kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 17 Mei 2008  

 Kultur


Upaya Pelestarian Seni Gender di Buleleng -

Menjadikan
Gending ''Pagenderan'' Sebagai
Terapi Kesehatan

Sekitar 40 seniman sepuh seni gender di Buleleng tiba-tiba menggelar aksi keprihatinan di sebuah sanggar seni di kawasan Lovina, akhir April lalu. Mereka prihatin terhadap punahnya seni gender yang sejak bertahun-tahun mereka geluti dengan penuh rasa suka maupun duka. Salah seorang di antaranya bahkan sampai menangis ketika menyampaikan semacam orasi di depan teman-temannya. Mereka ingin seni gender khas Buleleng bangkit kembali dan menjadi tuan rumah sekaligus kebanggaan bagi Bumi Denbukit. Mereka pun mulai mengatur strategi, termasuk bagaimana cara memasyarakatkan seni gender untuk terapi kesehatan. Apakah seni gender memang bisa dipakai untuk menyembuhkan suatu penyakit?

============
 

Ajang pertemuan seniman gender di Lovina akhir April lalu itu bisa disebut sebagai salah satu bentuk kepedulian sekaligus kesadaran dari seniman-seniman tua di Buleleng untuk memulai sebuah upaya dalam pelestarian seni-seni klasik khas Buleleng. Sampai saat ini diperkirakan terdapat sekitar 80 juru gender sepuh yang masih hidup dan aktif memainkan gender di Buleleng. Hampir semua seniman gender itu tidak mendapatkan perhatian, baik perhatian terhadap seni yang digelutinya maupun perhatian terhadap sosok seniman itu sendiri.

Banyak seniman gender yang sakit dan tak mampu berobat karena kesulitan ekonomi. Selain itu, banyak juga seniman yang terpaksa menjual perangkat gendernya karena tidak ada generasi yang meneruskan kesenian klasik tersebut. Semua persoalan itu dibicarakan secara panjang lebar dalam pertemuan di Lovina, sekaligus mereka juga mencari solusinya.

Jero Dalang Rugada mengatakan seniman gender dan pedalangan di Buleleng seharusnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Selain menghidupkan kembali seni gender dengan mementaskan wayang kulit dari Buleleng, pemerintah juga sebaiknya memberikan jaminan kesehatan gratis kepada juru gender dan dalang. Karena seniman gender dan dalang bisa disebut sebagai orang yang punya pengabdian besar terhadap keajegan agama Hindu dan budaya Bali. Apalagi selama ini juru gender dan dalang di Buleleng tidak mendapatkan imbalan yang layak ketika mereka memainkan gender dalam upacara-upacara keagamaan.

Seorang seniman gender dari Desa Bungkulan, Gusti Bagus Atmaja, bahkan sampai menangis ketika mengingat seni gender yang mulai masuk dalam area kepunahan di Buleleng. Untuk itu, ia meminta agar para seniman tua tidak terlalu pelit membagi ilmunya kepada anak-anak muda agar seni gender itu tetap bisa lestari sekaligus berkembang dengan baik. Kepada pemerintah, ia berharap agar menggelar festival seni gender untuk menarik kecintaan anak muda  terhadap seni gender. ''Selama ini sudah ada festival gong kebyar, kenapa tak ada festival seni gender,'' katanya.        

 

Terapi Kesehatan

Seorang seniman gender dari Desa Pemaron, IGK Mustika, punya usul dan cara tersendiri untuk membangkitkan kembali seni gender di Buleleng. Selain menghidupkan kembali gending-gending sakral untuk dipentaskan dalam upacara-upacara keagamaan, seni gender juga kerap digunakan sebagai terapi kesehatan. Karena sejumlah gending pagenderan, seperti gending rundah, dipercaya sebagai lagu para dewa yang diturunkan melalui sabda atau wahyu kepada para leluhur umat Hindu. ''Ketika orang mendengarkan suara gender, maka orang itu akan merasa damai,'' katanya.    

Mustika menceritakan dirinya sudah memainkan gender sejak umur 10 tahun. Ia berguru kepada seniman gender yang bernama Sriajeng (alm) di Desa Babakan Panji sekitar tahun 1950-an. Selama belajar dan memainkan gender memang banyak manfaat yang ia rasakan, terutama manfaat di bidang kesehatan. Misalnya, suara gender bisa menimbulkan rasa senang dan damai di hati, membangkitkan budi luhur atau suci dan merangsang rasa kasih sayang kepada sesama manusia. Dalam hal pengobatan, suara gender ini bisa menghilangkan rasa pusing-pusing kepala, bahkan stres pun bisa lenyap ketika memainkan atau mendengar alunan gending-gending gender. Selain itu, alunan gending gender juga mampu meredam rasa emosi dan egois, menghilangkan kemarahan, sekaligus membuat awet muda, sehat jasmani dan rohani.

Dengan manfaat seperti itu, sanggar sederhana milik Mustika yang dipakai sebagai tempat workshop seni gender di Desa Pemaron, Buleleng,  selalu didatangi warga lokal atau wisatawan untuk belajar memainkan gender. Yang datang bukan hanya anak muda, namun juga para pejabat, mantan pejabat dan pensiunan pegawai negeri. Seperti Kepala Kantor Ksebanglinmas Buleleng IGN Wirasena juga mulai aktif belajar gender di sanggar milik Mustika. Bahkan, salah seorang polisi dari Sukasada kini belajar serius memainkan gender di Desa Pemaron. ''Polisi itu punya penyakit jantung, namun setelah belajar seni gender, penyakit jantungnya tak pernah kumat,'' katanya.  

Baik melatih atau berlatih seni gender, menurut Mustika, harus memiliki tingkat kesabaran yang ekstra. Kalau dulu murid mencari guru untuk belajar memainkan gender, kini guru dengan sabar mencari murid. Selain mencari, guru juga harus dengan sabar mengajarinya agar si murid tetap bisa bertahan. Selain itu belajar gender juga harus memiliki konsentrasi yang tinggi. Saat belajar memainkan gender seseorang tak bisa sambil memikirkan masalah lain, terutama masalah bisnis dan ekonomi. ''Kalau main gender sambil memikirkan bisnis, biasanya konsentrasi jadi hilang, bahkan bisa jadi lebih stres,'' katanya.

Kesimpulannya, terdapat banyak cara untuk bisa melestarikan kesenian gender di Buleleng. Jika seni gender meredup karena seni pewayangan juga nyaris pingsan, maka seni gender bisa dihidupkan tanpa harus berpaketan dengan seni pewayangan. Misalnya, satu seniman gender bisa mengajak anak-anak di sekitarnya untuk belajar gender setiap hari-hari libur.

Selain itu, warga juga harus dibangkitkan kesadarannya untuk menggunakan seni gender dalam setiap upacara-upacara keagamaan. Hotel-hotel dan restoran harus sedikit dipaksa untuk menggunakan seni gender sebagai salah satu bentuk hiburan penyambut tamu di hotel tersebut, selain hiburan seni klasik lainnya.

Seperti permintaan seniman gender Gusti Bagus Atmaja dari Bungkulan, pemerintah juga sebaiknya menggelar festival seni gender secara khusus. Khusus untuk terapi pengobatan, seni gender juga sebaiknya mendapat penelitian yang lebih serius agar seni itu bisa dikembangkan secara lebih bagus, bahkan bisa dijadikan sebagai daya tarik wisatawan yang memang menyukai hal-hal yang berbau budaya sekaligus spiritual.

* adnyana ole 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)