kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 17 Juni 2007 tarukan valas
 

OPINI


Bumi Intelektual

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Buleleng Selasa (12/6) lalu, sesuai yang diberitakan koran, berjalan lancar sesuai mekanisme yang berlaku. Berita sejuk dari daerah yang terlanjur diberi julukan "Bumi Panas" itu, setidak-tidaknya membahagiakan seluruh masyarakat Bali yang mendambakan kedamaian, kenyamanan dan harmoni. Bahkan bagi Rubag dkk., kabar Pilkada Buleleng yang berlangsung mulus tanpa intimidasi dan kekerasan, jauh lebih menarik dan berarti dibanding berita tentang penangkapan gembong teroris Abu Dujana di Banyumas, Jawa Tengah.

Kabar sejuk dari Bali Utara itu sekaligus menjawab imbauan para konsul negara-negara sahabat yang berkunjung ke Gedung Pers Ketut Nadha, agar semua pihak perlu ikut terlibat mengajegkan Bali. Jangan sampai masyarakat Bali, kata mereka, menjadi "teroris-teroris" akibat kesenjangan sosial.

"Hasil perhitungan suara Pilkada Buleleng belum final, namun siapa pun pemenangnya kelak, seharusnya memulai tugasnya sebagai kepala daerah dengan perasaan jengah. Dia dan wakilnya, yang tentunya putra asli Buleleng, harus bernostalgia ke kondisi Buleleng sebelum pariwisata menjadi primadona perekonomian Bali. Sebab, di awal 1960-an, aku iri melihat penampilan anak-anak Buleleng yang bersekolah di Denpasar, yang tampak lebih 'mengkilap' dibanding anak-anak lain. Mereka adalah anak-anak saudagar kopi, semaga, kesuna, tembakau dan sudang lepet, yang lebih dulu akrab dengan sepeda motor dibanding anak-anak lain yang sebagian besar jalan kaki atau paling mewah naik sepeda gayung," tutur Rubag mengenang masa lalu.

"Nostalgia berarti terus menoleh ke belakang untuk melihat masa lalu. Sayang, leher manusia dirancang hanya untuk menatap ke depan, samping, atas dan bawah. Kecuali kalau jalan mundur dengan risiko kaki terantuk batu dan langkah jadi serong ke kiri dan kanan. Harus dimaklumi, badai kencang globalisasi meniupkan hedonisme, konsumerisme dan apatisme membuat masa lalu atau sejarah, bagi kebanyakan orang, seperti mimpi yang tak akan terulang lagi. Aku khawatir, generasi yang tak sempat menyaksikan kondisi yang kau tuturkan, justru menganggap diri mereka tidak punya sejarah, malah sedang membuat sejarah. Sebab, ketika mereka dilahirkan, semua ladang kesuna, kopi, hingga tembakau lenyap, sementara kawan-kawan sekampung berduyun-duyun mencari nafkah ke daerah lain memburu dolar, yen, dan rubel," kilah Bangkrok.

"Kalimat terakhirmu menarik bila dikaitkan dengan keluhan bahwa banyak Golput atau pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya pada Pilkada Buleleng. Mirip seperti Pemilu 2004 lalu, jumlah Golput untuk Pemilu Legislatif melebihi jumlah suara parpol peraih kursi terbanyak di parlemen, yakni 23,34 persen dari total pemilih terdaftar. Maka timbul guyonan, Pemilu 2004 dimenangkan Golput dan kalau diberi kursi di DPR, merekalah peraih kursi terbanyak. Penyebab dari pengabaian hak pilih tersebut adalah karena alasan pragmatis, politis dan ideologis. Yang memburu dolar, rubel dan yen, seperti disinyalemen Bangkrok, adalah para pragmatis. Kelompok paling berbahaya adalah Golput ideologis yang justru lahir akibat matinya ideologi, seperti ditesiskan Daniel Bell, " ujar Jampel.

