kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 23 Oktober 2003

 Artikel


Jika kemudian Presiden George W. Bush memilih Bali sebagai tempatnya dalam melakukan kunjungan ke Indonesia, harus dibaca bahwa Bush datang bukan untuk menikmati pariwisata Bali atau membuat hotel tempatnya beristirahat terkenal, tetapi sebagai sebuah simbol yang bermakna tantangan kepada pelaku teroris. Amerika Serikat menantang pelaku yang ingin menghancurkan keberhasilan pembangunan dan peradaban mereka (Barat). Di Balilah tempat di mana lebih dari seratus orang Barat (Australia, Inggris, Amerika Serikat) yang tewas secara mengenaskan oleh ledakan bom. Karena itu, Barat akan menantang mereka dari mana pun. Kunjungan yang tidak sampai selama satu hari itu (bahkan tidak sampai enam jam!), memang benar-benar kunjungan simbolis.

------------------------------------------------------

Makna Simbolik Kunjungan Presiden Bush ke Bali 

Oleh GPB Suka Arjawa

DALAM rangka mengikuti pertemuan APEC (Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik) yang berlangsung di Thailand 20 - 21 Oktober 2003, Presiden Amerika Serikat George W. Bush juga melakukan acara lawatan ke negara-negara lain yang dianggap penting di kawasan Asia. Negara tersebut adalah Jepang, Indonesia dan Australia. Yang istimewa adalah bahwa dalam kunjungannya ke Indonesia itu, presiden negara adidaya ini memusatkannya di Bali. Para tokoh Indonesia yang hendak bertemu atau dipertemukan dengan Presiden AS ini harus datang ke Bali demi bisa mengemukakan pendapat atau meminta jawaban tentang kebijakan internasional Amerika Serikat yang diterapkan saat ini. Ada beberapa hal yang mesti dilihat dari kunjungan Bush ke Bali ini, dilihat dari kacamata politik internasional.

--------------------------

Posisi Bali dalam Skala Politik Global
Dengan tidak sadar setelah meledaknya bom di Legian, Kuta tahun 2002 yang lalu, secara politik internasional posisi Bali itu telah semakna dengan kondisi New York, Khasmir, Kolombo, Islamabad maupun tempat-tempat lain di dunia yang telah menjadi target wilayah peledakan bom sebagai bentuk teror. Pandangan di atas harus dilihat dari pengertian bahwa munculnya bom teror itu tidak lain merupakan hasil dari sebuah pertentangan yang bersifat zero zum conflict.

Pertentangan demikian mengindikasikan bahwa setiap lawan (apakah itu politis, ideologis atau ekonomis) harus dilenyapkan dengan metode apa pun. Teror adalah salah satu metode melenyapkan lawan yang berjangka panjang, di mana frekuensi teror akan sangat menentukan keberhasilan tujuan. Bentrokan Hindu-muslim di Kahsmir (India), pembunuhan berbagai aktor politik muslim di Islamabad (Pakistan) merupakan contoh bagaimana kerasnya zero zum conflict tersebut berdampak. Tertabraknya gedung WTC New York adalah contoh di mana zero zum itu, oleh pihak Barat dilukiskan sebagai pertentangan antara peradaban Barat dan Islam fundamental garis keras. Pertentangan inilah yang disebut-sebuat sebagai identitas bentrokan paling modern sebagai pengganti persaingan antara komunisme dan kapitalisme di abad yang lalu. Yang paling menakutkan, kemungkinan pertentangan antara kaum fundamentalis itu dengan pihak Barat bisa mengambil waktu lama seperti halnya persaingan antara komunisme dan kapitalisme. Kalkulasi biaya sosial, ekonomi maupun finansial dari konflik seperti ini, bisa diprediksi sejak sekarang, yang mungkin saja kelak setara dengan pertentangan komunis dengan kapitalis itu.

Dalam konteks Indonesia, setelah munculnya krisis ekonomi pada tahun 1997 lalu, tampaknya lalu lintas penumpukan kepemilikan Barat makin banyak yang datang ke Bali. Lesunya perdagangan di Jakarta dan kota-kota lainnya, membuat prioritas utama Indonesia hanya tertuju pada Bali sebagai wilayah tujuan wisata internasional. Akibatnya aktivitas bisnis dan sosial banyak yang "melarikan diri" ke Bali. Pariwisata bukan saja mengundang orang-orang Barat secara fisik datang ke Bali, tetapi hotel-hotel berbintang yang bertaburan itu banyak memakai manajer-manajer Barat atau sebagai konsultannya. Ini artinya, mau tidak mau Bali menjadi incaran sebagai wilayah sasaran bentrokan modern itu. Bom Kuta adalah indikator yang paling jelas dari konotasi tersebut. Jadi, secara tidak sadar dalam konteks politik internasional, Bali sesungguhnya berada di lingkaran yang sudah diperhitungkan oleh para politisi internasional sebagai daerah yang amat potensial sebagai wilayah (transit maupun bukan) lalu lintas kekerasan internasional. Karena itu, saat ini pertambahan perhatian masyarakat internasional kepada Pulau Bali, bukan pada prospek pariwisata saja tetapi juga pada prospek keterancamannya dari lalu lintas teroris.

