kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 18 Juni 2007

 Ekuin


Gemini Cruise akan Buka Jalur ke Bali

Jakarta (Bali Post) -
Minat
investor membuka jalur wisata kapal pesiar (cruise) di Indonesia terus bermunculan. Sebuah perusahaan kapal pesiar, Gemini Cruise dari Australia, menyatakan rencananya awal tahun 2008 membuka jalur pelayaran pesiar dari Australia (Darwin) menuju Benoa, Bali dilanjutkan ke Singapura. Dipastikan, masuknya Gemini Cruise yang sudah tiga tahun tidak beroperasi melalui jalur Indonesia ini, semakin mendorong masuknya wisatawan cruise ke Indonesia. Rencananya mereka beroperasi awal 2008. "Sekali datang membawa 150-200 penumpang, dalam setahun secara regular tentunya jumlahnya cukup lumayan," ucap Sekjen Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbupar) Sapta Nirwandar, di Jakarta, Minggu (17/6) kemarin.

Sebenarnya, lanjut Sapta, secara rutin sudah banyak kapal pesiar yang masuk ke Indonesia melalui Sumatera-Jawa dan Bali. Mereka membawa antara 1.500-2.000 penumpang dan singgah di beberapa tempat seperti di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang kemudian dilanjutkan ke Candi Borobudur dan sekitarnya.

Untuk mendukung lonjakan kunjungan wisatawan cruise di Indonesia, pemerintah menetapkan prioritas pembangunan sejumlah pelabuhan agar memiliki fasilitas yang memadai. Pelabuhan Benoa, Bali, misalnya, akan ditingkatkan fasilitasnya sehingga akan menjadi turn-around port. Dengan demikian akan banyak menampung kapal pesiar (cruise) dari mancanegara.

Peningkatan fasilitas Pelabuhan Benoa ini sekaligus mendorong meningkatnya wisatawan cruise ke Bali serta daerah tujuan lain, terutama Kawasan Timur Indonesia. Juga, Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Padangbai (Bali), Kupang, Alor, dan Batam segera ditingkatkan fasilitasnya agar memenuhi standar internasional.

Selain itu, sambung Sapta, minat investor mengembangkan wisata air juga cukup tinggi. Terbukti, sudah banyak perusahaan nasional dalam waktu dekat akan membuka usaha wisata air seperti di Sungai Musi, Sumatera Selatan dan Kahayan di Kalimantan Tengah.

Untuk wisata air di Sungai Musi, mereka mengoperasikan kapal semi cruise dengan kegiatan wisata menyelusuri sungai. Di atas kapal pesiar berkapasitas sekitar 150-200 penumpang itu, wisatawan bisa menggelar seminar, workshop, dinner sambil menyelurusi sungai dari Jembatan Ampera Pelembang, Pulau Komoro, hingga daerah Plaju. "Sebagai terobosan, diadakan Visit Musi Year 2008," ucapnya.

Selain Sungai Musi, pengembangan wisata air di Sungai Kahayan, Palangkaraya lebih menonjolkan pada wisata ecotourism dengan memanfaatkan potensi kekayaan alam Kalimatan Tengah. Untuk itu, Kalteng akan menggelar Pesta Budaya dan Wisata Kalteng untuk memulai pelaksanaan wisata Sungai Kahayan. "Dengan menggunakan kapal melintasi Sungai Kahayan di tengah Kota Palangkaraya, wisatawan akan disuguhi beragam aneka budaya dan daya tarik kepariwisataan Kalteng," tambahnya.

Sapta mengakui selama ini potensi sungai belum dilirik secara benar. Hal ini dikarenakan kurangnya publikasi dan promosi secara luas. Sehingga, wisatawan asing apalagi domestik tidak banyak yang tahu soal potensi wisata itu. Ketidaktahuan potensi itu menyebabkan kurang banyaknya investor yang berminat di bidang pariwisata. Padahal, Thailand bisa meraup banyak bath melalui pengelolaan Sungai Cao Praya yang membelah Kota Bangkok. Sungai Cao Praya yang berwarna coklat kental ternyata menjadi alur lalu lintas wisata yang sangat padat. Di bagian hulu sungai itu ada pasar terapung dan panggung-panggung kesenian rakyat. "Kita bisa juga melakukan itu di Sungai Musi, Sungai Batanghari, Sungai Kahayan, Sungai Mahakam, dan sungai lainnya," sarannya.  (034)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)