Evaluasi
PKB Ke-29 --
Terganjal
Masalah
Teknik
Bagi
seniman Bali,
Ardha Candra
memang begitu
prestisius.
Sudah
menjadi lambang
gengsi karena
tidak sembarang
seniman
mendapatkan kesempatan
menjejaknya.
Dia
ibarat kawasan
"sakral".
Hanya seniman-seniman
terbaik Bali yang
layak tampil
di
sana.
SAYANG,
kebanggaan
seniman-seniman
Bali yang
tampil di
Ardha Candra
seolah
tergerogoti.
Mereka
gagal menampilkan
performa
terbaiknya lantaran
terganjal masalah
teknik.
Lighting yang terpasang
di panggung
spektakuler itu
sangat jauh
di bawah
standar kelayakan.
Kondisi
yang sama-sama
memprihatinkan juga
terjadi pada
perangkat sound system.
Makanya,
bukan hal
yang aneh jika
penonton yang
kebetulan mendapat
tempat duduk
di barisan
belakang acapkali
mendengar suara
yang timbul-tenggelam.
Bukan
karena teknisi
yang dipekerjakan
gagap teknologi alias
tidak becus
men-setting peralatan,
tapi sepenuhnya
murni karena
kualitas
peralatan yang tidak
memenuhi
persyaratan. Masalah
kualitas lighting
dan sound system yang sangat
jelek ini
sebenarnya sudah
dikeluhkan
seniman dari
tahun ke
tahun sepanjang
penyelenggaraan PKB.
Namun,
belum ada
tanda-tanda
Pemprop Bali tergerak
untuk memperbaiki
kualitas
peralatan yang sangat
menunjang
kesuksesan sebuah
pergelaran itu.
''Mungkin,
para pengambil
keputusan
berpikir pragmatis
saja.
Toh
dengan peralatan
ala kadarnya
seperti itu,
pertunjukan tetap
bisa berlangsung
sesuai jadwal,"
kata praktisi
sekaligus
pengamat seni
pertunjukan Bali
Kadek Suardana
kepada Bali Post,
Sabtu (30/6) kemarin.
Suardana
menegaskan
kualitas lighting Ardha
Candra boleh
dibilang sangat
minim bahkan
hancur-hancuran untuk
ukuran panggung
seluas itu.
Saat
ini, kekuatan
atau daya
lampu yang
terpasang tidak
lebih dari
20.000 watt.
Padahal,
panggung seluas
Ardha Candra
paling tidak
harus didukung
berbagai jenis
lampu dengan
daya minimal 80.000 watt.
Ironisnya
lagi, sistem
lighting yang terpasang
itu bukanlah
lighting untuk
pertunjukan tapi
jenis halogen
biasa yang lazim
dipergunakan
untuk menerangi
areal parkir.
Bayangkan,
betapa silaunya
mata para
penari-penari
kita saat
disorot lampu
seperti itu.
Mungkin,
tidak pernah
terlintas dalam
pikiran
orang-orang yang menrencanakan
lighting itu
bahwa sinar yang
menyilaukan mata
seperti itu
sangat mengganggu
konsentrasi
penari. ''Apa
yang dipasang di
Ardha Candra
itu bukanlah
lighting untuk
pertunjukan, tapi
lampu penerangan
jalan," katanya
mengkritisi.
Menyimpang
Dekan
FS Unud Prof. Dr.
Wayan Ardika, M.A.
juga
mengungkapkan penyimpangan lain
dalam aplikasi
tema PKB.
Dalam
pawai misalnya,
Badung memang
mengangkat tema
kepahlawanan
dengan mengangkat
Puputan Badung.
Tetapi
berbeda dengan
peserta seperti
Tabanan yang
memunculkan budaya
padi.
Di
sini tampak
muncul
mis-implementasi tema.
Ada
kesan selama
ini tema
terlalu top down,
sehingga tidak
tersosialisasi
dengan baik.
Pelaku
seni Drs. Wayan
Sugita, M.Si.
menilai
para seniman
kesulitan
menerjemahkan atau
mengaplikasikan
tema dalam
bentuk garapan.
Temanya
itu terlalu
serem.
Kalimatnya
terlalu panjang
dan terkesan
''angker''.
Yang menjadi
pertanyaan besar Sugita yang
seniman drama gong
ini mengapa
pedagang masuk
arena PKB. Ini
perlu diberi
jawaban oleh
panitia PKB.
(ian/lun)