kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 17 Oktober 2007

 Olahraga


KONI Bali Peringatkan Pelatih Malas 

Denpasar (Bali Post) -
KONI Bali menempatkan disiplin sebagai bagian penting dari pelatda PON XVII, di samping komponen lainnya seperti penguasaan teknik, kesiapan fisik, strategi dan mental. Karena itu, KONI Bali memperingatkan pelatih yang tidak memenuhi undangan tatap muka dengan Perhimpunan Pembina Kesehatan Olah Raga (PPKORI) Bali di Kampus Fakultas Kedokteran Unud, Denpasar, Selasa (16/10) kemarin.

Tercatat 10 pelatih cabang olah raga yang absen dalam pertemuan tersebut, yakni bola voli pantai, sepak bola, bridge, anggar, ski air, kempo, paralayang, dayung, squash dan biliar. Mereka dicap malas oleh KONI Bali.

Ketua Umum KONI Bali I Gusti Bagus Alit Putra, S.H. M.Si., meragukan keseriusan dan komitemen para pelatih tersebut dalam mempersiapkan atletnya menuju PON XVII/2008 di Kaltim. ''Mestinya momen ini dimanfaatkan untuk menambah wawasan ilmiah kepelatihan dan koordinasi, sehingga program yang diagendakan berjalan optimal,'' katanya.

Menurut Alit Putra, mereka yang tidak datang diberikan peringatan pertama. ''Kalau sampai tiga kali melakukan hal yang sama, tidak ada tempat lagi bagi pelatih yang tidak disipli,'' ujarnya.

Pada bagian lain, Alit Putra mengaku bersyukur atas perhatian Pemprop Bali yang menyetujui usulan KONI Bali menggelar pelatda selama sembilan bulan. Enam bulan dipakai pelatda desentralisasi dan sisanya sentralisasi.

Ia berharap dukungan tersebut mampu meningkatkan peringkat Bali pada PON di Kaltim. Pada PON XV/2000 di Jatim, kontingen Bali berada di peringkat 13 dari 26 propinsi, kemudian turun setingkat pada PON XVI/2004 di Palembang yang melibatkan 30 kontingen. Akan tetapi usulan bonus Rp 75 juta untuk atlet peraih medali emas, Rp 25 untuk perak dan Rp 15 juta untuk penyumbang perunggu belum ada lampu hijau dari Pemprop Bali.

Acara tatap muka menampilkan dua pakar fisiologi olah raga Unud, Prof. Drs. Ida Bagus Adnyana Manuaba (Ketua PPKORI Bali) dan Prof. Dr. dr. Alex P., M.Sc. (Ketua PPS S2 Fisiologi Unud). Dari panitia pelatda hadir Nengah Sudiartha (ketua), IB Diptha (binpres) dan Maryoto Subekti, M.For. (humas).

Adnyana Manuaba membedah pentingnya fisiologi untuk kepelatihan atlet menuju prestasi puncak. Secara garis besar, pencapaian prestasi dipengaruhi tiga komponen mendasar, yakni kondisi fisik, teknik dan lingkungan. Ketiganya didukung gizi, disiplin, komitmen, sarana dan prasarana, manajemen, moral, dosis latihan, strategi yang tepat, psikoligi, budaya dan dana.

Menurut Alex, para pelatih perlu memahani ilmiah keolahragaan. Misalnya bagaimana mengatur pemanasan atlet dan menggagendkan pelatihan sehingga mencapai kondisi puncak saat pertandingan. (kmb11)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)