kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 17 Juni 2007 tarukan valas
 

SENI - BUDAYA


Kades pun Digebuki "Bebotoh"

Catatan dari Pasraman Ajeg Bali 2007

Oleh Wisnu Whirapati Rena

HARI itu, Jumat (8/6) merupakan hari pertama kegiatan "Pasraman Siswa Ajeg Bali 2007" (PSAB 2007) di Desa Lumajang, Tabanan. Selama tiga malam dan empat hari kami terkarantina. Kali ini, 72 siswa SMP/SMA-K se-Bali berbaur menyatu melupakan sementara keluarga, asal sekolah dan daerah asalnya. Mereka berbaur menyatu dalam satu pikiran, perkataan dan laksana demi ajeg Bali. Program ini digagas oleh Kelompok Media Bali Post Group yang berlangsung setiap libur panjang. Tujuannya, agar peserta memiliki kecintaan dan sekaligus kedalaman terhadap adat dan budaya Bali (HIndu) khususnya.

-----------------

 

Cuaca cerah kota Denpasar pagi itu menjadi saksi bisu keberangkatan peserta yang dilepas oleh Kadis Pendidikan Prop. Bali, Tia Kusuma Wardani. Ia memberikan bekal yang berarti dalam menyiapkan diri sebagai generasi penerus.  Kekakuan terjadi pada awal-awal, namun menjelang acara pelepasan segera bisa mencair. Kami lalu menjadi akrab. Suasana makin mencair ketika usai sembahyang, menjelang pemberangkatan peserta.

Peserta yang tahun ini didominasi siswa laki (38 orang) dan perempuan (34 orang) harus dibatasi, disebabkan daya dukung dan untuk tetap mempertahankan kualitas. Tampil sebagai pengasuh dalam pasraman kali ini adalah instruktur yang berasal dari guru dan siswa ajeg Bali. Mereka rata-rata telah memiliki kualifikasi tertentu dan mengenyam hal serupa tahun-tahun sebelumnya. Tempaan demi tempaan baik mental maupun fisik itu berlangsung di kawasan persawahan yang masih sangat hijau.

Secara pribadi, berbaur dengan sesama siswa baik SMP maupun SMA menambah pengalaman dan bermanfaat untuk bisa lebih mengerti apa dan bagaimana mengajegkan Bali masa kini dan yang terpenting untuk ke depan. Kalau saja penulis tidak mengikuti program ini, mungkin tidak akan mengetahui bagaimana cara bermeditasi yang baik. Rasa tenang dan bugar bisa muncul ketika meditasi itu dilakukan dengan khusuk. Meditasi berjangka panjang memberikan perimbangan hidup antara lahiriah dan fisik. Kegiatan seperti melukat secara sekala sebagai kegiatan awal menciptakan keakraban satu peserta dengan peserta lain yang terbagi dalam berbagai kelompok.

Pelajaran tata susila mengungkapkan bagaimana etika pada saat berkomunikasi dengan orang tua, orang yang lebih tua, kakak, adik dan sesama. Komunikasi ini juga dimaksudkan bagaimana berpikir dan berteman dalam hidup sehari-hari sehingga menciptakan keakraban dan kebersamaan. Materi dharmagita yang melantunkan sloka menghanyutkan pikiran dan hati untuk menjadi lebih sadar akan arti sebuah hidup.

Kegiatan dharmatula yang berfokus pada pendalam sradha mengupas agar kami dapat memperdalam keyakinan dan ajaran Hindu sebagai pedoman melangkah hari ini dan tantangan ke depan bagi generasi muda Hindu mendatang. Kegiatan yang selalu diawali pagi hari dan berakhir petang hari selalu diisi dengan meditasi dengan kudapan baik pagi, siang, malam dengan makanan satwika yang terdiri dari sayur, tahu, tempe, telur yang menambah khusuknya hari demi hari di pasraman. Hidup menjadi seperti di rumah sendiri.

 

Praktik Bahasa Bali

Yoga sebagai bagian dari cara pengaturan nafas dan melatih melenturkan tubuh. Sayang waktunya hanya sekali saja, belum banyak yang terungkapkan dari "misteri" gerakan yang mempesona. Pembuatan bebantenan sebagai sarana sederhana untuk melakukan perlengkapan upacara adat. Peserta laki ditargetkan bisa membuat tipat nasi dan klakat sudamala dan peralatan yang dibutuhkan yang sudah dipersiapkan. Peserta wanita bisa membuat uparanga (jajan suci) dan sesayut yang sering dipergunakan umat Hindu untuk kepentingan upacara adat.

