Di Surabaya --
Empat Aktivis Ditangkap setelah
Bakar Foto SBY-JK
Surabaya
(Bali Post) -
Kenaikan harga BBM disikapi puluhan mahasiswa dan buruh yang
tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) dengan berunjuk rasa
Sabtu (24/5) kemarin. Aksi ini mengusung tema penolakan kenaikan
BBM di depan Grahadi Surabaya. Hanya, aksi mulia dari mahasiswa
dan buruh yang semula damai berakhir rusuh. Terutama saat puluhan
mahasiswa dan buruh yang berbuat nekat dengan membakar foto
Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla serta membakar ban bekas.
Aksi membakar foto Presiden SBY dan Wapres Jusuf
Kalla, sebagai simbol ketidakpercayaan kepada pemerintahan SBY -
JK karena keputusan menaikkan harga BBM dianggap menyengsarakan
dan melukai perasaan rakyat. Saat massa aksi akan membakar poster
bergambar Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla, tiba-tiba polisi
datang dan membubarkan aksi massa FPR Surabaya.
Beberapa pengunjuk rasa khususnya perempuan,
berteriak histeris melihat kawan-kawannya dihalau polisi. Beberapa
di antara mahasiswa yang tidak sempat menghindar dari kerusuhan
itu, langsung diseret dan ditangkap. Sempat terjadi kejar-kejaran
antara massa aksi dan polisi. Akibat bentrokan itu, sejumlah
mahasiswa di sekujur tubuhnya mengalami luka-luka akibat pentungan
dan pukulan polisi serta luka bakar. Tidak hanya itu, polisi juga
menangkap empat mahasiswa dan buruh yang diduga sebagai
provokator.
Kasat Reskrim Polres Surabaya Selatan, AKP Yimmi
Kurniawan, mengatakan dalam aksi itu empat orang diamankan petugas
di Mapolres Surabaya Selatan. Keempat mahasiswa dan buruh yang
diamankan itu sempat menjalani perawatan di rumah sakit karena
mengalami luka ringan, sebelum dibawa ke Mapolres Surabaya
Selatan. Jubir Aliansi Pembela Rakyat (APR), Subagyo, menyerukan
agar para advokat yang peduli bersedia memberikan bantuan hukum
cuma-cuma kepada gerakan moral di seluruh Indonesia yang menentang
keputusan pemerintah menaikkan harga BBM yang tidak memihak rakyat
dan hanya menguntungkan korporasi penguasa migas.
Menurut dia, gerakan perlawanan harus dilanjutkan
terus dan semakin merapatkan barisan agar setiap orang dan
organisasi turut andil dalam gerakan damai untuk melawan kekerasan
demi kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah kepada para aktivis.
''Kita tidak akan berhenti dan akan membesarkan gerakan untuk
memperbaiki keadaan negara yang semakin parah akibat kepengurusan
negara yang tidak adil dan memihak korporasi-korporasi asing,''
katanya. (059)