Nekolim
KEMBALI
dari ekspedisi
nyasar tahun
1492, Columbus yang menyangka
dirinya telah
mendarat di
India meski
sebenarnya itu
benua Amerika,
melapor pada
junjungannya Ratu
Spanyol, Isabella
dan Raja Ferdinand, bahwa "Bumi
ini bulat".
Thomas L. Friedman menyebut
peristiwa itu
sebagai era "
Globalisasi 1.0" karena
dunia yang
sebelumnya dikira
sangat luas
berbentuk seperti
piring raksasa,
ternyata bulat
berukuran sedang
dan semua
tempat bisa
diakses.
Kemudian
pada tahun
1800 - 2000, terjadi
kebangkitan Iptek
akibat Revolusi
Industri,
Revolusi Amerika
dan Perancis
sebelumnya. Friedman
menyebut periode
itu sebagai
era "Globalisasi 2.0".
Perkembangan
teknologi persenjataan
dan transportasi,
ditambah penemuan
sibernetika
menjelang berakhirnya
Millenium II,
baginya, kian
menyusutkan
ukuran dunia.
Alasannya, jarak
ribuan kilometer
bisa ditempuh
beberapa jam
dengan pesawat jet
supersonik atau
kejadian di
New York bisa
diketahui detailnya
di Denpasar
dalam beberapa
menit karena
kecanggihan
teknologi informatika.
Jika
Columbus mencari
perangkat keras
seperti emas,
sutra dan
rempah-rempah sebagai
sumber kekayaan
di zamannya,
maka Friedman di
awal Millenium
III menyebut
dirinya mencari
perangkat lunak
sebagai sumber
kekayaan masa
kini. Kekuatan
otak, algoritma
kompleks, pekerja
intelektual,
pelayanan informasi,
protokol
transmisi serta
rekayasa optik
merupakan sumber
kekayaan yang
diburunya dan
semua dijumpainya
di India.
Bangalore yang menjelang
akhir abad
ke-20 masih
dianggap kawasan
miskin dan
kumuh, tahun
2005 menjadi "Lembah
Silikon"-nya India,
menandingi milik
Amerika Serikat
di San Fransisco.
Di tempat
ini, Friedman
menjumpai ribuan
intelektual muda
India yang tidak
saja berbicara
dengan aksen
Amerika, juga
berkemampuan
tidak kalah
dari para
pakar AS,
sehingga dia
tidak merasa
seperti di
India tapi di
San Fransisco.
"Kalau Columbus
sekembali dari
Amerika melapor
pada Ratu
Isabella tentang
dunia yang bulat,
maka Friedman
ketika balik
dari India,
membisiki istrinya, 'dunia
ini datar,
sayang!'. Sebab,
bukan hanya
di Bangalore dia
melihat para
intelektual muda
piawai
memperkerut dunia
lewat layar
digital terbesar
di Asia, namun
banyak kelompok
pendidik India
memberikan les privat
di bidang
matematika,
fisika bahkan
bahasa Inggris
pada anak-anak
Amerika, langsung
dari pojok
kamar mereka
dengan perangkat
komputer berbasis
World Wide Web. Bagi Friedman,
dunia kian
mengecil di
era yang disebutnya 'Globalisasi
3.0', ditandai
banyak perusahaan
besar di
AS dan Eropa
menyerahkan
pekerjaan administrasinya
ke India lewat
program outsourcing, di
samping E-tutor
dan E-ticket," papar
Kudil.
"Aku
juga pernah
dengar, dulu
banyak
intelektual potensial
muda India yang
tidak bisa
menyalurkan bakat
dan kemampuannya,
karena
terbatasnya lapangan
kerja di
dalam negeri.
Makanya, mereka
diandaikan
seperti sayur yang
membusuk di
pelabuhan karena
menunggu kapal
pengangkut yang
tak kunjung
datang. Kini,
seperti paparanmu,
mereka tidak
perlu lagi
berimigrasi ke
luar negeri
untuk cari
kerja.
Mereka
yang memiliki
berbagai keahlian
dan disiplin
ilmu cukup
mengelompokkan
diri, lalu
menerima bermacam
jenis pekerjaan
dari berbagai
perusahaan luar
negeri lewat
internet dan
mengerjakannya di
tempat
kelahirannya. Yang penting
mereka menguasai
teknologi
informasi, di
samping keahlian
lain yang dibutuhkan
konsumen, seperti
misalnya
penerjemahan, akunting,
pembukuan,
perpajakan hingga
pengetikan serta
editing buku-buku,"
papar Lonjong.
"Pasti
itu karena
ongkosnya lebih
murah! Perusahaan
besar atau
korporasi,
menurut Joel Bakan,
selalu meniru
karakter manusia
psikopat, yang
lebih mengutamakan
keuntungan
sebesar-besarnya dibanding
kemanusiaan dan
pertimbangan moral.
