Bumi Intelektual
PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten
Buleleng Selasa (12/6) lalu, sesuai yang diberitakan koran,
berjalan lancar sesuai mekanisme yang berlaku. Berita sejuk dari
daerah yang terlanjur diberi julukan "Bumi Panas" itu,
setidak-tidaknya membahagiakan seluruh masyarakat Bali yang
mendambakan kedamaian, kenyamanan dan harmoni. Bahkan bagi Rubag
dkk., kabar Pilkada Buleleng yang berlangsung mulus tanpa
intimidasi dan kekerasan, jauh lebih menarik dan berarti dibanding
berita tentang penangkapan gembong teroris Abu Dujana di Banyumas,
Jawa Tengah.
Kabar sejuk dari Bali Utara itu sekaligus menjawab imbauan para
konsul negara-negara sahabat yang berkunjung ke Gedung Pers Ketut
Nadha, agar semua pihak perlu ikut terlibat mengajegkan Bali.
Jangan sampai masyarakat Bali, kata mereka, menjadi
"teroris-teroris" akibat kesenjangan sosial.
"Hasil perhitungan suara Pilkada Buleleng belum final, namun siapa
pun pemenangnya kelak, seharusnya memulai tugasnya sebagai kepala
daerah dengan perasaan jengah. Dia dan wakilnya, yang tentunya
putra asli Buleleng, harus bernostalgia ke kondisi Buleleng
sebelum pariwisata menjadi primadona perekonomian Bali. Sebab, di
awal 1960-an, aku iri melihat penampilan anak-anak Buleleng yang
bersekolah di Denpasar, yang tampak lebih 'mengkilap' dibanding
anak-anak lain. Mereka adalah anak-anak saudagar kopi, semaga,
kesuna, tembakau dan sudang lepet, yang lebih dulu akrab dengan
sepeda motor dibanding anak-anak lain yang sebagian besar jalan
kaki atau paling mewah naik sepeda gayung," tutur Rubag mengenang
masa lalu.
"Nostalgia berarti terus menoleh ke belakang untuk melihat masa
lalu. Sayang, leher manusia dirancang hanya untuk menatap ke
depan, samping, atas dan bawah. Kecuali kalau jalan mundur dengan
risiko kaki terantuk batu dan langkah jadi serong ke kiri dan
kanan. Harus dimaklumi, badai kencang globalisasi meniupkan
hedonisme, konsumerisme dan apatisme membuat masa lalu atau
sejarah, bagi kebanyakan orang, seperti mimpi yang tak akan
terulang lagi. Aku khawatir, generasi yang tak sempat menyaksikan
kondisi yang kau tuturkan, justru menganggap diri mereka tidak
punya sejarah, malah sedang membuat sejarah. Sebab, ketika mereka
dilahirkan, semua ladang kesuna, kopi, hingga tembakau lenyap,
sementara kawan-kawan sekampung berduyun-duyun mencari nafkah ke
daerah lain memburu dolar, yen, dan rubel," kilah Bangkrok.
"Kalimat terakhirmu menarik bila dikaitkan dengan keluhan bahwa
banyak Golput atau pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya
pada Pilkada Buleleng. Mirip seperti Pemilu 2004 lalu, jumlah
Golput untuk Pemilu Legislatif melebihi jumlah suara parpol peraih
kursi terbanyak di parlemen, yakni 23,34 persen dari total pemilih
terdaftar. Maka timbul guyonan, Pemilu 2004 dimenangkan Golput dan
kalau diberi kursi di DPR, merekalah peraih kursi terbanyak.
Penyebab dari pengabaian hak pilih tersebut adalah karena alasan
pragmatis, politis dan ideologis. Yang memburu dolar, rubel dan
yen, seperti disinyalemen Bangkrok, adalah para pragmatis.
Kelompok paling berbahaya adalah Golput ideologis yang justru
lahir akibat matinya ideologi, seperti ditesiskan Daniel Bell, "
ujar Jampel.
