kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 17 Oktober 2007

 Surat Pembaca


Membangun Negeri Bersama Mantan Pemimpin
 

Serangkaian acara silaturahmi Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan para mantan presiden dan mantan wapres serta dengan sejumlah tokoh nasional bertepatan dengan momentum silaturahmi saat Lebaran beberapa waktu lalu merupakan "tradisi baru" yang pertama kali dilakukan seorang pejabat tinggi negara yang sedang berkuasa.

Gerak langkah Wapres Jusuf Kalla itu mendapat komentar beragam, di antaranya ada yang mengait-ngaitkannya dengan misi politik dan suksesi 2009. Komentar minor itu sebenarnya suatu pembenaran terhadap persepsi bahwa dunia politik di Indonesia, termasuk perilaku para elite politiknya, senantiasa berisi polemik dan (bahkan) pertikaian.

Terlepas dari ada atau tidaknya misi politik di balik silaturahmi itu, kita baru saja menyaksikan sebuah tradisi baru, di mana seorang Wakil Presiden yang sedang berkuasa berkeliling bermaaf-maafan dengan tokoh-tokoh nasional yang selama ini (mungkin) berseberangan kepentingan politiknya. Masyarakat senang melihat para pemimpin dan mantan pemimpinnya rukun. Sebagai bangsa, kita perlu berkaca pada kerukunan para pemimpin bangsa lain. Kita tentu masih ingat, ketika Asia dilanda bencana tsunami dua tahun lalu, termasuk Aceh. Kala itu, Presiden Amerika Serikat Bush Junior merangkul Bush Senior dan Bill Clinton serta Sekjen PBB untuk bersama-sama menarik simpati masyarakat dunia agar peduli terhadap bencana tsunami di Asia itu. Padahal mereka berbeda partai politik (pandangan politik), bahkan bertolak belakang dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan pemerintahannya.

Mont Fleur, ketika tengah menggagas masa depan Afrika Selatan, melibatkan seluruh sumber daya dari seluruh komponen bangsa yang dimilikinya. Mont Fleur menitikberatkan bagaimana vitalnya peran para pemimpin di negerinya untuk menggagas masa depan yang lebih baik, dan skenario itu berhasil.

Tengoklah peristiwa Proses Destino Columbia. Negeri itu berhasil bangkit dari keterpurukan dan kehancuran dengan merapatkan berbagai kepentingan. Proses ini tampaknya cukup sederhana yaitu dengan melakukan negosiasi kepentingan-kepentingan secara informal dengan tidak mengikat, logis dan menantang, melibatkan berbagai pihak dan terpadu, kolektif dan konstruktif, serta melahirkan pilihan generatif. 

Anggi Astuti
Komp. Perumahan Parung Permai
Blok I-2/15 Parung, Bogor

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)