Dengan outsourcing,
atau menyerahkan
pekerjaan pada
orang-orang yang
tidak berstatus
karyawan tetap,
mereka menganggap
pekerja hanya
sebagai alat.
Mirip taksi,
yang dibayar saat
disewa.
Makanya,
sejak kapitalis
neoliberal
menguasai dunia
pasca-rontoknya
Tembok Berlin, para
pekerja lebih
sering disebut
sumber daya
manusia disingkat
SDM. Bukan
manusia tapi
sumber daya
atau alat
kerja setara
mesin! Bahkan
dengan alasan
efisiensi, kini
banyak jenis
pekerjaan
ditangani mesin
atau robot,
karena tenaga
kerja manusia
sering menuntut
kenaikan gaji,
berbagai
tunjangan, libur
atau cuti
dan pensiun,"
kata Kondra.
"Hakikat outsourcing,
tidak lebih
dari kuli
kontrak seperti
zaman kolonial
dulu, meski
kedengaran keren
dengan istilah
Inggris. Bedanya,
kuli kontrak
dulu langsung
direkrut
pemerintah penjajah,
sekarang
dilakukan perusahaan
swasta yang
bertindak sebagai
makelar tenaga
kerja. Dulu
kuli kontrak
melakukan
pekerjaan kasar
seperti membuka
hutan untuk
perkebunan atau
pengerjaan proyek
jalan, tapi
sekarang banyak
juga yang berdasi
dan berbusana
necis, namun
gajinya tidak
lebih hebat
dibanding buruh
bangunan.
Tujuan
sistem outsourcing,
selain melepaskan
seluruh tanggung
jawab sosial,
kecuali gaji,
terhadap karyawan,
juga bisa
mencegah
kemungkinan demo dan
protes. Sebab,
karyawan yang
suka memprotes
atau bikin
ulah, akan
di-blacklist,
tahun berikut
kontraknya tidak
diperpanjang,"
tambah Mudra.
"Dengan outsourcing,
serikat pekerja,
kendati ada,
tapi loyo.
Setiap orang
yang berani
menentang kebijakan
perusahaan,
seperti katamu,
akan menjadi
penganggur pada
Tahun Baru.
Apalagi jumlah
pencari kerja
berlipat ganda
dibanding
lapangan kerja,
sehingga sepuluh
pekerja pergi
seratus pengganti
datang.
Terlebih-lebih,
sesuai tuntutan
globalisasi dan
pasar bebas,
pemerintah tidak
diperkenankan
ikut campur
dalam
perselisihan antara
buruh dengan
manajemen. Bila
ada intervensi
pemerintah,
korporasi mengancam
akan melakukan
offshoring, yakni
memindahkan
seluruh usahanya
ke negara
lain. Ironisnya,
kudengar, ada BUMN
di Indonesia yang
mempraktikkan sistem
outsourcing dan
sebagian besar
pegawainya adalah
pekerja kontrak,"
tutur Rubag.
"Perusahaan
seperti itu,
pasti sulit
bersaing dengan
perusahaan-perusahaan
asing yang punya
usaha sejenis.
Tenaga outsourcing
sukar diharapkan
punya rasa
memiliki terhadap
perusahaan dimana
mereka bekerja,
karena perusahaan
juga tidak
memikirkan masa
depan mereka.
Jadi, kerja
mereka
asal-asalan dan
tidak bertanggung
jawab atas
kualitas, karena
sebaik apa
pun hasil kerja
mereka tidak
berpengaruh atas
pendapatan.
Kalau
benar ada
BUMN menerapkan
sistem seperti
itu, aku
jadi curiga.
Apa ini
bukan tindakan
sengaja, agar
perusahaan tersebut
terus merugi,
sehingga
dicantumkan dalam
daftar perusahaan
yang akan dijual?
Apalagi kubaca
di koran,
akhir-akhir ini
muncul semangat
menggebu-gebu
sementara pejabat
melakukan
privatisasi BUMN," argumen
Lonjong.
"Menyimak
pendapat kalian,
khususnya tentang
kuli kontrak,
aku teringat
ucapan Bung Karno
yang dilontarkan
berkali-kali sejak
sebelum hingga
sesudah
kemerdekaan. Bangsa Indonesia
yang merdeka
diharapkannya untuk
tidak menjadi
bangsa kuli,
apalagi kulinya
bangsa-bangsa.
Namun hal
itu, katanya,
sulit dihindarkan
bila penjajahan
bentuk baru
atau neo-kolonialisme
dan neo-imperialisme
yang disingkat 'Nekolim'
datang lagi
ke negeri
ini. Nekolim,
kata Bung Karno,
tidak selalu
berkulit putih
atau kuning,
tapi bisa
juga sawo
matang," Tantra
yang sebelumnya
cuma mendengar,
ikut berkomentar.
*
aridus