Simulakra
Sejarah, Simulakra Korupsi
Ada seorang pembaca Bali
Post bertanya masalah otentitas Mahabharata dan Bhagavad Gita
sebagai fakta sejarah, lewat rubrik ''Surat Pembaca'', Kamis, 8
April lalu. Mungkin lantaran mengalami obsesi akibat pendapat
orang-orang yang mengira bahwa kedua pustaka suci Hindu tersebut
sebagai fiksi atau mitologi, bukan sejarah! Menjelang akhir dari
tulisannya, dia bertanya, ''Bagaimana mungkin kita bisa
melandaskan perbuatan, ucapan dan pikiran kita dengan mengacu
pada cerita fiktif?'' Karena tidak ingin selalu dihantui
keraguan, dia juga minta seandainya ada yang mampu memberinya
penjelasan dengan bukti meyakinkan bahwa Mahabharata dan Bagavad
Gita adalah sejarah.
TIDAK
perlu menunggu lama, gayung pun segera bersambut! Dengan paparan
tentang nama-nama tempat tau kota secara detil disertai komentar
meyakinkan, hipotesis tentang Bhagavad Gita dan Mahabharata
adalah fakta sejarah, langsung ditulis pembaca lain di rubrik
yang sama, Minggu, 11 April lalu. Jawaban itu pun bukan cerita
dari sebuah cerita, namun merupakan pengalaman penulis tersebut
berkelana di Negeri Bharata, mengunjungi beberapa tempat
bersejarah. Dalam paragraf terakhir dari tulisannya, dia
mengimbau, ''Mantapkan diri dalam mempelajari Bhagavad Gita
sebagai sabda Tuhan. Bagavad Gita adalah kitab suci terpopuler
di seluruh dunia, bukan hanya dibaca oleh orang-orang Hindu,
tetapi semua pemimpin spiritual tanpa memandang agama dan
kepercayaannya. Juga pemimpin-pemimpin yang cerdas maupun
orang-orang besar, menyempatkan diri untuk membaca pustaka suci
Bhagavad Gita yang maha agung sebagai samudera pengetahuan
rohani''.
Sebagai orang yang tidak
mendalami masalah agama, Rubag hanya berupaya memahami hakikat
pertanyaan serta jawaban yang dibacanya di Bali Post dalam dua
edisi berbeda itu. Awalnya, dia pun mengira bahwa kisah
Mahabharata dan percakapan antara Shri Krishna dengan Arjuna
sebelum Perang Akbar Bharata, hanya roman sejarah. Sebab, di
zaman sekarang, kedengaran kurang lazim kalau lima laki-laki
memperistri seorang wanita, seperti lima bersaudara Pandawa
berpoliandri dengan Drupadi. Rubag juga tidak bisa membayangkan
sebuah keluarga besar Bharata harus berperang habis-habisan
seperti musuh buyutan, yang juga mengorbankan ribuan nyawa
pengikutnya, demi tahta dan kekuasaan. Sulit juga bagi Rubag
memikirkan secara rasio maupun logika, manusia bisa
melayang-layang di udara seperti Gatotkaca, juga saudaranya
Antareja yang yang melesak ke bumi dan hidup di bawah tanah.
Senjata Konta milik Karna dan pasupati milik Arjuna bisa
bergerak melebihi kemampuan peluru kendali dengan mengejar
target sasaran hingga ke kolong tempat tidur.
Sebagai roman sejarah,
Rubag percaya kalau kisah Mahabharata berlandaskan kejadian
sebenarnya, namun di sana-sini dibumbui oleh penulisnya sehingga
berkesan fantastik dan menarik. Nama-nama orang maupun tempat
bisa jadi sesuai aslinya, namun kemampuan penulisnya dalam
berimajinasi dan memasukkan unsur-unsur pengetahuan dan filsafat
membuat Mahbaharata dan Bhagavad Gita, bukan saja sebagai ajaran
agama, juga moral dan ilmu pengetahuan. Bahkan kalau benar ada
fakta sejarah yang menyebutkan bahwa kisah Mahabharata dan
Bhaghavad Gita berlangsung lebih dari 5000 tahun silam, bisa
jadi kemajuan sains serta teknologi yang berkembang pesat
sekarang terilhami oleh kedua pustaka suci itu. Malah, Rene
Descartes dan Issac Newton, yang dianggap nabi ilmu pengetahuan
positif atau pencetus zaman pencerahan harus berterima kasih
pada penulis Mahabharata. Juga, Socrates, Plato, Aristoteles dan
para filsuf seangkatannya yang hidup di zaman Yunani kuno
berutang budi pada Bhagavad Gita.
***
Rubag sepaham dengan pendapat bahwa sejarah adalah penceritaan
mengenai peristiwa, dan bukan peristiwa itu sendiri. Peristiwa
bukanlah benda tapi potongan-potongan realitas, menyebabkan
manusia disebut peristiwa yang berinteraksi. Sejarawan Perancis,
Paul Veyne mengatakan bahwa sejarah mirip roman, yang bisa
mengemas peristiwa satu abad dalam satu atau dua halaman atau
sebaliknya kisah seminggu dituturkan dalam ratusan halaman.
