kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 2 Maret 2008 tarukan valas
 

APRESIASI


Menerobos Jalan Melejitkan Potensi...
Mencari sebuah Esensi dari Pengabdian Guru

BERUNTUNG sekali saya dinyatakan sebagai salah satu pemenang dalam pemilihan Guru Kreatif 2007 yang dilaksanakan oleh Yayasan HOPE Indonesia. Dan lebih berbangga lagi beberapa teman guru yang semula saya paksa untuk ikut juga mampu menjadi pemenang. Walaupun banyak berkorban, untuk mendorong mereka ikut berkreasi untuk bangkit rasa peduli akan keberhasilan anak didik, terhapus dengan tergeraknya mereka untuk terus berkreasi dan berkreativitas. Dari kegiatan ini guru diharapkan terus mengasah naluri untuk selalu menciptakan proses pembelajaran yang sedekat mungkin dengan siswa.

Guru sebagai ujung tombak adalah mendidik generasi muda menuju generasi yang takwa, berakhlak, cerdas, terampil berjiwa kebangsaan, dan berpikiran modern. Kegiatan ini seolah-olah menjembatani berbagai aktivitas pengembangan menuju guru masa depan yang berkepribadian takwa, berakhlak, terbuka, dan profesional. Kegiatan ini diharapkan menjadi sahabat guru dalam memenangkan paradigma baru pendidikan, menuju tujuan pendidikan seutuhnya. Yaitu menjadi manusia yang mampu menghidupi diri sendiri, mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna, serta mampu memuliakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kegiatan yang mendambakan aplikasi layanan pendidikan dalam paradigma baru, demi tercapainya manusia yang cerdas dan siap menjadi warga dunia yang mempunyai nilai-nilai moral yang patut.

Saya sangat simpati dengan sindiran Ki Darmaningtyas, seorang kritikus pendidikan, dalam sebuah peringatannya memberikan pernyataan, jika kita tidak segera sadar akan ketidakjelasan berkonsep dalam pendidikan, maka tidak sampai 20 tahun lagi kita kehilangan bangsa seperti yang kita harapkan. Memang cukup beralasan, peringatan yang diberikan karena globalisasi menuntut kemajuan dan perubahan cara berpikir. Namun kekuatan kebangsaan harusnya menjadi tameng yang dapat membuat bangsa ini tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa yang bermatabat. Kehadiran banyak sekolah asing, perubahan sekolah menjadi sekolah yang bertaraf internasional, sekolah berlisensi dan sebagainya, tentu membanggakan dan dapat melecut kemajuan sekolah lokal. Namun, kita tidak harus kita kehilangan jati diri. Sesungguhnya kita harus berubah. Namun tidak perlu mengubah esensi yang semula sudah berjalan di atas koridor yang benar.

Akhir-akhir ini sekolah telah banyak melakukan perubahan yang sesungguhnya tidak perlu diubah. Akibatnya, banyak kegiatan seumpamanya upacara, menulis halus, ketajaman berbahasa Indonesia, dan kegiatan budaya, yang justru terpinggirkan. Semangat yang ada dalam kegiatan ini mudah-mudahan bisa menyadarkan kita, bahwa di tengah geliat perubahan yang menggeletar, refleksi pada tatanan budaya dan kebangsaan juga harus makin dahsyat. Sisipkan semangat merebut kembali apa yang kita punya dalam proses mengajar belajar. Apakah pekerjaan yang lebih mulia, atau yang bernilai bagi negara, daripada mereka yang mengajar generasi yang sedang bertumbuh?. Merdeka itu bagi seorang guru adalah merdeka berkreasi, dan mau belajar.

Belakangan ini siswa telah kehilangan obor pembelajaran dalam dirinya, yang dampaknya lebih dahsyat kelak ketimbang rasa malu akibat nilai UN yang rendah. Guru haruslah sudah mengubah pendekatan,  dari tanggung jawab mencapai nilai belajar tinggi, menjadi tanggung jawab keberhasilan karakter dan potensi anak. Dari guru yang sebatas mendalami ilmu untuk kepentingan kurikulum, menuju seorang insan intelektual yang gelisah, yang selalu mencari jalan yang mudah yang menyenangkan untuk masuk dan membentuk alam pikir anak. Inti keberhasilam dan kebahagian seorang guru merdeka dan profesional, mampu mencapai titik kepuasan yang berhasil membuatkan jalan bagi masa depan siswa. Adanya perubahan dari yang berorientasi pada nilai akademik siswa, menuju ke pembentukkan kepribadian siswa, membentuk kepercayaan diri, dan melejitkan potensi-potensinya, menjadi seorang pembelajar sejati yang menggali makna di balik setiap materi ajar. Meminjam sitiran dari Rhenald Kasali, para guru tidak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tetapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal.

 

I Putu Sudibawa
Guru Kimia SMAN 1 Sidemen, Karangasem

 

 
 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com