Garap Proyek Gas Tangguh----
Indonesia Dapat Pinjaman Rp 23,6 Trilyun
Jakarta (Bali Post) -
Sejumlah lembaga keuangan internasional berkomitmen
memberikan pinjaman senilai 2,6 milyar dolar AS atau Rp
23,6 trilyun untuk pengerjaan proyek gas Tangguh,
Papua. Penandatanganan pinjaman proyek LNG Tangguh akan
dilakukan pada Selasa (1/8) hari ini di Jakarta.
Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (BP Migas)
Kardaya Warnika kepada pers disela sosialisasi rencana
kerja migas di Jakarta, Senin (31/7) kemarin. Menurut
Kardaya, pinjaman tersebut berasal dari sejumlah bank,
antara lain Japan Bank For International Cooperation (JBIC),
Asian Development (ADB) dan Internastional Commerce Bank
(ICB). Lembaga keuangan ini akan menyerahkan pinjaman
tersebut kepada Kontrak Production Sharing (KPS) yang
menjadi operator dari proyek Tangguh yaitu BP Indonesia.
Pinjaman tersebut akan digunakan untuk membiayai
lapangan gas di tiga blok di area Tangguh, yakni
Weriagar, Berau dan Muturi.Pinjaman direncanakan untuk
pembiayaan proses produksi serta proses pengolahan dari
gas ke LNG."Dana tersebut juga salah satunya akan
digunakan untuk pembangunan kilang LNG," ujar Kardaya.
Masih Kurang
Pinjaman dari lembaga internasional akan digunakan untuk
kegiatan hilir (downstream) terutama pembangunan kilang
LNG. Dijelaskan Kardaya, pendanaan tersebut sebenarnya
masih kurang untuk total seluruh proyek gas Tangguh yang
mencapai 6,5 milyar dolar AS.
Pihak pengelola, lanjut Kardaya, masih akan berusaha
mencari pinjaman atau mencari ekuiti untuk proyek
tersebut. Diperkirakan untuk pembiayaan upstream (hulu)
terkait dengan produksi gas mencapai 3,5 milyar dolar.
Sementara untuk biaya produksi gas nantinya akan
dibiayai dari ekuiti KPS.Proyek gas Tangguh di ladang
Weriagar, Berau dan Muturi diperkirakan mengandung lebih
dari 14 trilyun kubik cadangan gas.
Indonesia telah menandatangani perjanjian jual beli gas
Tangguh dengan China National Offshore Oil Corp (CNOOC).
Harga gas yang dijual ke daerah Fujian, Cina itu
ditetapkan lebih tinggi 2 dolar per mmbtu dari harga
semula 2,4 dolar AS per mmbtu secara free on board
(FOB) setelah direvisi. Kontrak dengan Cina ini 2,7 juta
ton per tahun untuk jangka waktu 15 tahun yang mulai
dikirimkan pada tahun 2008.
(kmb1)