Salah Satu Produk Kebudayaan Lelaki (1)
YANG DIKALAHKAN : BUNDA CALONARANG, (I)
BUNDA Calonarang adalah sedikit dari
perempuan yang berhasil membelajarkan diri pada masanya. Baca
tulis telah ia kuasai. Dari tiga tingkatan aksara, ia sedang
tekun di tingkatan, modre. Mantra di luar kepala. Mudra
menjadi tarian jari-jarinya tiap hari, tiap malam. Rasa
percaya dirinya tinggi. Ia tidak akan menunduk bila beradu
pandang dengan lelaki, dari tingkatan pendeta sekali pun.
Dalam bahasa sekarang ia sudah tingkatan post-sarjana. Ia
sadar, memiliki pengetahuan tinggi tidak membuatnya nyaman.
Bunda Calonarang juga manusia. Ia seorang
perempuan. Hidup sendiri tanpa suami, dengan seorang putri
bernama Ratna Manggali, sebuah nama yang indah. Dalam bahasa
sekarang, ia disebut single parent. Perempuan sendirian
bukanlah keadaan yang nyaman pada masanya. Rumor bahwa dirinya
begini, dan bahwa dirinya begitu, bukan sekali dua kali ia
dengar. Tapi saban kali. Tapi apa yang bisa ia lakukan
terhadap makhluk halus bernama Rumor itu, kecuali menahan diri
dan mengendalikan emosi. Berdikit-dikit lama-lama menjadi
sakit.
Ketika berjalan di keramaian manusia, ia
rasakan sebuah jarak telah terbentang antara dirinya dengan
kerumunan itu. Ia tidak persis tahu kenapa ada jarak. Ia hanya
bisa menduga-duga. Mungkin orang pikir dirinya aneh, seorang
perempuan berpendidikan tinggi hidup seorang diri dan menyepi.
Mungkin orang duga ia punya lelaki simpanan. Untuk menutupi
skandal itu, ia sibukkan diri dengan aksara dan tulis menulis.
Mungkin juga orang-orang kehilangan percaya diri begitu beradu
pandang dengannya, seorang janda yang tidak merasa kurang
dengan kejandaannya.
Kecemburuan dunia laki-laki menyebabkannya
terkurung tanpa batasan yang jelas. Tidak semua ruang leluasa
ia masuki. Tidak dengan tiap orang ia bisa curhat. Anak-anak
kecil menjauhinya. Karena orang tua mereka menanamkan, bahwa
perempuan Bunda Calonarang adalah seorang tukang sihir yang
kerjanya menangkap anak-anak lalu disihirnya menjadi kodok,
jadi monyet, jadi burung, dan jadi cacing.
Para kumbang desa menjauhi sekuntum mawar yang
sedang mekar bernama Dyah Ratna Manggali, puterinya. Indah
lembut warna mawar itu. Semerbak harum baunya. Tapi menurut
orang-orang desa, duri tangkai mawar itu beracun. Seekor ular
kobra berbisa melingkar di batangnya. Jelas yang dituding
racun dan ular itu adalah Bunda Calonarang.
Adakah lebih sakit dari seorang remaja putri
dicampakkan dan disampahkan kehadirannya oleh pemuda-pemuda?
Adakah yang lebih menyiksa daripada hukuman kasepekang bagi
Bunda Calonarang hanya gara-gara ia beda (lebih hebat)
daripada rata-rata lelaki lainnya? Dengan apakah rasa sakit
ini bisa diobati? Hidup jalan terus. Sakit dibawa terus. Bunda
Calonarang dan puterinya semata wayang berjalan dengan
menggendong beban prasangka sosial di pundaknya. Dan ia tidak
terlibat dalam melahirkan beban sosial itu.
Berat. Dalam kerumunan manusia, hidup ini
dibuat menjadi tidak ringan. Kembali menjadi orang biasa yang
nir-aksara sudah tak mungkin. Pengetahuan telah memilihnya
sebagai orang yang lebih mempercayai diri daripada mempercayai
orang lain. Tanah telah memilihnya sebagai anak yang harus
merasakan hidup pada level terdasar, diinjak. Pelajaran pahit
sekolah-hidup bernama Kerumunan makin mendekatkannya pada
sekolah kematian, yang kampusnya bernama Setra Gandhamayu,
rektornya seorang perempuan bernama Durga, dan dekannya juga
perempuan bernama Kalika, dosennya semua perempuan, bernama
Lenda dan Lendi dkk., dan senat universitasnya semua perempuan
bernama Dasamahawidhya, kumpulan perempuan sakti-sakti.
