Yang Dikalahkan: Bunda Calonarang (3)
Menggali Tertipu Kebudayaan Lelaki, Spada
Manggali datang Tepat Waktu...
PERKAWINAN
apakah yang terjadi antara Bahula dengan
Manggali? Kita belum punya nama untuk jenis perkawinan seperti
itu. Bukan cinta yang menyebabkan Bahula merayu Manggali. Tapi
motif terselubung yang sangat dirahasiakannya: mencuri.
Tidak main-main, yang hendak dicurinya adalah
rahasia kesaktian ibunya Manggali, seorang Bunda Calonarang
yang ditakuti karena beliau adalah seorang Durga Murti Sakala.
Apalagi yang dilakukan pencuri kalau bukan
berpura-pura. Dan kepura-puraan Bahula nyaris sempurna.
Manggali sekuntum mawar mekar harum di atas batu, merasa
menemukan kumbang yang dinantinya. Dengung kumbang itu saja
sudah membuatnya ingin dibuahi. Apalagi ketika kumbang hinggap
di merah mulus warnanya, dan menciumi semerbak serbuk
putih-putiknya. Yang menanti dengan yang dinantikan tidaklah
berbeda. Keduanya hanya dipisahkan sebuah upacara dewasaksi
dan manusiasakti, yang belum diselenggarakan.
Maka di hadapan Bunda Calonarang yang bercahaya
kebiru-biruan bagai Ratu Bherawi, keduanya bersimpuh memandang
ujung jari kaki beliau. Bahulu menyatakan tekadnya menjadi
suami bagi Manggali, dan menjadi menantu yang bhakti bagi
Bunda Mertua Calonarang. Manggali menyatakan saatnya sudah
tiba baginya diwisuda menjadi seorang perempuan yang bertugas
mengasuh lelaki. Ikatan tali tresna yang ada di antara mereka
sangat kuat, bagai ditarik ujung-ujungnya oleh Bhuta Kala.
Ujung kanan ditarik Kala menuju keabadian. Ujung kiri ditarik
oleh Bhuta menuju tanah di mana ada kematian. Dengan metafora
itu Manggali meyakinkan Bunda Air Susu Hidupnya bahwa cintanya
abadi sampai mati.
Tidak ada yang tahu, ketika itu Bunda
Calonarang yang sakti mandraguna tak kuasa menahan butir-butir
air mata. Keterharuan bagi badai menyesakkan dada beliau.
Bahula dan Manggali yang menunduk, tak tahu butir-butir air
mata itu meleleh di kedua pipi Bunda Calonarang, yang segera
dihapus dengan jari-jari berkuku panjangnya. Akhirnya kehendak
Hyang Widhi terjadi juga. Ia akan segera menjadi seorang ibu
mertua. Dan mungkin tak lama lagi akan diwisuda oleh kehidupan
yang kembali ramah menjadi seorang nenek. Aliran sungai hidup
ini tidak akan macet, seperti yang ditakutinya. Bunda
Calonarang yang keras dan beku bagai cadas batu kuburan di
laut, meleleh mencair hangat dan jernih. Sudah lama dalam
hidupnya tidak ada yang namanya lelaki. Kini seorang lelaki
datang sendiri ke dalam rumahnya, berwajahkan seorang menantu.
Lupa dan lengah adalah sifat manusia, sekali
pun si manusia itu kelas supersakti. Bunda Calonarang sedikit
pun tidak menangkap aura kepura-puraan pada wajah dan sekujur
kulit Bahula yang terbungkus baju putih kain putih bagai
seorang pandita muda. Keinginan, harapan, penantian, senang,
dan bangga telah membuat beliau yakin dirinya bukanlah
sebatang pohon yang bunganya ditolak pencari keindahan. Atau,
barangkali bukan lupa, bukan lengah. Mungkin beliau sadar,
tapi karena percaya dengan kesaktiannya, beliau izinkan
keduanya menjadi suami-istri. Beliau izinkan keduanya
bersenggama asmara badan di bawah atap rumah yang sama, tempat
dirinya tidur malam-malam sehabis pemujaan. Beliau mungkin
berpikir, kelak ia akan mampu mengubah kepura-puraan menjadi
kepatuhan. Kita tidak diberitahu mana yang benar. Dalam setiap
cerita selalu ada yang disembunyikan.
Perkawinan itu pun terjadi. Pintu telah terbuka
bagi Bahula untuk memperalat isterinya. Peluang sudah ada bagi
Bahula untuk mengkhianati bunda mertuanya. Tak lama lagi,
Bahula akan berhasil mencuri rahasia kesaktian bunda
mertuanya, yang selanjutnya akan ia persembahkan sebagai
kemenangan misi perkawinan kepada Mpu Bharadah, aktor
intlektual yang merancang strategi perang teknik asmaragama.
Maka hanya masalah waktu, akan pecah perang antara dua besan.
Dan perang itu bukan main-main. Tapi adu kedigjayaan.
Memamerkan ketinggian ilmu masing-masing perguruan. Dendam
ajaran telah menurun pada orang-orang yang mempelajarinya.
