Purusa-Pradana di Pura Dalem Penataran Peed
Ya atmada balada yasya visva
upasate prasisam yasya devah
yasya chaya-amrtam yasya mrtyuh,
kasmani devaya havisa vidhema.
(Rgveda.X.121.2).
Maksudnya:
Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan spiritual (rohani)
dan fisikal (jasmani). Semua sinar sucinya yang disebut
Deva berfungsi atas kehendak Tuhan. Kasih-Nya adalah
keabadian, krodanya adalah kematian. Kami semuanya
mengaturkan sembah kepada-Nya.
PURA Dalem Penataran Peed di Nusa Penida itu adalah pura
untuk memuja Tuhan Yang Mahakuasa sebagai pencipta
Purusa dan Pradana. Purusa itu adalah kekuatan jiwa atau
daya spiritualitas yang memberikan napas kehidupan pada
alam dan segala isinya. Pradana adalah kekuatan fisik
material atau daya jasmaniah yang mewujudkan secara
nyata kekuatan Purusa tersebut.
Karena itu umat Hindu berbondong-bondong rajin
bersembahyang ke Pura Dalem Penataran Peed untuk
mendapatkan keseimbangan daya hidup, baik daya spiritual
maupun daya fisikal. Karena hanya keseimbangan peran dan
fungsi rohani dan jasmani itulah hidup yang harmonis di
bumi ini dapat dicapai.
Pemujaan Tuhan sebagai pencipta unsur Purusa dan Pradana
ini divisualkan dalam wujud pemujaan di Pura Dalem
Penataran Peed. Visualisasi itu merupakan perpaduan
konsepsi Hindu dengan kearipan lokal Bali. Di Pura Dalem
Penataran Peed ini terdapat dua arca Purusa dan Predana
dari uang kepeng yang disimpan di gedong penyimpenan
sebagai pelinggih utama di Pura Dalem Penataran Peed.
Arca Purusa Predana inilah yang memvisualisasikan
kemahakuasaan Tuhan yang menciptakan waranugraha
keseimbangan hidup spiritual (Purusa) dengan kehidupan
fisik material (Predana).
Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan Batara Siwa
menurunkan Dewi Uma dan berstana di Puncak Mundi Nusa
Penida diiringi oleh para Bhuta Kala simbol kekuatan
fisik material berupa ruang dan waktu. Bhuta itu
membentuk ruang dan Kala adalah waktu. Waktu timbul
karena ada dinamika ruang. Di Pura Puncak Mundi, Dewi
Uma bergelar Dewi Rohini dan berputra Dalem Sahang.
Pepatih Dalem Sahang bernama I Renggan dari Jambu Dwipa
-- kompyang dari Dukuh Jumpungan.
Dukuh Jumpungan itu lahir dari pertemuan Batara Guru
dengan Ni Mrenggi, dayang dari Dewi Uma. Kama dari
Batara Guru berupa awan kabut yang disebut limun. Karena
itu disebut Hyang Kalimunan. Kama Batara Guru ini
di-urip oleh Hyang Tri Murti dan menjadi manusia.
Setelah digembleng berbagai ilmu kerohanian dan
kesidhian, dan oleh Hyang Tri Murti terus diberi nama
Dukuh Jumpungan dan bertugas sebagai ahli pengobatan.
Setelah turun-temurun Dukuh Jumpungan menurunkan I Gotra
yang juga dikenal I Mecaling. Inilah yang selanjutnya
disebut Ratu Gede Nusa.
Ratu Gede Nusa ini berpenampilan bagaikan Batara Kala.
Menurut penafsiran Ida Pedanda Made Sidemen (alm) dari
Geria Taman Sanur yang dimuat dalam buku hasil
penelitian Sejarah Pura oleh Tim IHD Denpasar (sekarang
Unhi) antara lain menyatakan sbb: saat Batara di Gunung
Agung, Batukaru dan Batara di Rambut Siwi dari Jambu
Dwipa ke Bali diiringi oleh seribu lima ratus (1.500)
orang halus (wong samar).
Lima ratus wong samar itu dengan lima orang taksu
menjadi pengiring Ratu Gede Nusa atas wara nugraha
Batara di Gunung Agung. Batara di Gunung Agung memberi
wara nugraha kepada Ratu Gede Nusa atas tapa brata-nya
yang keras. Atas tapa brata itulah Batara di Gunung
Agung memberi anugrah dan wewenang untuk mengambil upeti
berupa korban manusia Bali yang tidak taat melakukan
perbuatan baik dan benar sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya.
Di Pura Dalem Penataran Peed ini Ida Batara Dalem
Penataran Peed dipuja di Pelinggih Gedong, sedangkan
Pelinggih Ratu Gede Nusa berada areal tersendiri di
barat areal Pelinggih Dalem Penataran Peed. Pelinggih
Dalem Penataran Peed ini berada di bagian timur,
sedangkan Pelinggih Padmasana sebagai penyawangan Batara
di Gunung Agung berada di bagian utara dalam areal Pura
Dalem Penataran Peed. Di Pura Dalem Penataran Peed ini
merupakan penyatuan antara pemujaan Batara Siwa di
Gunung Agung dengan pemujaan Dewi Durgha atau Dewi Uma
di Pura Puncak Mundi.
Dengan demikian Pura Dalem Penataran Peed itu sebagai
Pemujaan Siwa Durgha dan Pemujaan Raja disebut Pura
Dalem. Sedangkan disebut sebagai Pura Penataran Peed
karena pura ini sebagai Penataran dari Pura Puncak Mundi
pemujaan Batari Uma Durgha. Artinya, Pura Penataran Peed
ini sebagai pengejawantahan yang aktif dari fungsi Pura
Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha.
Di pura inilah bertemunya unsur Purusa dari Batara di
Gunung Agung dengan Batari Uma Durgha di Puncak Mundi.
Dari pertemuan dua unsur ciptaan Tuhan inilah yang akan
melahirkan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya
yang disebut Rambut Sedhana. Baik sarana hidup untuk
memajukan kesejahteraan maupun sarana untuk
mempertahankan kesehatan dan menghilangkan berbagai
penyakit.
Upacara pujawali di Pura Dalem Penataran Peed ini
dilangsungkan pada setiap Budha Cemeng Klawu. Hari Budha
Cemeng Klawu ini adalah hari untuk mengingatkan umat
Hindu pada hari keuangan yang disebut Pujawali Batari
Rambut Sedhana. Pada hari ini umat Hindu diingatkan agar
uang itu digunakan dengan baik dan setepat mungkin. Uang
itu sebagai alat untuk mendapatkan berbagai sarana hidup
agar digunakan dengan seimbang untuk menciptakan sarana
kehidupan yang tiada habis-habisnya. Uang itu sebagai
sarana menyukseskan tujuan hidup mewujudkan Dharma,
Artha dan Kama sebagai dasar mencapai Moksha.
Berdasarkan adanya Pelinggih Manjangan Saluwang di
sebelah barat Tugu Penyimpanan dapat diperkirakan bahwa
Pura Dalem Penataran Peed ini sudah ada sejak Mpu
Kuturan mendampingi Raja memimpin Bali. Pura ini
mendapatkan perhatian saat Dalem Dukut memimpin di Nusa
Penida dan dilanjutkan pada zaman kepemimpinan Dalem di
Klungkung. * I Ketut Gobyah