Membangun Negeri Bersama Mantan Pemimpin
Serangkaian acara silaturahmi Wakil Presiden Jusuf Kalla
dengan para mantan presiden dan mantan wapres serta
dengan sejumlah tokoh nasional bertepatan dengan
momentum silaturahmi saat Lebaran beberapa waktu lalu
merupakan "tradisi baru" yang pertama kali dilakukan
seorang pejabat tinggi negara yang sedang berkuasa.
Gerak langkah Wapres Jusuf Kalla itu mendapat komentar
beragam, di antaranya ada yang mengait-ngaitkannya
dengan misi politik dan suksesi 2009. Komentar minor itu
sebenarnya suatu pembenaran terhadap persepsi bahwa
dunia politik di Indonesia, termasuk perilaku para elite
politiknya, senantiasa berisi polemik dan (bahkan)
pertikaian.
Terlepas dari ada atau tidaknya misi politik di balik
silaturahmi itu, kita baru saja menyaksikan sebuah
tradisi baru, di mana seorang Wakil Presiden yang sedang
berkuasa berkeliling bermaaf-maafan dengan tokoh-tokoh
nasional yang selama ini (mungkin) berseberangan
kepentingan politiknya. Masyarakat senang melihat para
pemimpin dan mantan pemimpinnya rukun. Sebagai bangsa,
kita perlu berkaca pada kerukunan para pemimpin bangsa
lain. Kita tentu masih ingat, ketika Asia dilanda
bencana tsunami dua tahun lalu, termasuk Aceh. Kala itu,
Presiden Amerika Serikat Bush Junior merangkul Bush
Senior dan Bill Clinton serta Sekjen PBB untuk
bersama-sama menarik simpati masyarakat dunia agar
peduli terhadap bencana tsunami di Asia itu. Padahal
mereka berbeda partai politik (pandangan politik),
bahkan bertolak belakang dalam melaksanakan
kebijakan-kebijakan pemerintahannya.
Mont Fleur, ketika tengah menggagas masa depan Afrika
Selatan, melibatkan seluruh sumber daya dari seluruh
komponen bangsa yang dimilikinya. Mont Fleur
menitikberatkan bagaimana vitalnya peran para pemimpin
di negerinya untuk menggagas masa depan yang lebih baik,
dan skenario itu berhasil.
Tengoklah peristiwa Proses Destino Columbia. Negeri itu
berhasil bangkit dari keterpurukan dan kehancuran dengan
merapatkan berbagai kepentingan. Proses ini tampaknya
cukup sederhana yaitu dengan melakukan negosiasi
kepentingan-kepentingan secara informal dengan tidak
mengikat, logis dan menantang, melibatkan berbagai pihak
dan terpadu, kolektif dan konstruktif, serta melahirkan
pilihan generatif.
Anggi Astuti
Komp. Perumahan Parung Permai
Blok I-2/15 Parung, Bogor