kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 20 Mei 2007 tarukan valas
 

APRESIASI


Salah Satu Produk Kebudayaan Lelaki (1)
YANG DIKALAHKAN : BUNDA CALONARANG, (I)

BUNDA Calonarang adalah sedikit dari perempuan yang berhasil membelajarkan diri pada masanya. Baca tulis telah ia kuasai. Dari tiga tingkatan aksara, ia sedang tekun di tingkatan, modre. Mantra di luar kepala. Mudra menjadi tarian jari-jarinya tiap hari, tiap malam. Rasa percaya dirinya tinggi. Ia tidak akan menunduk bila beradu pandang dengan lelaki, dari tingkatan pendeta sekali pun. Dalam bahasa sekarang ia sudah tingkatan post-sarjana. Ia sadar, memiliki pengetahuan tinggi tidak membuatnya nyaman.

Bunda Calonarang juga manusia. Ia seorang perempuan. Hidup sendiri tanpa suami, dengan seorang putri bernama Ratna Manggali, sebuah nama yang indah. Dalam bahasa sekarang, ia disebut single parent. Perempuan sendirian bukanlah keadaan yang nyaman pada masanya. Rumor bahwa dirinya begini, dan bahwa dirinya begitu, bukan sekali dua kali ia dengar. Tapi saban kali. Tapi apa yang bisa ia lakukan terhadap makhluk halus bernama Rumor itu, kecuali menahan diri dan mengendalikan emosi. Berdikit-dikit lama-lama menjadi sakit.

Ketika berjalan di keramaian manusia, ia rasakan sebuah jarak telah terbentang antara dirinya dengan kerumunan itu. Ia tidak persis tahu kenapa ada jarak. Ia hanya bisa menduga-duga. Mungkin orang pikir dirinya aneh, seorang perempuan berpendidikan tinggi hidup seorang diri dan menyepi. Mungkin orang duga ia punya lelaki simpanan. Untuk menutupi skandal itu, ia sibukkan diri dengan aksara dan tulis menulis. Mungkin juga orang-orang kehilangan percaya diri begitu beradu pandang dengannya, seorang janda yang tidak merasa kurang dengan kejandaannya.

Kecemburuan dunia laki-laki menyebabkannya terkurung tanpa batasan yang jelas. Tidak semua ruang leluasa ia masuki. Tidak dengan tiap orang ia bisa curhat. Anak-anak kecil menjauhinya. Karena orang tua mereka menanamkan, bahwa perempuan Bunda Calonarang adalah seorang tukang sihir yang kerjanya menangkap anak-anak lalu disihirnya menjadi kodok, jadi monyet, jadi burung, dan jadi cacing.

Para kumbang desa menjauhi sekuntum mawar yang sedang mekar bernama Dyah Ratna Manggali, puterinya. Indah lembut warna mawar itu. Semerbak harum baunya. Tapi menurut orang-orang desa, duri tangkai mawar itu beracun. Seekor ular kobra berbisa melingkar di batangnya. Jelas yang dituding racun dan ular itu adalah Bunda Calonarang.

Adakah lebih sakit dari seorang remaja putri dicampakkan dan disampahkan kehadirannya oleh pemuda-pemuda? Adakah yang lebih menyiksa daripada hukuman kasepekang bagi Bunda Calonarang hanya gara-gara ia beda (lebih hebat) daripada rata-rata lelaki lainnya? Dengan apakah rasa sakit ini bisa diobati? Hidup jalan terus. Sakit dibawa terus. Bunda Calonarang dan puterinya semata wayang berjalan dengan menggendong beban prasangka sosial di pundaknya. Dan ia tidak terlibat dalam melahirkan beban sosial itu.

Berat. Dalam kerumunan manusia, hidup ini dibuat menjadi tidak ringan. Kembali menjadi orang biasa yang nir-aksara sudah tak mungkin. Pengetahuan telah memilihnya sebagai orang yang lebih mempercayai diri daripada mempercayai orang lain. Tanah telah memilihnya sebagai anak yang harus merasakan hidup pada level terdasar, diinjak. Pelajaran pahit sekolah-hidup bernama Kerumunan makin mendekatkannya pada sekolah kematian, yang kampusnya bernama Setra Gandhamayu, rektornya seorang perempuan bernama Durga, dan dekannya juga perempuan bernama Kalika, dosennya semua perempuan, bernama Lenda dan Lendi dkk., dan senat universitasnya semua perempuan bernama Dasamahawidhya, kumpulan perempuan sakti-sakti.

