Upaya Pelestarian Seni Gender di Buleleng -
Menjadikan Gending ''Pagenderan''
Sebagai
Terapi Kesehatan
Sekitar 40 seniman sepuh seni gender di Buleleng
tiba-tiba menggelar aksi keprihatinan di sebuah sanggar
seni di kawasan Lovina, akhir April lalu. Mereka
prihatin terhadap punahnya seni gender yang sejak
bertahun-tahun mereka geluti dengan penuh rasa suka
maupun duka. Salah seorang di antaranya bahkan sampai
menangis ketika menyampaikan semacam orasi di depan
teman-temannya. Mereka ingin seni gender khas Buleleng
bangkit kembali dan menjadi tuan rumah sekaligus
kebanggaan bagi Bumi Denbukit. Mereka pun mulai mengatur
strategi, termasuk bagaimana cara memasyarakatkan seni
gender untuk terapi kesehatan. Apakah seni gender memang
bisa dipakai untuk menyembuhkan suatu penyakit?
============
Ajang pertemuan seniman gender di Lovina akhir April
lalu itu bisa disebut sebagai salah satu bentuk
kepedulian sekaligus kesadaran dari seniman-seniman tua
di Buleleng untuk memulai sebuah upaya dalam pelestarian
seni-seni klasik khas Buleleng. Sampai saat ini
diperkirakan terdapat sekitar 80 juru gender sepuh yang
masih hidup dan aktif memainkan gender di Buleleng.
Hampir semua seniman gender itu tidak mendapatkan
perhatian, baik perhatian terhadap seni yang digelutinya
maupun perhatian terhadap sosok seniman itu sendiri.
Banyak seniman gender yang sakit dan tak mampu berobat
karena kesulitan ekonomi. Selain itu, banyak juga
seniman yang terpaksa menjual perangkat gendernya karena
tidak ada generasi yang meneruskan kesenian klasik
tersebut. Semua persoalan itu dibicarakan secara panjang
lebar dalam pertemuan di Lovina, sekaligus mereka juga
mencari solusinya.
Jero Dalang Rugada mengatakan seniman gender dan
pedalangan di Buleleng seharusnya mendapatkan perhatian
serius dari pemerintah. Selain menghidupkan kembali seni
gender dengan mementaskan wayang kulit dari Buleleng,
pemerintah juga sebaiknya memberikan jaminan kesehatan
gratis kepada juru gender dan dalang. Karena seniman
gender dan dalang bisa disebut sebagai orang yang punya
pengabdian besar terhadap keajegan agama Hindu dan
budaya Bali. Apalagi selama ini juru gender dan dalang
di Buleleng tidak mendapatkan imbalan yang layak ketika
mereka memainkan gender dalam upacara-upacara keagamaan.
Seorang seniman gender dari Desa Bungkulan, Gusti Bagus
Atmaja, bahkan sampai menangis ketika mengingat seni
gender yang mulai masuk dalam area kepunahan di Buleleng.
Untuk itu, ia meminta agar para seniman tua tidak
terlalu pelit membagi ilmunya kepada anak-anak muda agar
seni gender itu tetap bisa lestari sekaligus berkembang
dengan baik. Kepada pemerintah, ia berharap agar
menggelar festival seni gender untuk menarik kecintaan
anak muda terhadap seni gender. ''Selama ini sudah
ada festival gong kebyar, kenapa tak ada festival seni
gender,'' katanya.
Terapi Kesehatan
Seorang seniman gender dari Desa Pemaron, IGK Mustika,
punya usul dan cara tersendiri untuk membangkitkan
kembali seni gender di Buleleng. Selain menghidupkan
kembali gending-gending sakral untuk dipentaskan dalam
upacara-upacara keagamaan, seni gender juga kerap
digunakan sebagai terapi kesehatan. Karena sejumlah
gending pagenderan, seperti gending rundah, dipercaya
sebagai lagu para dewa yang diturunkan melalui sabda
atau wahyu kepada para leluhur umat Hindu. ''Ketika
orang mendengarkan suara gender, maka orang itu akan
merasa damai,'' katanya.
