kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 1 Juli 2007 tarukan valas
 

DESAIN


Pencarian Tiada Henti Gabrig

PENCARIAN dalam proses kreatif kesenirupaan I Wayan Gabrig seakan memang tidak pernah henti. Sebagai salah satu pelukis yang tergabung dalam Himpunan Pelukis Sanur (HPS), Gabrig selalu berupaya mengaktualisasikan karya-karyanya ke publik.

Namun, kinerja aktualisasinya itu bukan dalam pemahaman bahwa karya-karyanya harus ia "jual" di sembarang tempat. "Saya tidak pernah dan sangat tidak suka karya-karya saya dijual di art shop yang bertebaran itu. Peminat mesti datang ke studio atau di pameran khusus saya," ujar Gabrig kepada Bali Post, belum lama ini.

Komitmen Gabrig tersebut tentu saja bukan cermin dari "kesombongan"-nya sebagai seniman, tetapi justru ekspresi dari sikap kesederhanaannya. Sebagai pelukis, ia justru ingin dipahami publik dengan lebih cermat. Di situ ada kegelisahannya, pencariannya, lompatan-lompatan kreatifnya, hingga kekentalan latar belakangnya sebagai pelukis yang "orang Bali".

Sebagai bagian dari pencarian panjangnya, pelukis kelahiran Ubud, 1 Januari 1958 -- yang kemudian menetap di Sanur sejak 1970-an -- ini lantas menggelar pameran tunggal untuk kesekian kalinya. Kali ini, pameran tunggalnya ia gelar di Gabrig Paint Art, Jl. Cemara No.4, Br. Semawang, Sanur. Di situ dipajang sebagian kecil dari 300-an lukisan yang sudah ia bikin.

Perihal perjalanan Gabrig, terutama ketika pertama kali ia menapakkan kaki di Sanur, dituturkan Made Wena -- sahabat yang juga kini banyak mambantu memanajemen kiprah Gabrig. "Dalam kesederhanaannya, Gabrig telah berproses. Datang dari Ubud, dulu ia beraliran Young Artist. Namun, kemudian setelah bergabung dengan sejumlah pelukis Sanur, ia mulai merambah bentuk-bentuk lain," cerita Made Wena.

Pada babakan mutakhirnya, Gabrig seperti telah menemukan karakter pacuan kuasnya. Dengan bertumpu pada tema-tema pewayangan serta spiritual dan ritual Hindu-Bali, ayah dua anak ini seolah telah menemukan belantara kreatifnya. Hampir semua karya terbarunya bermuatan sama: bidang luas yang diisi penuh tanpa sisa, bertutur tentang figur-figur klasik, penuh dengan detail rumit berjejal mirip relief, plus tata warna yang relatif temaram.

"Namun tema-tema yang digarap Gabrig cukup sulit dipahami penikmat luar negeri. Orang Amerika misalnya, lebih paham soal tema suku Dayak. Mungkin ini soal perbedaan latar budaya saja. Tetapi, ya itulah Gabrig. Orang harus paham Gabrig," papar Made Wena.

Dalam peta perjalanannya pula, Gabrig telah menjelajah berpameran di Jerman hingga Amerika Serikat. Meski begitu, toh Gabrig tetap bersahaja. Kebersahajaan Gabrig ini pun sempat dikomentari Dewi Hughes, presenter kondang bertubuh subur itu. "Pak Gabrig itu guru saya yang sederhana dan unik," ujar Dewi Hughes yang belakangan ini berguru melukis pada Gabrig. Pada tebaran karyanya, lukisan Gabrig sudah banyak dikoleksi para pejabat tinggi negara. (tin)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com