kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 25 Maret 2007 tarukan valas
 

BERITA


Laptop bagi Anggota DPR --

Paling untuk Buka Situs Porno

Jakarta (Bali Post) -
Tiap ada fasilitas baru yang digunakan anggota DPR, biasanya anggota DPRD cenderung akan mengikuti kalau dianggap menguntungkan. Atas hal ini anggota DPRD diminta tidak latah mengikuti anggota DPR untuk pengadaan komputer jinjing (laptop) yang baru pertama kali dimunculkan ini. ''Kalau untuk anggota DPRD makin konyol lagi,'' kata pakar Telematika Roy Suryo kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (24/3) kemarin.

Menurut dia, seharusnya Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR dapat mengkaji kembali keputusannya membeli laptop yang telah dianggarkan Rp 21 juta untuk tiap anggota DPR itu. Ia meyakini, jika di tingkat nasional langkah ini bisa dicegah DPR, maka anggota DPRD tidak akan ikut-ikutan memfasilitasi dirinya yang macam-macam. 

Ada gejala teknologi informasi, lanjutnya, digunakan sebagai isu untuk membuat proyek baru. Trend baru pengadaan laptop di DPR dengan isu teknologi informasi itu rawan penggelembungan dana. Ini yang harus diwaspadai, karena visinya nggak jelas. ''Jadi, jangan ikut-ikutan trend seperti itu,'' ingatnya.

Sementara itu, Pelaksana Program Monitoring Hukum dan Peradilan ICW Emerson Junto mengatakan BURT yang memaksakan membeli laptop untuk anggota DPR patut dicurigai. Pasalnya, ada nuansa permainan antara Sekretariat Jenderal (Setjen) dan BURT DPR. Padahal, kedua lembaga yang bertugas melayani kebutuhan DPR itu bisa membatalkan rencana pembelian laptop. Apalagi, pengadaan laptop itu tidak menjadi kebutuhan mendesak.

''Patut dipertanyakan bila BURT dan Setjen tetap ngotot untuk tetap membeli laptop,'' katanya. Apalagi, sebagian anggota DPR menyatakan tidak memerlukan laptop. Aparat hukum dan masyarakat harus memantau proses pengadaan komputer jinjing itu. Bila pengadaannya tidak melalui tender, maka rentan terjadinya korupsi dan harus ditindaklanjuti.

 

Situs Porno

Dihubungi terpisah, anggota Fraksi PDI-P DPR Permadi menolak keras rencana pengadaan laptop tersebut. Jika laptop itu dibagikan, paling dimanfaatkan oleh anggota DPR untuk membuka situs porno atau hal-hal yang tidak relevan dengan pekerjaannya. Jika nanti sudah terealisasi, ia akan mengembalikan perangkat high tech ini ke BURT. Alasannya, tidak bisa mengoperasikan laptop.

''Kalau diberi laptop, yang pertama pasti 20-30 persen untuk buka situs porno. Sudah itu, nanti pukul tiga pagi baca-baca berita yang nggak relevan. Besok paginya ramai-ramai cerita berita yang nggak relevan itu dengan pekerjaannya,'' ujar politisi yang dikenal sebagai paranormal ini.

Menurutnya, anggota DPR yang setuju atas rencana itu hanyalah karena gengsi. Mereka tidak mau kalah hebat dengan para anggota lainnya yang telah memiliki dan menggunakan laptop. Padahal, anggota Dewan yang tidak bisa menggunakan komputer terbilang banyak, termasuk dirinya. ''Kalau diberi laptop, saya yang pertama mengembalikannya lagi,'' seloroh anggota Komisi I DPR itu.

Sementara itu, Wakil Ketua BURT Ebby Djauhari mengaku tidak bisa membatalkan program pengadaan laptop tersebut. Alasannya program tersebut sudah disetujui dalam rapat paripurna DPR. "Jadi, tidak mungkin dibatalkan, lagi pula sudah dianggarkan dalam APBN 2007," katanya.

Didesak program laptop itu tidak transpran karena mengarah pada spesifikasi tertentu, Ebby membantah hal itu. Semuanya sudah sesuai dengan Keppres 80 Tahun 2003. Kalau terjadi kecurangan, kita punya hak untuk mempertanyakannya kepada Sekjen DPR. Ketua DPR Agung Laksono mendukung langkah BURT, dia meminta program laptop diteruskan saja. Namun, prosesnya harus transparan. ''Diteruskan saja pengadaannya, tinggal pengawasan yang diperketat," kata Agung. (kmb4/kmb3)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com