Satu Fragmen Kecil Ciptaan Shiwa...
Yang Dikalahkan: Bunda Calonarang (5)
BAGAIMANA
kalau Bunda Calonarang adalah seorang dayu dan Mpu Bharadah adalah
ayahandanya yang seorang pedanda?
Jangan katakan pengandaian ini dibuat-buat. Sudah
terjadi, dan tidak hanya sekali. Salah satu kejadiannya, Dayu
akhirnya diusir oleh ayahandanya sendiri berbekal sebuah kutukan
yang hanya mereka berdua tahu apa isinya. Ia juga tidak lagi
diakui anak. Satu kesalahannya, melanggar larangan ayahandanya
mempelajari lontar pangiwan. Hubungan ayah anak putus. Tapi
hubungan Calonarang - Bharadah tetap berkelanjutan dalam panas dan
dingin.
Kenapa Dayu melanggar?
Ia tidak melanggar. Ia hanya mengalir. Durga telah
memilihnya. Mimpi tiap Purnama, Tilem, Kliwon, di Pura Dalem, di
setra, di laut dan di gunung, telah menjadikannya persis seperti
yang di dalam mimpi. Sandhyakala sekujur kulit merinding. Dada
sesak seperti dimasuki energi entah apa. Nafas memburu entah
dikejar oleh apa. Pandangan jauh seperti melihat entah bentuk apa.
Dan di kuping yang dua itu selalu terdengar bisikan entah siapa.
Ia bukan dalam posisi memilih, tidak ada pilihan. Karena ia
terpilih. Pagi hari ia rasakan energi itu murni, kuat, bertenaga,
mengajaknya berlari, bermain, ringan, indah. Dan ia melihat dan
mendengar apa yang perempuan lain di griya itu tidak lihat dan
dengar. Ia pun akhirnya hidup dalam sunyi.
Sedikit pun tidak ada niat Dayu menjadi anak yang
melanggar larangan ayahandanya. Sedikit pun Dayu tidak punya
rencana menjadi ini, menjadi itu. Hidup dijalaninya sebagaimana
waktu berjalan. Pagi bangun dan setelah membersihkan diri ia
siapkan kebutuhan surya sewana ayahandanya, bunga, dupa, air, api
dan seterusnya. Setelah itu, akan menyiapkan makanan di dapur
bersama perempuan lainnya di griya itu. Kemudian matetandingan
menyiapkan banten ini dan itu. Purnama, Tilem, Kliwon dan rainan
lainnya. Di Tugu, di Taksu, di perempatan, di tempat penyimpanan
lontar. Menyapu halaman. Memberi makan ayam-ayam dan menyirami
tanaman yang tumbuh di halaman dan di merajan. Hidup dijalaninya
seperti itu. Dan seperti itu pulalah hidupnya. Jodoh entah di mana.
Tapi, entah apa yang dilihat ayahandanya pada
dirinya. Sepertinya beliau cemas. Sepertinya beliau tahu apa yang
akan terjadi. Dan sepertinya beliau tidak ikhlas itu akan terjadi.
Sepertinya beliau berpikir-pikir mencari jalan mencegah kehendak
MahaKala MahaKali Kalika Kaliki. Dalam laut dapat diduga, dalam
hati padanda siapa tahu.
Suatu hari beliau memanggil Dayu.
Mereka duduk berhadapan seperti seorang guru dan
sisya. Sang Guru berpesan janganlah sisya coba-coba mempelajari
ilmu yang ada di dalam lontar itu. Karena itu akan menjadikan
seseorang Calonarang. Kemudian beliau tuturkan nasib Calonarang
yang malang, karena tidak mampu mewadahi karakter ilmu yang
dipelajarinya. Calonarang lobha akan pengetahuan. Ia lahap
ilmu-ilmu rahasia sebelum melakukan upacara pawintenan. Ilmu-ilmu
itu adalah pengetahuan yang diturunkan, bukan pengetahuan yang
bisa dituntut, apalagi dicuri. Lalu beliau tuturkan ajaran susila
dan sejumlah sasana. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.
