''Mertha Matemahan Wisya''
KENAIKAN
harga BBM yang diikuti bantuan langsung tunai (BLT) kepada rakyat
miskin justru menimbulkan persoalan di daerah. Di Gianyar, data
kemiskinan di BPS mencapai 7.629 KK. Namun, kini KK miskin di
Gianyar mengalami kenaikan hingga 8.391 KK (data pelayanan
kesehatan gratis) atau 33.390 jiwa. Sehingga dipastikan banyak
keluarga miskin di Gianyar tidak mendapatkan BLT.
Sekda Gianyar Cok. Putra Nindia mengakui, 30 persen
KK miskin di Gianyar tidak akan mendapatkan BLT. Pemda sendiri
dalam hal ini belum mempunyai solusi apa pun. Sementara Bupati
Gianyar Tjokorda Artha Ardhana Sukawati mengatakan BLT rentan
menimbulkan kesalahan kebijakan sehingga nantinya BLT ini bisa
menjadi mertha matemahan wisya (makanan yang menimbulkan
penyakit). ''BLT yang seharusnya membuat rakyat sejahtera malah
menimbulkan masalah pada rakyat itu sendiri,'' jelasnya.
Cok Ace belum memikirkan solusi apa yang akan
diambil terkait rencana datangnya dana BLT itu ke Gianyar. Cok Ace
mengaku bukan menolak BLT, tetap menerima dengan catatan. Artinya,
jumlah penerima BLT itu adalah KK miskin sesuai data terakhir
bukan data lama.
Sementara itu, Pemkab Klungkung mendesak Pemrop
Bali mengeluarkan kebijakan yang menyatakan kesepakatan
antarkabupaten/kota di Bali terkait menerima-tidaknya BLT. Sekda
Klungkung, Ketut Janapria, mengakui kericuhan saat pembagian BLT
sangat mungkin terjadi. Dia meyakini masih ada KK miskin yang
tidak terdata sebagai penerima BLT kali ini. ''Mereka yang tidak
tercatat pasti protes,'' ujarnya.
Di Tabanan, BPS mencatat 11.672 KK yang akan
mendapatkan kucuran BLT dengan tiga kategori yakni sangat miskin,
miskin, dan hampir miskin. Data yang digunakan adalah data tahun
2005 lalu. Kepala BPS, I Dewa Made Suambara, menyatakan untuk
kategori sangat miskin 1.496 rumah tangga, kategori miskin paling
banyak yakni 8.464 dan 1.712 dalam kategori hampir miskin.
Sementara itu, anggota DPRD Tabanan, Ni Made
Meliani, berpendapat pemberian BLT tanpa data kemiskinan yang
valid justru akan menimbulkan berbagai persoalan seperti
kecemburuan, bahkan perpecahan di masyarakat. Ia melihat penerima
BLT sebelumnya, banyak yang memiliki sepeda motor. Sementara
mereka yang benar-benar keadaannya memprihatinkan juatru tidak
mendapatkan dana itu.
Di Jembrana juga menggunakan data lama sehingga
masih rancu dan rawan diselewengkan. Kepala Badan Pusat Statistik
(BPS) Jembrana, I Ketut Gama, mengatakan penerima BLT tahun 2005
sebanyak 6.998 KK sedangkan KK miskin yang ada di Jembrana
sekarang ini tersisa 5.386 KK.
Anggota DPRD Jembrana dari PDI-P, I Putu Budi
Wihantara, menilai seharusnya ada evaluasi dan pemutakhiran data
apalagi masih menggunakan data 2005. Anggota lain, Iskandar Alfan
dan Wahyu Eko Widianto khawatir penyaluran BLT tidak tepat sasaran
seperti tahun sebelumnya. Selain itu, menurut Iskandar, penetapan
kriteria miskin di Jembrana berbeda dengan pusat. ''Kalau
digunakan standar BPS mungkin jumlah orang miskin bisa
bertambah,'' sindirnya.
(dar/kmb20/kmb14/sur)