Cemoohan, Penghalang Anak Berpikir Kreatif
GURU
dan orangtua mengharapkan si anak berpikir kreatif. Namun
kenyataannya, hanya segelintir anak yang menampakkan kemampuan
berpikir kreatif. Ketika guru memberi kesempatan anak untuk
bertanya atau menanggapi suatu persoalan, misalnya, anak kurang
punya keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang ada pada
pikirannya.
----------
Jika kebetulan tampang guru seram, jangankan
mengangkat tangan untuk bertanya, menatap wajah guru saja takut.
Apakah mereka sudah mengerti atau belum terhadap materi
pembelajaran yang disampaikan guru, sama-sama tidak ada jawaban
dari anak.
Akibat sikap pasif itu, hasil pembelajaran anak pun
belum maksimal bahkan kurang memenuhi standar minimal. Keluhan
demi keluhan pihak guru muncul. Dalam situasi yang pasif, anaklah
yang selalu dipersalahkan dengan tuduhan "kurang kreatif" atau
"pemalas". Karena itulah guru BK (bimbingan dan konseling) dan
wali kelas memanggil orangtua, mengatakan bahwa hasil belajar anak
kurang.
Setelah saling tukar pendapat antara orangtua dan
guru -- yang pendapatnya belum tentu benar, anak pun menjadi "tong
sampah". Sering pula guru dan orangtua belum menemukan cara yang
bisa diterima oleh anak. Melihat kondisi seperti itu, terjadilah
semacam kesepakatan guru dan orangtua untuk "mengeroyok" si anak.
Sebelumnya, anak memang jarang dilibatkan dalam memecahkan
persoalan belajar mereka.
Kalau saja berpikir kreatif anak ditumbuhkembangkan
sejak dini, tentu kondisinya akan berbeda. Apa itu berpikir
kreatif? Sebagaimana dikatakan Elaine B. Johnson (2007), berpikir
kreatif adalah sebuah kebiasaan dari pikiran yang dilatih dengan
memperhatikan intuisi, menghidupkan imajinasi, mengungkapkan
pikiran-pikiran yang baru, membuka sudut pandang yang menakjubkan,
dan membangkitkan ide-ide yang tidak terduga.
Menurut Elaine, berpikir kreatif membutuhkan
ketekunan disiplin diri, dan perhatikan penuh. Aktivitas mental
yang termasuk di dalamnya adalah mengajukan pertanyaan (rasa ingin
tahu), mempertimbangkan informasi baru, membangyun keterkaitan di
antara hal yang berbeda, menghubung-hubungkan berbagai hal dengan
bebas, menerapkan imajinasi untuk menghasilkan hal yang baru dan
mendengarkan intuisi. Oleh karena berpikir kreatif melibatkan rasa
ingin tahu, Elaine menyarankan guru agar mendorong siswa untuk
berpikir mengapa sesuatu itu terjadi.
Kurang
Sejalan
Dalam menumbuhkembangkan berpikir kreatif,
apresiasi guru (sekolah), orangtua, dan masyarakat sering kurang
sejalan. Seperti yang dikatakan Elaine, masyarakat pada umumnya
menganggap kreativitas adalah pembawaan dari lahir, sesuatu yang
tidak dapat dipelajari, sekolah-sekolah tidak memiliki peraturan
yang mendorong siswa untuk mengembangkan kekuatan kreatif mereka.
Yang ada justru sekolah atau lembaga pendidikan sering menjadi
penghalang kreativitas.
Sekolah tidak hanya cenderung menjadikan
kreativitas sebagai ciri khusus dari segelintir siswa yang unggul,
melainkan juga telah dengan ketat menetapkan apa yang disebut
karya kreatif. Ide-ide nyeleneh dicemooh. Mestinya, semua ide
dihormati, termasuk yang nyeleneh. Yang lebih buruk lagi, anak
yang punya ide nyeleneh itu dihukum. Setara dengan hukuman,
keotoriteran guru juga merupakan penghalang dalam
menumbuhkembangkan berpikir kreatif. Banyak guru masih menganut
paham "anak yang baik adalah anak yang selalu manut, setuju saja
apa kata gurunya". Intinya, anak yang baik tidak pernah membantah
apa kata gurunya.
