kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 25 September 2005 tarukan valas
 

OPINI


''Character Building''

Rata-rata warga Amerika Serikat (AS) menghabiskan waktu sehari-harinya dengan menonton televisi hingga pada titik, secara mental, menjadikan semua ini tidak sehat. Mereka jadi sulit untuk membedakan mana yang realitas dan mana fantasi.  Mereka bersikap berdasarkan sebagaimana yang ditayangkan televisi, berkata dan berperilaku seperti apa yang diperagakan para aktor dan semua itu juga mereka perlakukan pada sesama dan lingkungannya dalam hidup bermasyarakat.

("American Shadow Government", Jerry D. Gray).

-----------

 

RUBAG awalnya ragu mempercayai pendapat pakar komunikasi Marshall Mc Luhan, yang mengatakan bahwa "Media is a message" yang menjadikan dunia semacam "A Global Village". Faktanya, dalam kondisi krisis multidimensional yang berkepanjangan, dimana sulit dibedakan antara semi  penganggur dan penganggur tulen akibat berkurangnya lapangan kerja, apa yang diungkapkan Jerry D Gray terjadi di AS, terjadi pula di Indonesia, khususnya Bali. Banyak pabrik, hotel dan restoran, yang gulung tikar dan segala macam usaha seperti kerakap tumbuh di batu, sehingga waktu nganggur kebanyakan korban PHK diserap magnet televisi. Berjam-jam setiap hari mereka "disihir" secara sukarela dan mengikuti segala doktrin televisi tanpa kuasa membantah.

Tsunami di Aceh dan badai Katrina di New Orleans, mengalihkan fokus perhatian para pemirsa dari masalah-masalah korupsi ke narasi dan tayangan puing-puing akibat bencana alam yang terjadi. Tanpa sadar akan keberadaan mereka sekarang dan masa depan yang suram, empati dan simpati mereka curahkan pada mayat-mayat korban yang bergelimpangan di reruntuhan bangunan, sedangkan penyebab dari tragedi tersebut diabaikan. Mereka lupa kalau tragedi itu adalah akibat dari penyebab yang mendahuluinya.

 Mereka lupa kalau dirinya juga dilanda "badai korupsi".

Korupsi dan koruptor adalah monster kemanusiaan, yang bisa berubah dalam banyak wujud. Di Indonesia, perkembangbiakan monster-monster ini menakjubkan dan mengalahkan pertumbuhan populasi tikus dan kecoa. Tikus dan kecoa akan sembunyi dan tidur di sarangnya bila perut mereka kenyang, tapi para koruptor tidak! Mata mereka terbelalak terus untuk melihat semua lubang sebagai kesempatan guna memperkaya diri buat tujuh keturunan. Tikus dan kecoa bisa diberantas dengan racun pembasmi, namun koruptor, nanti dulu!

Ketika rakyat sangat yakin terjadi sebuah korupsi dan pelakunya juga jelas, kata Satjipto Rahardjo, pengadilan lebih banyak gagal menghukum para koruptornya. Guru Besar Sosiologi Hukum Universitas Diponegoro itu mengkategorikan ribuan hakim di Indonesia dalam dua golongan -- hakim yang berpikir dengan hati nurani dan hakim yang bertanya dulu pada perutnya, baru kemudian mencari pasal-pasal. Akibatnya, korupsi makin merajalela dan jadi lambang kerusakan tatanan sosial serta kemerosotan kualitas manusia dan kehidupan.

***

 

PERGERAKAN kapitalisme global dalam bentuk korporatokrasi tidak mendapat banyak reaksi di negara-negara berkembang.   Itu tak lain karena bantuan para kleptokrasi atau birokrat berwatak maling yang menjadi komprador mereka. Hutan-hutan jadi gundul, perut bumi habis tersedot isinya, lautan tercemar merkuri dan bahan kimia lainnya, sawah dan ladang ditanami beton dan cerobong asap pabrik, menyebabkan meningkatnya pemanasan global, terbentuknya rumah-rumah kaca yang merobek lapisan ozon kian lebar, menyebabkan cairnya bongkahan es di Antartika. Itulah penyebab dari akibat yang terjadi di Aceh, New Orleans dan menyusul Topan Rita di Texas, AS.

