya
mengaktualisasikan karya-karyanya ke publik.
Namun, kinerja aktualisasinya itu bukan dalam
pemahaman bahwa karya-karyanya harus ia "jual" di sembarang tempat.
"Saya tidak pernah dan sangat tidak suka karya-karya saya dijual
di art shop yang bertebaran itu. Peminat mesti datang ke studio
atau di pameran khusus saya," ujar Gabrig kepada Bali Post, belum
lama ini.
Komitmen Gabrig tersebut tentu saja bukan cermin
dari "kesombongan"-nya sebagai seniman, tetapi justru ekspresi
dari sikap kesederhanaannya. Sebagai pelukis, ia justru ingin
dipahami publik dengan lebih cermat. Di situ ada kegelisahannya,
pencariannya, lompatan-lompatan kreatifnya, hingga kekentalan
latar belakangnya sebagai pelukis yang "orang Bali".
Sebagai bagian dari pencarian panjangnya, pelukis
kelahiran Ubud, 1 Januari 1958 -- yang kemudian menetap di Sanur
sejak 1970-an -- ini lantas menggelar pameran tunggal untuk
kesekian kalinya. Kali ini, pameran tunggalnya ia gelar di Gabrig
Paint Art, Jl. Cemara No.4, Br. Semawang, Sanur. Di situ dipajang
sebagian kecil dari 300-an lukisan yang sudah ia bikin.
Perihal perjalanan Gabrig, terutama ketika pertama
kali ia menapakkan kaki di Sanur, dituturkan Made Wena -- sahabat
yang juga kini banyak mambantu memanajemen kiprah Gabrig. "Dalam
kesederhanaannya, Gabrig telah berproses. Datang dari Ubud, dulu
ia beraliran Young Artist. Namun, kemudian setelah bergabung
dengan sejumlah pelukis Sanur, ia mulai merambah bentuk-bentuk
lain," cerita Made Wena.
Pada babakan mutakhirnya, Gabrig seperti telah
menemukan karakter pacuan kuasnya. Dengan bertumpu pada tema-tema
pewayangan serta spiritual dan ritual Hindu-Bali, ayah dua anak
ini seolah telah menemukan belantara kreatifnya. Hampir semua
karya terbarunya bermuatan sama: bidang luas yang diisi penuh
tanpa sisa, bertutur tentang figur-figur klasik, penuh dengan
detail rumit berjejal mirip relief, plus tata warna yang relatif
temaram.
"Namun tema-tema yang digarap Gabrig cukup sulit
dipahami penikmat luar negeri. Orang Amerika misalnya, lebih paham
soal tema suku Dayak. Mungkin ini soal perbedaan latar budaya saja.
Tetapi, ya itulah Gabrig. Orang harus paham Gabrig," papar Made
Wena.
Dalam peta perjalanannya pula, Gabrig telah
menjelajah berpameran di Jerman hingga Amerika Serikat. Meski
begitu, toh Gabrig tetap bersahaja. Kebersahajaan Gabrig ini pun
sempat dikomentari Dewi Hughes, presenter kondang bertubuh subur
itu. "Pak Gabrig itu guru saya yang sederhana dan unik," ujar Dewi
Hughes yang belakangan ini berguru melukis pada Gabrig. Pada
tebaran karyanya, lukisan Gabrig sudah banyak dikoleksi para
pejabat tinggi negara. (tin)