KONI Bali Peringatkan Pelatih Malas
Denpasar (Bali Post) -
KONI Bali menempatkan disiplin sebagai bagian penting
dari pelatda PON XVII, di samping komponen lainnya
seperti penguasaan teknik, kesiapan fisik, strategi dan
mental. Karena itu, KONI Bali memperingatkan pelatih
yang tidak memenuhi undangan tatap muka dengan
Perhimpunan Pembina Kesehatan Olah Raga (PPKORI) Bali di
Kampus Fakultas Kedokteran Unud, Denpasar, Selasa
(16/10) kemarin.
Tercatat 10 pelatih cabang olah raga yang absen dalam
pertemuan tersebut, yakni bola voli pantai, sepak bola,
bridge, anggar, ski air, kempo, paralayang, dayung,
squash dan biliar. Mereka dicap malas oleh KONI Bali.
Ketua Umum KONI Bali I Gusti Bagus Alit Putra, S.H. M.Si.,
meragukan keseriusan dan komitemen para pelatih tersebut
dalam mempersiapkan atletnya menuju PON XVII/2008 di
Kaltim. ''Mestinya momen ini dimanfaatkan untuk menambah
wawasan ilmiah kepelatihan dan koordinasi, sehingga
program yang diagendakan berjalan optimal,'' katanya.
Menurut Alit Putra, mereka yang tidak datang diberikan
peringatan pertama. ''Kalau sampai tiga kali melakukan
hal yang sama, tidak ada tempat lagi bagi pelatih yang
tidak disipli,'' ujarnya.
Pada bagian lain, Alit Putra mengaku bersyukur atas
perhatian Pemprop Bali yang menyetujui usulan KONI Bali
menggelar pelatda selama sembilan bulan. Enam bulan
dipakai pelatda desentralisasi dan sisanya sentralisasi.
Ia berharap dukungan tersebut mampu meningkatkan
peringkat Bali pada PON di Kaltim. Pada PON XV/2000 di
Jatim, kontingen Bali berada di peringkat 13 dari 26
propinsi, kemudian turun setingkat pada PON XVI/2004 di
Palembang yang melibatkan 30 kontingen. Akan tetapi
usulan bonus Rp 75 juta untuk atlet peraih medali emas,
Rp 25 untuk perak dan Rp 15 juta untuk penyumbang
perunggu belum ada lampu hijau dari Pemprop Bali.
Acara tatap muka menampilkan dua pakar fisiologi olah
raga Unud, Prof. Drs. Ida Bagus Adnyana Manuaba (Ketua
PPKORI Bali) dan Prof. Dr. dr. Alex P., M.Sc. (Ketua PPS
S2 Fisiologi Unud). Dari panitia pelatda hadir Nengah
Sudiartha (ketua), IB Diptha (binpres) dan Maryoto
Subekti, M.For. (humas).
Adnyana Manuaba membedah pentingnya fisiologi untuk
kepelatihan atlet menuju prestasi puncak. Secara garis
besar, pencapaian prestasi dipengaruhi tiga komponen
mendasar, yakni kondisi fisik, teknik dan lingkungan.
Ketiganya didukung gizi, disiplin, komitmen, sarana dan
prasarana, manajemen, moral, dosis latihan, strategi
yang tepat, psikoligi, budaya dan dana.
Menurut Alex, para pelatih perlu memahani ilmiah
keolahragaan. Misalnya bagaimana mengatur pemanasan
atlet dan menggagendkan pelatihan sehingga mencapai
kondisi puncak saat pertandingan.
(kmb11)