kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 3 Juni 2007 tarukan valas
 

KELUARGA


Cemoohan, Penghalang Anak Berpikir Kreatif

GURU dan orangtua mengharapkan si anak berpikir kreatif. Namun kenyataannya, hanya segelintir anak yang menampakkan kemampuan berpikir kreatif. Ketika guru memberi kesempatan anak untuk bertanya atau menanggapi suatu persoalan, misalnya, anak kurang punya keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang ada pada pikirannya.

----------

 

Jika kebetulan tampang guru seram, jangankan mengangkat tangan untuk bertanya, menatap wajah guru saja takut. Apakah mereka sudah mengerti atau belum terhadap materi pembelajaran yang disampaikan guru, sama-sama tidak ada jawaban dari anak.

Akibat sikap pasif itu, hasil pembelajaran anak pun belum maksimal bahkan kurang memenuhi standar minimal. Keluhan demi keluhan pihak guru muncul. Dalam situasi yang pasif, anaklah yang selalu dipersalahkan dengan tuduhan "kurang kreatif" atau "pemalas". Karena itulah guru BK (bimbingan dan konseling) dan wali kelas memanggil orangtua, mengatakan bahwa hasil belajar anak kurang.

Setelah saling tukar pendapat antara orangtua dan guru -- yang pendapatnya belum tentu benar, anak pun menjadi "tong sampah". Sering pula guru dan orangtua belum menemukan cara yang bisa diterima oleh anak. Melihat kondisi seperti itu, terjadilah semacam kesepakatan guru dan orangtua untuk "mengeroyok" si anak. Sebelumnya, anak memang jarang dilibatkan dalam memecahkan persoalan belajar mereka.

Kalau saja berpikir kreatif anak ditumbuhkembangkan sejak dini, tentu kondisinya akan berbeda. Apa itu berpikir kreatif? Sebagaimana dikatakan Elaine B. Johnson (2007), berpikir kreatif adalah sebuah kebiasaan dari pikiran yang dilatih dengan memperhatikan intuisi, menghidupkan imajinasi, mengungkapkan pikiran-pikiran yang baru, membuka sudut pandang yang menakjubkan, dan membangkitkan ide-ide yang tidak terduga.

Menurut Elaine, berpikir kreatif membutuhkan ketekunan disiplin diri, dan perhatikan penuh. Aktivitas mental yang termasuk di dalamnya adalah mengajukan pertanyaan (rasa ingin tahu), mempertimbangkan informasi baru, membangyun keterkaitan di antara hal yang berbeda, menghubung-hubungkan berbagai hal dengan bebas, menerapkan imajinasi untuk menghasilkan hal yang baru dan mendengarkan intuisi. Oleh karena berpikir kreatif melibatkan rasa ingin tahu, Elaine menyarankan guru agar mendorong siswa untuk berpikir mengapa sesuatu itu terjadi.

 

Kurang Sejalan

Dalam menumbuhkembangkan berpikir kreatif, apresiasi guru (sekolah), orangtua, dan masyarakat sering kurang sejalan. Seperti yang dikatakan Elaine, masyarakat pada umumnya menganggap kreativitas adalah pembawaan dari lahir, sesuatu yang tidak dapat dipelajari, sekolah-sekolah tidak memiliki peraturan yang mendorong siswa untuk mengembangkan kekuatan kreatif mereka. Yang ada justru sekolah atau lembaga pendidikan sering menjadi penghalang kreativitas.

Sekolah tidak hanya cenderung menjadikan kreativitas sebagai ciri khusus dari segelintir siswa yang unggul, melainkan juga telah dengan ketat menetapkan apa yang disebut karya kreatif. Ide-ide nyeleneh dicemooh. Mestinya, semua ide dihormati, termasuk yang nyeleneh. Yang lebih buruk lagi, anak yang punya ide nyeleneh itu dihukum. Setara dengan hukuman, keotoriteran guru juga merupakan penghalang dalam menumbuhkembangkan berpikir kreatif. Banyak guru masih menganut paham "anak yang baik adalah anak yang selalu manut, setuju saja apa kata gurunya". Intinya, anak yang baik tidak pernah membantah apa kata gurunya.

