kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 17 Juni 2007 tarukan valas
 

POTRET


Maria Hartiningsih

DPR Sudah Terlepas dari Situasi Riil Masyarakat

TAMU kita kali ini adalah Maria Hartiningsih, wartawan peraih Yap Thiam Hien Award pada 2003. Menurut Maria Hartiningsih, pemberdayaan perempuan ada kemajuan tapi itu di tingkat formal. Sedangkan situasi di bawah tidak terlalu banyak bergerak. Di situasi bawah, perempuan tidak berani bersuara. Ruang bersuara itu yang harus direbut kalau mau mempunyai keberdayaan politik, dan lainnya. Namun mereka menyerahkan seluruh ruangnya untuk didefinisikan oleh orang lain dan itu persoalan besar. Sebenarnya perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan merupakan perjuangan merebut ruang bersuara, apakah itu dalam bentuk ruang politik dan segala macamnya. Berikut wawancara dengan Maria Hartiningsih.

-------------

 

SEBAGAI wartawan senior, Anda melaksanakan tugas-tugas sangat penting dan menarik sehingga pada 2003 meraih penghargaan Hak Asasi Manusia (HAM) Yap Thiam Hien (YTH). Bagi banyak orang, tentu penghargaan itu merupakan suatu pengakuan, juga mengubah hidup. Apa artinya penghargaan YTH bagi Anda?

Tidak ada perubahan yang berarti sesudah saya mendapatkan YTH. Saya malah merasa agak terbebani dengan penghargaan seperti itu. Dari awal saya sudah merasakan atau melihat bahwa ini jalan hidup saya. Tentu saja saya senang dengan penghargaan YTH, tetapi itu bukan segala-galanya dan saya tetap di jalan ini. Itu mungkin karena sekarang saya makin tua. Kata orang, kalau makin tua maka lebih strategis dan lebih tahu bagaimana cara melawan. Kalau dulu saya seperti orang membawa senjata, sekarang saya bisa lebih tenang tetapi saya tetap ada di situ. Saya bersyukur karena punya waktu bisa berkumpul dengan intelektual dari banyak negara. Kemudian saya kembali bekerja dengan pengetahuan yang baru dan mengetahui persis bagaimana cara mengemukakan dan mengungkapkan sesuatu yang berbeda dari yang lain tapi dengan cara yang sangat elegan.

 

Anda bisa menulis dengan sangat detail mengenai masalah-masalah yang juga sangat detail seperti pariwisata dan perumahan. Pun Anda bisa menangkap aspek-aspek yang sangat humanistik di situ. Mengapa Anda masih sabar terhadap detail tapi selalu bisa mencari gambar besarnya?

Itu karena tidak mungkin sebuah gambar besar bisa dilihat kalau tidak melalui detail. Kita agak sulit kalau hanya berbicara di tingkat ide, wacana yang besar-besar, tapi kita tidak menukik ke dalam. Banyak orang meninggalkan detail. Misalnya berbicara mengenai kemiskinan, pemerintah menyatakan sekarang tingkat kemiskinan sudah turun. Kalau kita melihat gambaran besar menunjukkan pertumbuhan ekonomi bagus, semuanya bagus, gambaran bagus. Tunggu dulu, ada orang yang sama sekali tidak bisa makan. Jadi bagaimana mungkin kita bisa berbicara seperti orang-orang di DPR tentang segala macam yang besar, tapi ternyata sebenarnya mereka sama sekali terlepas dari situasi riil masyarakat.

 

Bagaimana selama berpuluh-puluh tahun Anda bisa fokus pada detail tapi juga selalu menangkap gambar besarnya. Apakah ada peralihan seperti dulu sewaktu awal lebih banyak ke detail sekarang lebih ke abstrak?

Ada satu masa saya juga terperosok ke pseudo-intellectual. Itu juga yang kemudian membuat saya seperti terkesima. Saya kok seperti ini. Kemudian saya seperti diingatkan lagi bahwa saya seharusnya bukan di situ. Saya harus kembali kepada detail karena itu justru lapangan yang membuat saya hidup sampai saat ini. Kalau saya berangkat ke lapangan, saya tidak peduli walau ada orang yang selalu mengatakan senior kok masih turun ke lapangan. Saya pikir wartawan hidup karena dia ada di lapangan dan dia mengetahui detail persoalan. Kalau dia hanya kira-kira menganalisa itu pekerjaan orang lain.

