Mengapa Anak Terlambat Bisa Bicara?
ANAK
adalah sebuah anugerah yang dinanti-nantikan orangtua.
Kehadirannya ke dunia ini begitu berarti hingga orang ua mau
mempertaruhkan apa saja demi kehadirannya. Fenomena bayi tabung,
operasi caesar, bahkan polemik cloning merupakan sebagian saja
dari keinginan orangtua yang sangat mendambakan kehadiran anak.
Berbahagia sekali bagi orangtua yang dianugerahkan
anak tanpa melalui proses tersebut. Namun, apa jadinya ketika
dalam masa tumbuh kembang anak itu tidak seperti anak-anak pada
umumnya? Misalnya saja anak itu mengalami cacat fisik dan mental,
atau mengalami perkembangan kepribadian yang tidak biasa?
Anak-anak yang mengalami keterbelakangan atau cacat
mental dan fisik telah sejak lama menjadi perhatian dan ditangani
secara serius oleh pemerintah atau pihak swasta terkait. Mereka
berada dalam wadah organisasi yang menampung dan mengarahkan
anak-anak itu dengan beragam pendidikan, dengan tujuan, agar dapat
mandiri dan kalau mungkin mampu bermanfaat bagi dirinya serta
keluarganya.
Yayasan Pendidikan untuk Anak Cacat (YPAC) dan
Sekolah Luar Biasa (SLB) hanya sebagian saja dari usaha serius
pemerintah dan organisasi sosial dalam rangka menangani anak-anak
tersebut. Masih ada lagi organisasi lainnya yang mengurusi
anak-anak seperti organisasi sosial untuk anak jalanan, anak
nakal, anak terlibat narkoba, dan sebagainya.
Sayangnya, sampai sejauh ini masih sedikit sekali
lembaga yang memfokuskan kegiatan untuk anak-anak yang bermasalah
dalam hal belajar. Streotipe dan labelisasi dengan menyebut anak
malas, nakal, keras kepala, yang berlangsung sampai sekarang di
negeri ini sebenarnya menunjukkan ketidaktahuan dan kurangnya
informasi mengenai permasalahan yang dihadapi anak-anak zaman
sekarang yang makin kompleks.
Baru-baru ini muncul istilah baru yang masih sangat
samar bagi umumnya orang tua, yakni autisme. Tidak begitu jelas
bagaimana bentuk autisme yang diderita anak-anak itu sesungguhnya
karena literatur yang mengulasnya masih sangat langka dan begitu
pula dengan para ahlinya. Artinya, yang terjadi adalah salah
kaprah. Anak yang dalam masa tumbuh kembang hanya asyik dengan
dunianya sendiri, tidak merespons lingkungannya yang tidak menarik
minatnya, dan tampak memiliki aktivitas yang tidak umum bagi
anak-anak seusianya, dengan begitu didiagnosa sebagai anak autis.
Persoalan inilah yang diulas di "Anakku Terlambat
Bicara" tulisan Julia Maria van Tiel, terbitan Prenada dengan
tahun terbit pertama Februari 2007. Hal-hal yang dipersoalkan pada
awal tulisan ini dialami seorang ibu sekaligus penulis buku
"Anakku Terlambat Bicara" ini. Anaknya, diprognosa dan didiagnosa
sebagai anak autis berdasarkan ciri-ciri umum yang diyakini
kebanyakan orang, yakni asyik dengan dirinya dan dunianya sendiri.
Sang anak, Johan, bisa berjam-jam terfokus pada
suatu permainan saja. Lebih jauh lagi, Johan, mengalami
keterlambatan bicara dibandingkan anak seusianya. Namun di sisi
lain, ia memiliki perkembangan motorik yang sangat pesat,
khususnya motorik kasarnya, sehingga ia terkesan seperti anak yang
tidak mau diam. Atau kebanyakan orang menyebutnya anak hiperaktif.
