Maria Hartiningsih
DPR Sudah Terlepas dari Situasi Riil Masyarakat
TAMU kita kali ini adalah Maria
Hartiningsih, wartawan peraih Yap Thiam Hien Award pada 2003.
Menurut Maria Hartiningsih, pemberdayaan perempuan ada kemajuan
tapi itu di tingkat
formal. Sedangkan situasi di bawah tidak
terlalu banyak bergerak. Di situasi bawah, perempuan tidak berani
bersuara. Ruang bersuara itu yang harus direbut kalau mau
mempunyai keberdayaan politik, dan lainnya. Namun mereka
menyerahkan seluruh ruangnya untuk didefinisikan oleh orang lain
dan itu persoalan besar. Sebenarnya perjuangan untuk mendapatkan
kesetaraan merupakan perjuangan merebut ruang bersuara, apakah itu
dalam bentuk ruang politik dan segala macamnya. Berikut wawancara
dengan Maria Hartiningsih.
-------------
SEBAGAI wartawan senior, Anda melaksanakan
tugas-tugas sangat penting dan menarik sehingga pada 2003 meraih
penghargaan Hak Asasi Manusia (HAM) Yap Thiam Hien (YTH). Bagi
banyak orang, tentu penghargaan itu merupakan suatu pengakuan,
juga mengubah hidup. Apa artinya penghargaan YTH bagi Anda?
Tidak ada perubahan yang berarti sesudah saya mendapatkan YTH.
Saya malah merasa agak terbebani dengan penghargaan seperti itu.
Dari awal saya sudah merasakan atau melihat bahwa ini jalan hidup
saya. Tentu saja saya senang dengan penghargaan YTH, tetapi itu
bukan segala-galanya dan saya tetap di jalan ini. Itu mungkin
karena sekarang saya makin tua. Kata orang, kalau makin tua maka
lebih strategis dan lebih tahu bagaimana cara melawan. Kalau dulu
saya seperti orang membawa senjata, sekarang saya bisa lebih
tenang tetapi saya tetap ada di situ. Saya bersyukur karena punya
waktu bisa berkumpul dengan intelektual dari banyak negara.
Kemudian saya kembali bekerja dengan pengetahuan yang baru dan
mengetahui persis bagaimana cara mengemukakan dan mengungkapkan
sesuatu yang berbeda dari yang lain tapi dengan cara yang sangat
elegan.
Anda bisa menulis dengan sangat detail mengenai masalah-masalah
yang juga sangat detail seperti pariwisata dan perumahan. Pun Anda
bisa menangkap aspek-aspek yang sangat humanistik di situ. Mengapa
Anda masih sabar terhadap detail tapi selalu bisa mencari gambar
besarnya?
Itu karena tidak mungkin sebuah gambar besar bisa dilihat kalau
tidak melalui detail. Kita agak sulit kalau hanya berbicara di
tingkat ide, wacana yang besar-besar, tapi kita tidak menukik ke
dalam. Banyak orang meninggalkan detail. Misalnya berbicara
mengenai kemiskinan, pemerintah menyatakan sekarang tingkat
kemiskinan sudah turun. Kalau kita melihat gambaran besar
menunjukkan pertumbuhan ekonomi bagus, semuanya bagus, gambaran
bagus. Tunggu dulu, ada orang yang sama sekali tidak bisa makan.
Jadi bagaimana mungkin kita bisa berbicara seperti orang-orang di
DPR tentang segala macam yang besar, tapi ternyata sebenarnya
mereka sama sekali terlepas dari situasi riil masyarakat.
Bagaimana selama berpuluh-puluh tahun Anda bisa fokus pada detail
tapi juga selalu menangkap gambar besarnya. Apakah ada peralihan
seperti dulu sewaktu awal lebih banyak ke detail sekarang lebih ke
abstrak?
Ada satu masa saya juga terperosok ke pseudo-intellectual. Itu
juga yang kemudian membuat saya seperti terkesima. Saya kok
seperti ini. Kemudian saya seperti diingatkan lagi bahwa saya
seharusnya bukan di situ. Saya harus kembali kepada detail karena
itu justru lapangan yang membuat saya hidup sampai saat ini. Kalau
saya berangkat ke lapangan, saya tidak peduli walau ada orang yang
selalu mengatakan senior kok masih turun ke lapangan. Saya pikir
wartawan hidup karena dia ada di lapangan dan dia mengetahui
detail persoalan. Kalau dia hanya kira-kira menganalisa itu
pekerjaan orang lain.