Ada satu contoh, mungkin dianggap sepele oleh seorang guru panitia pelaksana ujian SMA -- pada pelaksanaan ujian tahun 2007 ini. "Anak-anak, nanti ujian tulis mata pelajaran Penjaskes ditiadakan, sesuai surat edaran pemerintah," kata si guru, panitia pelaksana ujian. "Pak, majukan saja mata ujian hari terakhir ke waktu Penjaskes agar selesainya ujian lebih cepat!" usul para siswa. Ternyata reaksi guru yang menjadi panitia ujian, "Bapak yang berkuasa dalam menentukan waktu ujian, bukan kalian!" Mendengar kata-kata guru seperti itu, siswa hanya mampu menyuarakan "wuuu...." yang panjang secara serentak.

Contoh lain dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah, seorang anak menyampaikan sejumlah informasi yang didapatnya dari internet berkaitan dengan materi pelajaran. "Itu tidak betul!" kata guru dengan berupaya menjaga wibawa dirinya sendiri. Kreativitas anak dilenyapkan begitu saja tanpa mempertimbangkan sisi pedagogi.

Kondisi seperti dua contoh tersebut bukan saja berdampak kurang baik pada anak yang telah menunjukkan berpikir kreatif, juga kepada anak-anak yang lain. Cara komunikasi guru seperti itu akan mematikan berpikir kreatif anak, baik yang akan tumbuh maupun sedang berkembang. Sangat disayangkan pula pihak guru tidak menghendaki adanya dialog atau sedikit diskusi dengan anak untuk mencari titik temu. Proses berpikir kreatif pada anak dicemooh begitu saja demi wibawa guru (?). Yang kreatif saja dicemooh, apalagi si anak itu kritis.

 

Kreatif dan Kritis

Berpikir kreatif dan kritis bagaikan sisi mata uang sebagaimana konsep yang dikemukakan oleh Elaine. Elaine pun mengandaikan, pikiran kreatif merancang kostum untuk digunakan dalam pementasan sandiwara sekolah. Selanjutnya, pikiran kritis memastikan kainnya cocok dan jahitannya kuat.

Ditegaskan Elaine, seluruh manusia adalah pemikir kreatif dan kritis. Tegasnya, kemampuan berpikir kreatif dan kritis bukan milik anak tertentu saja. Saat anak memperbaiki, menggunakan, dan meningkatkan kapasitas mereka untuk melakukan keduanya, mereka meningkatkan kesempatan untuk memperkaya -- tidak hanya kehidupan mereka sendiri, melainkan juga -- kehidupan masyarakat dan sebagai anggota dari ekosistem bumi.

Untuk mencapai semua itu, Elaine mengusulkan kepada guru untuk menggunakan sistem pembelajaran kontekstual. Pendidikan berarti belajar menggunakan pikiran dengan baik, bukan jejalan hapalan.

Mengingat berpikir kreatif dan berpikir kritis bisa dilatihkan, maka guru (sekolah) perlu mencari upaya agar keduanya bisa terwujud, walau tidak mudah. Dari mana memulai? Dalam dunia pendidikan (sekolah) tentulah memulainya dari pihak guru. Sedangkan di rumah pastilah memulainya dari orangtua -- guru rupaka. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, tentu peran pemerintah sangat penting lewat sistem pendidikan dan menyediakan anggaran yang cukup.

Janganlah anak dibesarkan dengan cemoohan jika mengharapkan mereka menjadi anak yang kreatif dan kritis. Kata Dorothy Nolte, "Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika ia dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri..."

 

* i.g.k. tribana

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com