kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 1 Agustus 2006

 Ekonomi


Garap Proyek Gas Tangguh----

Indonesia Dapat Pinjaman Rp 23,6 Trilyun
 

Jakarta (Bali Post) -
Sejumlah lembaga keuangan internasional berkomitmen memberikan pinjaman senilai 2,6 milyar dolar AS atau Rp 23,6 trilyun  untuk pengerjaan proyek gas Tangguh, Papua. Penandatanganan pinjaman proyek LNG Tangguh akan dilakukan pada Selasa (1/8) hari ini di Jakarta.

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (BP Migas) Kardaya Warnika kepada pers disela sosialisasi rencana kerja migas di Jakarta, Senin (31/7) kemarin. Menurut Kardaya, pinjaman tersebut berasal dari sejumlah bank, antara lain Japan Bank For International Cooperation (JBIC), Asian Development (ADB) dan Internastional Commerce Bank (ICB). Lembaga keuangan ini akan menyerahkan pinjaman tersebut kepada Kontrak Production Sharing (KPS) yang menjadi operator dari proyek Tangguh yaitu BP Indonesia.

Pinjaman tersebut akan digunakan untuk membiayai lapangan gas di tiga blok di area Tangguh, yakni Weriagar, Berau dan Muturi.Pinjaman direncanakan untuk pembiayaan proses produksi serta proses pengolahan dari gas ke LNG."Dana tersebut juga salah satunya akan digunakan untuk pembangunan kilang LNG," ujar Kardaya.

 

Masih Kurang

Pinjaman dari lembaga internasional akan digunakan untuk kegiatan hilir (downstream) terutama pembangunan kilang LNG. Dijelaskan Kardaya, pendanaan tersebut sebenarnya masih kurang untuk total seluruh proyek gas Tangguh yang mencapai  6,5 milyar dolar AS.

Pihak pengelola, lanjut Kardaya, masih akan berusaha mencari pinjaman atau mencari ekuiti untuk proyek tersebut. Diperkirakan untuk pembiayaan upstream (hulu) terkait dengan produksi gas mencapai 3,5 milyar dolar. Sementara untuk biaya produksi gas nantinya akan dibiayai dari ekuiti KPS.Proyek gas Tangguh di ladang Weriagar, Berau dan Muturi diperkirakan mengandung lebih dari 14 trilyun kubik cadangan gas.

Indonesia telah menandatangani perjanjian jual beli gas Tangguh dengan China National Offshore Oil Corp (CNOOC). Harga gas yang dijual ke daerah Fujian, Cina itu ditetapkan lebih tinggi 2 dolar per mmbtu dari harga semula  2,4 dolar AS per mmbtu secara free on board (FOB) setelah direvisi. Kontrak dengan Cina ini 2,7 juta ton per tahun untuk jangka waktu 15 tahun yang mulai dikirimkan pada tahun 2008. (kmb1)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)