kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Pon, 6 Januari 2008 tarukan valas
 

OPINI


Lubdaka dan Harry Potter

MATAHARI 2008 telah bersinar. Dia datang tanpa membawa "perubahan" seperti yang diharapkan para penyelenggara pesta "Malam Tahun Baru". Bahkan, sebelum genap dua jam menyingsing, planet terpanas dalam struktur tata surya itu menyaksikan dua tubuh manusia tergeletak bersimbah darah meregang nyawa di Kuta. Adagium "di bawah sinar matahari  tidak ada yang berubah" memang sulit disanggah. Karena, matahari yang sama tanpa banyak rintangan menyelusupkan panasnya ke tubuh-tubuh manusia yang sejak nenek moyangnya dikenal menganut slogan "bellum omnium contra omnes" atau "serigala makan serigala".

"Jadi, peradaban yang melahirkan kebudayaan, agama, filsafat, pengetahuan dan teknologi tinggi, ternyata tidak kuasa menghilangkan nekrofilia atau hasrat saling bunuh manusia. Hasil-hasil peradaban itu cuma bisa mengekang buat sementara. Saat kekangan dikendorkan, nekrofilia menerobos, maka nilai nyawa manusia tidak lebih mahal dibanding harga seekor kambing yang lumrah dijadikan sarana dalam perayaan kurban. Bahkan cara matinya pun lebih tragis, ditikam di sekujur tubuh dengan kepala remuk, padahal kambing kurban saja didoakan dulu sebelum disembelih lehernya. Itu yang membuatku bergidik membaca koran tentang pembunuhan di Kuta di lembar awal tahun 2008," papar Rubag.

"Mendengar dan membaca perihal kekerasan dan pembunuhan di Tanah Air belakangan ini, aku setuju tesis Johan Galtung tentang manusia sebagai mahluk yang cenderung ingin membunuh segala hal secara ekstrem atau omnicide. Dia tidak saja ingin melenyapkan saingannya yang juga manusia (homicide), juga alam (ecocide), suku lain (genocide), struktur masyarakat (structurocide), kebudayaan (culturocide), bahkan melakukan bunuh diri (suicide) akibat kecewa. Padahal tanpa semua hal yang hendak dilenyapkannya, mahluk omnicide itu tidak bisa hidup. Karena saling ketergantungan dengan pihak-pihak lainlah manusia memperoleh kemuliaannya. Sayang, pelajaran tentang hal itu di sekolah yang disebut budi pekerti telah tersingkir, diganti dengan pelajaran 'kiat  mencari uang' sebanyak-banyaknya tanpa susah-payah, bila perlu menggunakan segala cara," sahut Widiada.

"Manusia jadi sangat tidak manusiawi justru karena kemanusiaannya. Dia lahir dengan perangkat insting tidak selengkap binatang lain, tulis Erich Fromm, sehingga tidak mengenal spesiesnya. Maka manusia cenderung tega membunuh sesamanya, bahkan darah dagingnya sendiri, sehingga kita sering membaca di koran, ayah membunuh anak kandung atau sebaliknya, suami menganiaya istri hingga tewas, karena menganggap korban sebagai mahluk asing yang harus dilenyapkan. Tidak seperti binatang menyusui tingkat tinggi lainnya, imbuh Peter L. Berger, manusia terlahir dengan perangkat organisme yang belum selesai. Untuk menyelesaikannya, dia harus melakukan eksternalisasi dengan seluruh isi dunia, lalu menginternalisasi hasil serapan ke dirinya sendiri. Celakanya, di dunia yang menurut Giddens sedang berlari kencang ini, waktu untuk melakukan ekstrospeksi dan introspeksi dikalahkan prinsip 'time is money'. Semuanya, ditukar uang, termasuk nyawa," ujar Darsa.

"Aneh, padahal setiap 210 hari sekali kita merayakan Siwa Ratri. Sayang, cerita tentang Lubdaka sebagai ilustrasi hari suci itu, tersingkir habis kisah serial Harry Potter, The Lord of The Ring dan Batman, yang menjelang pergantian tahun ditayangkan beberapa stasiun TV. Para pemirsa yang telah menjadi masyarakat TV, rupanya lebih tertarik menyimak kisah-kisah impor dari Barat ketimbang cerita rakyat warisan leluhur yang diberi label mitologi. Padahal kisah Lubdaka sangat pas dengan ulasan Darsa tentang ekstrospeksi dan introspeksi tadi. Lubdaka, yang sering membunuh berbagai jenis binatang sebagai pemburu, suatu hari lari terbirit memanjat pohon bila guna menyelamatkan diri dari kejaran macan. Agar tidak mengantuk lalu jatuh dan menjadi santapan macan yang menunggunya di bawah, Lubdaka bergadang semalam suntuk memetik daun satu per satu sembari merenungkan perbuatannya. Seiring dengan terbitnya matahari, macan pun pergi dari bawah pohon dan Lubdaka selamat, lalu bersumpah berhenti jadi pemburu," tutur Rubag.

