Masih Ada Pungli di Pos KTP Gilimanuk
Bayar Rp 5 Ribu Pendatang Lolos ....
Negara (Bali Post) -
Bali
Post/sur
POS KTP - Pemeriksaan KTP oleh petugas di Gilimanuk, di
masa arus balik ini ternyata pungli masih dilakukan.
Pungutan liar (pungli) ternyata masih ada di sela-sela
arus balik di Pelabuhan Gilimanuk. Sasarannya adalah
para pendatang gelap yang tidak membawa kartu identitas
misalnya KTP. Padahal para pendatang yang tidak membawa
KTP atau identitas lain diharuskan kembali ke daerahnya.
Pungli tersebut terjadi di pos pemeriksaan KTP di
Gilimanuk. Dari investigasi Bali Post beberapa hari di
pos pemeriksaan KTP Gilimanuk, ternyata ada pungli yang
dilakukan oleh oknum pegawai dinas Dafduk Nakertrans
Capil KB Jembrana. Sebelumnya sempat mendapat laporan
dari pendatang yang ingin berlibur ke Bali karena tidak
membawa KTP terkena pungli Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu
per orang.
Dari informasi tersebut, untuk mendapatkan kebenaran,
Bali Post mencoba investigasi dengan berpura-pura
menjadi pendatang gelap tanpa identitas KTP. Investigasi
dilakukan menjelang siang Selasa (16/10) kemarin.
Seperti biasa penumpang bus dan pejalan kaki diharuskan
berjalan dari kapal menuju pos pemeriksaan KTP. Siang
kemarin, kebetulan memang banyak penumpang datang dari
Ketapang, sehingga sempat antre dan diperiksa satu per
satu dengan tiga loket berjejer. Kemudian salah satu
petugas di depan loket, mengingatkan untuk mempersiapkan
KTP. Dan ketika Bali Post mengaku tidak membawa KTP,
kemudian disuruh masuk ke ruangan sebelah loket. Di sana
sudah menunggu dua orang oknum dari Dinas Dasduk
Jembrana, satu duduk di dalam dan satunya lagi menjaga
di pintu masuk.
Pada saat pertama masuk, langsung ditanya ke mana tujuan
dan keperluan. Ketika mendengar jawaban ke Denpasar
mencari kerja, dia langsung meminta uang Rp 10.000. ''Nggak
bawa KTP ya? Ya untuk mempercepat proses, Rp 10 ribu
sini,'' katanya. Dan tanpa babibu, proses cepat tersebut,
langsung memuluskan orang tanpa identitas masuk ke
wilayah Bali.
Bahkan saya sempat mencoba menawar Rp 5 ribu dengan
alasan untuk ongkos kendaraan, kemudian oknum tersebut
menyuruh menunggu untuk menukar uang sepuluh ribu
tersebut. Oknum yang menunggu di luar, mengeluarkan uang
5 ribuan. Dan yang paling menyesakkan setelah selesai
tawar-menawar dan diberikan kembalian, oknum tersebut
mengatakan seharusnya kamu bawa surat dari desa kalau
mau kerja di sini. Sudah sana silakan jalan, katanya.
Saya diperbolehkan jalan tanpa dicatat di buku, atau
disuruh kembali ke daerah asal.
Proses transaksi itu berlangsung sangat cepat dan kedua
oknum itu terlihat agak gugup. Maklum mungkin karena
banyak penumpang yang antre. Sementara dari beberapa
pendatang yang melewati petugas tidak diperiksa lebih
detail lagi, bahkan tas atau barang bawaan saya tidak
diperiksa sama sekali ketika melewati posko KTP. Hal ini
tentu berbeda dengan komitmen dari pemerintah maupun
aparat keamanan untuk meningkatkan keamanan Bali dengan
pemeriksaan yang ketat di pintu gerbang Bali khususnya
Gilimanuk.
Sementara itu, dari pengamatan kemarin, pendatang cukup
banyak yang melewati pos KTP. Diduga pendatang yang
sebelumnya mudik membawa serta beberapa kerabatnya.
Suminah dari Yeh Sumbul dan 10 orang pemudik kemarin,
mengaku kembali ke Bali mengajak keluarga maupun
kerabatnya yang ingin bekerja di Bali. ''Di Jawa lagi
sepi dan saya kena PHK, terpaksa ikut mencari kerja di
Bali,'' kata salah seorang kerabat Suminah saat menuju
Terminal Gilimanuk. (sur)