Bayi 20 Bulan Tewas Digorok Ibunya
Denpasar
(Bali Post) -
Kejam. Itulah kata yang cocok ditujukan kepada Nuryani (30) asal
Kecicang, Karangasem. Bayangkan saja, anak kandungnya yang masih
balita (20 bulan), Agus Hery Hamsyah, dibunuh dengan cara digorok
menggunakan pedang, Sabtu (24/5) kemarin. Korban pun tewas
seketika di TKP.
Kejadiannya berlangsung di rumah kontrakannya di
Jalan Nangka Utara, Gang Sari Dewi, No. 20, Denpasar Timur, pukul
10.00 wita. Peristiwa mengerikan itu diduga akibat penyakit mental
atau gangguan jiwa sang ibu kambuh.
Salah seorang saksi, Gede Sore (38), yang juga
tetangga korban menyatakan saat itu dirinya mendengar jeritan
minta tolong di sebelah rumahnya. Begitu ditelusuri sumber
teriakan tersebut, ternyata dari rumah korban. ''Saya melihat Pak
Herman (ayah korban-red) sudah kebingungan di depan kamarnya. Dia
berkata bahwa ada pembunuhan. Bahkan, dia juga menggedor-gedor
pintu kamarnya,'' cerita Gede Sore di TKP.
Mengetahui hal itu, Gede Sore bergegas menaiki
motornya guna melaporkan kejadian itu ke kantor polisi. Tanpa
pikir panjang, Gede Sore mencari pos polisi terdekat. Ia pun
memberitahukannya kepada petugas lalu lintas (lantas) di simpang
empat Jalan Nangka-Gatot Sobroto. ''Saya tidak tahu pasti
kejadiannya. Begitu Pak Herman bilang ada pembunuhan, saya
langsung melapor polisi. Sebelum pergi, saya juga sempat
menghubungi nomor telepon 133, tapi tidak nyambung. Makanya, saya
langsung pergi ke simpang empat (Jalan Nangka-Gatot
Subroto-red),'' ujarnya.
Polisi pun merapat ke TKP dan mendapati korban
sudah tak bernyawa. Korban tergeletak di lantai kamar dalam
kondisi bersimbah darah. Leher bagian belakang korban nyaris
putus, dengan panjang luka kira-kira 30 sentimeter. Darah segar
masih terlihat tercecer di kamar berukuran 3 x 3 meter tersebut.
Selain di lantai, darah juga terlihat di karpet dan kasur.
''Jenazah korban langsung dilarikan ke RS Sanglah,'' katanya.
Bagaimana dengan sang ibu sekaligus pelakunya?
Kapolsek Dentim AKP, I Gede Arianta, saat ditemui di TKP,
mengatakan peristiwanya terungkap setelah sang suami (Herman-red)
pulang ke rumah. Bersama anak pertamanya, Ima (5), Herman
mendapati istrinya sudah memegang pedang di dalam kamar. Kondisi
seperti itu membuat Herman yang bekerja sebagai sopir angkot ini
panik dan berteriak minta tolong. ''Ketika Herman minta tolong,
Gede Sore mendengarnya. Dengan demikian, Gede Sore langsung
melapor ke polisi,'' ungkap Kapolsek Arianta.
Lantaran pintu dalam keadaan terkunci, Herman pun
berupaya mendobraknya. Setelah berhasil, anak keduanya
(korban-red) sudah dilihat tergeletak bersimbah darah dan tak
bernyawa lagi. Herman selanjutnya berusaha merebut pedang yang
dibawa istrinya. Sempat terjadi perlawanan, sehingga tangan kanan
pelaku mengalami sedikit luka. ''Pelaku mengalami luka gores di
tangan kanan setelah pedangnya direbut suaminya. Pelaku pun dibawa
ke RS Bakti Rahayu. Namun, pelaku langsung dirujuk ke RS
Sanglah,'' papar perwira asal Singaraja ini.
Kapolsek Arianta menyatakan aksi pembunuhan ini
dipicu lantaran pelaku memiliki penyakit gangguan jiwa. Menurut
informasi, pelaku sudah sejak kecil mengalami gangguan mental.
Namun, penyakit yang dideritanya itu kadang-kadang kambuh.
''Pelaku sudah berkali-kali diajak ke dokter dan dukun.
Kadang-kadang kondisinya normal, kadang-kadang kambuh. Kemungkinan
saat kejadian penyakitnya kambuh,'' tambahnya sembari mengatakan
baru dua saksi yang diperiksa.
(kmb21/kmb24)
Korban
Pernah Dilempar ke Tambak
PERJALANAN
rumah tangga keluarga Herman (30) ternyata sering diselimuti rasa
kengerian. Sebelum anak kedua kesayangannya, Agus Hery Hamsyah,
tewas di tangan ibunya sendiri, banyak kejadian di luar dugaan
yang sempat terjadi. Salah satunya ketika mereka tinggal di
wilayah Suwung, Denpasar Selatan.
Selama mengontrak rumah di Suwung, Agus yang baru
berumur 1 tahun 8 bulan ini juga pernah dilempar ibunya ke tambak.
Beruntung, peristiwa itu cepat diketahui, sehingga
nyawa korban berhasil diselamatkan. ''Sebelum di sini (lokasi
kejadian-red), keluarga korban tinggal di Suwung. Di Sana, korban
juga sempat dilempar pelaku ke tambak,'' ujar salah seorang
tetangganya, Komang Sukesti, yang tinggal di sebelah rumah
kontrakan korban.
Namun, kepindahan Herman ke rumah kontrakannya yang
baru di Jalan Nangka Utara, Gang Sari Dewi, No. 20, Denpasar
Timur, membuat keluarganya makin hancur. Baru dua bulan menghuni
rumah kontrakannya itu, peristiwa mengerikan kembali ia harus
hadapi. Anak kesayangannya yang masih balita harus meregang nyawa
di tangan istrinya sendiri.
Selain itu, Sukesti mengatakan sempat
ngomong-ngomong dengan pelaku sehari sebelum kejadian. Dalam
obrolannya, pelaku mengaku ingin bunuh diri, bersama dengan kedua
anaknya (Agus dan Ima). Karena tahu kondisi pelaku mengalami
gangguan jiwa, Sukesti tidak begitu menghiraukannya. ''Saya sempat
ngobrol dengan pelaku Jumat Sore. Dia (pelaku-red) mengatakan
bahwa ingin bunuh diri dengan kedua anaknya. Tapi, dia berharap
suaminya agar tidak ikut bunuh diri dan terus hidup,'' cerita
Sukesti saat ditemui di TKP, Sabtu (24/5) kemarin. (jay)