Kades pun Digebuki "Bebotoh"
Catatan dari Pasraman Ajeg
Bali 2007
Oleh Wisnu
Whirapati Rena
HARI
itu, Jumat (8/6) merupakan hari pertama kegiatan "Pasraman Siswa
Ajeg Bali 2007" (PSAB 2007) di Desa Lumajang, Tabanan. Selama tiga
malam dan empat hari kami terkarantina. Kali ini, 72 siswa
SMP/SMA-K se-Bali berbaur menyatu melupakan sementara keluarga,
asal sekolah dan daerah asalnya. Mereka berbaur menyatu dalam satu
pikiran, perkataan dan laksana demi ajeg Bali. Program ini digagas
oleh Kelompok Media Bali Post Group yang berlangsung setiap libur
panjang. Tujuannya, agar peserta memiliki kecintaan dan sekaligus
kedalaman terhadap adat dan budaya Bali (HIndu) khususnya.
-----------------
Cuaca cerah kota Denpasar pagi itu menjadi saksi
bisu keberangkatan peserta yang dilepas oleh Kadis Pendidikan
Prop. Bali, Tia Kusuma Wardani. Ia memberikan bekal yang berarti
dalam menyiapkan diri sebagai generasi penerus. Kekakuan
terjadi pada awal-awal, namun menjelang acara pelepasan segera
bisa mencair. Kami lalu menjadi akrab. Suasana makin mencair
ketika usai sembahyang, menjelang pemberangkatan peserta.
Peserta yang tahun ini didominasi siswa laki (38
orang) dan perempuan (34 orang) harus dibatasi, disebabkan daya
dukung dan untuk tetap mempertahankan kualitas. Tampil sebagai
pengasuh dalam pasraman kali ini adalah instruktur yang berasal
dari guru dan siswa ajeg Bali. Mereka rata-rata telah memiliki
kualifikasi tertentu dan mengenyam hal serupa tahun-tahun
sebelumnya. Tempaan demi tempaan baik mental maupun fisik itu
berlangsung di kawasan persawahan yang masih sangat hijau.
Secara pribadi, berbaur dengan sesama siswa baik
SMP maupun SMA menambah pengalaman dan bermanfaat untuk bisa lebih
mengerti apa dan bagaimana mengajegkan Bali masa kini dan yang
terpenting untuk ke depan. Kalau saja penulis tidak mengikuti
program ini, mungkin tidak akan mengetahui bagaimana cara
bermeditasi yang baik. Rasa tenang dan bugar bisa muncul ketika
meditasi itu dilakukan dengan khusuk. Meditasi berjangka panjang
memberikan perimbangan hidup antara lahiriah dan fisik. Kegiatan
seperti melukat secara sekala sebagai kegiatan awal menciptakan
keakraban satu peserta dengan peserta lain yang terbagi dalam
berbagai kelompok.
Pelajaran tata susila mengungkapkan bagaimana etika
pada saat berkomunikasi dengan orang tua, orang yang lebih tua,
kakak, adik dan sesama. Komunikasi ini juga dimaksudkan bagaimana
berpikir dan berteman dalam hidup sehari-hari sehingga menciptakan
keakraban dan kebersamaan. Materi dharmagita yang melantunkan
sloka menghanyutkan pikiran dan hati untuk menjadi lebih sadar
akan arti sebuah hidup.
Kegiatan dharmatula yang berfokus pada pendalam
sradha mengupas agar kami dapat memperdalam keyakinan dan ajaran
Hindu sebagai pedoman melangkah hari ini dan tantangan ke depan
bagi generasi muda Hindu mendatang. Kegiatan yang selalu diawali
pagi hari dan berakhir petang hari selalu diisi dengan meditasi
dengan kudapan baik pagi, siang, malam dengan makanan satwika yang
terdiri dari sayur, tahu, tempe, telur yang menambah khusuknya
hari demi hari di pasraman. Hidup menjadi seperti di rumah
sendiri.
Praktik Bahasa Bali
Yoga sebagai bagian dari cara pengaturan nafas dan
melatih melenturkan tubuh. Sayang waktunya hanya sekali saja,
belum banyak yang terungkapkan dari "misteri" gerakan yang
mempesona. Pembuatan bebantenan sebagai sarana sederhana untuk
melakukan perlengkapan upacara adat. Peserta laki ditargetkan bisa
membuat tipat nasi dan klakat sudamala dan peralatan yang
dibutuhkan yang sudah dipersiapkan. Peserta wanita bisa membuat
uparanga (jajan suci) dan sesayut yang sering dipergunakan umat
Hindu untuk kepentingan upacara adat.