Lalu, bisakah orang Indonesia berpikir? Pertanyaan yang menyundul benak Rubag ini terinspirasi buku, "Bisakah Orang Asia Berpikir?" karya Kishore Mahbubani. Rubag sepaham dengan Kishore, kalau Asia merupakan tempat kelahiran peradaban dan agama-agama besar yang kini tetap dianut sebagian besar umat manusia. Namun ironisnya, paska Pencerahan Abad XVI dan XVII bangsa-bangsa Asia -- kecuali Jepang dan Yahudi -- berada di bawah dominasi bangsa-bangsa Barat, khususnya Amerika.

Kalau diikuti saran Kishore, untuk melihat seribu tahun ke belakang, Indonesia pada saat itu berada di zaman Airlangga. Di Jawa Tengah telah berdiri Candi Borobudur, Mendut, Prambanan dan Pawon dari abad ke-7 yang menandakan  tingginya peradaban, juga sebagai simbol zaman keemasan Nusantara. Kalau mau berpikir, bangsa Indonesia harus memulainya dari zaman itu.

Bung Karno dalam pledoinya di pengadilan Hindia Belanda Bandung, yang kemudian dibukukan dengan judul "Indonesia Menggugat" membanggakan diri sebagai bangsa yang pernah punya zaman keemasan, yakni Sriwijaya dan Majapahit. Namun karena keserakahan dan keangkaramurkaan kaum kolonialis dan imperialis, kata Bung Karno, zaman keemasan itu ditutupi awan kegelapan, sehingga Indonesia menjadi sapi perahan penjajah. Rubag sedikit menyayangkan kalau Bung Karno telah memenggal salah satu keping sejarah, karena sesungguhnya penjajahan tersebut berawal dari hasrat untuk berkuasa dan hidup mewah Raja Mataram, Amangkurat I. Demi ambisi itu, dia mengizinkan VOC mendirikan loji atau perkantoran di Jayakarta pada 1602, yang kemudian bernama Batavia dan selanjutnya Jakarta.

Padahal pada periode yang sama, Jepang justru melakukan politik pintu tertutup dengan paham "Xenophobis" atau antiasing. Selama 2,5 abad -- 1600 s.d. 1868 -- Jepang mengisolasikan diri dari pengaruh asing sembari melaksanakan "character building" dengan disiplin ketat di bawah rezim Tokugawa. Setelah mantap secara moral dan material, Jepang meninggalkan sistem feodal yang bercorak monarkhi absolut menuju monarkhi konstitusional lewat Restorasi Meiji.

Sangat berbeda dengan Amangkurat I, yang untuk mengukuhkan kekuasaannya justru menggunakan kekuasaan asing yakni serdadu kompeni (VOC) untuk menindas rakyatnya. Segala trik, dari cara mengumpulkan upeti hingga teknik menyiksa rakyat diajarkan calon penjajah itu dengan imbalan monopoli perdagangan. Di samping menguras kekayaan Indonesia, politik adu domba antara kerajaan-kerajaan di Tanah Air terus dilakukan. Bahkan saat VOC bubar digerogoti korupsi, munculnya kekuasaan Hindia Belanda mengukuhkan penjajahan Belanda terhadap Indonesia selama dua abad lebih.

Selama penjajahan, tanpa sadar bangsa Indonesia mengadopsi dan menyerap "character building" arahan Hindia Belanda.  Korupsi, kesewenang-wenangan, disintegrasi, penindasan penguasa terhadap yang dikuasai, kemunafikan dan kebohongan menjadi ciri-ciri menonjol, sehingga pas dengan semiotika komunikasi yang disebarkan budaya postmo akhir-akhir ini.  Tidak meleset Umberto Eco mendefinisikan semiotika sebagai disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta.

Kini, "character building" diajarkan infotainment, telenovela, sinetron bercorak opera sabun dan iklan dengan aktor dan aktris bertampang Indo dengan nuansa "American Dreams". Ketika dalam kenyataan mereka harus ngantre berhari-hari untuk beli minyak tanah, di layar kaca para pemirsa dapat iming-iming BOS. Saat premium dan solar menghilang di beberapa SPBU, mereka memirsa tentang kompensasi sebesar Rp 100 ribu per KK per bulan.

Selanjutnya, guna menghindarkan ledakan emosi rakyat yang sebenarnya juga masyarakat televisi, hampir tiada hari terlewatkan tanpa hiburan. Kontes dangdut, pop, rock, jazz, lawak, beraneka ragam kuis, pemburu hantu, sulap, yang menurut istilah Zbigniew  Brzezinski disebut tittytainment. Tit berarti ujung payudara wanita. Konon istilah itu bermakna campuran antara hiburan riuh rendah dan pemberian pangan seadanya, guna meredakan nafsu memberontak rakyat. Character building!

 

* aridus
 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com