Karena griya bukanlah laboratorium tempat melakukan eksperimen
guna melahirkan temuan-temuan baru.
Roh Mpu Baradah terus bekerja membisiki
pengikut-pengikutnya dari alam atas sana. Tapi Roh Bunda
Calonarang juga tidak tinggal diam. Ruwat perdamaian yang
mengakhiri cerita mereka di Tanah Jawa, hanya untuk kisah di dunia.
Setelah itu mereka tidak lagi berbadankan manusia. Tapi bertubuh
pengetahuan. Seperti air yang mengalir ke tempat lebih rendah,
pengetahuan Beradah dan pengetahuan Calonarang mengalir ke
jiwa-jiwa yang hidup dan menghidupkan ajaran. Bila dahulu Beradah
adalah duda dan Bunda Calonarang adalah janda, kini Baradah
seorang ayah dan Calonarang adalah puteri kandungnya. Hubungan
darah urusan dunia sakala. Tapi persaudaraan dalam dharma itulah
yang namanya hubungan. Dharma-shakti Calonarang dan Dharma suci
Jnana Baradah adalah sejumlah rumus pengurangan penambahan,
pembagian dan perkalian, dalam pelajaran berhitung sekolah dasar.
Mereka adalah brother and sister in dharma.
Dayu diam-diam telah jauh masuk ke dalam hutan
larangan, bukan karena ingin melanggar. Di hutan
durga-durgama-rusit itu ia seperti menemukan rumah tua, tempat ia
merasa sangat nyaman. Yang terjadi, terjadilah. Mereka sebut itu
nawur karma, pasubayan, tulis gidat, salampah laku, nugtug tuwuh,
nyungsung urip, biarlah. Mereka katakan itu desti, teluh,
tarangjana, leyak, ngiwa, ihlaskan. Dayu hanya menempuh jalan yang
memang sudah ada, sudah dibentangkan oleh leluhur yang dikenalnya
hanya melalui cerita. Dayu tidak menambahkan apa pun, tidak pula
ia mengurangi. Ia hanya menempuh. Keringat dan debu sudah pasti ia
peroleh sebagai anugerah.
Mpu Baradah pun turun berbadankan seorang ayah.
Kali ini Baradah tidak meruwat Calonarang muda. Beliau mengusirnya
jauh-jauh dari pasraman beliau. Tidak beliau sadari pengusirannya
itu persis sama seperti awal cikal bakal Baradahcarita. Janda itu
akhirnya menjadi Calonarang karena pengusiran dari rumah suami.
Dan anak perempuan bernama Dayu ini akan menjadi Bunda Calonarang
karena pengusiran dari rumah ayahandanya. Kisah lawas terulang
dalam modifikasi baru.
Bunda Calonarang tua maupun Calonarang muda
sama-sama ciptaan Mpu Baradah. Ini bukan kesimpulan dua atau
beberapa kasus. Memang begitu tattwa-nya. Kali, Durga, Bherawi dan
seterusnya adalah ciptaan Shiwa. Pada saatnya Shiwa sendiri
meleburnya. Shiwa tidak pernah diam. Ia terus mencari. Calonarang
hanya salah satu fragmen kecil tarian beliau sebagai Shiwa Natha
Raja, 'Shiwa Raja Penari' semesta.
Kisah seorang Dayu dan ayahandanya seorang padanda
itu hanya satu dari banyak kejadian serupa. Masih lama Calonarang
akan hidup. Dan masih lama lagi kita akan mendengarkan cerita dan
kejadian-kejadian sejenis. Menyongsong masa depan Bali yang tidak
jelas, kita bersyukur persediaan cerita kita lebih dari cukup.
IBM Dharma
Palguna