Dari segi geopolitik, Bali berada bersebelahan dengan jalur ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia), yakni Selat Lombok. Jalur ini memberikan kebebasan kepada lalu lintas laut internasional untuk melintasi wilayah tanpa harus mendapat "teguran" dari otoritas Indonesia. Artinya, baik kapal tanker, kapal selam, maupun kapal perang dari negara lain, dapat melewati jalur tersebut tanpa harus mendapatkan pengawasan ketat dari Indonesia. Amerika Serikat sebagai representasi Barat merupakan pihak yang paling banyak memanfaatkan perairan bebas ini untuk lalu lintas lautnya, entah untuk mengangkut minyak, kapal selam atau kapal perang. Di samping itu, Bali juga berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, perairan internasional yang ramai dipakai sebagai jalur pelayaran kapal perang maupun armada pengangkutan minyak dan perdagangan. Dengan begitu mereka-mereka yang anti dengan Barat dan Amerika Serikat akan dengan mudah memanfaatkan Bali untuk mengincar sasarannya di Selat Lombok atau Samudera Hindia. Untuk melaksanakan tujuan tersebut, mereka bisa saja menyamar sebagai wisatawan, entah domestik atau internasional, atau mungkin saja menyamar sebagai montir sekalipun. Banyak cara dipakai sebagai penyamar.

Kunjungan Simbolik Bush

Jika kemudian Presiden George W. Bush memilih Bali sebagai tempatnya dalam melakukan kunjungan ke Indonesia, bisa dilihat karena Bali merupakan representasi dari makna Bali seperti yang telah diungkapkan di atas. Di samping itu, yang harus dibaca dari kunjungannya ini adalah bahwa Bush datang bukan untuk menikmati pariwisata Bali atau membuat hotel tempatnya beristirahat terkenal tetapi sebagai sebuah simbol yang bermakna tantangan kepada pelaku teroris. Amerika Serikat menantang pelaku yang ingin menghancurkan keberhasilan pembangunan dan peradaban mereka (Barat). Di Balilah tempat di mana lebih dari seratus orang Barat (Australia, Inggris, Amerika serikat) yang tewas secara mengenaskan oleh ledakan bom. Karena itu Barat akan menantang mereka dari mana pun. Kunjungan yang tidak sampai selama satu hari itu (bahkan tidak sampai enam jam!), memang benar-benar kunjungan simbolis. Tidak mungkin seorang kepala negara akan mampu membuat kesepakatan bilateral yang menyangkut kepentingan nasional masing-masing negara.

Model-model pesan simbolik seperti itu, tidak hanya dilakukan Amerika Serikat di saat diperintah oleh George W. Bush saja tetapi juga oleh presiden yang lainnya. Presiden Bill Clinton, atau Ronald Reagan pernah melakukan kunjungan ke desa Panmunjom di wilayah damai perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Rombongan presiden Amerika Serikat masuk ke desa Panmunjom dari wilayah Korea Selatan. Kunjungan itu dilakukan untuk memberikan pesan simbolis bahwa penyelesaian paling baik bagi konflik kedua negara itu harus dilakukan secara damai, tetapi kalaupun kedua negara ini harus bertempur untuk menyelesaikan perselisihan mereka, Amerika Serikat akan membantu Korea Selatan. Identik dengan makna pesan itu, maka kunjungan Bush ke Bali bisa juga diartikan bahwa jika Bali akan menjadi target serangan teroris lagi (dengan sasaran Barat), besar kemungkinan pasukan Amerika Serikat akan ikut campur menyelesaikan persoalan itu, langsung dari Bali.

Segi positif yang bisa dilakukan Indonesia dalam keadaan seperti ini adalah meminta bantuan pelatihan kepada apara ahli teror Amerika Serikat untuk melatih tenaga-tenaga Indonesia di negara tersebut. Cara seperti ini bukan saja mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang pencegahan teror tetapi juga menghindari masuknya negara-negara lain ke Indonesia dengan alasan menguber pelaku teror. Dengan demikian kedaulatan dan harga diri Indonesia tidak akan terusik oleh pihak-pihak luar.

Penulis, dosen Hukum Internasional pada Fakultas Hukum Universitas Udayana.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)