"Tapi di Buleleng, yang menjadi masalah bukan orang-orang yang sengaja jadi Golput, namun karena tidak terdaftar sebagai pemilih, juga kurangnya surat suara. Mudah-mudahan benar seperti kata Ketua KPU Buleleng, itu terjadi semata-mata akibat kesulitan logistik, bukan karena rekayasa. Bila direkayasa, maka komplitlah kita meniru sistem Pemilu Amerika Serikat, seperti sinyalemen Greg Palast dalam bukunya, 'The Best Democracy Money Can Buy' atau 'Demokrasi Terbaik yang Bisa Dibeli dengan Uang'. Itu kisah tentang Pemilu tahun 2000 yang penuh politik uang dan penghilangan hak pilih 58.000 warga Florida oleh Gubernur Florida, Jeb Bush, agar adiknya Walker Bush bisa naik jadi presiden AS ke-43. Tindakan serupa konon juga dilakukan para kroni ayah Walker yakni mantan Presiden Bush Senior di beberapa negara bagian lainnya. Lalu, apa bahayanya kelompok Golput ideologis?" tanya Kudil.

"Golput jenis itu dapat disamakan dengan kelompok anti-negara, yang karena kekecewaan menumpuk, lalu bersikap antipati terhadap segala produk hukum serta aparatnya dan mendelegitimasi semua penyelenggara negara. Inilah hebatnya globalisasi yang bertujuan melenyapkan negara-negara bangsa dan mengintegrasikan bukan hanya ekonomi, juga politik dan budaya dalam satu sistem global. Sementara Golput politik diakibatkan karena mereka merasa tidak cocok dengan figur atau konsep politik semua calon. Sedangkan, Golput pragmatis bersikap pasrah, sehingga mengutamakan kerja dibanding ikut pilkada, karena menganggap siapa pun terpilih hasilnya sama saja. Mungkin seperti bunyi sesonggan Bali, mereka berpendapat, megedi bojog teka lutung, hahaha...!"

"Itu pun bisa dijawab dengan sesonggan lain, cara ngambulin sok uwek. Ya, seperti orang ngambek karena keranjang robek. Kalau keranjang itu dipakai mengangkut barang-barang yang juga milik kita, masihkah kita berhak memprotes bila barang-barang itu tercecer di tengah jalan? Coba pikir, tidakkah orang-orang yang Golput pada Pemilu 2004 ikut menderita akibat kebijakan-kebijakan tidak populer dilaksanakan pemerintah yang dihasilkan Pemilu itu? Apalagi jumlah Golput kurang dari setengah jumlah pemilih seluruhnya, tentu Golput cuma diandaikan seperti aksesori mobil, yang tidak mempengaruhi jalannya kendaraan, dengan atau tanpa adanya hiasan itu," komentar Raweg.

"Wah, setelah pendapatku tentang nortalgia dijegal, kalian malah seperti komentator sepakbola. Berceloteh tentang kekurangan dan kelebihan para pemain sampai mulut berbusa, padahal jangankan komentar kalian, teriakan dan hujatan para penonton pun tidak mereka dengar. Pilkada Buleleng sudah usai dan kita tidak mengharapkan terjadinya polemik sebagai ekses. Berangkat dari rasa jengah, para pemimpin yang terpilih seharusnya mengutamakan leadership, bukan dealership, meski banyak uang yang telah ditabur untuk menuju kursi kekuasaan. Walaupun aku bukan orang Buleleng, aku memimpikan agar julukan 'Bumi Panas' segera berubah jadi  'Bumi Intelektual'. Buleleng dan masyarakatnya punya potensi untuk itu," ujar Rubag setelah lama diam.

"Hebat! Tadi nostalgia, kini utopia! Caranya bagaimana?" sela Bangkrok.

"Dulu Singaraja dirancang sebagai ibukota Bali, namun entah karena pertimbangan apa, dipindah ke Denpasar. Coba lihat sarana prasarana fisik, juga jalan yang rata-tata lebar dan lurus. Pelabuhan lautnya pun pernah terkenal. Sejarah perguruan tingginya tidak kalah tua dengan yang ada di Denpasar, malah para dosennya banyak yang tamatan luar negeri dan mengajar di beberapa PTS di Denpasar. Mengapa tidak mulai dari sana? Aku yakin Singaraja bisa bersaing dengan Yogyakarta sebagai kota pelajar dan tinggal menunggu waktu untuk jadi 'Bumi Intelektual'. Atmosfer panas akan hilang, bila tukang ojek, kusir dokar dan dagang sate plecing mengisi waktu luangnya dengan membaca buku, seperti yang dilakukan tukang-tukang becak di Yogya saat menunggu penumpang," papar Rubag.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com