kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 20 Mei 2007 tarukan valas
 

BERITA


Suara Dana, Jadi Spesial di Forum Musik Dunia

''Langsung dari beberapa pegunungan di Bali, musik dan tarian Indonesia datang ke Coolum hari Minggu ini. Dipersembahkan oleh musisi lokal plus promotor Jay Bishoff, ini merupakan malam interaktif dan begitu dekat dengan grup gender Bali yang bertalenta tinggi. Acara itu menampilkan gamelan Bali dikombinasikan dengan tarian, dan ini kesempatan untuk mempelajari kemagisan alat-alat musik Bali.''

-------------

 

ITULAH cuplikan tulisan yang dimuat di edisi akhir pekan Harian Sunshine Coast Daily, Australia, belum lama ini. Paparan tersebut terkait dengan pergelaran atau konser musik dari kelompok Yayasan Suara Dana, Bali, di forum musik dunia ''Wintermoon Festival 2007'' Brisband, Australia, akhir April hingga awal Mei lalu. Forum tersebut menampilkan 36 kelompok musik beragam aliran dari berbagai penjuru.

Bicara soal Yayasan Suara Dana (YSD) adalah bicara seputar kerja kolaborasi. Sebagaimana diketahui, sampai detik ini sudah banyak terjadi upaya kreatif kolaboratif yang dilakukan antara seniman Timur dan Barat dalam bidang musik. Namun, dari segi output kualitas, tak banyak yang berhasil menghadirkan senyawa yang baik ketika menyatukan dua kubu -- Timur dan Barat -- itu. Hasilnya bukan karya kolaboratif yang menyatu, namun lebih terkesan semata-mata asal tempel dan beraneh-aneh.

Rasanya, kinerja YSD yang merupakan kelompok dari Celuk, Sukawati, Gianyar ini barangkali boleh dikata upaya kolaboratif Timur-Barat yang cukup berhasil. Artinya, yayasan yang diketuai I Ketut Suardana ini sudah cukup berhasil memadukan spirit Timur dan Barat itu ke dalam suatu kemasan karya yang utuh. Lewat album rekaman YSD yang bertajuk ''Gender Fusion'' (Stories from the Wayang Kulit), misalnya, hal itu sudah terbukti.

Album yang diformat dalam CD ini berisi 10 nomor garapan, tiga di antaranya karya total kolaboratif berjudul ''Delem'', ''Sangut'' dan ''Sugriwa Subali''. Selebihnya adalah nomor-nomor tabuh gender dan selonding masing-masing berjudul ''Sekar Sungsang'', ''Sulendro'', ''Sekar Gendot'', ''Krepetan'', ''Bimo Krodo'', ''Partha Wijaya'' dan ''Rundah''.

Maka, ketika tampil di perhelatan musik berkelas dunia di ''Wintermoon Festival 2007'' itu, YSD pun menjadi petampil yang spesial dan mendapat apresiasi positif dari para musisi lainnya. Bekerja sama dengan musisi asal Australia, Richard Kaal, di sejumlah garapan kolaboratifnya YSD memadukan instrumen Bali gender-selonding dengan saksofon, gitar elektrik, dan perkusi. Lagu dengan lirik berbahasa Inggris -- lengkap dengan spirit fusion, slow rock, dan blues-nya -- masuk di situ dengan amat kentalnya.

Kelompok YSD beranggotakan sejumlah seniman Bali tradisional dan musisi asing. Di samping I Ketut Suardana (penabuh gender), juga ada Nyoman Karang Mustika (gender), Made Subandi (kendang, gong, perkusi), Dona (saksofon), Richard Kaal (gitar, vokal), serta penabuh selonding Wayan Sarga dan Agung Suartana.

Di samping tampil resmi di panggung pertunjukan ''Wintermoon Festival 2007'', YSD juga memberi workshop tari dan musik di sejumlah sekolah menengah di antaranya di Harristown State High, Queensland, Australia. Juga mengisi program dialog di stasiun Radio ABC. ''Di sana kami benar-benar tampil beda karena kelompok-kelompok musik yang ada dan tampil di situ nyaris seragam. Kami sungguh mendapat tempat yang spesial,'' papar Suardana.

***

 

Perjalanan kreatif YSD sesungguhnya adalah kegelisahan kreatif Ketut Suardana. Sebagai seniman tabuh yang memang benar-benar cinta seni budaya Bali, Suardana termasuk sudah ''jatuh-bangun'' dalam pergulatan seni tabuh. ''Saya sudah berkelana penuh di gamelan Bali kuno atau klasik sejak belia,'' papar Ketut Suardana kepada Bali Post suatu ketika.

Berawal dari kekhawatiran akan hilangnya kekuatan atau taksu dalam gamelan Bali klasik, Suardana lalu merasa bertanggung jawab terhadap gambang, gender, saron hingga selonding. Perihal kerja atau proses kolaborasinya dengan musisi asing, sejak awal Suardana memang punya perhatian khusus. ''Sejak dulu musik Bali kuno sudah banyak dilirik oleh para komponis atau artis-artis luar negeri. Jika dari situ kita memang bisa berkolaborasi, mengapa tidak?'' ujar Suardana.

Dalam pandangan Suardana, budaya luar yang masuk mudah diserap generasi muda Bali sehingga generasi muda Bali itu mulai lupa budaya milik sendiri. ''Karena kunonya, gamelan Bali jadi terpinggirkan. Untuk itu, harapan ke depan saya, anak muda harus come back to musik tradisional untuk mengangkat citra Bali. Bahwa musik tradisional yang penuh ritme kerohanian bisa juga dikolaborasikan dengan musik modern. Orang asing peduli, mengapa kita tidak?'' katanya.

Suardana, boleh disebut sebagai sosok seniman terbuka dan sangat fleksibel. Di satu sisi ia memiliki idealisme tinggi terhadap pelestarian gamelan Bali kuno, di sisi lain ia malah amat terbuka pada masukan dari ''luar''. Betapa kemudian ia bisa teramat enjoy bermain gender dalam wilayah musik fusion yang notabene ''produk Barat'', adalah suatu bukti fleksibilitas seorang Suardana.

Bagaimana halnya dengan Richard Kaal, ''teman kolaboratif'' Ketut Suardana itu? Sebagaimana ditulis juga di Harian Sunshine Coast Daily, Richard dan istrinya, Rebecca, memang sebelumnya telah keluar-masuk Bali. Akhirnya mereka menjual rumahnya di Airlie Beach untuk selanjutnya menetap di Bali. Kini, atas bantuan Suardana dengan YSD-nya, Richard telah memproduksi sekitar 40 album musik tradisional Bali. Richard pun akhirnya bereksperimen bersama YSD, melahirkan karya-karya kolaboratif yang apresiatif. (tin)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com