Gemini Cruise
akan Buka
Jalur
ke Bali
Jakarta (Bali Post) -
Minat
investor membuka
jalur
wisata kapal
pesiar (cruise)
di Indonesia
terus
bermunculan.
Sebuah
perusahaan kapal
pesiar, Gemini Cruise
dari Australia,
menyatakan
rencananya
awal
tahun 2008 membuka
jalur
pelayaran pesiar
dari Australia (Darwin)
menuju
Benoa, Bali dilanjutkan
ke
Singapura.
Dipastikan,
masuknya Gemini Cruise yang
sudah
tiga tahun
tidak
beroperasi melalui
jalur
Indonesia
ini,
semakin mendorong
masuknya
wisatawan cruise
ke Indonesia.
Rencananya
mereka
beroperasi awal 2008.
"Sekali
datang
membawa 150-200 penumpang,
dalam
setahun secara
regular tentunya
jumlahnya
cukup
lumayan," ucap
Sekjen
Departemen Kebudayaan
dan
Pariwisata (Depbupar)
Sapta
Nirwandar, di
Jakarta, Minggu (17/6)
kemarin.
Sebenarnya,
lanjut
Sapta, secara
rutin
sudah banyak
kapal
pesiar yang masuk
ke Indonesia
melalui
Sumatera-Jawa dan
Bali.
Mereka
membawa
antara 1.500-2.000 penumpang
dan
singgah di
beberapa
tempat
seperti di
Pelabuhan
Tanjung
Emas,
Semarang
kemudian
dilanjutkan
ke
Candi Borobudur
dan
sekitarnya.
Untuk
mendukung
lonjakan
kunjungan
wisatawan cruise
di Indonesia,
pemerintah
menetapkan
prioritas
pembangunan
sejumlah
pelabuhan agar
memiliki
fasilitas yang
memadai.
Pelabuhan
Benoa, Bali,
misalnya,
akan
ditingkatkan
fasilitasnya
sehingga
akan
menjadi turn-around port.
Dengan demikian
akan
banyak
menampung kapal
pesiar (cruise)
dari
mancanegara.
Peningkatan
fasilitas
Pelabuhan
Benoa
ini sekaligus
mendorong
meningkatnya
wisatawan cruise
ke
Bali
serta
daerah tujuan
lain,
terutama Kawasan
Timur Indonesia.
Juga,
Pelabuhan
Tanjung
Emas,
Semarang,
Padangbai (Bali),
Kupang,
Alor, dan
Batam
segera ditingkatkan
fasilitasnya agar
memenuhi
standar
internasional.
Selain
itu,
sambung Sapta,
minat investor
mengembangkan
wisata air
juga
cukup tinggi.
Terbukti,
sudah
banyak perusahaan
nasional
dalam
waktu dekat
akan
membuka
usaha wisata air
seperti
di Sungai
Musi,
Sumatera Selatan
dan
Kahayan di Kalimantan
Tengah.
Untuk
wisata air
di
Sungai Musi,
mereka
mengoperasikan kapal
semi cruise dengan
kegiatan
wisata
menyelusuri sungai.
Di
atas
kapal pesiar
berkapasitas
sekitar 150-200
penumpang
itu,
wisatawan bisa
menggelar seminar, workshop,
dinner sambil
menyelurusi
sungai
dari Jembatan
Ampera
Pelembang, Pulau
Komoro,
hingga daerah
Plaju.
"Sebagai
terobosan,
diadakan Visit
Musi Year 2008,"
ucapnya.
Selain
Sungai
Musi, pengembangan
wisata air
di
Sungai Kahayan,
Palangkaraya
lebih
menonjolkan pada
wisata ecotourism
dengan
memanfaatkan potensi
kekayaan
alam
Kalimatan Tengah.
Untuk
itu, Kalteng
akan
menggelar
Pesta
Budaya dan
Wisata
Kalteng untuk
memulai
pelaksanaan wisata
Sungai
Kahayan. "Dengan
menggunakan
kapal
melintasi Sungai
Kahayan
di tengah Kota
Palangkaraya,
wisatawan
akan
disuguhi beragam
aneka
budaya dan
daya
tarik kepariwisataan
Kalteng,"
tambahnya.
Sapta
mengakui
selama
ini potensi
sungai
belum dilirik
secara
benar.
Hal ini
dikarenakan
kurangnya
publikasi
dan
promosi secara
luas.
Sehingga,
wisatawan
asing
apalagi domestik
tidak
banyak yang tahu
soal
potensi wisata
itu.
Ketidaktahuan
potensi
itu menyebabkan
kurang
banyaknya investor yang
berminat di
bidang
pariwisata.
Padahal,
Thailand bisa
meraup
banyak bath melalui
pengelolaan
Sungai
Cao Praya yang
membelah Kota Bangkok.
Sungai
Cao
Praya yang berwarna
coklat
kental ternyata
menjadi
alur lalu
lintas
wisata yang sangat
padat.
Di
bagian
hulu sungai
itu ada
pasar
terapung dan
panggung-panggung
kesenian
rakyat.
"Kita bisa
juga
melakukan itu
di
Sungai Musi,
Sungai
Batanghari, Sungai
Kahayan,
Sungai
Mahakam, dan
sungai
lainnya," sarannya.
(034)