kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 18 April 2004 tarukan valas
 

OPINI


Simulakra Sejarah, Simulakra Korupsi

Ada seorang pembaca Bali Post bertanya masalah otentitas Mahabharata dan Bhagavad Gita sebagai fakta sejarah, lewat rubrik ''Surat Pembaca'', Kamis, 8 April lalu. Mungkin lantaran mengalami obsesi akibat pendapat orang-orang yang mengira bahwa kedua pustaka suci Hindu tersebut sebagai fiksi atau mitologi, bukan sejarah! Menjelang akhir dari tulisannya, dia bertanya, ''Bagaimana mungkin kita bisa melandaskan perbuatan, ucapan dan pikiran kita dengan mengacu pada cerita fiktif?'' Karena tidak ingin selalu dihantui keraguan, dia juga minta seandainya ada yang mampu memberinya penjelasan dengan bukti meyakinkan bahwa Mahabharata dan Bagavad Gita adalah sejarah.

TIDAK perlu menunggu lama, gayung pun segera bersambut! Dengan paparan tentang nama-nama tempat tau kota secara detil disertai komentar meyakinkan, hipotesis tentang Bhagavad Gita dan Mahabharata adalah fakta sejarah, langsung ditulis pembaca lain di rubrik yang sama, Minggu, 11 April lalu. Jawaban itu pun bukan cerita dari sebuah cerita, namun merupakan pengalaman penulis tersebut berkelana di Negeri Bharata, mengunjungi beberapa tempat bersejarah. Dalam paragraf terakhir dari tulisannya, dia mengimbau, ''Mantapkan diri dalam mempelajari Bhagavad Gita sebagai sabda Tuhan. Bagavad Gita adalah kitab suci terpopuler di seluruh dunia, bukan hanya dibaca oleh orang-orang Hindu, tetapi semua pemimpin spiritual tanpa memandang agama dan kepercayaannya. Juga pemimpin-pemimpin yang cerdas maupun orang-orang besar, menyempatkan diri untuk membaca pustaka suci Bhagavad Gita yang maha agung sebagai samudera pengetahuan rohani''.

Sebagai orang yang tidak mendalami masalah agama, Rubag hanya berupaya memahami hakikat pertanyaan serta jawaban yang dibacanya di Bali Post dalam dua edisi berbeda itu. Awalnya, dia pun mengira bahwa kisah Mahabharata dan percakapan antara Shri Krishna dengan Arjuna sebelum Perang Akbar Bharata, hanya roman sejarah. Sebab, di zaman sekarang, kedengaran kurang lazim kalau lima laki-laki memperistri seorang wanita, seperti lima bersaudara Pandawa berpoliandri dengan Drupadi. Rubag juga tidak bisa membayangkan sebuah keluarga besar Bharata harus berperang habis-habisan seperti musuh buyutan, yang juga mengorbankan ribuan nyawa pengikutnya, demi tahta dan kekuasaan. Sulit juga bagi Rubag memikirkan secara rasio maupun logika, manusia bisa melayang-layang di udara seperti Gatotkaca, juga saudaranya Antareja yang yang melesak ke bumi dan hidup di bawah tanah. Senjata Konta milik Karna dan pasupati milik Arjuna bisa bergerak melebihi kemampuan peluru kendali dengan mengejar target sasaran hingga ke kolong tempat tidur.

Sebagai roman sejarah, Rubag percaya kalau kisah Mahabharata berlandaskan kejadian sebenarnya, namun di sana-sini dibumbui oleh penulisnya sehingga berkesan fantastik dan menarik. Nama-nama orang maupun tempat bisa jadi sesuai aslinya, namun kemampuan penulisnya dalam berimajinasi dan memasukkan unsur-unsur pengetahuan dan filsafat membuat Mahbaharata dan Bhagavad Gita, bukan saja sebagai ajaran agama, juga moral dan ilmu pengetahuan. Bahkan kalau benar ada fakta sejarah yang menyebutkan bahwa kisah Mahabharata dan Bhaghavad Gita berlangsung lebih dari 5000 tahun silam, bisa jadi kemajuan sains serta teknologi yang berkembang pesat sekarang terilhami oleh kedua pustaka suci itu. Malah, Rene Descartes dan Issac Newton, yang dianggap nabi ilmu pengetahuan positif atau pencetus zaman pencerahan harus berterima kasih pada penulis Mahabharata. Juga, Socrates, Plato, Aristoteles dan para filsuf seangkatannya yang hidup di zaman Yunani kuno berutang budi pada Bhagavad Gita.

***
Rubag sepaham dengan pendapat bahwa sejarah adalah penceritaan mengenai peristiwa, dan bukan peristiwa itu sendiri. Peristiwa bukanlah benda tapi potongan-potongan realitas, menyebabkan manusia disebut peristiwa yang berinteraksi. Sejarawan Perancis, Paul Veyne mengatakan bahwa sejarah mirip roman, yang bisa mengemas peristiwa satu abad dalam satu atau dua halaman atau sebaliknya kisah seminggu dituturkan dalam ratusan halaman. Karenanya, tulis Veyne, sejarah itu subjektif, sebab sejarawan sering menganggap suatu peristiwa lebih penting dari yang lain akibat tidak adanya ukuran mutlak buat suatu peristiwa.