Di manakah Cinta dalam Bharadahcarita? Lalu
lintas kebencian sangat padat, dan menimbulkan kemacetan
komunikasi manusiawi di sana sini. Kebencian dimodifikasi
menjadi pembunuhan karakter, pembunuhan tubuh, pengentasan
nyawa, penyebaran penyakit pikiran, pembalasan dendam. Dalam
situasi gelap seperti itu, kita diberitahu bahwa Mpu Bharadah
sendiri membenarkan model perkawinan Bahula-Manggali, bahkan
beliau sendiri yang merancangnya. Bujuk dan rayulah Manggali,
kawinilah tubuhnya, bujuk logikanya, peralat kekerabatannya,
dan setelah itu tinggalkan kalau merayu, tak perlu sedu sedan
itu, buang dari kumpulannya.
Rupanya ada yang lebih tinggi dari Cinta, dan
itu adalah Kemenangan. Dewa Cinta harus mati dengan Kemenangan
Dewa Tertinggi, begitu dalam mitologinya. Untuk sebuah
kemenangan, ilmu musuh harus dicuri. Untuk itu, kelemahan
manusia berupa perasaan cinta harus diperalat.
Dalam banyak kakawin, kemenangan itu disebut
wijaya. Wijaya dijelaskan sebagai pertemuan dua lawan jenis
dalam lembaga suci bernama perkawinan. Kemenangan bukan hanya
ketika musuh mati dan darahnya diminum kemudian mayatnya
dimutilasi, tapi juga ketika penganugerahan berikutnya berupa
perkawinan antara yang berhasil mematikan musuh dengan
Kecantikan, Keindahan, Kelembutan, Keibuan, berbentuk seorang
puteri. Itulah kemenangan! Itulah Wijaya. Di antara puluhan
karya berjudul Wijaya, yang paling sering disebut sebagai
contoh adalah Arjunawijaya. Arjuna menang melawan musuh, dan
setelah itu barulah perkawinan dengan bidadari menyusul
sebagai hadiah. Bahula beda. Hadiah perkawinan dulu, setelah
itu barulah berperang mencuri ilmu musuh.
Mungkin itu sebabnya, cerita Calonarang tidak
disebut Bahulawijaya, atau Bharadahwijaya. Bahula sesungguhnya
tidak mendapatkan apa-apa. Tidak mendapatkan cinta, tidak
mendapatkan istri, tidak mendapatkan mertua, tidak juga
mendapatkan kesaktian Bunda Calonarang. Ia tidak bisa disebut
pemenang hanya karena berhasil menipu Manggali. Bharadah juga
bukan pemenang. Karena tidak ada perkawinan antara Bunda
Calonarang dengan Bharadah pada akhir cerita. Yang satunya
duda dan yang satunya lagi janda. Tidak ada pemenang. Tidak
ada wijaya. Ruwat bukanlah kemenangan, tapi gagasan
membebaskan orang dari kalah dan menang. Yang ada hanyalah
bekas-bekas dan sisa-sisa kebencian dalam bentuk kehancuran.
Itulah sisi lain dari Cinta, bernama Benci. Yang mencinta dan
yang membenci, pikirannya tertuju pada objek yang sama, yaitu
yang dibenci atau yang dicintainya.
Bharadah ada pada sisi yang terang. Bunda
Calonarang ada pada sisi yang gelap. Kedua tidak bisa bertemu
karena sama-sama teguh dan kukuh. Keduanya dipertemukan oleh
yang tidak terang dan yang tidak gelap. Itulah Bahula dan
Manggali. Pasangan ini tidak sama dengan Romeo & Juliet. Beda
dengan Jayaprana Layonsari. Lain dengan Sam Pek Ing Tai. Jauh
dari kemegahan Rama dan Sita. Apalagi Kama dan Ratih.
Karena Bahula dan Manggali membangun rumah
tangga bukan untuk diri mereka. Mereka ada untuk gagasan besar
yang berhubungan dengan kemenangan yang Putih melawan yang
Hitam, yang terang melawan yang gelap. Kita tidak tahu
bagaimana nasib Manggali selanjutnya. Apalagi ia memperoleh
keturunan dari petualang-ilmu bernama Bahula? Apakah ia
selanjutnya mempelajari koleksi lontar bundanya? Apakah
cintanya pada satu-satunya lelaki yang menidurinya
berbalik menjadi dendam?
Mungkin Manggali tidak tahu dirinya ditipu.
Karena ketidaktahuan itu ia bebas dari dendam. Mungkin ia
ikhlas, karena suaminya berkata akan kembali ke kampung untuk
mendharmabhaktikan pengetahuannya kepada masyarakat. Mengabdi
demi pembebasan masyarakat dari sakit pikiran. Mungkin
Manggali masih terus menanti, karena suaminya berjanji kelak
bila dunia sudah ajeg, ia akan kembali segelas dan sepiring
berdua dalam rumah-maya dewasaksi dan manusiasaksi.
Kita sungguh tidak tahu, bagaimana nasib
Manggali. Dalam tema besar Kemenangan Ajaran, penantian
seorang perempuan-Manggali tidak mendapatkan tempat untuk
diceritakan dan dipikirkan! Karena itu, jangan lupakan! Apa
yang membuat ibunya menjadi seorang Bunda Calonarang, juga
dialami Manggali. Ia ditipu oleh kebudayaan lelaki.
Tapi, saya yang menulis catatan ini yakin,
Manggali tidak akan menjadi Bunda Calonarang. Ia akan menjadi
seorang Ratu Dyah Ratna Manggali Murti yang jauh lebih sakti
dari ibunya.
Waspadalah, Manggali sudah menyelesaikan studi
S-4. Beliau akan datang pada waktunya.
IBM Dharma Palguna