kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 3 Juni 2007 tarukan valas
 

APRESIASI


Yang Dikalahkan: Bunda Calonarang (3)

Menggali Tertipu Kebudayaan Lelaki, Spada Manggali datang Tepat Waktu...

PERKAWINAN apakah yang terjadi antara Bahula dengan Manggali? Kita belum punya nama untuk jenis perkawinan seperti itu. Bukan cinta yang menyebabkan Bahula merayu Manggali. Tapi motif terselubung yang sangat dirahasiakannya: mencuri.

Tidak main-main, yang hendak dicurinya adalah rahasia kesaktian ibunya Manggali, seorang Bunda Calonarang yang ditakuti karena beliau adalah seorang Durga Murti Sakala.

Apalagi yang dilakukan pencuri kalau bukan berpura-pura. Dan kepura-puraan Bahula nyaris sempurna. Manggali sekuntum mawar mekar harum di atas batu, merasa menemukan kumbang yang dinantinya. Dengung kumbang itu saja sudah membuatnya ingin dibuahi. Apalagi ketika kumbang hinggap di merah mulus warnanya, dan menciumi semerbak serbuk putih-putiknya. Yang menanti dengan yang dinantikan tidaklah berbeda. Keduanya hanya dipisahkan sebuah upacara dewasaksi dan manusiasakti, yang belum diselenggarakan.

Maka di hadapan Bunda Calonarang yang bercahaya kebiru-biruan bagai Ratu Bherawi, keduanya bersimpuh memandang ujung jari kaki beliau. Bahulu menyatakan tekadnya menjadi suami bagi Manggali, dan menjadi menantu yang bhakti bagi Bunda Mertua Calonarang. Manggali menyatakan saatnya sudah tiba baginya diwisuda menjadi seorang perempuan yang bertugas mengasuh lelaki. Ikatan tali tresna yang ada di antara mereka sangat kuat, bagai ditarik ujung-ujungnya oleh Bhuta Kala. Ujung kanan ditarik Kala menuju keabadian. Ujung kiri ditarik oleh Bhuta menuju tanah di mana ada kematian. Dengan metafora itu Manggali meyakinkan Bunda Air Susu Hidupnya bahwa cintanya abadi sampai mati.

Tidak ada yang tahu, ketika itu Bunda Calonarang yang sakti mandraguna tak kuasa menahan butir-butir air mata. Keterharuan bagi badai menyesakkan dada beliau. Bahula dan Manggali yang menunduk, tak tahu butir-butir air mata itu meleleh di kedua pipi Bunda Calonarang, yang segera dihapus dengan jari-jari berkuku panjangnya. Akhirnya kehendak Hyang Widhi terjadi juga. Ia akan segera menjadi seorang ibu mertua. Dan mungkin tak lama lagi akan diwisuda oleh kehidupan yang kembali ramah menjadi seorang nenek. Aliran sungai hidup ini tidak akan macet, seperti yang ditakutinya. Bunda Calonarang yang keras dan beku bagai cadas batu kuburan di laut, meleleh mencair hangat dan jernih. Sudah lama dalam hidupnya tidak ada yang namanya lelaki. Kini seorang lelaki datang sendiri ke dalam rumahnya, berwajahkan seorang menantu.

Lupa dan lengah adalah sifat manusia, sekali pun si manusia itu kelas supersakti. Bunda Calonarang sedikit pun tidak menangkap aura kepura-puraan pada wajah dan sekujur kulit Bahula yang terbungkus baju putih kain putih bagai seorang pandita muda. Keinginan, harapan, penantian, senang, dan bangga telah membuat beliau yakin dirinya bukanlah sebatang pohon yang bunganya ditolak pencari keindahan. Atau, barangkali bukan lupa, bukan lengah. Mungkin beliau sadar, tapi karena percaya dengan kesaktiannya, beliau izinkan keduanya menjadi suami-istri. Beliau izinkan keduanya bersenggama asmara badan di bawah atap rumah yang sama, tempat dirinya tidur malam-malam sehabis pemujaan. Beliau mungkin berpikir, kelak ia akan mampu mengubah kepura-puraan menjadi kepatuhan. Kita tidak diberitahu mana yang benar. Dalam setiap cerita selalu ada yang disembunyikan.

Perkawinan itu pun terjadi. Pintu telah terbuka bagi Bahula untuk memperalat isterinya. Peluang sudah ada bagi Bahula untuk mengkhianati bunda mertuanya. Tak lama lagi, Bahula akan berhasil mencuri rahasia kesaktian bunda mertuanya, yang selanjutnya akan ia persembahkan sebagai kemenangan misi perkawinan kepada Mpu Bharadah, aktor intlektual yang merancang strategi perang teknik asmaragama. Maka hanya masalah waktu, akan pecah perang antara dua besan. Dan perang itu bukan main-main. Tapi adu kedigjayaan. Memamerkan ketinggian ilmu masing-masing perguruan. Dendam ajaran telah menurun pada orang-orang yang mempelajarinya.