Tak mudah bagi seorang Julia Maria van Tiel
menerima sebutan bahwa anaknya, Johan flores, mengalami
perkembangan yang tidak normal, tidak seperti anak pada umumnya.
Background-nya sebagai seorang dokter gigi dan meraih gelar Doktor
dalam bidang Antropologi Kesehatan menjadi bekal baginya untuk
lebih jauh menelusuri misteri yang dialami anaknya. Melalui
berbagai literatur yang dibacanya, kenalan orthopedagong, dan
kegiatan diskusinya dengan kelompok orang tua yang memiliki anak
yang mengalami perkembangan tidak seperti pada umumnya. Akhirnya,
dia temukan jawaban dari misteri yang selama ini menggelayuti
kepalanya.
Berbakat
Positif
Johan Flores bukanlah seorang anak penderita autis
sebagaimana yang diagnosa sebelumnya. Johan adalah seorang gifted
children atau anak berbakat positif yang memiliki kemampuan
intelektual yang tinggi. Namun, di suatu sisi tertentu dia
mengalami kesulitan dan tidak mampu berprestasi sehingga terkesan
seperti anak yang tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan
oleh gurunya, tidak kreatif, keras kepala, tindak tunduk terhadap
perintah, seringkali mengejutkan gurunya, dan terkesan hyperactive
karena terlalu banyak bergerak dan tidak bisa berkonsentrasi.
Kenyataan ini menjadikan dilema bagi sang Ibu: Benarkah Johan
memiliki kemampuan intelegensia yang tinggi atau sebaliknya?
Setelah ditelusuri dengan seksama, Julia Maria,
menyimpulkan bahwa anaknya mengalami gangguan keterlambatan bicara
yang menjadi penyebab utama baginya untuk mengungkapkan
pikiran-pikiran sehingga seringkali Johan frustrasi dan tidak mau
melakukan apa-apa. Menurut buku yang pernah dibacanya menuliskan
bahwa "jika anak terlambat bicara, bahkan belum bisa bernyanyi di
usianya yang ketiga, bisa jadi anak tersebut mengalami
keterbelakangan atau hambatan perkembangan intelegensia".
Tapi, Johan sudah bisa berbicara dan bernyanyi
ketika usia satu tahun, lalu mengalami kemunduran perkembangan. Di
sisi lain Johan mengalami perkembangan motorik yang sangat pesat.
Kembali permasalahan menggumpal bagai benang kusut. Tidak mudah
memang mengidentifikasikan kelainan pada anaknya yang begitu
spesifik. Diperlukan waktu, kesabaran, ketabahan, pengetahuan,
berinteraksi dengan para orang tua yang memiliki masalah sama,
menggali informasi sebanyak-banyaknya, baik kepada para ahli dan
literatur yang ada, dan pengamatan saksama terhadap anak.
Akhirnya, jerih payah seorang Julia Maria terjawab
dalam tulisannya yang terangkum diberi judul "Anakku Terlambat
Bicara" ini. Tulisan yang sangat menyentuh ini akan membawa
pembaca seolah mengalami sendiri peristiwa-peristiwa sehari-hari
bersama anak tercinta. Tulisannya merupakan peristiwa sehari-hari
yang mengalir lancar tanpa hambatan seperti detik-detik waktu
mengalir deras yang dilalui bersama anaknya.
Istilah-istilah psikologis dan kedokteran yang
membingkai tulisan ini, tidak serta merta membuat tulisan ini
terkesan eksklusif, karena selalu terdapat uraian-uraian yang
memudahkan pemahaman bagi khalayak pembaca umum. Dokter, perawat,
guru, dan therapis anak, pihak yang terkait dan peduli dengan
tumbuh kembang anak, dianjurkan untuk menikmati membaca buku
perjuangan seorang ibu demi anaknya ini. Agar tidak terjadi
kesalahan diagnosis dan kesalahan penanganan sebagaimana yang
sudah sering terjadi, yang hanya akan merugikan masa depan anak
itu sendiri.
* abdul
rohim