* * *
APA liputan yang Anda sedang kerjakan?
Saya baru saja kembali dari Jepara bersama sahabat saya, Ninuk
Mardiana. Di sana, kami menemukan banyak terjadi kawin kontrak
yang merupakan seluruh bangunan persoalan Jepara saat ini. Wilayah
itu sebenarnya sangat maju secara ekonomi, kaya sumber daya, dan
sebentar lagi akan ada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Sebenarnya persoalan yang terjadi itu sudah banyak orang
mengetahuinya, tapi ketika kita mengungkapkannya menimbulkan
kemarahan orang di Jepara.
Apa kawin kontrak itu?
Dalam pengertian, di suatu tempat di mana ada pertumbuhan ekonomi
yang sangat baik, sumber daya yang luar biasa, selalu akan muncul
orang-orang dari luar datang untuk mengambil sumber daya atau
mereka ikut berusaha mendapatkan keuntungan dari sumber daya dan
kemudian memakai dalam tanda petik orang-orang lokal menjadi
bumper. Kita dulu selalu mengatakan mereka Ali Baba. Orang
Indonesia yang harus ada di depan, di belakangnya orang asing.
Modusnya macam-macam dan sebenarnya sekarang sudah semakin jelas.
Artinya, tidak harus ada kata kontrak dan memang mereka menikah
seperti layaknya orang pada umumnya.
Apakah kawin kontrak itu kawin sementara?
Iya. Itu terjadi di mana-mana dan saya kira kami tidak mengungkap
keburukan itu. Kami mencoba melihat, itu posisi perempuan dari
masa ke masa. Jepara itu ironis. Di sana ada Ratu Shima dan Ratu
Kalinyamat. Kalau Ratu Shima legendaris, sedangkan Ratu Kalinyamat
ada di buku sejarah. Dia ratu yang sangat pemberani, lalu ada
Raden Ajeng Kartini.
Apakah itu legenda atau kira-kira nyata?
Dalam sejarah itu fakta. Pada tahun 1500-an, Ratu Kalinyamat
mengalahkan Portugis. Mengalahkan dalam pengertian, Portugis tidak
kalah, tetapi tidak mau lagi masuk ke sini karena ada Ratu
Kalinyamat. Dia pergi ke Malaka untuk menyerang Portugis. Dulu,
para perempuan di sana hebat luar biasa, namun kini mereka di sana
menjadi tukang amplas dan kerja kasar.
Jadi, mereka malah turun keberdayaannya?
Saya pikir iya dan tidak berani bersuara. Tak berani bersuara itu
yang utama karena bagaimana pun ruang bersuara itu yang harus
direbut kalau mau punya keberdayaan politik. Namun mereka
menyerahkan seluruh ruangnya untuk didefinisikan oleh orang lain
dan bagi saya itu persoalan besar.
Apakah itu pengecualian atau kasus umum wanita di daerah-daerah di
Indonesia?
Kasus umum. Memang secara budaya mereka terbisukan. Sebenarnya
perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan yang sekarang orang
mengatakannya equality dan segala macamnya merupakan perjuangan
merebut ruang bersuara dalam bentuk ruang politik dan segala
macamnya. Saya lihat perempuan itu bukan dalam jenis kelamin,
tetapi dalam jenis kelas sosial. Artinya, dalam kelompok yang
termarginalkan.
Dari segi publisitas, kita melihat ada kemajuan dalam gerakan
jender perempuan. Apakah masalahnya mereka belum sampai menyentuh
persoalan, atau kontra produktif, atau kurang relevansinya?
Ada kemajuan, tapi masih di tingkat formal. Artinya, orang banyak
berjuang untuk advokasi di tingkat formal seperti menginginkan
jatah untuk perempuan anggota DPR 30%. Tetapi sebenarnya seluruh
situasi di bawah tidak terlalu bergerak banyak. Kalau kita pergi
ke daerah-daerah, kita menemukan bintang-bintang yang bersinar,
para perempuan yang tercerahkan. Mereka mungkin tidak bertitel,
tetapi sangat tercerahkan dan berani mendobrak. Di Jepara juga
kita menemukan beberapa orang seperti itu, tapi memang harus
berhadapan pada sebuah sistem yang luar biasa dominan, sangat
berkuasa dan sangat menindas.
