kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 25 Mei 2008 tarukan valas
 

BERITA


Bayi 20 Bulan Tewas Digorok Ibunya

Denpasar (Bali Post) -
Kejam. Itulah kata yang cocok ditujukan kepada Nuryani (30) asal Kecicang, Karangasem. Bayangkan saja, anak kandungnya yang masih balita (20 bulan), Agus Hery Hamsyah, dibunuh dengan cara digorok menggunakan pedang, Sabtu (24/5) kemarin. Korban pun tewas seketika di TKP.

Kejadiannya berlangsung di rumah kontrakannya di Jalan Nangka Utara, Gang Sari Dewi, No. 20, Denpasar Timur, pukul 10.00 wita. Peristiwa mengerikan itu diduga akibat penyakit mental atau gangguan jiwa sang ibu kambuh.

Salah seorang saksi, Gede Sore (38), yang juga tetangga korban menyatakan saat itu dirinya mendengar jeritan minta tolong di sebelah rumahnya. Begitu ditelusuri sumber teriakan tersebut, ternyata dari rumah korban. ''Saya melihat Pak Herman (ayah korban-red) sudah kebingungan di depan kamarnya. Dia berkata bahwa ada pembunuhan. Bahkan, dia juga menggedor-gedor pintu kamarnya,'' cerita Gede Sore di TKP.

Mengetahui hal itu, Gede Sore bergegas menaiki motornya guna melaporkan kejadian itu ke kantor polisi. Tanpa pikir panjang, Gede Sore mencari pos polisi terdekat. Ia pun memberitahukannya kepada petugas lalu lintas (lantas) di simpang empat Jalan Nangka-Gatot Sobroto. ''Saya tidak tahu pasti kejadiannya. Begitu Pak Herman bilang ada pembunuhan, saya langsung melapor polisi. Sebelum pergi, saya juga sempat menghubungi nomor telepon 133, tapi tidak nyambung. Makanya, saya langsung pergi ke simpang empat (Jalan Nangka-Gatot Subroto-red),'' ujarnya.

Polisi pun merapat ke TKP dan mendapati korban sudah tak bernyawa. Korban tergeletak di lantai kamar dalam kondisi bersimbah darah. Leher bagian belakang korban nyaris putus, dengan panjang luka kira-kira 30 sentimeter. Darah segar masih terlihat tercecer di kamar berukuran 3 x 3 meter tersebut. Selain di lantai, darah juga terlihat di karpet dan kasur. ''Jenazah korban langsung dilarikan ke RS Sanglah,'' katanya.

Bagaimana dengan sang ibu sekaligus pelakunya? Kapolsek Dentim AKP, I Gede Arianta, saat ditemui di TKP, mengatakan peristiwanya terungkap setelah sang suami (Herman-red) pulang ke rumah. Bersama anak pertamanya, Ima (5), Herman mendapati istrinya sudah memegang pedang di dalam kamar. Kondisi seperti itu membuat Herman yang bekerja sebagai sopir angkot ini panik dan berteriak minta tolong. ''Ketika Herman minta tolong, Gede Sore mendengarnya. Dengan demikian, Gede Sore langsung melapor ke polisi,'' ungkap Kapolsek Arianta.

Lantaran pintu dalam keadaan terkunci, Herman pun berupaya mendobraknya. Setelah berhasil, anak keduanya (korban-red) sudah dilihat tergeletak bersimbah darah dan tak bernyawa lagi. Herman selanjutnya berusaha merebut pedang yang dibawa istrinya. Sempat terjadi perlawanan, sehingga tangan kanan pelaku mengalami sedikit luka. ''Pelaku mengalami luka gores di tangan kanan setelah pedangnya direbut suaminya. Pelaku pun dibawa ke RS Bakti Rahayu. Namun, pelaku langsung dirujuk ke RS Sanglah,'' papar perwira asal Singaraja ini.

Kapolsek Arianta menyatakan aksi pembunuhan ini dipicu lantaran pelaku memiliki penyakit gangguan jiwa. Menurut informasi, pelaku sudah sejak kecil mengalami gangguan mental. Namun, penyakit yang dideritanya itu kadang-kadang kambuh. ''Pelaku sudah berkali-kali diajak ke dokter dan dukun. Kadang-kadang kondisinya normal, kadang-kadang kambuh. Kemungkinan saat kejadian penyakitnya kambuh,'' tambahnya sembari mengatakan baru dua saksi yang diperiksa. (kmb21/kmb24)

 

Korban Pernah Dilempar ke Tambak

PERJALANAN rumah tangga keluarga Herman (30) ternyata sering diselimuti rasa kengerian. Sebelum anak kedua kesayangannya, Agus Hery Hamsyah, tewas di tangan ibunya sendiri, banyak kejadian di luar dugaan yang sempat terjadi. Salah satunya ketika mereka tinggal di wilayah Suwung, Denpasar Selatan.

Selama mengontrak rumah di Suwung, Agus yang baru berumur 1 tahun 8 bulan ini juga pernah dilempar ibunya ke tambak.

Beruntung, peristiwa itu cepat diketahui, sehingga nyawa korban berhasil diselamatkan. ''Sebelum di sini (lokasi kejadian-red), keluarga korban tinggal di Suwung. Di Sana, korban juga sempat dilempar pelaku ke tambak,'' ujar salah seorang tetangganya, Komang Sukesti, yang tinggal di sebelah rumah kontrakan korban.

Namun, kepindahan Herman ke rumah kontrakannya yang baru di Jalan Nangka Utara, Gang Sari Dewi, No. 20, Denpasar Timur, membuat keluarganya makin hancur. Baru dua bulan menghuni rumah kontrakannya itu, peristiwa mengerikan kembali ia harus hadapi. Anak kesayangannya yang masih balita harus meregang nyawa di tangan istrinya sendiri.

Selain itu, Sukesti mengatakan sempat ngomong-ngomong dengan pelaku sehari sebelum kejadian. Dalam obrolannya, pelaku mengaku ingin bunuh diri, bersama dengan kedua anaknya (Agus dan Ima). Karena tahu kondisi pelaku mengalami gangguan jiwa, Sukesti tidak begitu menghiraukannya. ''Saya sempat ngobrol dengan pelaku Jumat Sore. Dia (pelaku-red) mengatakan bahwa ingin bunuh diri dengan kedua anaknya. Tapi, dia berharap suaminya agar tidak ikut bunuh diri dan terus hidup,'' cerita Sukesti saat ditemui di TKP, Sabtu (24/5) kemarin. (jay)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com