Praktik penggunaan bahasa Bali yang bertatakrama pun dilaksanakan oleh peserta. Walaupun semua bisa berbahasa Bali, namun dalam beberapa hal dan kondisi masih perlu dilatih dan dipraktikkan sehingga apa yang dikatakan sesuai dengan konteks budaya menjadi satu kesatuan. Selain berbicara, ada juga materi berpidato bahasa Bali. Saat itu ada juga hiburan dari penampilan dalang cilik Sutawa yang mengesankan dan lucu karena Sutawa menceritakan tokoh-tokoh kartun yang sering ada di televisi.

Tidak saja materi yang berbau tradisi diberikan kepada peserta, ada juga bersifat modern seperti fragmen (drama satu babak). Drama singkat yang berdurasi tidak lebih dari 10 menit pun tampil dari kelompok-kelompok siswa. Ada sekitar tujuh fragmen kilat yang tampil. Satu di antaranya berjudul "Kepala Desa Dikeroyok Bebotoh" karya kelompok Sahadewa yang dikordinir Anugrah, Restu, Marsya, Gung Mang, IB Alit, Dwi, Komang, dan penulis.

Ceritanya begini. Ada bebotoh sedang metajen di jaba pura, lalu datanglah seorang warga menegurnya. Namun, bebotoh itu tidak menggubris, mereka mengaku bahwa itu bukan tajen tetapi tabuh rah. Warga pun lalu melapor kejadian itu ke bapak Kepala Desa (Kades). Tanpa diduga, Kades pun menjadi bulan-bulanan bebotoh. Saat bersamaan datanglah sejumlah polisi yang mengepung lokasi kejadian dan bapak Kades bisa selamat. Akhirnya, para bebotoh dibawa ke kantor polisi untuk diproses lanjut.

Para bebotoh beranggapan bahwa tajen itu merupakan cara untuk mengajegkan Bali. Padahal hal itu merupakan judi yang dapat merusak kesucian pura. Tajen bisa menyengsarakan masyarakat seperti yang sering dikatakan Mangku Pastika (mantan Kapolda Bali). Sindiran dari anak-anak lugu ini melalui fragmen, merupakan satu suara hati terdalam dari generasi yang diwakili. Tanpa bisa menutup mata, bahwa yang diungkapkan itu merupakan representasi dari masyarakat kita sekarang ini. Walaupun tajen begitu ketat, tetapi permainan itu masih saja terjadi.

 

Mencintai Lingkungan

Agar peserta lebih mencintai lingkungan, maka pengenalan alam melalui trekking ke sawah sekitar menjadi hal yang tidak dilupakan. Dengan jalan bersama diisi dengan tawa dan pembicaraan pengalaman pribadi masing-masing mengitari sawah sekitar untuk menanamkan pemahaman bahwa budaya Bali berasal dari budaya agraris (pertanian). Karena pertanian sebagai soko guru budaya Bali, maka sawah yang menjadi daya tarik perlu dilestarikan keberadaan walaupun sudah terkepung oleh modernisasi. Acara turun ke sawah diisi dengan bertanya jawab dengan petani yang sedang menanam padi.

Sebagai malam terakhir adalah acara api unggun, dengan berbagai acara menggembirakan, peserta melingkar bergandengan tangan untuk menandakan perpisahan sementara segera akan terjadi. "Biarlah Dewa Brahma (api) menjadi saksi bahwa kalian mulai berpikir, berkata dan berlaksana untuk mengajegkan Bali ke depan," ujar seorang instruktur datar sambil matanya berkacak-kaca yakin dan mantap. Hal itu semua menjadi makin berkesan dalam diri penulis, mungkin juga peserta yang lain merasakan hal yang sama.

Hari terakhir pasraman pun tiba pada Senin (11/6). Peserta harus berkemas-kemas merapikan barang bawaan pribadi dan membersihkan lingkungan sekitar. Tukar menukar alamat dan nomor hand phone mulai dilakukan, rasa kesedihan pun makin terasa ketika peserta harus naik kendaraan menuju Denpasar. Sampai jumpa tahun depan.

* Penulis siswa SMAN II Denpasar

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com