Pilkades
Serentak
sebagai
Revitalisasi
Ruang
Berdemokrasi
Denpasar
(Bali Post) -
Pilkades
serentak yang
akan
digelar di Kota
Denpasar, 21
Oktober
mendatang merupakan
bentuk-bentuk
revitalisasi
peran
publik dalam
berdemokrasi.
Pilkades
serentak
ini
hendaknya dimaknai
sebagai
bentuk-bentuk penguatan
otonomi
desa dalam
konteks
memilih pemimpin yang
berpihak
pada
kepentingan publik.
Demikian
penegasan
Sekretaris DPD
Partai
Golkar Denpasar A.A.
Ngurah
Gede Widiada,
Selasa (16/10)
kemarin.
Politisi
asal
Puri Peguyangan
ini
menilai Pilkades
serentak
di Kota
Denpasar telah
memberi
harapan segar
terhadap
peluang
terbangunnya kesadaran
berdemokasi
di
kalangan warga
desa.
Tarik-menarik kepentingan
politik
dalam
Pilkades harus
diminimalkan agar
kades
terpilih tidak
menjadi
agen kekuasaan.
''Para kanidat
harus
memposisikan bahwa
lawan
bukanlah musuh
melainkan partner
kerja
dalam membangun
desa,''
ujar Ketua
Fraksi
Partai Golar
di DPRD Kota
Denpasar
ini.
A.A. Ngurah
Gede
Widiada mengatakan
semangat
Pilkades
serentak
ini
patut mendapat
respons
dan partisipasi
positif
dari masyarakat.
Menurutnya,
tampilnya
sejumlah
kandidat
dalam
Pilkades serentak
di
setiap desa
ini
nyata-nyata menunjukkan
adanya aroma
demokrasi yang
terbuka
dan bebas
intimidasi.
''Belajar
dari
pengalaman Pilkada
Kota Denpasar yang
berakhir
damai
dan mendapat
penilaian
baik,
maka pihak-pihak yang
berkompeten
dapat
memberikan apresiasi
yang positif,
bukan
malah melakukan
intervensi.
Sikap
bijaksana ini
akan
memberi ruang
kepada
para calon
kades
ini benar-benar
bisa
menjadi pengawal
pembangunan
berbasis
desa,
jika terpilih,''
ujar
Ketua DPD Lembaga
Pemberdayaan
Masyarakat (LPM) Bali
ini.
Momen
ini
juga diharapkan
bisa
mengarah pada
upaya-upaya
menjaga Bali
dalam
konteks menjadikan
desa
sebagai benteng
pertahanan
membangun
kedamaian Bali.
Widiada
tidak
sependat jika
pemilihan
kades
menjadi media kepentingan
politik.
Masalahnya
dalam
konteks otonomi
desa,
ini peran
kepala
desa sangat
strategis.
Kini
banyak dana
pembangunan
diarahkan
ke
desa-desa, sehingga
ruang
untuk membangun
desa
harus diposisikan
secara
proporsional.
''Mari membangun
otonomi
desa dengan
memberikan
aspresiasi yang
bijak
dan mendidik.
Pilkades
serentak
ini
jangan dijadikan
ruang
politik,'' ujarnya.
Selebihnya,
Widiada
mengingatkan agar kepala
desa yang
terpilih
tidak
menjadi agen
kekuasaan
melainkan
harus
benar-benar mengayomi
warganya.
Pihak yang
kalah agar
berjiwa
besar mendukung
partnernya
dalam
membangun desa.
(044/*)