 

* * *

 

APA liputan yang Anda sedang kerjakan?

Saya baru saja kembali dari Jepara bersama sahabat saya, Ninuk Mardiana. Di sana, kami menemukan banyak terjadi kawin kontrak yang merupakan seluruh bangunan persoalan Jepara saat ini. Wilayah itu sebenarnya sangat maju secara ekonomi, kaya sumber daya, dan sebentar lagi akan ada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Sebenarnya persoalan yang  terjadi itu sudah banyak orang mengetahuinya, tapi ketika kita mengungkapkannya menimbulkan kemarahan orang di Jepara.

 

Apa kawin kontrak itu?

Dalam pengertian, di suatu tempat di mana ada pertumbuhan ekonomi yang sangat baik, sumber daya yang luar biasa, selalu akan muncul orang-orang dari luar datang untuk mengambil sumber daya atau mereka ikut berusaha mendapatkan keuntungan dari sumber daya dan kemudian memakai dalam tanda petik orang-orang lokal menjadi bumper. Kita dulu selalu mengatakan mereka Ali Baba. Orang Indonesia yang harus ada di depan, di belakangnya orang asing. Modusnya macam-macam dan sebenarnya sekarang sudah semakin jelas. Artinya, tidak harus ada kata kontrak dan memang mereka menikah seperti layaknya orang pada umumnya.

 

Apakah kawin kontrak itu kawin sementara?

Iya. Itu terjadi di mana-mana dan saya kira kami tidak mengungkap keburukan itu. Kami mencoba melihat, itu posisi perempuan dari masa ke masa. Jepara itu ironis. Di sana ada Ratu Shima dan Ratu Kalinyamat. Kalau Ratu Shima legendaris, sedangkan Ratu Kalinyamat ada di buku sejarah. Dia ratu yang sangat pemberani, lalu ada Raden Ajeng Kartini.

 

Apakah itu legenda atau kira-kira nyata?

Dalam sejarah itu fakta. Pada tahun 1500-an, Ratu Kalinyamat mengalahkan Portugis. Mengalahkan dalam pengertian, Portugis tidak kalah, tetapi tidak mau lagi masuk ke sini karena ada Ratu Kalinyamat. Dia pergi ke Malaka untuk menyerang Portugis. Dulu, para perempuan di sana hebat luar biasa, namun kini mereka di sana menjadi tukang amplas dan kerja kasar.

 

Jadi, mereka malah turun keberdayaannya?

Saya pikir iya dan tidak berani bersuara. Tak berani bersuara itu yang utama karena bagaimana pun ruang bersuara itu yang harus direbut kalau mau punya keberdayaan politik. Namun mereka menyerahkan seluruh ruangnya untuk didefinisikan oleh orang lain dan bagi saya itu persoalan besar.

 

Apakah itu pengecualian atau kasus umum wanita di daerah-daerah di Indonesia?

Kasus umum. Memang secara budaya mereka terbisukan. Sebenarnya perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan yang sekarang orang mengatakannya equality dan segala macamnya merupakan perjuangan merebut ruang bersuara dalam bentuk ruang politik dan segala macamnya. Saya lihat perempuan itu bukan dalam jenis kelamin, tetapi dalam jenis kelas sosial. Artinya, dalam kelompok yang termarginalkan.

 

Dari segi publisitas, kita melihat ada kemajuan dalam gerakan jender perempuan. Apakah masalahnya mereka belum sampai menyentuh persoalan, atau kontra produktif, atau kurang relevansinya?

Ada kemajuan, tapi masih di tingkat formal. Artinya, orang banyak berjuang untuk advokasi di tingkat formal seperti menginginkan jatah untuk perempuan anggota DPR 30%. Tetapi sebenarnya seluruh situasi di bawah tidak terlalu bergerak banyak. Kalau kita pergi ke daerah-daerah, kita menemukan bintang-bintang yang bersinar, para perempuan yang tercerahkan. Mereka mungkin tidak bertitel, tetapi sangat tercerahkan dan berani mendobrak. Di Jepara juga kita menemukan beberapa orang seperti itu, tapi memang harus berhadapan pada sebuah sistem yang luar biasa dominan, sangat berkuasa dan sangat menindas.

