kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 1 Juli 2007 tarukan valas
 

BERITA


Orang Jepang Menari, Orang Bali Tercengang

Para penari berkulit kuning itu menyebut grupnya "Tamu-tamu Sari Jepang" (TSJ). Mereka adalah sekelompok penari wanita dari Jepang yang pernah menempa diri dalam bidang tari Bali di STSI/ISI Denpasar. Minggu (24/6) malam lalu, 14 penari --sebagian ada yang khusus terbang dari Tokyo -- menampilkan kebolehannya membawakan tari Bali klasik dan kreasi di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-29 di Wantilan Taman Budaya Denpasar. Sekitar 1,5 jam para penari yang diiringi Sekaa Gong Anangga Sari Banjar Kutuh Kelod, Ubud, Gianyar, itu       membuat penonton tercengang.

--------------

 

PENONTON yang memadati tempat duduk disambut dengan tari selamat datang, Sekar Jagat. Tari kreasi penyambutan ciptaan komposer NLN Swasthi Widjaja Bandem yang dibawakan oleh lima penari cantik ini hadir dengan senyum santun dalam sanggaan gerak yang lemah lembut. Masyarakat Bali yang menyaksikannya sungguh seakan dibuat tersipu malu oleh ketulusan dan kesungguhan "tamu-tamu" itu menyongsong "tuan rumah" dengan ramah.

Mantap dan cukup memukau. Kesan itu tampak tercermin dari antusiasisme penonton menyaksikan penampilan para insan seni dari Jepang itu sepanjang pergelaran. Tari Wiranata ciptaan I Nyoman Kaler dibawakan secara trio. Legong Lasem yang disajikan oleh Chizoko Koizuno, Kaoru Nakaya, dan Yoko Wakuri tampil meyakinkan. Tari klasik bertema Panji yang bertutur tentang gelegak asmara Prabu Lasem dengan Putri Rangkesari ini bergulir apik. Legong Lasem yang lazim dibawakan oleh gadis-gadis Bali ini memang telah sekian tahun mereka pelajari. "Selain di ISI, kami juga belajar pada seniman di desa-desa," ujar Kaoru, alumnus ISI Denpasar tahun 2006.

Karakter orang Jepang yang selalu sungguh-sungguh tampaknya diterapkan dalam mempelajari tari Bali. Ami Hasegawa yang malam itu tampil membawakan tari Oleg Tamulilingan dengan begitu lentur dan lincahnya, selain belajar di ISI, juga memperdalamnya pada para penari senior. Malam itu, seusai membawakan tari Tamulilingan itu, ia didampingi oleh salah satu guru tarinya, Ida Ayu Diastini. Kendati mampu mempesona penonton, di belakang panggung, sembari terengah mengusap keringatnya, wanita asal Kanagawa itu tampak meminta masukan dan saran dari Diastini.

Etos kesungguhan dan kegairahan pada masyarakat Jepang juga menggelora dalam penampilan Shoko Yamamuro yang membawakan tari Terunajaya. Tari ciptaan I Gede Manik itu termasuk jenis tari yang membutuhkan energisitas dan keterampilan tari yang tinggi. Yamamuro agaknya cukup cekatan. Tari yang berkarakter Bali Utara yang sarat dengan tempo yang dinamis ini disajikannya penuh semangat hingga mengundang respons aplaus penonton.

Sambutan meriah penonton PKB bukan hanya baru kali dipanen TSJ yang dikomandoi Chiko yang malam itu tampil dengan tari Dewi Uma yang merupakan karyanya sendiri. Di arena PKB ini pula, grupnya pernah berkolaborasi dengan para seniman Bali menggelar Cak Amaterasu, sebuah seni pertunjukan kolosal cak atau kecak yang berangkat dari sebuah mitologi rakyat Jepang. "Kami telah berpartisipasi dalam PKB sejak 2002," ujar Chiko.

Grupnya ini, tambahnya, berharap bisa menjembatani jarak pemisah antara Bali dan Jepang melalui seni budaya. Untuk PKB 2007 ini, TSJ juga akan mementaskan tari lepas dan joged kreasi bekerja sama dengan grup Joged Dharma Winangun Desa Anturan, Buleleng, pada Jumat (29/6) malam di Kalangan Ratna Kanda.

Belakangan ini, jagat seni telah menunjukkan kontribusinya sebagai perajut ekspresi beragam budaya dari berbagai belahan dunia. Jepang sebagai sebuah negeri yang sangat menaruh perhatian terhadap seni dan budaya tradisi banyak mengundang kehadiran kesenian, termasuk dari Bali, untuk pameran dan atau pentas di sana. Seni pertunjukan khas Jembrana, jegog, misalnya, cukup digemari oleh penonton setempat. Grup Jegog Suar Agung pimpinan Ketut Suwentra telah beberapa kali mengguncang panggung-panggung bergengsi di beberapa kota besar Jepang.

Lebih dari itu, para seniman musik dan tari setempat telah mendirikan kelompok-kelompok penabuh gamelan atau penari Bali di sana seperti grup gamelan Sekar Jepun di Tokyo. Kini, orang-orang asing yang datang belajar atau memperdalam kesenian di Bali, didominasi oleh orang-orang dari Jepang seperti tampak pada mahasiswa asing di ISI Denpasar. Grup TSJ yang telah beberapa kali tampil dalam PKB semestinya menggugah masyarakat Bali menyayangi keseniannya dan memberikan respek kepada para senimannya, pejuang-pejuang kebudayaan. * kadek suartaya

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com