Serba-serbi Cinta
Pan Lengar Jatuh Cinta
PADA
umumnya kisah-kisah cinta dalam dongeng adalah kisah cinta
idealis. Artinya, lika-liku cinta yang berirama itu, berakhir
sesuai dengan harapan penyimak, yakni kebahagiaan.
Pelaku-pelakunya terdiri dari pasangan yang kontras atau perbedaan
mencolok -- si miskin dengan si kaya, keluarga raja dengan orang
kebanyakan, orang tampan dengan orang cacat, manusia dengan
bidadari, manusia dengan kodok, dan lain-lain. Terakhir terungkap
bahwa si miskin, si cacat dan si kodok itu adalah orang kaya,
orang tampan atau keturunan raja.
-------------
Banyak sekali dongeng tentang cinta yang luput dari
perhatian. Kebanyakan dongeng yang kurang populer itu berakhir
dengan kekecewaan. Kisah-kisahnya berkisar tentang persoalan bahwa
cinta itu buta, bertepuk sebelah tangan, kasih tak sampai, atau
cinta yang terkutuk. Memang ada satu dua dongeng serupa itu yang
berakhir dengan kebahagiaan, tetapi kalau ditelusuri sebenarnya
dongeng itu hanya sebuah petunjuk bagaimana cinta idealis itu
terwujud.
Sebaiknya kita mulai pembicaraan ini dengan
menyimak sebuah dongeng Bali yang berjudul "Pan Lengar Bercinta".
***
Di Banjar Kangin tinggal seorang ayah, namanya Pan
Lengar. Diberi nama demikian karena anak laki satu-satunya sejak
lahir berkepala lengar atau botak. Anak laki itu diberi nama I
Lengar dan untuk mudahnya sang ayah dipanggil Pan Lengar.
Pan Lengar sudah lama menduda. Istri yang sangat
dicintai itu meninggal ketika I Lengar masih kecil. Dengan susah
payah sang ayah membesarkan anaknya. Tak pernah terlintas dalam
pikirannya untuk mencari pendamping baru.
Setelah I Lengar meningkat remaja, Pan Lengar mulai
tertarik pada perempuan. Kebetulan perempuan yang menarik
perhatian itu adalah teman sepermainannya dulu bernama Ni Nyoman.
Ni Nyoman yang sudah janda itu tinggal di Banjar Kawan, tidak jauh
dari rumah Pan Lengar. Sudah berkali-kali Pan Lengar merayu Ni
Nyoman, tetapi Ni Nyoman tidak pernah memberi jawaban pasti.
"Nyoman, Nyoman!" kata Pan Lengar kepada perempuan
itu. "Jelaskanlah alasanmu, mengapa kamu tidak pernah memberi
jawaban pasti? Kamu mau menjadi pendampingku atau tidak?"
"Maaf, Pan Lengar!" jawab Ni Nyoman. "Aku bukan
menolak, tetapi aku merasa ada yang mengganjal hubungan kita."
"Ganjalan apa itu? Katakanlah terus terang!" desak
Pan Lengar.
"Anakmu, ya, anakmu I Lengar! Aku tidak mau
memelihara anak tiri. Aku hanya mau memelihara anak kandung kita."
Pan Lengar merasa terpukul. Siang-malam ia
memikirkan anak yang masih membutuhkan bantuan orangtua itu. Ia
membayangkan bagaimana nasib I Lengar di kemudian hari? Dan
bagaimana suasana keluarga, apabila seorang ibu tidak suka hidup
bersama dengan anak tiri? Jawaban Ni Nyoman tidak membuat ia
mundur, malahan ia tambah semangat untuk mendapatkan perempuan
yang dicintai itu. Berkali-kali ia menyatakan keinginannya, tetapi
jawaban perempuan janda itu tidak pernah berubah.
"Pokoknya aku tidak mau memelihara anak tiri!
Carilah perempuan lain!" demikian selalu jawaban Ni Nyoman.
Tak ada pilihan lain. Demi cinta Pan Lengar harus
mendapatkan si janda. Dan demi cinta pula, sang ayah harus
menyingkirkan I Lengar. Maka timbullah niat jahat itu. Pan Lengar
akan membunuh anaknya. Tentu dengan dalih tidak sengaja.
Pada suatu hari Pan Lengar mengajak anaknya memetik
buah kelapa. Pan Lengar memanjat pohon dan memetik buahnya, I
Lengar disuruh menjaga kelapa itu di bawah pohon. Tetapi buah
kelapa yang diarahkan ke kepala I Lengar, selalu jatuh ke arah
yang berlawanan.
Pan Lengar yang sedang mabuk cinta itu tidak
berputus-asa. Ketika hujan lebat, ia mengajak I Lengar memancing
di sungai. Sedang asyiknya memegang joran, tiba-tiba sang ayah
mendorong anak itu keras-keras. I Lengar jatuh ke sungai dan
hanyut bersama banjir yang deras. Pan Lengar menyusuri sungai ke
hilir, pura-pura mencari anak yang hanyut itu. Namun anak yang
malang itu tidak ada kabar beritanya.
"Nyoman, Nyoman!" kata Pan Lengar bergembira riang.
"Demi cinta, I Lengar telah kubunuh. Tak ada lagi yang menghalangi
perkawinan kita!"
Perempuan janda itu terdiam. Matanya mendelik,
keningnya berkernyit dan jantungnya berdegup-degup. Lalu tiba-tiba
menghardik, "Kurang ajar! Terhadap anak sendiri kamu berbuat
kejam, bagaimana nanti terhadap istrimu?"
Pan Lengar duduk termangu. Tak lama kemudian ia
mendapati calon istrinya tidak ada di hadapannya.
* made taro