Praktik penggunaan bahasa Bali yang bertatakrama
pun dilaksanakan oleh peserta. Walaupun semua bisa berbahasa Bali,
namun dalam beberapa hal dan kondisi masih perlu dilatih dan
dipraktikkan sehingga apa yang dikatakan sesuai dengan konteks
budaya menjadi satu kesatuan. Selain berbicara, ada juga materi
berpidato bahasa Bali. Saat itu ada juga hiburan dari penampilan
dalang cilik Sutawa yang mengesankan dan lucu karena Sutawa
menceritakan tokoh-tokoh kartun yang sering ada di televisi.
Tidak saja materi yang berbau tradisi diberikan
kepada peserta, ada juga bersifat modern seperti fragmen (drama
satu babak). Drama singkat yang berdurasi tidak lebih dari 10
menit pun tampil dari kelompok-kelompok siswa. Ada sekitar tujuh
fragmen kilat yang tampil. Satu di antaranya berjudul "Kepala Desa
Dikeroyok Bebotoh" karya kelompok Sahadewa yang dikordinir
Anugrah, Restu, Marsya, Gung Mang, IB Alit, Dwi, Komang, dan
penulis.
Ceritanya begini. Ada bebotoh sedang metajen di
jaba pura, lalu datanglah seorang warga menegurnya. Namun, bebotoh
itu tidak menggubris, mereka mengaku bahwa itu bukan tajen tetapi
tabuh rah. Warga pun lalu melapor kejadian itu ke bapak Kepala
Desa (Kades). Tanpa diduga, Kades pun menjadi bulan-bulanan
bebotoh. Saat bersamaan datanglah sejumlah polisi yang mengepung
lokasi kejadian dan bapak Kades bisa selamat. Akhirnya, para
bebotoh dibawa ke kantor polisi untuk diproses lanjut.
Para bebotoh beranggapan bahwa tajen itu merupakan
cara untuk mengajegkan Bali. Padahal hal itu merupakan judi yang
dapat merusak kesucian pura. Tajen bisa menyengsarakan masyarakat
seperti yang sering dikatakan Mangku Pastika (mantan Kapolda
Bali). Sindiran dari anak-anak lugu ini melalui fragmen, merupakan
satu suara hati terdalam dari generasi yang diwakili. Tanpa bisa
menutup mata, bahwa yang diungkapkan itu merupakan representasi
dari masyarakat kita sekarang ini. Walaupun tajen begitu ketat,
tetapi permainan itu masih saja terjadi.
Mencintai Lingkungan
Agar peserta lebih mencintai lingkungan, maka
pengenalan alam melalui trekking ke sawah sekitar menjadi hal yang
tidak dilupakan. Dengan jalan bersama diisi dengan tawa dan
pembicaraan pengalaman pribadi masing-masing mengitari sawah
sekitar untuk menanamkan pemahaman bahwa budaya Bali berasal dari
budaya agraris (pertanian). Karena pertanian sebagai soko guru
budaya Bali, maka sawah yang menjadi daya tarik perlu dilestarikan
keberadaan walaupun sudah terkepung oleh modernisasi. Acara turun
ke sawah diisi dengan bertanya jawab dengan petani yang sedang
menanam padi.
Sebagai malam terakhir adalah acara api unggun,
dengan berbagai acara menggembirakan, peserta melingkar
bergandengan tangan untuk menandakan perpisahan sementara segera
akan terjadi. "Biarlah Dewa Brahma (api) menjadi saksi bahwa
kalian mulai berpikir, berkata dan berlaksana untuk mengajegkan
Bali ke depan," ujar seorang instruktur datar sambil matanya
berkacak-kaca yakin dan mantap. Hal itu semua menjadi makin
berkesan dalam diri penulis, mungkin juga peserta yang lain
merasakan hal yang sama.
Hari terakhir pasraman pun tiba pada Senin (11/6).
Peserta harus berkemas-kemas merapikan barang bawaan pribadi dan
membersihkan lingkungan sekitar. Tukar menukar alamat dan nomor
hand phone mulai dilakukan, rasa kesedihan pun makin terasa ketika
peserta harus naik kendaraan menuju Denpasar. Sampai jumpa tahun
depan.
* Penulis
siswa SMAN II Denpasar