Karenanya, tulis Veyne, sejarah itu subjektif, sebab sejarawan
sering menganggap suatu peristiwa lebih penting dari yang lain
akibat tidak adanya ukuran mutlak buat suatu peristiwa.
Beda dengan tukang jahit
yang bisa mengukur pakaian secara pas sesuai permintaan
pelanggan, sejarawan tidak bisa mengukur peristiwa. Tidak
meleset bila Eh Carr mengatakan bahwa sejarah merupakan proses
berkesinambungan dari interaksi antarsejarawan dengan
fakta-fakta yang dimilikinya, suatu dialog berkesinambungan
antara masa lampau dan sekarang. Pertanyaannya, apakah karya
tulis Bhagavad Gita dan Mahabharata goresan tangan sejarawan
ataukah sastrawan?
Di zaman teknologi
informasi dan komunikasi yang didominasi rekayasa elektronika
ini, orang-orang sulit membedakan antara realita dan fantasi,
kebenaran dan manipulasi atau kejujuran dan kebohongan.
Terlebih-lebih daya tarik televisi yang kian dominan dalam
suplai fakta elektronik, menyebabkan garis demarkasi antara
kenyataan dan khayalan kian kabur. Akerlof dalam Signaling
Theory mengatakan, terjadi kesenjangan antara pemberi dan
penerima informasi. Penyaji berita memiliki posisi lebih
superior dibanding penerima, karena yang disebut pertama bisa
menentukan jenis informasi macam apa yang diebarkan pada para
konsumennya. Kadang kala, demi kepentingan politik, ekonomi atau
budaya konsumerisme, fakta sederhana dibalut kemasan manipulatif,
sehingga menghasilkan persepsi berbeda-beda di kalangan konsumen.
Tidak salah kalau ada yang berpendapat bahwa telah terjadi
proses alienasi secara tak kentara terhadap kalangan para
pemirsa TV dengan kenyataan dan lingkungannya. Mereka dijadikan
orang asing selama berjam-jam sehari dalam gemerlap kemewahan
para selebriti dan baru menyadari bahwa realitas sudah mati
ketika tombol TV dimatikan. Sejarawan pun di mata Rubag memiliki
posisi yang sama dengan penyaji acara di TV. Dari kisah sejarah
Ken Arok sebagai leluhur Majapahit hingga naiknya Soeharto
menjadi presiden kedua RI, banyak peristiwa yang dituturkan
secara fantastis sesuai pesanan penguasa. Selama 32 tahun para
anak didik mengkonsumsi sajian sejarah, yang kemudian digugat
kebenarannya saat Orde Baru tutup buku medio 1998. Malah ada
kelompok sejarawan yang menuntut agar dilakukan pelurusan
penulisan sejarah. Kisah "Janur Kuning" dan "Pemberontakan
G 30 S-PKI" yang sempat dituangkan ke layar perak dan
selama belasan tahun menjadi film yang wajib ditonton para murid
dan guru pun sekarang telah menjadi catatan sejarah. Tidak
berlebihan kalau dikatakan bahwa selama tiga dekade di negeri
ini telah berlangsung simulakra sejarah, dimana terjadi
duplikasi atas duplikat sejarah, sedangkan yang asli kabur
keberadaannya. Buktinya, Surat Perintah (SP) 11 Maret yang
diharapkan menjadi kunci pembuka kebenaran sejarah juga kabur.
***
Kembali ke masalah
Bhagavad Gita dan Mahabharata. Rubag percaya kalau kedua kitab
suci Hindu tersebut dibaca banyak orang lintas agama, bangsa dan
budaya. Namun untuk mengatakan bahwa semua pembaca memahami,
menghayati dan mengamalkan semua ajaran moral yang terkandung di
kedua kitab itu dalam kehidupan sehari-hari, dia tidak berani.
Jangankan imbauan, penataran 2-4 yang diwajibkan selama puluhan
tahun di era Soeharto saja, menghaslkan predikat jelek di segala
lini buat bangsa dan negara ini. Paling korup, pelanggar HAM
berat, paling rusuh, meski setiap orde (lama, baru dan reformasi)
melahirkan slogan dan motto yang kedengaran luhur dan mulia.
Malah untuk memberantas
kebusukan dan penyelewengan, teriakan-teriakan dan yel-yel
militan serta patriotik juga sering terdengar dalam demo, "Gantung
koruptor! Habisi politik busuk!" Ironisnya, bibit-bibit
busuk justru lahir di antara yang berteriak paling santer di
tengah kerumunan. Pelaksanaan Pemilu 2004, 5 April lalu memang
berlangsung aman, namun bau uang ada di mana-mana. Ada upanya
menyebarkan budaya korupsi secara luas di masyarakat dan
menjadikannya sebuah sistem. Pelantun lagu anak-anak Joshua jadi
benar, "Kok jeruk makan jeruk?"
''Dari simulakra sejarah
ke simulakra korupsi. Duplikasi atas duplikat korupsi, sehingga
korupsi menjadi kelaziman. Ini akibat realitas digiring paksa ke
posrealitas dan hiperrealitas, sehingga yang busuk kelihatan
segar, kebohongan bertubi-tubi dianggap kejujuran. Tanekan kopi
di gelas diisi air dan garam dipromosikan rame-rame jadi kecap
nomor satu, halal,'' gumam Rubag.
* aridus
|