Persoalan yang Menghadang Bali ...
Kesenjangan
Antarwilayah dan Penduduk Miskin
GUBERNUR
Bali Dewa Made Beratha mengemukakan, rencana strategis (Renstra)
Bali (2003-2008) dijadikan dokumen taktis strategis potret
permasalahan pembangunan Bali. ''Renstra ini juga menjadi
alternatif dalam pemecahan masalah ke depan,'' paparnya,
Rabu (22/10) kemarin.
Dalam sidang pleno
yang dipimpin Ketua DPRD Bali Ida Bagus Putu Wesnawa,
B.A., Gubernur Beratha mengisyaratkan persoalan yang
dihadapi saat ini dan ke depan masih berkutat pada
kesenjangan pembangunan antarwilayah, kerusakan lingkungan
serta masih adanya penduduk di bawah garis kemiskinan.
Bali juga masih
mempunyai persoalan menyangkut kualitas sumber daya
manusia yang belum merata antarwilayah. Ini disebabkan
pengembangan kualitas SDM yang masih dipengaruhi oleh
pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang belum
memadai untuk meningkatkan kemajuan, produktivitas dan
daya saing daerah.
Dalam menjawab
persoalan itu, maka disusun rencana strategis 2003-2008
sebagai dokumen perencanaan taktis strategis, yang disusun
berdasarkan analisis lingkungan internal dan eksternal.
Namun rencana strategis itu tetap memperhatikan kebutuhan
daerah serta mengacu pola dasar pembangunan Bali. Renstra
ini akan digunakan sebagai arahan kebijakan dan pedoman
dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sesuai
kewenangan dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Di dalamnya akan
tergambar visi dan misi penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan serta penjabarannya. Renstra ini akan
memberikan tekanan pada program dan kegiatan yang
berimplikasi pada rencana pendapatan daerah, program dan
belanja daerah serta kegiatan pelayanan masyarakat.
Sebagaimana
disampaikan pada penyampaian visi dan misi calon gubernur,
Dewa Beratha mengulangi kembali visinya ''Bali Dwipa Jaya
berlandaskan Tri Hita Karana''. Makna yang tersirat dari
visi tersebut adalah menjadikan Pulau Bali yang jaya, dan
mampu mengatasi segala tantangan atau rintangan dengan
memanfaatkan peluang yang timbul dalam pembangunan Bali.
Jadi Bali Dwipa Jaya
dalam konteks pembangunan Bali merupakan proses
pembangunan yang dinamis. Namun tetap dilandasi
nilai-nilai agama, norma, tradisi dan kearifan lokal yang
bersumber dari budaya Bali yang dijiwai agama Hindu.
Akhirnya melalui visi ini, Gubernur berkeinginan
mewujudkan kesejahteraan sosial, ekonomi serta kelestarian
budaya dan lingkungan hidup yang serasi, seimbang dan
berkelanjutan.
Pada awal
sambutannya, Gubernur Bali mengakui bahwa dampak krisis
sampai saat ini belum sepenuhnya dapat diatasi. Hal ini
menimbulkan dampak luas di masyarakat. Upaya penyelamatan
dan pemulihan ekonomi, termasuk penanganan pascatragedi
Kuta telah dilakukan. Namun gambaran pertumbuhan ekonomi
Bali menunjukkan grafik naik turun. Tahun 2000 pertumbuhan
ekonomi Bali mengalami kemajuan 3,05 persen. Sedangkan
pada 1998 mengalami minus 4,04 persen dan meningkat
menjadi 3,39 persen pada 2001. Selanjutnya turun 3,15
persen tahun 2002. Penurunan ekonomi dari 3,39 persen
menjadi 3,15 persen itu sangat jelas sebagai dampak
tragedi Kuta, 12 Oktober lalu.
Sejumlah anggota
Dewan seperti Alit Bagiasna mengemukakan, akan memberikan
saran dan pertimbangan agar persoalan yang disampaikan tak
mengambang. ''Kami ingin persoalan kongkret yang mampu
diatasi lima tahun ke depan,'' ujarnya usai sidang. *
suana
|