Lubdaka dan Harry Potter
MATAHARI 2008 telah bersinar. Dia datang tanpa
membawa "perubahan" seperti yang diharapkan para penyelenggara
pesta "Malam Tahun Baru". Bahkan, sebelum genap dua jam
menyingsing, planet terpanas dalam struktur tata surya itu
menyaksikan dua tubuh manusia tergeletak bersimbah darah meregang
nyawa di Kuta. Adagium "di bawah sinar matahari tidak ada
yang berubah" memang sulit disanggah. Karena, matahari yang sama
tanpa banyak rintangan menyelusupkan panasnya ke tubuh-tubuh
manusia yang sejak nenek moyangnya dikenal menganut slogan "bellum
omnium contra omnes" atau "serigala makan serigala".
"Jadi, peradaban yang melahirkan kebudayaan, agama, filsafat,
pengetahuan dan teknologi tinggi, ternyata tidak kuasa
menghilangkan nekrofilia atau hasrat saling bunuh manusia.
Hasil-hasil peradaban itu cuma bisa mengekang buat sementara. Saat
kekangan dikendorkan, nekrofilia menerobos, maka nilai nyawa
manusia tidak lebih mahal dibanding harga seekor kambing yang
lumrah dijadikan sarana dalam perayaan kurban. Bahkan cara matinya
pun lebih tragis, ditikam di sekujur tubuh dengan kepala remuk,
padahal kambing kurban saja didoakan dulu sebelum disembelih
lehernya. Itu yang membuatku bergidik membaca koran tentang
pembunuhan di Kuta di lembar awal tahun 2008," papar Rubag.
"Mendengar dan membaca perihal kekerasan dan pembunuhan di Tanah
Air belakangan ini, aku setuju tesis Johan Galtung tentang manusia
sebagai mahluk yang cenderung ingin membunuh segala hal secara
ekstrem atau omnicide. Dia tidak saja ingin melenyapkan saingannya
yang juga manusia (homicide), juga alam (ecocide), suku lain
(genocide), struktur masyarakat (structurocide), kebudayaan
(culturocide), bahkan melakukan bunuh diri (suicide) akibat
kecewa. Padahal tanpa semua hal yang hendak dilenyapkannya, mahluk
omnicide itu tidak bisa hidup. Karena saling ketergantungan dengan
pihak-pihak lainlah manusia memperoleh kemuliaannya. Sayang,
pelajaran tentang hal itu di sekolah yang disebut budi pekerti
telah tersingkir, diganti dengan pelajaran 'kiat mencari
uang' sebanyak-banyaknya tanpa susah-payah, bila perlu menggunakan
segala cara," sahut Widiada.
"Manusia jadi sangat tidak manusiawi justru karena kemanusiaannya.
Dia lahir dengan perangkat insting tidak selengkap binatang lain,
tulis Erich Fromm, sehingga tidak mengenal spesiesnya. Maka
manusia cenderung tega membunuh sesamanya, bahkan darah dagingnya
sendiri, sehingga kita sering membaca di koran, ayah membunuh anak
kandung atau sebaliknya, suami menganiaya istri hingga tewas,
karena menganggap korban sebagai mahluk asing yang harus
dilenyapkan. Tidak seperti binatang menyusui tingkat tinggi
lainnya, imbuh Peter L. Berger, manusia terlahir dengan perangkat
organisme yang belum selesai. Untuk menyelesaikannya, dia harus
melakukan eksternalisasi dengan seluruh isi dunia, lalu
menginternalisasi hasil serapan ke dirinya sendiri. Celakanya, di
dunia yang menurut Giddens sedang berlari kencang ini, waktu untuk
melakukan ekstrospeksi dan introspeksi dikalahkan prinsip 'time is
money'. Semuanya, ditukar uang, termasuk nyawa," ujar Darsa.
"Aneh, padahal setiap 210 hari sekali kita merayakan Siwa Ratri.
Sayang, cerita tentang Lubdaka sebagai ilustrasi hari suci itu,
tersingkir habis kisah serial Harry Potter, The Lord of The Ring
dan Batman, yang menjelang pergantian tahun ditayangkan beberapa
stasiun TV. Para pemirsa yang telah menjadi masyarakat TV, rupanya
lebih tertarik menyimak kisah-kisah impor dari Barat ketimbang
cerita rakyat warisan leluhur yang diberi label mitologi. Padahal
kisah Lubdaka sangat pas dengan ulasan Darsa tentang ekstrospeksi
dan introspeksi tadi. Lubdaka, yang sering membunuh berbagai jenis
binatang sebagai pemburu, suatu hari lari terbirit memanjat pohon
bila guna menyelamatkan diri dari kejaran macan. Agar tidak
mengantuk lalu jatuh dan menjadi santapan macan yang menunggunya
di bawah, Lubdaka bergadang semalam suntuk memetik daun satu per
satu sembari merenungkan perbuatannya. Seiring dengan terbitnya
matahari, macan pun pergi dari bawah pohon dan Lubdaka selamat,
lalu bersumpah berhenti jadi pemburu," tutur Rubag.
