kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 1 Juli 2007 tarukan valas
 

BERITA


Evaluasi
PKB Ke-29 --
Terganjal Masalah Teknik

Bagi seniman Bali, Ardha Candra memang begitu prestisius. Sudah menjadi lambang gengsi karena tidak sembarang seniman mendapatkan kesempatan menjejaknya. Dia ibarat kawasan "sakral". Hanya seniman-seniman terbaik Bali yang layak tampil di sana.

SAYANG, kebanggaan seniman-seniman Bali yang tampil di Ardha Candra seolah tergerogoti. Mereka gagal menampilkan performa terbaiknya lantaran terganjal masalah teknik. Lighting yang terpasang di panggung spektakuler itu sangat jauh di bawah standar kelayakan. Kondisi yang sama-sama memprihatinkan juga terjadi pada perangkat sound system. Makanya, bukan hal yang aneh jika penonton yang kebetulan mendapat tempat duduk di barisan belakang acapkali mendengar suara yang timbul-tenggelam. Bukan karena teknisi yang dipekerjakan gagap teknologi alias tidak becus men-setting peralatan, tapi sepenuhnya murni karena kualitas peralatan yang tidak memenuhi persyaratan. Masalah kualitas lighting dan sound system yang sangat jelek ini sebenarnya sudah dikeluhkan seniman dari tahun ke tahun sepanjang penyelenggaraan PKB. Namun, belum ada tanda-tanda Pemprop Bali tergerak untuk memperbaiki kualitas peralatan yang sangat menunjang kesuksesan sebuah pergelaran itu. ''Mungkin, para pengambil keputusan berpikir pragmatis saja. Toh dengan peralatan ala kadarnya seperti itu, pertunjukan tetap bisa berlangsung sesuai jadwal," kata praktisi sekaligus pengamat seni pertunjukan Bali Kadek Suardana kepada Bali Post, Sabtu (30/6) kemarin.

Suardana menegaskan kualitas lighting Ardha Candra boleh dibilang sangat minim bahkan hancur-hancuran untuk ukuran panggung seluas itu. Saat ini, kekuatan atau daya lampu yang terpasang tidak lebih dari 20.000 watt. Padahal, panggung seluas Ardha Candra paling tidak harus didukung berbagai jenis lampu dengan daya minimal 80.000 watt. Ironisnya lagi, sistem lighting yang terpasang itu bukanlah lighting untuk pertunjukan tapi jenis halogen biasa yang lazim dipergunakan untuk menerangi areal parkir. Bayangkan, betapa silaunya mata para penari-penari kita saat disorot lampu seperti itu. Mungkin, tidak pernah terlintas dalam pikiran orang-orang yang menrencanakan lighting itu bahwa sinar yang menyilaukan mata seperti itu sangat mengganggu konsentrasi penari. ''Apa yang dipasang di Ardha Candra itu bukanlah lighting untuk pertunjukan, tapi lampu penerangan jalan," katanya mengkritisi.

 

Menyimpang

Dekan FS Unud Prof. Dr. Wayan Ardika, M.A. juga mengungkapkan penyimpangan lain dalam aplikasi tema PKB. Dalam pawai misalnya, Badung memang mengangkat tema kepahlawanan dengan mengangkat Puputan Badung. Tetapi berbeda dengan peserta seperti Tabanan yang memunculkan budaya padi. Di sini tampak muncul mis-implementasi tema. Ada kesan selama ini tema terlalu top down, sehingga tidak tersosialisasi dengan baik.

Pelaku seni Drs. Wayan Sugita, M.Si. menilai para seniman kesulitan menerjemahkan atau mengaplikasikan tema dalam bentuk garapan. Temanya itu terlalu serem. Kalimatnya terlalu panjang dan terkesan ''angker''. Yang menjadi pertanyaan besar Sugita yang seniman drama gong ini mengapa pedagang masuk arena PKB. Ini perlu diberi jawaban oleh panitia PKB.

 (ian/lun)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com