"Tapi di Buleleng, yang menjadi masalah bukan orang-orang yang
sengaja jadi Golput, namun karena tidak terdaftar sebagai pemilih,
juga kurangnya surat suara. Mudah-mudahan benar seperti kata Ketua
KPU Buleleng, itu terjadi semata-mata akibat kesulitan logistik,
bukan karena rekayasa. Bila direkayasa, maka komplitlah kita
meniru sistem Pemilu Amerika Serikat, seperti sinyalemen Greg
Palast dalam bukunya, 'The Best Democracy Money Can Buy' atau
'Demokrasi Terbaik yang Bisa Dibeli dengan Uang'. Itu kisah
tentang Pemilu tahun 2000 yang penuh politik uang dan penghilangan
hak pilih 58.000 warga Florida oleh Gubernur Florida, Jeb Bush,
agar adiknya Walker Bush bisa naik jadi presiden AS ke-43.
Tindakan serupa konon juga dilakukan para kroni ayah Walker yakni
mantan Presiden Bush Senior di beberapa negara bagian lainnya.
Lalu, apa bahayanya kelompok Golput ideologis?" tanya Kudil.
"Golput jenis itu dapat disamakan dengan kelompok anti-negara,
yang karena kekecewaan menumpuk, lalu bersikap antipati terhadap
segala produk hukum serta aparatnya dan mendelegitimasi semua
penyelenggara negara. Inilah hebatnya globalisasi yang bertujuan
melenyapkan negara-negara bangsa dan mengintegrasikan bukan hanya
ekonomi, juga politik dan budaya dalam satu sistem global.
Sementara Golput politik diakibatkan karena mereka merasa tidak
cocok dengan figur atau konsep politik semua calon. Sedangkan,
Golput pragmatis bersikap pasrah, sehingga mengutamakan kerja
dibanding ikut pilkada, karena menganggap siapa pun terpilih
hasilnya sama saja. Mungkin seperti bunyi sesonggan Bali, mereka
berpendapat, megedi bojog teka lutung, hahaha...!"
"Itu pun bisa dijawab dengan sesonggan lain, cara ngambulin sok
uwek. Ya, seperti orang ngambek karena keranjang robek. Kalau
keranjang itu dipakai mengangkut barang-barang yang juga milik
kita, masihkah kita berhak memprotes bila barang-barang itu
tercecer di tengah jalan? Coba pikir, tidakkah orang-orang yang
Golput pada Pemilu 2004 ikut menderita akibat kebijakan-kebijakan
tidak populer dilaksanakan pemerintah yang dihasilkan Pemilu itu?
Apalagi jumlah Golput kurang dari setengah jumlah pemilih
seluruhnya, tentu Golput cuma diandaikan seperti aksesori mobil,
yang tidak mempengaruhi jalannya kendaraan, dengan atau tanpa
adanya hiasan itu," komentar Raweg.
"Wah, setelah pendapatku tentang nortalgia dijegal, kalian malah
seperti komentator sepakbola. Berceloteh tentang kekurangan dan
kelebihan para pemain sampai mulut berbusa, padahal jangankan
komentar kalian, teriakan dan hujatan para penonton pun tidak
mereka dengar. Pilkada Buleleng sudah usai dan kita tidak
mengharapkan terjadinya polemik sebagai ekses. Berangkat dari rasa
jengah, para pemimpin yang terpilih seharusnya mengutamakan
leadership, bukan dealership, meski banyak uang yang telah ditabur
untuk menuju kursi kekuasaan. Walaupun aku bukan orang Buleleng,
aku memimpikan agar julukan 'Bumi Panas' segera berubah jadi
'Bumi Intelektual'. Buleleng dan masyarakatnya punya potensi untuk
itu," ujar Rubag setelah lama diam.
"Hebat! Tadi nostalgia, kini utopia! Caranya bagaimana?" sela
Bangkrok.
"Dulu Singaraja dirancang sebagai ibukota Bali, namun entah karena
pertimbangan apa, dipindah ke Denpasar. Coba lihat sarana
prasarana fisik, juga jalan yang rata-tata lebar dan lurus.
Pelabuhan lautnya pun pernah terkenal. Sejarah perguruan tingginya
tidak kalah tua dengan yang ada di Denpasar, malah para dosennya
banyak yang tamatan luar negeri dan mengajar di beberapa PTS di
Denpasar. Mengapa tidak mulai dari sana? Aku yakin Singaraja bisa
bersaing dengan Yogyakarta sebagai kota pelajar dan tinggal
menunggu waktu untuk jadi 'Bumi Intelektual'. Atmosfer panas akan
hilang, bila tukang ojek, kusir dokar dan dagang sate plecing
mengisi waktu luangnya dengan membaca buku, seperti yang dilakukan
tukang-tukang becak di Yogya saat menunggu penumpang," papar
Rubag.
* aridus