Terapkan
''Hedging'' Minyak...
RI Hemat
Hingga
Rp 101 Trilyun
Jakarta (Bali Post)-
Indonesia Economic Intelligence (IEI)
mengusulkan agar
pemerintah
menggunakan hedging
atau
lindung nilai
sebagai
opsi penyelamatan
fiskal APBN
menghadapi
harga
minyak dunia yang
terus
bergejolak. Bahkan,
potesi
dana subsidi BBM
mampu
dihemat Rp 52-101
trilyun.
Mekanisme
hedging merupakan
transaksi
derivatif
berupa
transaksi sistem
lindung
nilai komoditi
terhadap
volatilitas
pasar.
Dengan perhitungan
secara
matang, transaksi
hedging mampu
memberikan
kepastian
atas
patokan tingkat
biaya
baik pengadaan
maupun
penjualan minyak.
Pola
tersebut
terbukti
mampu
menekan tingkat
resiko yang
timbul
akibat volatilitas
pasar
terkait melambungnya
harga
minyak di
pasar
inernasional. ''Program hedging yang
dirancang
baik
dapat membebaskan
pemerintah
untuk
lebih fokus
terhadap
aspek
kebijakan APBN yang lebih
substansial,
seperti
sisi penerimaan
negara
dan efektivitas
alokasi
belanja negara,''
ujar
analis keuangan
perminyakan IEI
Helmy
Kamal Lubis,
di Jakarta,
Minggu (4/5)
kemarin.
Chief Economist IEI Sunarsip
menyatakan,
merujuk
kajiannya, untuk
periode hedging
selama
setahun, harga
minyak
mentah dapat
dipatok
menjadi 107 dolar AS/barel,
105 dolar AS /barel
serta 103,4/barel
untuk
periodisasi selama
lima tahun.
Asumsi
harga hedging menggunakan
acuan
harga referensi
dari West Texas Intermediate
(WTI-NYMEX) pada
posisi 1 April 2008
yakni spot
di
angka 110 dolar AS/barel.
''Kisaran WTI-NYMEX
dengan Indonesia Crude Price
(ICP) tidak
terlalu
berbeda jauh.
Angkanya
sekitar 97
persen
mendekati acuan ICP
pemerintah,''
ujarnya.
Dari hasil
simulasi hedging
pembelian yang
dilakukan,
saat
ini masih
memungkinkan
mendapat
harga hedging
minyak 95
dolar AS/barel,
atau
lebih rendah 20
dolar AS/barel
dari
harga pasar yang
sekitar 115
dolar AS/barel.
Apabila
selisih harga
dikalikan 35,5
juta kl
atau
kuota BBM bersubsidi
APBN-P atau
setara 245
juta
barel/tahun dengan
kurs Rp
9.100/dolar. Maka ,
pemerintah
menghemat
Rp 44,6
trilyun, sementara
apabila
harga minyak
menjadi 117
dolar AS/barel,
potensi
penghematan pun bertambah
jadi Rp
49 trilyun.
Sedangkan
hasil
simulasi hedging penjualan
menunjukkan
pemerintah
dapat
menggunakan harga
hedging 117 dolar AS/
barel.
Dengan harga
ini,
jika harga
minyak
berada di
kisaran 115
dolar AS/
barel,
artinya ada
selisih 2
dolar AS/barel.
Angka
tersebut
dikalikan 927
ribu
bph atau 388,3
juta
barel/tahun maka
ada
penghematan Rp 6
trilyun.
Sementara
jika
harga turun 110
dolar AS/barel,
penghematan pun
meningkat
jadi Rp
21 trilyun,
dan
jika turun
lagi ke
100 dolar AS/barel,
maka
penghematan bertambah
besar,
Rp 52 trilyun.
''Karenanya,
lebih
bagus jika
pemerintah
meng-hedging
harga
minyak yang dibelinya
dari KKKS
atau
impor sekaligus
meng-hedging
harga
minyak yang akan
dijualnya.
Jadi
bisa meminimalisasi
risiko
ketika harga
naik
atau turun,''
jelas
Sunarsip.
Helmy
kembali
menjelaskan, pola
hedging harga
minyak
sudah dimanfaatkan
di
banyak negara
di
antaranya yakni
di Filipina
dan Mexico.
Lembaga
penyokong hedging harga
minyak
akan membagi
risiko
pembiayaan ke
berbagai
instrumen
investasi
seperti
di bursa komoditi
atau
valuta asing
di
banyak negara.
Helmy
menambahkan,
pemerintah
dapat
mengikutsertakan lembaga
keuangan
berjaringan
internasional
sebagai
penjamin hedging dan
menarik
pendanaan sesuai
patokan
harga minyak
di
pasar. Selanjutnya
pemerintah
membayar
ke bank
tersebut dengan
harga
sesuai kesepakatan
dalam
kontrak. Dengan
begitu, APBN
tidak
terkena resiko
akibat
melonjaknya harga
minyak
di pasar,tandasnya.(kmb1)