kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 17 Juni 2007 tarukan valas
 

APRESIASI


Satu Fragmen Kecil Ciptaan Shiwa...

Yang Dikalahkan: Bunda Calonarang (5)

BAGAIMANA kalau Bunda Calonarang adalah seorang dayu dan Mpu Bharadah adalah ayahandanya yang seorang pedanda?

Jangan katakan pengandaian ini dibuat-buat. Sudah terjadi, dan tidak hanya sekali. Salah satu kejadiannya, Dayu akhirnya diusir oleh ayahandanya sendiri berbekal sebuah kutukan yang hanya mereka berdua tahu apa isinya. Ia juga tidak lagi diakui anak. Satu kesalahannya, melanggar larangan ayahandanya mempelajari lontar pangiwan. Hubungan ayah anak putus. Tapi hubungan Calonarang - Bharadah tetap berkelanjutan dalam panas dan dingin.

Kenapa Dayu melanggar?

Ia tidak melanggar. Ia hanya mengalir. Durga telah memilihnya. Mimpi tiap Purnama, Tilem, Kliwon, di Pura Dalem, di setra, di laut dan di gunung, telah menjadikannya persis seperti yang di dalam mimpi. Sandhyakala sekujur kulit merinding. Dada sesak seperti dimasuki energi entah apa. Nafas memburu entah dikejar oleh apa. Pandangan jauh seperti melihat entah bentuk apa. Dan di kuping yang dua itu selalu terdengar bisikan entah siapa. Ia bukan dalam posisi memilih, tidak ada pilihan. Karena ia terpilih. Pagi hari ia rasakan energi itu murni, kuat, bertenaga, mengajaknya berlari, bermain, ringan, indah. Dan ia melihat dan mendengar apa yang perempuan lain di griya itu tidak lihat dan dengar. Ia pun akhirnya hidup dalam sunyi.

Sedikit pun tidak ada niat Dayu menjadi anak yang melanggar larangan ayahandanya. Sedikit pun Dayu tidak punya rencana menjadi ini, menjadi itu. Hidup dijalaninya sebagaimana waktu berjalan. Pagi bangun dan setelah membersihkan diri ia siapkan kebutuhan surya sewana ayahandanya, bunga, dupa, air, api dan seterusnya. Setelah itu, akan menyiapkan makanan di dapur bersama perempuan lainnya di griya itu. Kemudian matetandingan menyiapkan banten ini dan itu. Purnama, Tilem, Kliwon dan rainan lainnya. Di Tugu, di Taksu, di perempatan, di tempat penyimpanan lontar. Menyapu halaman. Memberi makan ayam-ayam dan menyirami tanaman yang tumbuh di halaman dan di merajan. Hidup dijalaninya seperti itu. Dan seperti itu pulalah hidupnya. Jodoh entah di mana.

Tapi, entah apa yang dilihat ayahandanya pada dirinya. Sepertinya beliau cemas. Sepertinya beliau tahu apa yang akan terjadi. Dan sepertinya beliau tidak ikhlas itu akan terjadi. Sepertinya beliau berpikir-pikir mencari jalan mencegah kehendak MahaKala MahaKali Kalika Kaliki. Dalam laut dapat diduga, dalam hati padanda siapa tahu.

Suatu hari beliau memanggil Dayu.

Mereka duduk berhadapan seperti seorang guru dan sisya. Sang Guru berpesan janganlah sisya coba-coba mempelajari ilmu yang ada di dalam lontar itu. Karena itu akan menjadikan seseorang Calonarang. Kemudian beliau tuturkan nasib Calonarang yang malang, karena tidak mampu mewadahi karakter ilmu yang dipelajarinya. Calonarang lobha akan pengetahuan. Ia lahap ilmu-ilmu rahasia sebelum melakukan upacara pawintenan. Ilmu-ilmu itu adalah pengetahuan yang diturunkan, bukan pengetahuan yang bisa dituntut, apalagi dicuri. Lalu beliau tuturkan ajaran susila dan sejumlah sasana. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Karena griya bukanlah laboratorium tempat melakukan eksperimen guna melahirkan temuan-temuan baru.

Roh Mpu Baradah terus bekerja membisiki pengikut-pengikutnya dari alam atas sana. Tapi Roh Bunda Calonarang juga tidak tinggal diam. Ruwat perdamaian yang mengakhiri cerita mereka di Tanah Jawa, hanya untuk kisah di dunia. Setelah itu mereka tidak lagi berbadankan manusia. Tapi bertubuh pengetahuan. Seperti air yang mengalir ke tempat lebih rendah, pengetahuan Beradah dan pengetahuan Calonarang mengalir ke jiwa-jiwa yang hidup dan menghidupkan ajaran. Bila dahulu Beradah adalah duda dan Bunda Calonarang adalah janda, kini Baradah seorang ayah dan Calonarang adalah puteri kandungnya. Hubungan darah urusan dunia sakala. Tapi persaudaraan dalam dharma itulah yang namanya hubungan. Dharma-shakti Calonarang dan Dharma suci Jnana Baradah adalah sejumlah rumus pengurangan penambahan, pembagian dan perkalian, dalam pelajaran berhitung sekolah dasar. Mereka adalah brother and sister in dharma.

Dayu diam-diam telah jauh masuk ke dalam hutan larangan, bukan karena ingin melanggar. Di hutan durga-durgama-rusit itu ia seperti menemukan rumah tua, tempat ia merasa sangat nyaman. Yang terjadi, terjadilah. Mereka sebut itu nawur karma, pasubayan, tulis gidat, salampah laku, nugtug tuwuh, nyungsung urip, biarlah. Mereka katakan itu desti, teluh, tarangjana, leyak, ngiwa, ihlaskan. Dayu hanya menempuh jalan yang memang sudah ada, sudah dibentangkan oleh leluhur yang dikenalnya hanya melalui cerita. Dayu tidak menambahkan apa pun, tidak pula ia mengurangi. Ia hanya menempuh. Keringat dan debu sudah pasti ia peroleh sebagai anugerah.

Mpu Baradah pun turun berbadankan seorang ayah. Kali ini Baradah tidak meruwat Calonarang muda. Beliau mengusirnya jauh-jauh dari pasraman beliau. Tidak beliau sadari pengusirannya itu persis sama seperti awal cikal bakal Baradahcarita. Janda itu akhirnya menjadi Calonarang karena pengusiran dari rumah suami. Dan anak perempuan bernama Dayu ini akan menjadi Bunda Calonarang karena pengusiran dari rumah ayahandanya. Kisah lawas terulang dalam modifikasi baru.

Bunda Calonarang tua maupun Calonarang muda sama-sama ciptaan Mpu Baradah. Ini bukan kesimpulan dua atau beberapa kasus. Memang begitu tattwa-nya. Kali, Durga, Bherawi dan seterusnya adalah ciptaan Shiwa. Pada saatnya Shiwa sendiri meleburnya. Shiwa tidak pernah diam. Ia terus mencari. Calonarang hanya salah satu fragmen kecil tarian beliau sebagai Shiwa Natha Raja, 'Shiwa Raja Penari' semesta.

Kisah seorang Dayu dan ayahandanya seorang padanda itu hanya satu dari banyak kejadian serupa. Masih lama Calonarang akan hidup. Dan masih lama lagi kita akan mendengarkan cerita dan kejadian-kejadian sejenis. Menyongsong masa depan Bali yang tidak jelas, kita bersyukur persediaan cerita kita lebih dari cukup.

 

IBM Dharma Palguna

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com