Ami Hasegawa
Perajut
Jepang-Bali
TARI
Oleg Tamulilingan
karya monumental maestro tari
Bali I Ketut
Marya (1952) itu
dibawakan dengan
penuh gemulai
oleh seorang
wanita berkulit
kuning cerah.
Penonton Pesta
Kesenian Bali (PKB) 2007 yang
memenuhi Wantilan
Taman Budaya
Denpasar pada
Minggu (24/6)
malam lalu
itu sungguh
dibuat terpukau
oleh penari
bertubuh langsing
itu.
Siapakah
gerangan
penari ayu
itu?
------------------
Ami
Hasegawa namanya,
wanita dari
Jepang.
Banyak
penonton yang tak
percaya seorang
wanita asing
dapat membawakan
Oleg Tamulingan
dengan begitu
apik, tak
kalah jauh
dengan
penari-
penari terbaik
Bali.
Bersama
teman-temannya sesama
orang Jepang
yang pernah dan
sedang belajar
seni tari
di Bali, Ami --
panggilan pendeknya,
mementaskan
beberapa tari
klasik dan
kreasi yang
bergulir sepanjang 1,5
jam dan
disaksikan penonton
dengan penuh
perhatian.
Pada
PKB ke-29 ini,
wanita yang berasal
dari Kanagawa --
sekitar dua jam
naik kereta
api
ke arah
utara dari
Tokyo
--itu juga
membawakan tari
"Gadis Menanam
Padi" pada
malam sebelumnya,
lalu bersama
murid-muridnya yang
khusus datang
dari Jepang
mempergelarkan
tari Janger.
Di Jepang,
sejak 2003 Ami
memang mendirikan
sanggar tari
Bali Basundhari.
Ami
tertarik tari
Bali
sejak remaja,
ketika menjadi
turis di
Bali.
Wanita
yang kesehariannya
sebagai pekerja
swasta di
negerinya itu
kemudian menekuni
tari Bali di
STSI (kini ISI)
Denpasar pada 2000-2002.
Selain
belajar secara
formal, ia
juga berguru
pada empu-empu
seni tari
hingga ke
desa-desa. "Legong
adalah tari
yang sangat saya
sukai," kata
wanita berusia
30 tahun ini.
Pada tahun
2002, ia
menciptakan tari
yang berangkat
dari pola
Legong yang diberinya
judul "Legong
Sakura". Suatu
saat nanti,
kata wanita
yang suka lawar
ini,
akan
mementaskan ciptaannya
itu di
arena PKB. Ia
mengaku sangat
senang menari
di hadapan
masyarakat Bali.
"Penonton
di sini
bagus dan
banyak," katanya
dengan mata
berbinar.
Di
Jepang, kesenian
Bali, seni tari
dan gamelan
khususnya, sejak 15
tahun belakangan
ini diapresiasi
tinggi oleh
masyarakat
setempat. Lawatan-lawatan
kesenian Bali di
sana
selalu disambut
baik.
Karenanya,
berbekal
penguasaannya terhadap
tari
Bali
klasik dan
kreasi, Ami
mendirikan sanggar
tari yang
ternyata mendapat
respons bagus.
"Murid
saya kebanyakan
wanita, ada
ibu-ibu, ada
pula para gadis,"
ujarnya.
Lewat
seni tari,
Ami telah menjadi
perajut budaya
antara Jepang
dan Bali.
"Saya
sangat mencintai
Bali,
tarinya, semuanya,"
katanya
bersemangat.
*
kadek
suartaya