Dari Sarasehan PKB Ke-29 --
Pembangunan
Bali harus Tetap Berlandaskan Budaya
Pesta Kesenian Bali (PKB) selain untuk pencitraan
Bali sebagai daerah tujuan wisata, juga sebagai media pemberian
penghargaan kepada seniman dan budayawan Bali. PKB selain
bermanfaat bagi dinamisasi komunitas seni dan budaya, hendaknya
mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat Bali.
KETUA Mada LVRI Bali IB Kompyang mengatakan hal itu
dalam sarasehan PKB ke-29 di gedung Natya Mandala ISI Denpasar,
Sabtu (30/6) kemarin.
Sarasehan yang dibuka Asisten II Wayan Subagiarta
itu mengambil tema ''Wirabrata Gosita: Mencermati Kepahlawanan''.
Ditambahkannya, pelaksanaan PKB harus bermanfaat
dalam menciptakan peluang usaha dan kerja bagi masyarakat kecil
dan menengah. Bukan justru menjadi beban waktu dan ekonomi bagi
masyarakat Bali.
Sementara menyinggung soal kepahlawanan, IB
Kompyang mengatakan pergerakan menuju gerbang kemerdakaan serta
perang mempertahankannya telah mengorbankan harta dan nyawa
rakyat. Pengorbanan ini akan sia-sia jika pembangunan Bali dalam
rangka mengisi kemerdekaan itu tidak mampu memberikan
kesejahteraan bagi masyarakat. ''Pembangunan Bali haruslah
diartikan sebagai pembangunan yang tetap mengedepankan nilai
budaya, agama, dan pelestarian alam Bali, sehingga manusia Bali
menjadi lebih sejahtera,'' ujarnya.
Memerangi
Musuh
Sementara sejarawan LIPI-Jakarta Prof. Dr. Taufik
Abdullah, M.A. mengatakan pahlawan baru dirasakan ada, ketika
dialog antara kesadaran kini dan masa lalu telah dilakukan. Dalam
proses dialog ini pahlawan ditemukan dan tempatnya dalam sejarah,
serta struktur kesadaran masyarakatnya ditentukan pula. Oleh
karena itu, ada aktor sejarah yang dipahlawankan karena
sumbangannya yang besar dalam perjuangan membela Tanah Air.
''Dalam masa kekinan kita memerlukan pahlawan yang mampu memerangi
musuh dalam diri dan yang mampu mengatasi kondisi nyata dalam
masyarakat,'' ujarnya.
Saat ini, masyarakat memiliki musuh dalam bentuk
kemiskinan budi dan materi. Karena itu diperlukan pahlawan yang
memiliki keberanian, kemampuan memahami situasi, rendah hati,
bertanggung jawab dan memiliki daya kekuatan rohani dan dermawan.
Filolog FS Unud Dr. Nyoman Suarka, M.Hum.
mengatakan pengimplementasian konsep sura dhira jayeng rat dalam
PKB 2007 dilakukan sejalan dengan peran dan fungsi seniman.
Seniman adalah sosok yang memiliki kemampuan tinggi dalam
pengaktualisasian hal-hal yang bersifat filosofi-religius. Konsep
ini diterjemahkan dalam bentuk karya yang mudah dipahami
masyarakat umum. (lun)