Di manakah Cinta dalam Bharadahcarita? Lalu lintas kebencian sangat padat, dan menimbulkan kemacetan komunikasi manusiawi di sana sini. Kebencian dimodifikasi menjadi pembunuhan karakter, pembunuhan tubuh, pengentasan nyawa, penyebaran penyakit pikiran, pembalasan dendam. Dalam situasi gelap seperti itu, kita diberitahu bahwa Mpu Bharadah sendiri membenarkan model perkawinan Bahula-Manggali, bahkan beliau sendiri yang merancangnya. Bujuk dan rayulah Manggali, kawinilah tubuhnya, bujuk logikanya, peralat kekerabatannya, dan setelah itu tinggalkan kalau merayu, tak perlu sedu sedan itu, buang dari kumpulannya.

Rupanya ada yang lebih tinggi dari Cinta, dan itu adalah Kemenangan. Dewa Cinta harus mati dengan Kemenangan Dewa Tertinggi, begitu dalam mitologinya. Untuk sebuah kemenangan, ilmu musuh harus dicuri. Untuk itu, kelemahan manusia berupa perasaan cinta harus diperalat.

Dalam banyak kakawin, kemenangan itu disebut wijaya. Wijaya dijelaskan sebagai pertemuan dua lawan jenis dalam lembaga suci bernama perkawinan. Kemenangan bukan hanya ketika musuh mati dan  darahnya diminum kemudian mayatnya dimutilasi, tapi juga ketika penganugerahan berikutnya berupa perkawinan antara yang berhasil mematikan musuh dengan Kecantikan, Keindahan, Kelembutan, Keibuan, berbentuk seorang puteri. Itulah kemenangan! Itulah Wijaya. Di antara puluhan karya berjudul Wijaya, yang paling sering disebut sebagai contoh adalah Arjunawijaya. Arjuna menang melawan musuh, dan setelah itu barulah perkawinan dengan bidadari menyusul sebagai hadiah. Bahula beda. Hadiah perkawinan dulu, setelah itu barulah berperang mencuri ilmu musuh.

Mungkin itu sebabnya, cerita Calonarang tidak disebut Bahulawijaya, atau Bharadahwijaya. Bahula sesungguhnya tidak mendapatkan apa-apa. Tidak mendapatkan cinta, tidak mendapatkan istri, tidak mendapatkan mertua, tidak juga mendapatkan kesaktian Bunda Calonarang. Ia tidak bisa disebut pemenang hanya karena berhasil menipu Manggali. Bharadah juga bukan pemenang. Karena tidak ada perkawinan antara Bunda Calonarang dengan Bharadah pada akhir cerita. Yang satunya duda dan yang satunya lagi janda. Tidak ada pemenang. Tidak ada wijaya. Ruwat bukanlah kemenangan, tapi gagasan membebaskan orang dari kalah dan menang. Yang ada hanyalah bekas-bekas dan sisa-sisa kebencian dalam bentuk kehancuran. Itulah sisi lain dari Cinta, bernama Benci. Yang mencinta dan yang membenci, pikirannya tertuju pada objek yang sama, yaitu yang dibenci atau yang dicintainya.

Bharadah ada pada sisi yang terang. Bunda Calonarang ada pada sisi yang gelap. Kedua tidak bisa bertemu karena sama-sama teguh dan kukuh. Keduanya dipertemukan oleh yang tidak terang dan yang tidak gelap. Itulah Bahula dan Manggali. Pasangan ini tidak sama dengan Romeo & Juliet. Beda dengan Jayaprana Layonsari. Lain dengan Sam Pek Ing Tai. Jauh dari kemegahan Rama dan Sita. Apalagi Kama dan Ratih.

Karena Bahula dan Manggali membangun rumah tangga bukan untuk diri mereka. Mereka ada untuk gagasan besar yang berhubungan dengan kemenangan yang Putih melawan yang Hitam, yang terang melawan yang gelap. Kita tidak tahu bagaimana nasib Manggali selanjutnya. Apalagi ia memperoleh keturunan dari petualang-ilmu bernama Bahula? Apakah ia selanjutnya mempelajari koleksi lontar bundanya? Apakah cintanya  pada satu-satunya lelaki yang menidurinya berbalik menjadi dendam?

Mungkin Manggali tidak tahu dirinya ditipu. Karena ketidaktahuan itu ia bebas dari dendam. Mungkin ia ikhlas, karena suaminya berkata akan kembali ke kampung untuk mendharmabhaktikan pengetahuannya kepada masyarakat. Mengabdi demi pembebasan masyarakat dari sakit pikiran. Mungkin Manggali masih terus menanti, karena suaminya berjanji kelak bila dunia sudah ajeg, ia akan kembali segelas dan sepiring berdua dalam rumah-maya dewasaksi dan manusiasaksi.

Kita sungguh tidak tahu, bagaimana nasib Manggali. Dalam tema besar Kemenangan Ajaran, penantian seorang perempuan-Manggali tidak mendapatkan tempat untuk diceritakan dan dipikirkan! Karena itu, jangan lupakan! Apa yang membuat ibunya menjadi seorang Bunda Calonarang, juga dialami Manggali. Ia ditipu oleh kebudayaan lelaki.

Tapi, saya yang menulis catatan ini yakin, Manggali tidak akan menjadi Bunda Calonarang. Ia akan menjadi seorang Ratu Dyah Ratna Manggali Murti yang jauh lebih sakti dari ibunya.

Waspadalah, Manggali sudah menyelesaikan studi S-4. Beliau akan datang pada waktunya.

 

IBM Dharma Palguna

 

 
 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com