RS Sanglah
Jelang
Ganti Nama (1) -----
Dibangun
1956, Diresmikan
Presiden
Soekarno
Rumah
Sakit (RS)
Sanglah
kini menyandang
predikat RS
terbesar
di Bali.
Dengan
beragam
fasilitas yang dimiliki,
RS yang dibangun 48
tahun
silam itu
juga
menjadi RS rujukan
untuk Indonesia
Timur.
Di
tengah upaya
meningkatkan
kualitas
pelayanan,
kini
muncul wacana
penggantian
nama
RS Sanglah.
Bahkan,
telah dibentuk
tim
kecil
untuk merumuskan
masukan-masukan
berikut
nama-nama tokoh yang
pantas
diabadikan sebagai
nama
rumah sakit
ini.
Bagaimana
perjalanan
sejarah
rumah sakit yang
diresmikan
Presiden
Soekarno
itu?
RS Sanglah
dibangun
tahun 1956.
Dr. M.
Soekardjo Mengoensudiro
ditunjuk
sebagai
Direktur Utama.
Ia
juga
menjabat inspektur
wilayah
kesehatan atau
sekarang
kepala
dinas kesehatan.
Sejak
semula RS
Sanglah
menempati areal 15
hektar.
Namun
ketika
itu sebagian
besar
masih persawahan.
Pembangunan
fasilitas
berupa
gedung dan
prasarana
lainnya
ditangani CV Lumayan.
Semula,
RS Sanglah
hanya
dilengkapi 150 tempat
tidur.
Pada
30 Desember 1959,
Presiden
RI
yang pertama Ir.
Soekarno
datang
khusus ke
Bali meresmikan
RS Sanglah.
Dirut dr. M.
Soekardjo
Mangoensudiro
mengawali
dinas
di Bali
tahun 1959. Setelah
dua
tahun memimpin
rumah
sakit dengan
fasilitas
serba minim,
ia
menyerahkan
jabatan
kepada dr. AA Made Djelantik
(1961-1968). Salah
satu
kemajuan yang dicapai,
RS Sanglah
menjalin
kerja
sama
dengan FK
Unud.
Jadilah
RS Sanglah
sebagai
tempat pendidikan
calon
dokter.
Sejak
1962, RS Sanglah
adalah
pusat pelayanan
medis
dan pendidikan.
Pergantian
di
urutan ke-3 dilakukan
pada 1968. AA
Djelantik
digantikan
dr. Made
Sudhiana hingga
tahun 1986.
Sementara
dr. IG Made
Gede
Oka, MPH meneruskan
tugas-tugas
pendahulunya
sejak 1986
hingga 1993.
Dr.
Lanang
adalah dirut
kelima
mengendalikan pelayanan
di RS
Sanglah.
Pada
masa
kepemimpinan dr. Made
Sudhiana (1968-1986) RS
Sanglah menyandang
status RS Kelas B
Pendidikan (SK
Menkes RI No.134
tahun 1978),
dengan
eselon B. Selain
itu, RS
Sanglah menjadi RS
rujukan Bali, NTB, NTT
dan Timor
Timur.
Pada
1993, saat RS
Sanglah
dipimpin Dirut
dr. Gede
Oka, MPH (1986-1993), RS
Sanglah
menjadi RS Unit Swadana.
Ini
berdasarkan SK
Menkes RI No. 1133
tahun 1993.
IRD RS Sanglah
yang ada
sekarang
ini
mulai dibangun
tahun 1989
dan
beroperasi sejak
1991. Pembangunan IRD
atas
kerja
sama dengan
JICA Jepang.
Sekarang
RS Sanglah
termasuk RS yang paling
maju
untuk Indonesia Tengah.
Tempat
tidur yang
disiapkan 692
buah.
Tanah
persawahan yang
kosong
itu telah
disulap
menjadi pusat
pelayanan
medis,
bahkan dilengkapi
sejumlah
gedung
mewah bertingkat.
Dulu,
RS Sanglah
hanya
punya poliklinik,
ruang
operasi, rontgen,
dan
kamar terima yang
berfungsi
sebagai IRD.
Tenaga
medis
maupun paramedis
sangat minim.
Kini RS
Sanglah punya 210
dokter
spesialis, 268 dokter
residen, 50
dokter
umum, 10 dokter
gigi
dan 14 dokter brigade
siaga
bencana.
Tenaga
keperawatan
mencapai 949
orang.
IRD
dilengkapi
ruangan
operasi, ruang
sterilisasi,
radiologi,
laboratorium,
ruang
perawatan yang dilengkapi
91 tempat
tidur.
Tragedi
Bom Bali I
membawa
berkah bagi
perkembangan
fasilitas RS
Sanglah.
Sejak
kejadian yang menewaskan
200 orang
lebih
itu, RS Sanglah
mendapatkan
bantuan
kerja
sama dari
pemerintah Australia
berupa
pembangunan Gedung
Instalasi
Rawat
Intensif Terpadu.
Fasilitasnya
antara
lain perawatan
Intensif Care Unit (ICU),
Intensif Cardiac Care Unit
(ICCU) dan
perawatan
luka
bakar. Selain
fasilitas yang
disebutkan
di atas
masih
banyak lagi yang
ada di
RS Sanglah,
seperti
Kesehatan/Reproduksi Bayi
Tabung yang
diresmikan 30
Desember 2005, Program
HIV/AIDS sejak 20
Juli 2004
hingga
pelayanan bedah
trauma dan emergency
sejak
bulan Juni 2001.
Terakhir
RS Sanglah
sedang
melakukan pembangunan
ruang
intensif perawatan
khusus flu
burung yang
direncanakan
selesai
Desember 2007 ini.
(san/jep)