Ada satu contoh, mungkin dianggap sepele oleh
seorang guru panitia pelaksana ujian SMA -- pada pelaksanaan ujian
tahun 2007 ini. "Anak-anak, nanti ujian tulis mata pelajaran
Penjaskes ditiadakan, sesuai surat edaran pemerintah," kata si
guru, panitia pelaksana ujian. "Pak, majukan saja mata ujian hari
terakhir ke waktu Penjaskes agar selesainya ujian lebih cepat!"
usul para siswa. Ternyata reaksi guru yang menjadi panitia ujian,
"Bapak yang berkuasa dalam menentukan waktu ujian, bukan kalian!"
Mendengar kata-kata guru seperti itu, siswa hanya mampu
menyuarakan "wuuu...." yang panjang secara serentak.
Contoh lain dalam kegiatan belajar-mengajar di
sekolah, seorang anak menyampaikan sejumlah informasi yang
didapatnya dari internet berkaitan dengan materi pelajaran. "Itu
tidak betul!" kata guru dengan berupaya menjaga wibawa dirinya
sendiri. Kreativitas anak dilenyapkan begitu saja tanpa
mempertimbangkan sisi pedagogi.
Kondisi seperti dua contoh tersebut bukan saja
berdampak kurang baik pada anak yang telah menunjukkan berpikir
kreatif, juga kepada anak-anak yang lain. Cara komunikasi guru
seperti itu akan mematikan berpikir kreatif anak, baik yang akan
tumbuh maupun sedang berkembang. Sangat disayangkan pula pihak
guru tidak menghendaki adanya dialog atau sedikit diskusi dengan
anak untuk mencari titik temu. Proses berpikir kreatif pada anak
dicemooh begitu saja demi wibawa guru (?). Yang kreatif saja
dicemooh, apalagi si anak itu kritis.
Kreatif dan
Kritis
Berpikir kreatif dan kritis bagaikan sisi mata uang
sebagaimana konsep yang dikemukakan oleh Elaine. Elaine pun
mengandaikan, pikiran kreatif merancang kostum untuk digunakan
dalam pementasan sandiwara sekolah. Selanjutnya, pikiran kritis
memastikan kainnya cocok dan jahitannya kuat.
Ditegaskan Elaine, seluruh manusia adalah pemikir
kreatif dan kritis. Tegasnya, kemampuan berpikir kreatif dan
kritis bukan milik anak tertentu saja. Saat anak memperbaiki,
menggunakan, dan meningkatkan kapasitas mereka untuk melakukan
keduanya, mereka meningkatkan kesempatan untuk memperkaya -- tidak
hanya kehidupan mereka sendiri, melainkan juga -- kehidupan
masyarakat dan sebagai anggota dari ekosistem bumi.
Untuk mencapai semua itu, Elaine mengusulkan kepada
guru untuk menggunakan sistem pembelajaran kontekstual. Pendidikan
berarti belajar menggunakan pikiran dengan baik, bukan jejalan
hapalan.
Mengingat berpikir kreatif dan berpikir kritis bisa
dilatihkan, maka guru (sekolah) perlu mencari upaya agar keduanya
bisa terwujud, walau tidak mudah. Dari mana memulai? Dalam dunia
pendidikan (sekolah) tentulah memulainya dari pihak guru.
Sedangkan di rumah pastilah memulainya dari orangtua -- guru
rupaka. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, tentu
peran pemerintah sangat penting lewat sistem pendidikan dan
menyediakan anggaran yang cukup.
Janganlah anak dibesarkan dengan cemoohan jika
mengharapkan mereka menjadi anak yang kreatif dan kritis. Kata
Dorothy Nolte, "Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar
memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar
berkelahi. Jika ia dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah
diri..."
* i.g.k.
tribana