"Nah, mungkin itu alasannya, mengapa orang-orang yang kau sebut
masyarakat TV lebih tertarik menonton film-film Hollywood
ketimbang mendengar cerita tentang Lubdaka. Mereka haus hiburan
populer, bukan celotehan kuno! Meskipun mereka tahu, tidak ada
sapu terbang, tidak ada manusia bisa melayang seperti kelelawar,
bahkan tidak ada cincin yang diperebutkan agar bisa berkuasa,
namun mereka lebih ragu apakah mungkin ada orang yang betah dan
tahan memetik daun sepanjang malam? Apakah semua dahan dan ranting
cukup kuat menyangga berat tubuhnya agar tidak jatuh, saat
berpindah-pindah menjangkau setiap helai daun yang dipetiknya?"
sela Metra yang merasa tersindir karena kecanduan nonton TV hingga
subuh.
"Soal itu, tidak mungkin aku tanyakan pada pengarang kisah Lubdaka
yang anonim. Kamu sebaliknya justru lupa menanyakan diri, kenapa
ikhlas ditipu hal-hal tidak masuk akal seperti sapu terbang,
manusia kelelawar dan cincin kekuasaan? Tindakan Lubdaka sepanjang
malam, bagiku, analog dengan aktivitas para narapidana di penjara.
Mereka dipaksa melakukan kegiatan yang bukan profesinya sembari
merenungkan perbuatan yang membuatnya terkurung. Setelah lepas
dari penjara, kelak mereka diharapkan tidak lagi mengulang
perbuatan yang melanggar hukum. Itu harapan, sedangkan tidak semua
orang bisa memenuhinya, sehingga ada yang masabodoh disebut
residivis karena sering keluar-masuk penjara. Aku juga tidak tahu,
apakah Lubdaka benar-benar berhenti jadi pemburu setelah peristiwa
itu, karena tidak ada Lubdaka jilid kedua."
"Orang yang jiwanya terancam, jangankan memetik daun, disuruh
makan kotoran sendiri pun dia menurut, asal selamat. Untung
Metera tidak memprotes Albert Camus yang menulis 'Mite Sisifus'
tentang orang yang mendorong batu besar ke atas bukit, lalu setiba
di puncak digelindingkan lagi ke bawah dan tindakan itu dilakukan
berulang-ulang tanpa bosan atau payah. Memang ada aktivitas
manusia yang dipandang absurd bagi orang lain, namun dianggap
logis bagi pelakunya. Mengapa tidak ditanya 22 orang yang
ngotot memperebutkan bola di tengah lapangan, lalu digiring dan
ditendang, kemudian dikejar lagi, seperti orang tidak waras?
Bahkan lebih gila lagi, ribuan orang yang menonton di pinggir
lapangan kadang-kadang terlibat bentrokan berdarah, sering
disertai pembakaran stadion dan tidak jarang kerusuhannya meluas
hingga ke luar stadion. Bahkan di tengah merosotnya prestasi di
ASEAN, hooliganisme malah paling marak di Indonesia," kata
Widiada.
"Ya, mengapa bersikeras bermain bola dan harus mengeluarkan dana
milyaran untuk menyewa pemain, bahkan kadang-kadang menyedot dana
APBD? Mengapa bukan membentuk sekaa ngejuk lindung dimana manusia
berkompetisi mengalahkan kelincahan belut, yang hasilnya bisa
dimakan sekeluarga untuk menambah gizi, sisanya dijual atau
diekspor? Ini cara pikir materialisme pragmatis! Tapi isi dunia
bukan cuma paham itu, sehingga berbagai versi cerita atau teori
dicipta untuk memenuhi selera yang berbeda. Di antara yang
berkumpul di sini, rupanya cuma Metra yang terkesima citra Harry
Potter, lainnya dipengaruhi Lubdaka, sehingga kita bisa lebih
mengutamakan bicara ketimbang kekerasan dalam menyelesaikan
perbedaan," komentar Darsa.
* aridus