Apa kira-kira yang membedakan satu masyarakat di mana perempuannya
secara mendasar itu maju, dan yang tertekan terus walaupun
kelihatannya maju?
Ada yang namanya kesadaran semu, seakan-akan kita maju tapi
sebenarnya tidak.
Indonesia pernah punya perempuan yang mencapai kedudukan lebih
tinggi daripada yang diidam-idamkan oleh Amerika, yaitu presiden
perempuan. Bagaimana pengalaman dari adanya perempuan presiden
atau menteri?
Itu bukan indikator bahwa kita sudah hebat. Kalau saya ingat
ketika perempuan ada di kedudukan itu, saya sedih. Itu karena ada
statemen dari orang-orang besar perempuan yang mengatakan saya
saja bisa, mengapa yang lain tidak bisa seperti saya. Saya bisa
saja punya begitu banyak privilege, tapi untuk yang lain tidak
mempunyainya. Saya selalu mengatakan kenapa orang tidak berani
mengatakan, misalnya, kalau saya menikah itu karena pilihan, bukan
karena saya terpaksa. Kalau saya tidak menikah karena pilihan
saya. Tapi saya tidak bisa mengatakan orang lain tidak mempunyai
kemewahan itu.
* * *
SOAL perkembangan umum kenegaraan dari
kedua jender sebelum YTH atau sebelum 1998 sampai sekarang. Apakah
akibat gerakan perempuan yang tidak maju, maka negaranya juga
tidak maju?
Tidak bisa juga dikatakan tidak maju, ada yang maju, ada yang
tidak. Tetapi secara keseluruhan, sebenarnya saya ingin optimis
walaupun banyak menjumpai fakta hanya jargon-jargon saja.
Misalnya, ada kelompok-kelompok yang menggunakan jargon-jargon
human right, equality before the law, kesetaraan laki-laki dan
perempuan, padahal sebenarnya disandera oleh sebuah kelompok atau
kelompok lain untuk kepentingan politik mereka. Jadi, sedih juga
ketika orang mengatasnamakan rakyat sebenarnya tidak
sungguh-sungguh atas nama rakyat, tapi itu lebih untuk kepentingan
partainya, kelompoknya.
Apakah kalau yang di DPR itu menggemaskan karena dari segi proses
tidak bisa dipungkiri memang demokrasi?
Tunggu dulu, itu bukan demokrasi substansial karena masih
demokrasi institusional. Ini karena kita tidak pernah mau
mempersoalkan atau mencoba melihat, misalnya faktor money
politics. Itu luar biasa buat saya. Yang sekarang demokrasi itu
institusinya saja, tetapi substansi demokrasi itu tidak pernah
terjadi, paling tidak sampai sekarang belum tercapai masih jauh.
(*)
------------------------
PERSPEKTIF BARU
dimuat sebagai sindikasi 12 koran se-Indonesia, berupa transkrip
wawancara radio yang disiarkan sindikasi ratusan stasion radio
melalui Jaringan Radio KBR 68 H dan Global FM Bali, Prima FM Banda
Aceh, Maya Pesona FM Mataram, Andika FM Kediri, DPFM Palembang,
Pahla Budi Sakti Serang, Gita Lestari Bitung, Poliyama FM
Gorontalo, Mustika FM Banjarmasin, Bravo FM Palangkaraya, Gemaya
FM Balikpapan, Lesitta FM Bengkulu, Zoo FM Batam, Star Radio
Tangerang, BQ FM Balikpapan, Gema Mahasiswa FM Purwokerto,
Andalas FM Lampung, DiNo FM Samarinda, Strata FM Pare-Pare,
Radiorama Cirebon.
PERSPEKTIF BARU
ONLINE :
http://www.perspektifbaru.com
E-mail
: yayasan@perspektifbaru.com
Hak cipta pada
Yayasan Perspektif Baru, faks. (021) 722-9994, telp. (021)
727-90028 (hunting)
--------------------