kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 17 Juni 2007 tarukan valas
 

KELUARGA


Serba-serbi Cinta
Pan Lengar Jatuh Cinta

PADA umumnya kisah-kisah cinta dalam dongeng adalah kisah cinta idealis. Artinya, lika-liku cinta yang berirama itu, berakhir sesuai dengan harapan penyimak, yakni kebahagiaan. Pelaku-pelakunya terdiri dari pasangan yang kontras atau perbedaan mencolok -- si miskin dengan si kaya, keluarga raja dengan orang kebanyakan, orang tampan dengan orang cacat, manusia dengan bidadari, manusia dengan kodok, dan lain-lain. Terakhir terungkap bahwa si miskin, si cacat dan si kodok itu adalah orang kaya, orang tampan atau keturunan raja.

-------------

 

Banyak sekali dongeng tentang cinta yang luput dari perhatian. Kebanyakan dongeng yang kurang populer itu berakhir dengan kekecewaan. Kisah-kisahnya berkisar tentang persoalan bahwa cinta itu buta, bertepuk sebelah tangan, kasih tak sampai, atau cinta yang terkutuk. Memang ada satu dua dongeng serupa itu yang berakhir dengan kebahagiaan, tetapi kalau ditelusuri sebenarnya dongeng itu hanya sebuah petunjuk bagaimana cinta idealis itu terwujud.

Sebaiknya kita mulai pembicaraan ini dengan menyimak sebuah dongeng Bali yang berjudul "Pan Lengar Bercinta".

***

 

Di Banjar Kangin tinggal seorang ayah, namanya Pan Lengar. Diberi nama demikian karena anak laki satu-satunya sejak lahir berkepala lengar atau botak. Anak laki itu diberi nama I Lengar dan untuk mudahnya sang ayah dipanggil Pan Lengar.

Pan Lengar sudah lama menduda. Istri yang sangat dicintai itu meninggal ketika I Lengar masih kecil. Dengan susah payah sang ayah membesarkan anaknya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk mencari pendamping baru.

Setelah I Lengar meningkat remaja, Pan Lengar mulai tertarik pada perempuan. Kebetulan perempuan yang menarik perhatian itu adalah teman sepermainannya dulu bernama Ni Nyoman. Ni Nyoman yang sudah janda itu tinggal di Banjar Kawan, tidak jauh dari rumah Pan Lengar. Sudah berkali-kali Pan Lengar merayu Ni Nyoman, tetapi Ni Nyoman tidak pernah memberi jawaban pasti.

"Nyoman, Nyoman!" kata Pan Lengar kepada perempuan itu. "Jelaskanlah alasanmu, mengapa kamu tidak pernah memberi jawaban pasti? Kamu mau menjadi pendampingku atau tidak?"

"Maaf, Pan Lengar!" jawab Ni Nyoman. "Aku bukan menolak, tetapi aku merasa ada yang mengganjal hubungan kita."

"Ganjalan apa itu? Katakanlah terus terang!" desak Pan Lengar.

"Anakmu, ya, anakmu I Lengar! Aku tidak mau memelihara anak tiri. Aku hanya mau memelihara anak kandung kita."

Pan Lengar merasa terpukul. Siang-malam ia memikirkan anak yang masih membutuhkan bantuan orangtua itu. Ia membayangkan bagaimana nasib I Lengar di kemudian hari? Dan bagaimana suasana keluarga, apabila seorang ibu tidak suka hidup bersama dengan anak tiri? Jawaban Ni Nyoman tidak membuat ia mundur, malahan ia tambah semangat untuk mendapatkan perempuan yang dicintai itu. Berkali-kali ia menyatakan keinginannya, tetapi jawaban perempuan janda itu tidak pernah berubah.

"Pokoknya aku tidak mau memelihara anak tiri! Carilah perempuan lain!" demikian selalu jawaban Ni Nyoman.

Tak ada pilihan lain. Demi cinta Pan Lengar harus mendapatkan si janda. Dan demi cinta pula, sang ayah harus menyingkirkan I Lengar. Maka timbullah niat jahat itu. Pan Lengar akan membunuh anaknya. Tentu dengan dalih tidak sengaja.

Pada suatu hari Pan Lengar mengajak anaknya memetik buah kelapa. Pan Lengar memanjat pohon dan memetik buahnya, I Lengar disuruh menjaga kelapa itu di bawah pohon. Tetapi buah kelapa yang diarahkan ke kepala I Lengar, selalu jatuh ke arah yang berlawanan.

Pan Lengar yang sedang mabuk cinta itu tidak berputus-asa. Ketika hujan lebat, ia mengajak I Lengar memancing di sungai. Sedang asyiknya memegang joran, tiba-tiba sang ayah mendorong anak itu keras-keras. I Lengar jatuh ke sungai dan hanyut bersama banjir yang deras. Pan Lengar menyusuri sungai ke hilir, pura-pura mencari anak yang hanyut itu. Namun anak yang malang itu tidak ada kabar beritanya.

"Nyoman, Nyoman!" kata Pan Lengar bergembira riang. "Demi cinta, I Lengar telah kubunuh. Tak ada lagi yang menghalangi perkawinan kita!"

Perempuan janda itu terdiam. Matanya mendelik, keningnya berkernyit dan jantungnya berdegup-degup. Lalu tiba-tiba menghardik, "Kurang ajar! Terhadap anak sendiri kamu berbuat kejam, bagaimana nanti terhadap istrimu?"

Pan Lengar duduk termangu. Tak lama kemudian ia mendapati calon istrinya tidak ada di hadapannya.

* made taro

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com