Membludak, Arus Balik di Bandara Ngurah Rai
ARUS balik tak hanya mewarnai Pelabuhan
Gilimanuk dan Padangbai, tetapi juga tampak di Bandara
Ngurah Rai. Hanya ada sedikit perbedaan. Kalau di
Gilimanuk dan Padangbai, jumlah pemudik yang masuk Bali
sangat tinggi sementara di Bandara Ngurah Rai antara
yang datang dan yang meninggalkan Bali cukup seimbang.
Pantauan Bali Post di terminal kedatangan
domestik Bandara Ngurah Rai, Selasa (16/10) kemarin
tampak jelas lonjakan penumpang arus balik H + 3
pasca-Lebaran 2007. Sebagaimana rute reguler setiap
hari, pesawat datang dari sejumlah kota, yakni Jakarta,
Surabaya, Yogyakarta dan sejumlah kota di Indonesia
Timur.
Selama menjelang dan sesudah lebaran ini
arus penumpangan di Bandara Ngurah Rai, khususnya rute
domestik memang melonjak. Kalau pada hari biasa
rata-rata 5.500-an penumpang yang dilayani 166 kali
penerbangan reguler, pada H - 3 dan H + 3 bisa mencapai
lebih dari 8.600 penumpang. PAP I Bandara Ngurah Rai
telah menyiapkan 87 penerbangan tambahan (extra flight).
Yang datang kemarin umumnya para karyawan
swasta yang bekerja di Bali yang berasal dari sejumlah
kota di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Yudi,
seorang karyawan bank swasta di Denpasar menuturkan, dia
cepat kembali ke Bali karena sudah mulai masuk kerja,
Rabu (17/10) ini. Pemuda asal Yogyakarta ini mengaku tak
membawa siapapun dari kampungnya. "Gila apa, harga tiket
mencekik," selorohnya.
Lain lagi Susilowati, asal Jakarta.
Wanita yang pengusaha muda ini datang bersama
suami, satu anak dan kedua mertuanya. Mertuanya diboyong
ke Bali untuk sekadar berlibur. "Hari Minggu sudah baik
ke Jakarta, karena Bapak (mertuanya-red) bekerja sebagai
PNS," tutur Susilowati sembari mendorong bawaannya di
pelataran parkir Bandara Ngurah Rai.
Sementara yang meninggalkan Bali umumnya
para wisatawan yang memanfaatkan liburan panjang terkait
Lebaran 2007. Mereka sebelumnya berlibur di Bali dan
menginap di sejumlah hotel di Nusa Dua, Jimbaran, Kuta,
Tuban dan Sanur. Sebagian lagi merupakan penumpang
transit dari sejumlah kota di Indonesia Timur, seperti
Makasar, Balikpapan, Kupang, dan Labuan Bajo. "Saya dan
keluarga baru datang dari Flores dan berencana kembali
ke Jakarta," ujar Hendrik, sesaat setelah turun dari
pesawat Indonesian Air Transport (IAT) rute Labuan Bajo
- Denpasar. Dia mengaku harga tiket pesawat tujuan
Jakarta melonjak cukup tinggi. "Tak apalah asal cepat
nyampe," ujar Hendrik yang siap terbang bersama
keluarganya.
Ritual mudik memang telah menjadi
rutinitas sosial saban tahun di Tanah Air. Selain
bermakna positif secara spiritual, namun dampak mudik
juga menyisakan probelamatika sosial. Pasalnya, mereka
yang pulang kampung biasanya mengajak kerabatnya untuk
urbanisasi ke kota, termasuk ke Bali. Hal ini kerap
menjadi baban bagi kota yang dituju, karena kaum urban
umumnya tak dibekali pengetahuan dan ketrampilan yang
memadai. (gre)