Menerobos Jalan Melejitkan Potensi...
Mencari sebuah Esensi dari Pengabdian
Guru
BERUNTUNG sekali saya dinyatakan sebagai salah
satu pemenang dalam pemilihan Guru Kreatif 2007 yang
dilaksanakan oleh Yayasan HOPE Indonesia. Dan lebih berbangga
lagi beberapa teman guru yang semula saya paksa untuk ikut
juga mampu menjadi pemenang. Walaupun banyak berkorban, untuk
mendorong mereka ikut berkreasi untuk bangkit rasa peduli akan
keberhasilan anak didik, terhapus dengan tergeraknya mereka
untuk terus berkreasi dan berkreativitas. Dari kegiatan ini
guru diharapkan terus mengasah naluri untuk selalu menciptakan
proses pembelajaran yang sedekat mungkin dengan siswa.
Guru sebagai ujung tombak adalah mendidik
generasi muda menuju generasi yang takwa, berakhlak, cerdas,
terampil berjiwa kebangsaan, dan berpikiran modern. Kegiatan
ini seolah-olah menjembatani berbagai aktivitas pengembangan
menuju guru masa depan yang berkepribadian takwa, berakhlak,
terbuka, dan profesional. Kegiatan ini diharapkan menjadi
sahabat guru dalam memenangkan paradigma baru pendidikan,
menuju tujuan pendidikan seutuhnya. Yaitu menjadi manusia yang
mampu menghidupi diri sendiri, mampu mengembangkan kehidupan
yang bermakna, serta mampu memuliakan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Kegiatan yang mendambakan aplikasi layanan
pendidikan dalam paradigma baru, demi tercapainya manusia yang
cerdas dan siap menjadi warga dunia yang mempunyai nilai-nilai
moral yang patut.
Saya sangat simpati dengan sindiran Ki
Darmaningtyas, seorang kritikus pendidikan, dalam sebuah
peringatannya memberikan pernyataan, jika kita tidak segera
sadar akan ketidakjelasan berkonsep dalam pendidikan, maka
tidak sampai 20 tahun lagi kita kehilangan bangsa seperti yang
kita harapkan. Memang cukup beralasan, peringatan yang
diberikan karena globalisasi menuntut kemajuan dan perubahan
cara berpikir. Namun kekuatan kebangsaan harusnya menjadi
tameng yang dapat membuat bangsa ini tidak kehilangan jati
diri sebagai bangsa yang bermatabat. Kehadiran banyak sekolah
asing, perubahan sekolah menjadi sekolah yang bertaraf
internasional, sekolah berlisensi dan sebagainya, tentu
membanggakan dan dapat melecut kemajuan sekolah lokal. Namun,
kita tidak harus kita kehilangan jati diri. Sesungguhnya kita
harus berubah. Namun tidak perlu mengubah esensi yang semula
sudah berjalan di atas koridor yang benar.
Akhir-akhir ini sekolah telah banyak melakukan
perubahan yang sesungguhnya tidak perlu diubah. Akibatnya,
banyak kegiatan seumpamanya upacara, menulis halus, ketajaman
berbahasa Indonesia, dan kegiatan budaya, yang justru
terpinggirkan. Semangat yang ada dalam kegiatan ini
mudah-mudahan bisa menyadarkan kita, bahwa di tengah geliat
perubahan yang menggeletar, refleksi pada tatanan budaya dan
kebangsaan juga harus makin dahsyat. Sisipkan semangat merebut
kembali apa yang kita punya dalam proses mengajar belajar.
Apakah pekerjaan yang lebih mulia, atau yang bernilai bagi
negara, daripada mereka yang mengajar generasi yang sedang
bertumbuh?. Merdeka itu bagi seorang guru adalah merdeka
berkreasi, dan mau belajar.
Belakangan ini siswa telah kehilangan obor
pembelajaran dalam dirinya, yang dampaknya lebih dahsyat kelak
ketimbang rasa malu akibat nilai UN yang rendah. Guru haruslah
sudah mengubah pendekatan, dari tanggung jawab mencapai
nilai belajar tinggi, menjadi tanggung jawab keberhasilan
karakter dan potensi anak. Dari guru yang sebatas mendalami
ilmu untuk kepentingan kurikulum, menuju seorang insan
intelektual yang gelisah, yang selalu mencari jalan yang mudah
yang menyenangkan untuk masuk dan membentuk alam pikir anak.
Inti keberhasilam dan kebahagian seorang guru merdeka dan
profesional, mampu mencapai titik kepuasan yang berhasil
membuatkan jalan bagi masa depan siswa. Adanya perubahan dari
yang berorientasi pada nilai akademik siswa, menuju ke
pembentukkan kepribadian siswa, membentuk kepercayaan diri,
dan melejitkan potensi-potensinya, menjadi seorang pembelajar
sejati yang menggali makna di balik setiap materi ajar.
Meminjam sitiran dari Rhenald Kasali, para guru tidak bisa
mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar
secara akademis, tahu kebenaran internal, tetapi kurang
kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal.
I Putu Sudibawa
Guru Kimia SMAN 1 Sidemen, Karangasem