Suara Dana, Jadi Spesial di Forum Musik
Dunia
''Langsung dari beberapa pegunungan di Bali, musik
dan tarian Indonesia datang ke Coolum hari Minggu ini.
Dipersembahkan oleh musisi lokal plus promotor Jay Bishoff, ini
merupakan malam interaktif dan begitu dekat dengan grup gender
Bali yang bertalenta tinggi. Acara itu menampilkan gamelan Bali
dikombinasikan dengan tarian, dan ini kesempatan untuk mempelajari
kemagisan alat-alat musik Bali.''
-------------
ITULAH
cuplikan tulisan yang dimuat di edisi akhir pekan Harian Sunshine
Coast Daily, Australia, belum lama ini. Paparan tersebut terkait
dengan pergelaran atau konser musik dari kelompok Yayasan Suara
Dana, Bali, di forum musik dunia ''Wintermoon Festival 2007''
Brisband, Australia, akhir April hingga awal Mei lalu. Forum
tersebut menampilkan 36 kelompok musik beragam aliran dari
berbagai penjuru.
Bicara soal Yayasan Suara Dana (YSD) adalah bicara
seputar kerja kolaborasi. Sebagaimana diketahui, sampai detik ini
sudah banyak terjadi upaya kreatif kolaboratif yang dilakukan
antara seniman Timur dan Barat dalam bidang musik. Namun, dari
segi output kualitas, tak banyak yang berhasil menghadirkan
senyawa yang baik ketika menyatukan dua kubu -- Timur dan Barat --
itu. Hasilnya bukan karya kolaboratif yang menyatu, namun lebih
terkesan semata-mata asal tempel dan beraneh-aneh.
Rasanya, kinerja YSD yang merupakan kelompok dari
Celuk, Sukawati, Gianyar ini barangkali boleh dikata upaya
kolaboratif Timur-Barat yang cukup berhasil. Artinya, yayasan yang
diketuai I Ketut Suardana ini sudah cukup berhasil memadukan
spirit Timur dan Barat itu ke dalam suatu kemasan karya yang utuh.
Lewat album rekaman YSD yang bertajuk ''Gender Fusion'' (Stories
from the Wayang Kulit), misalnya, hal itu sudah terbukti.
Album yang diformat dalam CD ini berisi 10 nomor
garapan, tiga di antaranya karya total kolaboratif berjudul
''Delem'', ''Sangut'' dan ''Sugriwa Subali''. Selebihnya adalah
nomor-nomor tabuh gender dan selonding masing-masing berjudul
''Sekar Sungsang'', ''Sulendro'', ''Sekar Gendot'', ''Krepetan'',
''Bimo Krodo'', ''Partha Wijaya'' dan ''Rundah''.
Maka, ketika tampil di perhelatan musik berkelas
dunia di ''Wintermoon Festival 2007'' itu, YSD pun menjadi
petampil yang spesial dan mendapat apresiasi positif dari para
musisi lainnya. Bekerja sama dengan musisi asal Australia, Richard
Kaal, di sejumlah garapan kolaboratifnya YSD memadukan instrumen
Bali gender-selonding dengan saksofon, gitar elektrik, dan
perkusi. Lagu dengan lirik berbahasa Inggris -- lengkap dengan
spirit fusion, slow rock, dan blues-nya -- masuk di situ dengan
amat kentalnya.
Kelompok YSD beranggotakan sejumlah seniman Bali
tradisional dan musisi asing. Di samping I Ketut Suardana (penabuh
gender), juga ada Nyoman Karang Mustika (gender), Made Subandi
(kendang, gong, perkusi), Dona (saksofon), Richard Kaal (gitar,
vokal), serta penabuh selonding Wayan Sarga dan Agung Suartana.
Di samping tampil resmi di panggung pertunjukan
''Wintermoon Festival 2007'', YSD juga memberi workshop tari dan
musik di sejumlah sekolah menengah di antaranya di Harristown
State High, Queensland, Australia. Juga mengisi program dialog di
stasiun Radio ABC. ''Di sana kami benar-benar tampil beda karena
kelompok-kelompok musik yang ada dan tampil di situ nyaris
seragam. Kami sungguh mendapat tempat yang spesial,'' papar
Suardana.
***
Perjalanan kreatif YSD sesungguhnya adalah
kegelisahan kreatif Ketut Suardana. Sebagai seniman tabuh yang
memang benar-benar cinta seni budaya Bali, Suardana termasuk sudah
''jatuh-bangun'' dalam pergulatan seni tabuh. ''Saya sudah
berkelana penuh di gamelan Bali kuno atau klasik sejak belia,''
papar Ketut Suardana kepada Bali Post suatu ketika.
Berawal dari kekhawatiran akan hilangnya kekuatan
atau taksu dalam gamelan Bali klasik, Suardana lalu merasa
bertanggung jawab terhadap gambang, gender, saron hingga
selonding. Perihal kerja atau proses kolaborasinya dengan musisi
asing, sejak awal Suardana memang punya perhatian khusus. ''Sejak
dulu musik Bali kuno sudah banyak dilirik oleh para komponis atau
artis-artis luar negeri. Jika dari situ kita memang bisa
berkolaborasi, mengapa tidak?'' ujar Suardana.
Dalam pandangan Suardana, budaya luar yang masuk
mudah diserap generasi muda Bali sehingga generasi muda Bali itu
mulai lupa budaya milik sendiri. ''Karena kunonya, gamelan Bali
jadi terpinggirkan. Untuk itu, harapan ke depan saya, anak muda
harus come back to musik tradisional untuk mengangkat citra Bali.
Bahwa musik tradisional yang penuh ritme kerohanian bisa juga
dikolaborasikan dengan musik modern. Orang asing peduli, mengapa
kita tidak?'' katanya.
Suardana, boleh disebut sebagai sosok seniman
terbuka dan sangat fleksibel. Di satu sisi ia memiliki idealisme
tinggi terhadap pelestarian gamelan Bali kuno, di sisi lain ia
malah amat terbuka pada masukan dari ''luar''. Betapa kemudian ia
bisa teramat enjoy bermain gender dalam wilayah musik fusion yang
notabene ''produk Barat'', adalah suatu bukti fleksibilitas
seorang Suardana.
Bagaimana halnya dengan Richard Kaal, ''teman
kolaboratif'' Ketut Suardana itu? Sebagaimana ditulis juga di
Harian Sunshine Coast Daily, Richard dan istrinya, Rebecca, memang
sebelumnya telah keluar-masuk Bali. Akhirnya mereka menjual
rumahnya di Airlie Beach untuk selanjutnya menetap di Bali. Kini,
atas bantuan Suardana dengan YSD-nya, Richard telah memproduksi
sekitar 40 album musik tradisional Bali. Richard pun akhirnya
bereksperimen bersama YSD, melahirkan karya-karya kolaboratif yang
apresiatif. (tin)