Beda dengan tukang jahit yang bisa mengukur pakaian secara pas sesuai permintaan pelanggan, sejarawan tidak bisa mengukur peristiwa. Tidak meleset bila Eh Carr mengatakan bahwa sejarah merupakan proses berkesinambungan dari interaksi antarsejarawan dengan fakta-fakta yang dimilikinya, suatu dialog berkesinambungan antara masa lampau dan sekarang. Pertanyaannya, apakah karya tulis Bhagavad Gita dan Mahabharata goresan tangan sejarawan ataukah sastrawan?

Di zaman teknologi informasi dan komunikasi yang didominasi rekayasa elektronika ini, orang-orang sulit membedakan antara realita dan fantasi, kebenaran dan manipulasi atau kejujuran dan kebohongan. Terlebih-lebih daya tarik televisi yang kian dominan dalam suplai fakta elektronik, menyebabkan garis demarkasi antara kenyataan dan khayalan kian kabur. Akerlof dalam Signaling Theory mengatakan, terjadi kesenjangan antara pemberi dan penerima informasi. Penyaji berita memiliki posisi lebih superior dibanding penerima, karena yang disebut pertama bisa menentukan jenis informasi macam apa yang diebarkan pada para konsumennya. Kadang kala, demi kepentingan politik, ekonomi atau budaya konsumerisme, fakta sederhana dibalut kemasan manipulatif, sehingga menghasilkan persepsi berbeda-beda di kalangan konsumen. Tidak salah kalau ada yang berpendapat bahwa telah terjadi proses alienasi secara tak kentara terhadap kalangan para pemirsa TV dengan kenyataan dan lingkungannya. Mereka dijadikan orang asing selama berjam-jam sehari dalam gemerlap kemewahan para selebriti dan baru menyadari bahwa realitas sudah mati ketika tombol TV dimatikan. Sejarawan pun di mata Rubag memiliki posisi yang sama dengan penyaji acara di TV. Dari kisah sejarah Ken Arok sebagai leluhur Majapahit hingga naiknya Soeharto menjadi presiden kedua RI, banyak peristiwa yang dituturkan secara fantastis sesuai pesanan penguasa. Selama 32 tahun para anak didik mengkonsumsi sajian sejarah, yang kemudian digugat kebenarannya saat Orde Baru tutup buku medio 1998. Malah ada kelompok sejarawan yang menuntut agar dilakukan pelurusan penulisan sejarah. Kisah "Janur Kuning" dan "Pemberontakan G 30 S-PKI" yang sempat dituangkan ke layar perak dan selama belasan tahun menjadi film yang wajib ditonton para murid dan guru pun sekarang telah menjadi catatan sejarah. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa selama tiga dekade di negeri ini telah berlangsung simulakra sejarah, dimana terjadi duplikasi atas duplikat sejarah, sedangkan yang asli kabur keberadaannya. Buktinya, Surat Perintah (SP) 11 Maret yang diharapkan menjadi kunci pembuka kebenaran sejarah juga kabur.

***

Kembali ke masalah Bhagavad Gita dan Mahabharata. Rubag percaya kalau kedua kitab suci Hindu tersebut dibaca banyak orang lintas agama, bangsa dan budaya. Namun untuk mengatakan bahwa semua pembaca memahami, menghayati dan mengamalkan semua ajaran moral yang terkandung di kedua kitab itu dalam kehidupan sehari-hari, dia tidak berani. Jangankan imbauan, penataran 2-4 yang diwajibkan selama puluhan tahun di era Soeharto saja, menghaslkan predikat jelek di segala lini buat bangsa dan negara ini. Paling korup, pelanggar HAM berat, paling rusuh, meski setiap orde (lama, baru dan reformasi) melahirkan slogan dan motto yang kedengaran luhur dan mulia.

Malah untuk memberantas kebusukan dan penyelewengan, teriakan-teriakan dan yel-yel militan serta patriotik juga sering terdengar dalam demo, "Gantung koruptor! Habisi politik busuk!" Ironisnya, bibit-bibit busuk justru lahir di antara yang berteriak paling santer di tengah kerumunan. Pelaksanaan Pemilu 2004, 5 April lalu memang berlangsung aman, namun bau uang ada di mana-mana. Ada upanya menyebarkan budaya korupsi secara luas di masyarakat dan menjadikannya sebuah sistem. Pelantun lagu anak-anak Joshua jadi benar, "Kok jeruk makan jeruk?"

''Dari simulakra sejarah ke simulakra korupsi. Duplikasi atas duplikat korupsi, sehingga korupsi menjadi kelaziman. Ini akibat realitas digiring paksa ke posrealitas dan hiperrealitas, sehingga yang busuk kelihatan segar, kebohongan bertubi-tubi dianggap kejujuran. Tanekan kopi di gelas diisi air dan garam dipromosikan rame-rame jadi kecap nomor satu, halal,'' gumam Rubag.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com