Orang Jepang Menari, Orang Bali Tercengang
Para penari berkulit kuning itu menyebut grupnya
"Tamu-tamu Sari Jepang" (TSJ). Mereka adalah sekelompok penari
wanita dari Jepang yang pernah menempa diri dalam bidang tari Bali
di STSI/ISI Denpasar. Minggu (24/6) malam lalu, 14 penari
--sebagian ada yang khusus terbang dari Tokyo -- menampilkan
kebolehannya membawakan tari Bali klasik dan kreasi di arena Pesta
Kesenian Bali (PKB) ke-29 di Wantilan Taman Budaya Denpasar.
Sekitar 1,5 jam para penari yang diiringi Sekaa Gong Anangga Sari
Banjar Kutuh Kelod, Ubud, Gianyar, itu
membuat penonton tercengang.
--------------
PENONTON
yang memadati tempat duduk disambut dengan tari selamat datang,
Sekar Jagat. Tari kreasi penyambutan ciptaan komposer NLN Swasthi
Widjaja Bandem yang dibawakan oleh lima penari cantik ini hadir
dengan senyum santun dalam sanggaan gerak yang lemah lembut.
Masyarakat Bali yang menyaksikannya sungguh seakan dibuat tersipu
malu oleh ketulusan dan kesungguhan "tamu-tamu" itu menyongsong
"tuan rumah" dengan ramah.
Mantap dan cukup memukau. Kesan itu tampak
tercermin dari antusiasisme penonton menyaksikan penampilan para
insan seni dari Jepang itu sepanjang pergelaran. Tari Wiranata
ciptaan I Nyoman Kaler dibawakan secara trio. Legong Lasem yang
disajikan oleh Chizoko Koizuno, Kaoru Nakaya, dan Yoko Wakuri
tampil meyakinkan. Tari klasik bertema Panji yang bertutur tentang
gelegak asmara Prabu Lasem dengan Putri Rangkesari ini bergulir
apik. Legong Lasem yang lazim dibawakan oleh gadis-gadis Bali ini
memang telah sekian tahun mereka pelajari. "Selain di ISI, kami
juga belajar pada seniman di desa-desa," ujar Kaoru, alumnus ISI
Denpasar tahun 2006.
Karakter orang Jepang yang selalu sungguh-sungguh
tampaknya diterapkan dalam mempelajari tari Bali. Ami Hasegawa
yang malam itu tampil membawakan tari Oleg Tamulilingan dengan
begitu lentur dan lincahnya, selain belajar di ISI, juga
memperdalamnya pada para penari senior. Malam itu, seusai
membawakan tari Tamulilingan itu, ia didampingi oleh salah satu
guru tarinya, Ida Ayu Diastini. Kendati mampu mempesona penonton,
di belakang panggung, sembari terengah mengusap keringatnya,
wanita asal Kanagawa itu tampak meminta masukan dan saran dari
Diastini.
Etos kesungguhan dan kegairahan pada masyarakat
Jepang juga menggelora dalam penampilan Shoko Yamamuro yang
membawakan tari Terunajaya. Tari ciptaan I Gede Manik itu termasuk
jenis tari yang membutuhkan energisitas dan keterampilan tari yang
tinggi. Yamamuro agaknya cukup cekatan. Tari yang berkarakter Bali
Utara yang sarat dengan tempo yang dinamis ini disajikannya penuh
semangat hingga mengundang respons aplaus penonton.
Sambutan meriah penonton PKB bukan hanya baru kali
dipanen TSJ yang dikomandoi Chiko yang malam itu tampil dengan
tari Dewi Uma yang merupakan karyanya sendiri. Di arena PKB ini
pula, grupnya pernah berkolaborasi dengan para seniman Bali
menggelar Cak Amaterasu, sebuah seni pertunjukan kolosal cak atau
kecak yang berangkat dari sebuah mitologi rakyat Jepang. "Kami
telah berpartisipasi dalam PKB sejak 2002," ujar Chiko.
Grupnya ini, tambahnya, berharap bisa menjembatani
jarak pemisah antara Bali dan Jepang melalui seni budaya. Untuk
PKB 2007 ini, TSJ juga akan mementaskan tari lepas dan joged
kreasi bekerja sama dengan grup Joged Dharma Winangun Desa
Anturan, Buleleng, pada Jumat (29/6) malam di Kalangan Ratna
Kanda.
Belakangan ini, jagat seni telah menunjukkan
kontribusinya sebagai perajut ekspresi beragam budaya dari
berbagai belahan dunia. Jepang sebagai sebuah negeri yang sangat
menaruh perhatian terhadap seni dan budaya tradisi banyak
mengundang kehadiran kesenian, termasuk dari Bali, untuk pameran
dan atau pentas di sana. Seni pertunjukan khas Jembrana, jegog,
misalnya, cukup digemari oleh penonton setempat. Grup Jegog Suar
Agung pimpinan Ketut Suwentra telah beberapa kali mengguncang
panggung-panggung bergengsi di beberapa kota besar Jepang.
Lebih dari itu, para seniman musik dan tari
setempat telah mendirikan kelompok-kelompok penabuh gamelan atau
penari Bali di sana seperti grup gamelan Sekar Jepun di Tokyo.
Kini, orang-orang asing yang datang belajar atau memperdalam
kesenian di Bali, didominasi oleh orang-orang dari Jepang seperti
tampak pada mahasiswa asing di ISI Denpasar. Grup TSJ yang telah
beberapa kali tampil dalam PKB semestinya menggugah masyarakat
Bali menyayangi keseniannya dan memberikan respek kepada para
senimannya, pejuang-pejuang kebudayaan. *
kadek suartaya