Tapi kerumunan orang-orang kampung yang malas berpikir, makin menjadikannya keranjang sampah. Tiap kejadian yang tidak mereka mengerti lantaran kemalasan berpikir, dicarikan kambing hitam yang tiada lain adalah dirinya. Ketika kerumunan orang kampung terkena flu babi, Bunda Calonaranglah yang disangka menyebarkan virus. Ketika babi mati, juga Bunda Calonarang dituduh mengisap darahnya. Manakala lawar babi tiba-tiba basi, padahal baru diadon, juga Bunda Calonarang yang menjadi sebab-musabab, pangkal dari segala pangkal. Ketika akhirnya kerumunan orang-orang tidak bisa tidur nyenyak karena bumi terasa panas, juga Bunda Calonarang sumbernya.

Janda dalam bahasa mereka adalah rangda. Tapi rangda dalam bahasa mereka juga berarti karang panas. Jadi, lengkap dan sempurnalah apa yang diucapkan ujung lidah dengan apa yang ditudingkan ujung telunjuk jari. Semua mengarah pada satu titik: Bunda Calonarang!

Perempuan kuat macam siapakah bisa bertahan dalam situasi mental seperti itu? Mungkin perempuan-perempuan tamatan S-4, atau sebaliknya perempuan yang tidak bersekolah sama sekali. Bunda Calonarang ternyata tidak kuat. Terbukti, menurut Bharadahcarita, Bunda Calonarang melakukan perlawanan. Bangkit! Ia murka. Ia mengamuk. Ia tidak kemasukkan setan, tapi semua setan dimasukinya. Digerakkannya. Dikoordininirnya. Ia mantan mahasiswi Universitas Kematian yang paling disayangi Ibu Rektor Durga.

Maka, di sinilah pangkal ceritanya: perlawanan! Dengan perlawanan itu pengarang Bharadahcarita menemukan konflik awal yang digulirkan terus dalam pendakian cerita menuju konflik. Dengan perlawanannya, orang-orang mendapatkan pembenar pamungkas untuk menghabisi karakter Bunda Calonarang. Dengan perlawanannya, akhirnya Bunda Calonarang memang menjadi persis seperti apa yang dibencinya. Ia korban kekerasan, dan ia kemudian melakukan kekerasan.

Pada awalnya ia mengalami pembunuhan karakter, mutilasi perasaan, perkosaan batin, dan penjajahan sosial. Pada akhirnya, Bunda Calonarang melakukan terror yang sama pada kerumunan orang-orang kelompok pembencinya. Jadi, memang sekali lagi terbukti, kebencian akhirnya membuat yang membenci persis sama dengan apa yang dibenci. Itu ilmu alam, bukan psikososial. Kebencian adalah manusiawi, kata kerumunan manusia. Tapi kebencian adalah satu dari sadripu, kata buku agama.

Dengan apa lagi Bunda Calonarang harus membela dirinya bila bukan perlawanan? Ia bukan bumi yang menerima apa saja. Ia manusia, ia seorang ibu rumah tangga, ia seorang janda, single parent, ia seorang korban yang perlu perlindungan hak-hak pribadinya.

Saya tidak tahu jawabannya. Saya hanya merasa berhutang kepada Bunda Calonarang, karena dia maka Bharadahcarita menjadi hidup, menjadi nyata, dipertunjukkan, dilakoni, dipuja, dirayakan, disakralkan, diritualkan, dan digemari, dijual, diteliti. Untuk semua itu, Bunda Calonarang telah mengorbankan hidupnya, mengorbankan dirinya, dan mempertaruhkan nama baiknya. Siapa orangtua mau menamai putrinya Bunda Calonarang? Pemuka aktivis gender sendiri pun tidak akan melakukannya.

Tapi kenapa penonton kebudayaan Bunda Calonarang lebih memihak kepada Mpu Bharadah, lelaki yang muncul pada akhir cerita dengan segala kebijaksanaannya meruwat keletehan Bunda Calonarang? Itu masalah lain lagi! Jauh sebelumnya, Bunda Calonarang Tercinta telah tahu, suatu saat dirinya akan diruwat oleh lelaki, karena lelaki itulah yang telah menjadikannya rangda. Dan ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap sesuatu yang ia ketahui.

 

Rangda (baca: janda) itu salah satu produk kebudayaan lelaki.

 

IBM Dharma Palguna

 

 
 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com