kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 23 Oktober 2003

 Bali


Persoalan yang Menghadang Bali ...

Kesenjangan Antarwilayah dan Penduduk Miskin

GUBERNUR Bali Dewa Made Beratha mengemukakan, rencana strategis (Renstra) Bali (2003-2008) dijadikan dokumen taktis strategis potret permasalahan pembangunan Bali. ''Renstra ini juga menjadi alternatif dalam pemecahan masalah ke depan,'' paparnya, Rabu (22/10) kemarin.

Dalam sidang pleno yang dipimpin Ketua DPRD Bali Ida Bagus Putu Wesnawa, B.A., Gubernur Beratha mengisyaratkan persoalan yang dihadapi saat ini dan ke depan masih berkutat pada kesenjangan pembangunan antarwilayah, kerusakan lingkungan serta masih adanya penduduk di bawah garis kemiskinan.

Bali juga masih mempunyai persoalan menyangkut kualitas sumber daya manusia yang belum merata antarwilayah. Ini disebabkan pengembangan kualitas SDM yang masih dipengaruhi oleh pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang belum memadai untuk meningkatkan kemajuan, produktivitas dan daya saing daerah.

Dalam menjawab persoalan itu, maka disusun rencana strategis 2003-2008 sebagai dokumen perencanaan taktis strategis, yang disusun berdasarkan analisis lingkungan internal dan eksternal. Namun rencana strategis itu tetap memperhatikan kebutuhan daerah serta mengacu pola dasar pembangunan Bali. Renstra ini akan digunakan sebagai arahan kebijakan dan pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sesuai kewenangan dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Di dalamnya akan tergambar visi dan misi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan serta penjabarannya. Renstra ini akan memberikan tekanan pada program dan kegiatan yang berimplikasi pada rencana pendapatan daerah, program dan belanja daerah serta kegiatan pelayanan masyarakat.

Sebagaimana disampaikan pada penyampaian visi dan misi calon gubernur, Dewa Beratha mengulangi kembali visinya ''Bali Dwipa Jaya berlandaskan Tri Hita Karana''. Makna yang tersirat dari visi tersebut adalah menjadikan Pulau Bali yang jaya, dan mampu mengatasi segala tantangan atau rintangan dengan memanfaatkan peluang yang timbul dalam pembangunan Bali.

Jadi Bali Dwipa Jaya dalam konteks pembangunan Bali merupakan proses pembangunan yang dinamis. Namun tetap dilandasi nilai-nilai agama, norma, tradisi dan kearifan lokal yang bersumber dari budaya Bali yang dijiwai agama Hindu. Akhirnya melalui visi ini, Gubernur berkeinginan mewujudkan kesejahteraan sosial, ekonomi serta kelestarian budaya dan lingkungan hidup yang serasi, seimbang dan berkelanjutan.

Pada awal sambutannya, Gubernur Bali mengakui bahwa dampak krisis sampai saat ini belum sepenuhnya dapat diatasi. Hal ini menimbulkan dampak luas di masyarakat. Upaya penyelamatan dan pemulihan ekonomi, termasuk penanganan pascatragedi Kuta telah dilakukan. Namun gambaran pertumbuhan ekonomi Bali menunjukkan grafik naik turun. Tahun 2000 pertumbuhan ekonomi Bali mengalami kemajuan 3,05 persen. Sedangkan pada 1998 mengalami minus 4,04 persen dan meningkat menjadi 3,39 persen pada 2001. Selanjutnya turun 3,15 persen tahun 2002. Penurunan ekonomi dari 3,39 persen menjadi 3,15 persen itu sangat jelas sebagai dampak tragedi Kuta, 12 Oktober lalu.

Sejumlah anggota Dewan seperti Alit Bagiasna mengemukakan, akan memberikan saran dan pertimbangan agar persoalan yang disampaikan tak mengambang. ''Kami ingin persoalan kongkret yang mampu diatasi lima tahun ke depan,'' ujarnya usai sidang. * suana

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)