kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 17 Oktober 2007

 Bali


Masih Ada Pungli di Pos KTP Gilimanuk
Bayar Rp 5 Ribu Pendatang Lolos .... 

Negara (Bali Post) -
Bali Post/sur
POS KTP - Pemeriksaan KTP oleh petugas di Gilimanuk, di masa arus balik ini ternyata pungli masih dilakukan.

Pungutan liar (pungli) ternyata masih ada di sela-sela arus balik di Pelabuhan Gilimanuk. Sasarannya adalah para pendatang gelap yang tidak membawa kartu identitas misalnya KTP. Padahal para pendatang yang tidak membawa KTP atau identitas lain diharuskan kembali ke daerahnya.

Pungli tersebut terjadi di pos pemeriksaan KTP di Gilimanuk. Dari investigasi Bali Post beberapa hari di pos pemeriksaan KTP Gilimanuk, ternyata ada pungli yang dilakukan oleh oknum pegawai dinas Dafduk Nakertrans Capil KB Jembrana. Sebelumnya sempat mendapat laporan dari pendatang yang ingin berlibur ke Bali karena tidak membawa KTP terkena pungli Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu per orang.

Dari informasi tersebut, untuk mendapatkan kebenaran, Bali Post mencoba investigasi dengan berpura-pura menjadi pendatang gelap tanpa identitas KTP. Investigasi dilakukan menjelang siang Selasa (16/10) kemarin. Seperti biasa penumpang bus dan pejalan kaki diharuskan berjalan dari kapal menuju pos pemeriksaan KTP. Siang kemarin, kebetulan memang banyak penumpang datang dari Ketapang, sehingga sempat antre dan diperiksa satu per satu dengan tiga loket berjejer. Kemudian salah satu petugas di depan loket, mengingatkan untuk mempersiapkan KTP. Dan ketika Bali Post mengaku tidak membawa KTP, kemudian disuruh masuk ke ruangan sebelah loket. Di sana sudah menunggu dua orang oknum dari Dinas Dasduk Jembrana, satu duduk di dalam dan satunya lagi menjaga di pintu masuk.

Pada saat pertama masuk, langsung ditanya ke mana tujuan dan keperluan. Ketika mendengar jawaban ke Denpasar mencari kerja, dia langsung meminta uang Rp 10.000. ''Nggak bawa KTP ya? Ya untuk mempercepat proses, Rp 10 ribu sini,'' katanya. Dan tanpa babibu, proses cepat tersebut, langsung memuluskan orang tanpa identitas masuk ke wilayah Bali.

Bahkan saya sempat mencoba menawar Rp 5 ribu dengan alasan untuk ongkos kendaraan, kemudian oknum tersebut menyuruh menunggu untuk menukar uang sepuluh ribu tersebut. Oknum yang menunggu di luar, mengeluarkan uang 5 ribuan. Dan yang paling menyesakkan setelah selesai tawar-menawar dan diberikan kembalian, oknum tersebut mengatakan seharusnya kamu bawa surat dari desa kalau mau kerja di sini. Sudah sana silakan jalan, katanya. Saya diperbolehkan jalan tanpa dicatat di buku, atau disuruh kembali ke daerah asal.

Proses transaksi itu berlangsung sangat cepat dan kedua oknum itu terlihat agak gugup. Maklum mungkin karena banyak penumpang yang antre. Sementara dari beberapa pendatang yang melewati petugas tidak diperiksa lebih detail lagi, bahkan tas atau barang bawaan saya tidak diperiksa sama sekali ketika melewati posko KTP. Hal ini tentu berbeda dengan komitmen dari pemerintah maupun aparat keamanan untuk meningkatkan keamanan Bali dengan pemeriksaan yang ketat di pintu gerbang Bali khususnya Gilimanuk.

Sementara itu, dari pengamatan kemarin, pendatang cukup banyak yang melewati pos KTP. Diduga pendatang yang sebelumnya mudik membawa serta beberapa kerabatnya.

Suminah dari Yeh Sumbul dan 10 orang pemudik kemarin, mengaku kembali ke Bali mengajak keluarga maupun kerabatnya yang ingin bekerja di Bali. ''Di Jawa lagi sepi dan saya kena PHK, terpaksa ikut mencari kerja di Bali,'' kata salah seorang kerabat Suminah saat menuju Terminal Gilimanuk. (sur)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)