Mustika menceritakan dirinya sudah memainkan gender
sejak umur 10 tahun. Ia berguru kepada seniman gender
yang bernama Sriajeng (alm) di Desa Babakan Panji
sekitar tahun 1950-an. Selama belajar dan memainkan
gender memang banyak manfaat yang ia rasakan, terutama
manfaat di bidang kesehatan. Misalnya, suara gender bisa
menimbulkan rasa senang dan damai di hati, membangkitkan
budi luhur atau suci dan merangsang rasa kasih sayang
kepada sesama manusia. Dalam hal pengobatan, suara
gender ini bisa menghilangkan rasa pusing-pusing kepala,
bahkan stres pun bisa lenyap ketika memainkan atau
mendengar alunan gending-gending gender. Selain itu,
alunan gending gender juga mampu meredam rasa emosi dan
egois, menghilangkan kemarahan, sekaligus membuat awet
muda, sehat jasmani dan rohani.
Dengan manfaat seperti itu, sanggar sederhana milik
Mustika yang dipakai sebagai tempat workshop seni gender
di Desa Pemaron, Buleleng, selalu didatangi warga
lokal atau wisatawan untuk belajar memainkan gender.
Yang datang bukan hanya anak muda, namun juga para
pejabat, mantan pejabat dan pensiunan pegawai negeri.
Seperti Kepala Kantor Ksebanglinmas Buleleng IGN
Wirasena juga mulai aktif belajar gender di sanggar
milik Mustika. Bahkan, salah seorang polisi dari
Sukasada kini belajar serius memainkan gender di Desa
Pemaron. ''Polisi itu punya penyakit jantung, namun
setelah belajar seni gender, penyakit jantungnya tak
pernah kumat,'' katanya.
Baik melatih atau berlatih seni gender, menurut Mustika,
harus memiliki tingkat kesabaran yang ekstra. Kalau dulu
murid mencari guru untuk belajar memainkan gender, kini
guru dengan sabar mencari murid. Selain mencari, guru
juga harus dengan sabar mengajarinya agar si murid tetap
bisa bertahan. Selain itu belajar gender juga harus
memiliki konsentrasi yang tinggi. Saat belajar memainkan
gender seseorang tak bisa sambil memikirkan masalah
lain, terutama masalah bisnis dan ekonomi. ''Kalau main
gender sambil memikirkan bisnis, biasanya konsentrasi
jadi hilang, bahkan bisa jadi lebih stres,'' katanya.
Kesimpulannya, terdapat banyak cara untuk bisa
melestarikan kesenian gender di Buleleng. Jika seni
gender meredup karena seni pewayangan juga nyaris
pingsan, maka seni gender bisa dihidupkan tanpa harus
berpaketan dengan seni pewayangan. Misalnya, satu
seniman gender bisa mengajak anak-anak di sekitarnya
untuk belajar gender setiap hari-hari libur.
Selain itu, warga juga harus dibangkitkan kesadarannya
untuk menggunakan seni gender dalam setiap
upacara-upacara keagamaan. Hotel-hotel dan restoran
harus sedikit dipaksa untuk menggunakan seni gender
sebagai salah satu bentuk hiburan penyambut tamu di
hotel tersebut, selain hiburan seni klasik lainnya.
Seperti permintaan seniman gender Gusti Bagus Atmaja
dari Bungkulan, pemerintah juga sebaiknya menggelar
festival seni gender secara khusus. Khusus untuk terapi
pengobatan, seni gender juga sebaiknya mendapat
penelitian yang lebih serius agar seni itu bisa
dikembangkan secara lebih bagus, bahkan bisa dijadikan
sebagai daya tarik wisatawan yang memang menyukai
hal-hal yang berbau budaya sekaligus spiritual.
*
adnyana ole