kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 1 Nopember 2007

 Bali


RS Sanglah Jelang Ganti Nama (1) -----

Dibangun
1956, Diresmikan Presiden Soekarno

Rumah Sakit (RS) Sanglah kini menyandang predikat RS terbesar di Bali. Dengan beragam fasilitas yang dimiliki, RS yang dibangun 48 tahun silam itu juga menjadi RS rujukan untuk Indonesia Timur. Di tengah upaya meningkatkan kualitas pelayanan, kini muncul wacana penggantian nama RS Sanglah. Bahkan, telah dibentuk tim kecil untuk merumuskan masukan-masukan berikut nama-nama tokoh yang pantas diabadikan sebagai nama rumah sakit ini. Bagaimana perjalanan sejarah rumah sakit yang diresmikan Presiden Soekarno itu?

RS Sanglah dibangun tahun 1956. Dr. M. Soekardjo Mengoensudiro ditunjuk sebagai Direktur Utama. Ia juga menjabat inspektur wilayah kesehatan atau sekarang kepala dinas kesehatan.

Sejak semula RS Sanglah menempati areal 15 hektar. Namun ketika itu sebagian besar masih persawahan. Pembangunan fasilitas berupa gedung dan prasarana lainnya ditangani CV Lumayan. Semula, RS Sanglah hanya dilengkapi 150 tempat tidur.

Pada 30 Desember 1959, Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno datang khusus ke Bali meresmikan RS Sanglah. Dirut dr. M. Soekardjo Mangoensudiro mengawali dinas di Bali tahun 1959. Setelah dua tahun memimpin rumah sakit dengan fasilitas serba minim, ia menyerahkan jabatan kepada dr. AA Made Djelantik (1961-1968). Salah satu kemajuan yang dicapai, RS Sanglah menjalin kerja sama dengan FK Unud. Jadilah RS Sanglah sebagai tempat pendidikan calon dokter. Sejak 1962, RS Sanglah adalah pusat pelayanan medis dan pendidikan. Pergantian di urutan ke-3 dilakukan pada 1968. AA Djelantik digantikan dr. Made Sudhiana hingga tahun 1986. Sementara dr. IG Made Gede Oka, MPH meneruskan tugas-tugas pendahulunya sejak 1986 hingga 1993. Dr. Lanang adalah dirut kelima mengendalikan pelayanan di RS Sanglah.

Pada masa kepemimpinan dr. Made Sudhiana (1968-1986) RS Sanglah menyandang status RS Kelas B Pendidikan (SK Menkes RI No.134 tahun 1978), dengan eselon B. Selain itu, RS Sanglah menjadi RS rujukan Bali, NTB, NTT dan Timor Timur.

Pada 1993, saat RS Sanglah dipimpin Dirut dr. Gede Oka, MPH (1986-1993), RS Sanglah menjadi RS Unit Swadana. Ini berdasarkan SK Menkes RI No. 1133 tahun 1993. IRD RS Sanglah yang ada sekarang ini mulai dibangun tahun 1989 dan beroperasi sejak 1991. Pembangunan IRD atas kerja sama dengan JICA Jepang.

Sekarang RS Sanglah termasuk RS yang paling maju untuk Indonesia Tengah. Tempat tidur yang disiapkan 692 buah. Tanah persawahan yang kosong itu telah disulap menjadi pusat pelayanan medis, bahkan dilengkapi sejumlah gedung mewah bertingkat.

Dulu, RS Sanglah hanya punya poliklinik, ruang operasi, rontgen, dan kamar terima yang berfungsi sebagai IRD. Tenaga medis maupun paramedis sangat minim. Kini RS Sanglah punya 210 dokter spesialis, 268 dokter residen, 50 dokter umum, 10 dokter gigi dan 14 dokter brigade siaga bencana. Tenaga keperawatan mencapai 949 orang. IRD dilengkapi ruangan operasi, ruang sterilisasi, radiologi, laboratorium, ruang perawatan yang dilengkapi 91 tempat tidur.

Tragedi Bom Bali I membawa berkah bagi perkembangan fasilitas RS Sanglah. Sejak kejadian yang menewaskan 200 orang lebih itu, RS Sanglah mendapatkan bantuan kerja sama dari pemerintah Australia berupa pembangunan Gedung Instalasi Rawat Intensif Terpadu. Fasilitasnya antara lain  perawatan Intensif Care Unit (ICU), Intensif Cardiac Care Unit (ICCU) dan perawatan luka bakar. Selain fasilitas yang disebutkan di atas masih banyak lagi yang ada di RS Sanglah, seperti Kesehatan/Reproduksi Bayi Tabung yang diresmikan 30 Desember 2005, Program HIV/AIDS sejak 20 Juli 2004 hingga pelayanan bedah trauma dan emergency sejak bulan Juni 2001. Terakhir RS Sanglah sedang melakukan pembangunan ruang intensif perawatan khusus flu burung yang direncanakan selesai Desember 2007 ini. (san/jep)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)