"Nah, mungkin itu alasannya, mengapa orang-orang yang kau sebut masyarakat TV lebih tertarik menonton film-film Hollywood ketimbang mendengar cerita tentang Lubdaka. Mereka haus hiburan populer, bukan celotehan kuno! Meskipun mereka tahu, tidak ada sapu terbang, tidak ada manusia bisa melayang seperti kelelawar, bahkan tidak ada cincin yang diperebutkan agar bisa berkuasa, namun mereka lebih ragu apakah mungkin ada orang yang betah dan tahan memetik daun sepanjang malam? Apakah semua dahan dan ranting cukup kuat menyangga berat tubuhnya agar tidak jatuh, saat berpindah-pindah menjangkau setiap helai daun yang dipetiknya?" sela Metra yang merasa tersindir karena kecanduan nonton TV hingga subuh.

"Soal itu, tidak mungkin aku tanyakan pada pengarang kisah Lubdaka yang anonim. Kamu sebaliknya justru lupa menanyakan diri, kenapa ikhlas ditipu hal-hal tidak masuk akal seperti sapu terbang, manusia kelelawar dan cincin kekuasaan? Tindakan Lubdaka sepanjang malam, bagiku, analog dengan aktivitas para narapidana di penjara. Mereka dipaksa melakukan kegiatan yang bukan profesinya sembari merenungkan perbuatan yang membuatnya terkurung. Setelah lepas dari penjara, kelak mereka diharapkan tidak lagi mengulang perbuatan yang melanggar hukum. Itu harapan, sedangkan tidak semua orang bisa memenuhinya, sehingga ada yang masabodoh disebut residivis karena sering keluar-masuk penjara. Aku juga tidak tahu, apakah Lubdaka benar-benar berhenti jadi pemburu setelah peristiwa itu, karena tidak ada Lubdaka jilid kedua."

"Orang yang jiwanya terancam, jangankan memetik daun, disuruh makan kotoran sendiri pun dia menurut, asal selamat.  Untung Metera tidak memprotes Albert Camus yang menulis 'Mite Sisifus' tentang orang yang mendorong batu besar ke atas bukit, lalu setiba di puncak digelindingkan lagi ke bawah dan tindakan itu dilakukan berulang-ulang tanpa bosan atau payah. Memang ada aktivitas manusia yang dipandang absurd bagi orang lain, namun dianggap logis bagi pelakunya.  Mengapa tidak ditanya 22 orang yang ngotot memperebutkan bola di tengah lapangan, lalu digiring dan ditendang, kemudian dikejar lagi, seperti orang tidak waras? Bahkan lebih gila lagi, ribuan orang yang menonton di pinggir lapangan kadang-kadang terlibat bentrokan berdarah, sering disertai pembakaran stadion dan tidak jarang kerusuhannya meluas hingga ke luar stadion. Bahkan di tengah merosotnya prestasi di ASEAN, hooliganisme malah paling marak di Indonesia," kata Widiada.

"Ya, mengapa bersikeras bermain bola dan harus mengeluarkan dana milyaran untuk menyewa pemain, bahkan kadang-kadang menyedot dana APBD? Mengapa bukan membentuk sekaa ngejuk lindung dimana manusia berkompetisi mengalahkan kelincahan belut, yang hasilnya bisa dimakan sekeluarga untuk menambah gizi, sisanya dijual atau diekspor? Ini cara pikir materialisme pragmatis! Tapi isi dunia bukan cuma paham itu, sehingga berbagai versi cerita atau teori dicipta untuk memenuhi selera yang berbeda. Di antara yang berkumpul di sini, rupanya cuma Metra yang terkesima citra Harry Potter, lainnya dipengaruhi Lubdaka, sehingga kita bisa lebih mengutamakan bicara ketimbang kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan," komentar Darsa.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com