kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Pon, 15 Mei 2008

 Ekuin


''Data Base'' Kacau,BLT Rawan Dimanipulasi
 

Denpasar (Bali Post) -
Bantuan
Langsung Tunai (BLT) sebagai jurus meredam gejolak sosial cakupannya kini diperluas. Padahal, BLT sejak petama kali digulirkan dikritik para ekonom karena sifatnya tak mendidik masyarakat dan rawan dimanipulasi. BLT juga tidak akan membuat publik bertahan menghadapi himpitan ekonomi karean ifatnya bantuan ini temporer.

Demikian disampaikan Rektor Undiknas Prof. Dr. I Gede Sri Darma, S.T, M.M., Rabu (14/5) kemarin. BLT seolah-olah menjadi satu-satunya strategi yang diyakini pemerintah untuk mengatasi dampak kenaikan harga BBM. ''Sebagai solusi termporer BLT memang realistis. Namun strategi kompensasi dengan melakukan dikotomi kaya miskin dan golongan gaji jelas riskan bagi upaya mewujudkan ketahanan ekonomi publik,'' ujarnya.

Sri Darma mengatakan, BLT selain rawan dimapuplasi juga memiliki potensi yang terbuka untuk diselewengkan. Masalahnya, dengan jumlah penduduk yang dominan miskin dan rendahnya tingkat kesiapan infrastruktur, potensi penyimpangan sangat terbuka. ''Data base pemerintah tentang kondisi warganya amat kacau. Buktinya, penataan KK miskin untuk program kesehatan yang dirancang relatif lama juga tetap kacau,'' ujarnya.

Ekonom Unud Dr. I Gusti Wayan Murjanayasa, M.Si. mengakui BLT sebagai startegi yang paling gampang untuk digulirkan pada kondisi dilematis. Namun, strategi ini tak akan begitu efektif, karena umumnya strategi ini berlangsung temporer. Setelah situasi normal, BLT malah meredup dan susah cairnya. ''Mestinya sasaran perbaikan ekonomi diarahkan untuk benar-benar membuat rakyat miskin bertahan menghadapi krisis,'' paparnya.

Menurutnya, sistem pendataan kependudukan yang tak begitu bagus akan membuat penyaluran BLT ini rawan pembiasan. Apalagi birokrasi yang akan menjadi perpanjangan tangan pemerintah melakukan pendataan tak profesional. ''Yang jelas kanaikan BBM yang diimbangi dengan pemberian BLT tetap riskan dalam kondisi krisis. Masalahnya, kini sebagian besar warga sudah sangat sulit mengatur biaya hidupnya,'' ujarnya. (044)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)