Tapi kerumunan orang-orang kampung yang malas
berpikir, makin menjadikannya keranjang sampah. Tiap kejadian
yang tidak mereka mengerti lantaran kemalasan berpikir,
dicarikan kambing hitam yang tiada lain adalah dirinya. Ketika
kerumunan orang kampung terkena flu babi, Bunda Calonaranglah
yang disangka menyebarkan virus. Ketika babi mati, juga Bunda
Calonarang dituduh mengisap darahnya. Manakala lawar babi
tiba-tiba basi, padahal baru diadon, juga Bunda Calonarang
yang menjadi sebab-musabab, pangkal dari segala pangkal.
Ketika akhirnya kerumunan orang-orang tidak bisa tidur nyenyak
karena bumi terasa panas, juga Bunda Calonarang sumbernya.
Janda dalam bahasa mereka adalah rangda. Tapi
rangda dalam bahasa mereka juga berarti karang panas. Jadi,
lengkap dan sempurnalah apa yang diucapkan ujung lidah dengan
apa yang ditudingkan ujung telunjuk jari. Semua mengarah pada
satu titik: Bunda Calonarang!
Perempuan kuat macam siapakah bisa bertahan
dalam situasi mental seperti itu? Mungkin perempuan-perempuan
tamatan S-4, atau sebaliknya perempuan yang tidak bersekolah
sama sekali. Bunda Calonarang ternyata tidak kuat. Terbukti,
menurut Bharadahcarita, Bunda Calonarang melakukan perlawanan.
Bangkit! Ia murka. Ia mengamuk. Ia tidak kemasukkan setan,
tapi semua setan dimasukinya. Digerakkannya. Dikoordininirnya.
Ia mantan mahasiswi Universitas Kematian yang paling disayangi
Ibu Rektor Durga.
Maka, di sinilah pangkal ceritanya: perlawanan!
Dengan perlawanan itu pengarang Bharadahcarita menemukan
konflik awal yang digulirkan terus dalam pendakian cerita
menuju konflik. Dengan perlawanannya, orang-orang mendapatkan
pembenar pamungkas untuk menghabisi karakter Bunda Calonarang.
Dengan perlawanannya, akhirnya Bunda Calonarang memang menjadi
persis seperti apa yang dibencinya. Ia korban kekerasan, dan
ia kemudian melakukan kekerasan.
Pada awalnya ia mengalami pembunuhan karakter,
mutilasi perasaan, perkosaan batin, dan penjajahan sosial.
Pada akhirnya, Bunda Calonarang melakukan terror yang sama
pada kerumunan orang-orang kelompok pembencinya. Jadi, memang
sekali lagi terbukti, kebencian akhirnya membuat yang membenci
persis sama dengan apa yang dibenci. Itu ilmu alam, bukan
psikososial. Kebencian adalah manusiawi, kata kerumunan
manusia. Tapi kebencian adalah satu dari sadripu, kata buku
agama.
Dengan apa lagi Bunda Calonarang harus membela
dirinya bila bukan perlawanan? Ia bukan bumi yang menerima apa
saja. Ia manusia, ia seorang ibu rumah tangga, ia seorang
janda, single parent, ia seorang korban yang perlu
perlindungan hak-hak pribadinya.
Saya tidak tahu jawabannya. Saya hanya merasa
berhutang kepada Bunda Calonarang, karena dia maka
Bharadahcarita menjadi hidup, menjadi nyata, dipertunjukkan,
dilakoni, dipuja, dirayakan, disakralkan, diritualkan, dan
digemari, dijual, diteliti. Untuk semua itu, Bunda Calonarang
telah mengorbankan hidupnya, mengorbankan dirinya, dan
mempertaruhkan nama baiknya. Siapa orangtua mau menamai
putrinya Bunda Calonarang? Pemuka aktivis gender sendiri pun
tidak akan melakukannya.
Tapi kenapa penonton kebudayaan Bunda
Calonarang lebih memihak kepada Mpu Bharadah, lelaki yang
muncul pada akhir cerita dengan segala kebijaksanaannya
meruwat keletehan Bunda Calonarang? Itu masalah lain lagi!
Jauh sebelumnya, Bunda Calonarang Tercinta telah tahu, suatu
saat dirinya akan diruwat oleh lelaki, karena lelaki itulah
yang telah menjadikannya rangda. Dan ia tidak bisa berbuat
apa-apa terhadap sesuatu yang ia ketahui.
Rangda (baca: janda) itu salah satu produk
kebudayaan lelaki.
IBM Dharma Palguna