 

Apa kira-kira yang membedakan satu masyarakat di mana perempuannya secara mendasar itu maju, dan yang tertekan terus walaupun kelihatannya maju?

Ada yang namanya kesadaran semu, seakan-akan kita maju tapi sebenarnya tidak.

 

Indonesia pernah punya perempuan yang mencapai kedudukan lebih tinggi daripada yang diidam-idamkan oleh Amerika, yaitu presiden perempuan. Bagaimana pengalaman dari adanya perempuan presiden atau menteri?

Itu bukan indikator bahwa kita sudah hebat. Kalau saya ingat ketika perempuan ada di kedudukan itu, saya sedih. Itu karena ada statemen dari orang-orang besar perempuan yang mengatakan saya saja bisa, mengapa yang lain tidak bisa seperti saya. Saya bisa saja punya begitu banyak privilege, tapi untuk yang lain tidak mempunyainya. Saya selalu mengatakan kenapa orang tidak berani mengatakan, misalnya, kalau saya menikah itu karena pilihan, bukan karena saya terpaksa. Kalau saya tidak menikah karena pilihan saya. Tapi saya tidak bisa mengatakan orang lain tidak mempunyai kemewahan itu.

 

* * *

 

SOAL perkembangan umum kenegaraan dari kedua jender sebelum YTH atau sebelum 1998 sampai sekarang. Apakah akibat gerakan perempuan yang tidak maju, maka negaranya juga tidak maju?

Tidak bisa juga dikatakan tidak maju, ada yang maju, ada yang tidak. Tetapi secara keseluruhan, sebenarnya saya ingin optimis walaupun banyak menjumpai fakta hanya jargon-jargon saja. Misalnya, ada kelompok-kelompok yang menggunakan jargon-jargon human right, equality before the law, kesetaraan laki-laki dan perempuan, padahal sebenarnya disandera oleh sebuah kelompok atau kelompok lain untuk kepentingan politik mereka. Jadi, sedih juga ketika orang mengatasnamakan rakyat sebenarnya tidak sungguh-sungguh atas nama rakyat, tapi itu lebih untuk kepentingan partainya, kelompoknya.

 

Apakah kalau yang di DPR itu menggemaskan karena dari segi proses tidak bisa dipungkiri memang demokrasi?

Tunggu dulu, itu bukan demokrasi substansial karena masih demokrasi institusional. Ini karena kita tidak pernah mau mempersoalkan atau mencoba melihat, misalnya faktor money politics. Itu luar biasa buat saya. Yang sekarang demokrasi itu institusinya saja, tetapi substansi demokrasi itu tidak pernah terjadi, paling tidak sampai sekarang belum tercapai masih jauh. (*)

 

------------------------

PERSPEKTIF BARU dimuat sebagai sindikasi 12 koran se-Indonesia, berupa transkrip wawancara radio yang disiarkan sindikasi ratusan stasion radio melalui Jaringan Radio KBR 68 H dan Global FM Bali, Prima FM Banda Aceh, Maya Pesona FM Mataram, Andika FM Kediri, DPFM Palembang, Pahla Budi Sakti Serang, Gita Lestari Bitung, Poliyama FM Gorontalo, Mustika FM Banjarmasin, Bravo FM Palangkaraya, Gemaya FM Balikpapan, Lesitta FM Bengkulu, Zoo FM Batam, Star Radio Tangerang,  BQ FM Balikpapan, Gema Mahasiswa FM Purwokerto, Andalas FM Lampung, DiNo FM Samarinda, Strata FM Pare-Pare, Radiorama Cirebon.

PERSPEKTIF BARU ONLINE          : http://www.perspektifbaru.com

E-mail                                       : yayasan@perspektifbaru.com

Hak cipta pada Yayasan Perspektif Baru, faks. (021) 722-9994, telp. (021) 727-90028 (hunting)

--------------------

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com