''Character Building''
Rata-rata warga Amerika Serikat (AS) menghabiskan waktu
sehari-harinya dengan menonton televisi hingga pada titik, secara
mental, menjadikan semua ini tidak sehat. Mereka jadi sulit untuk
membedakan mana yang realitas dan mana fantasi. Mereka
bersikap berdasarkan sebagaimana yang ditayangkan televisi,
berkata dan berperilaku seperti apa yang diperagakan para aktor
dan semua itu juga mereka perlakukan pada sesama dan lingkungannya
dalam hidup bermasyarakat.
("American Shadow Government", Jerry D. Gray).
-----------
RUBAG awalnya ragu mempercayai pendapat
pakar komunikasi Marshall Mc Luhan, yang mengatakan bahwa "Media
is a message" yang menjadikan dunia semacam "A Global Village".
Faktanya, dalam kondisi krisis multidimensional yang
berkepanjangan, dimana sulit dibedakan antara semi
penganggur dan penganggur tulen akibat berkurangnya lapangan
kerja, apa yang diungkapkan Jerry D Gray terjadi di AS, terjadi
pula di Indonesia, khususnya Bali. Banyak pabrik, hotel dan
restoran, yang gulung tikar dan segala macam usaha seperti kerakap
tumbuh di batu, sehingga waktu nganggur kebanyakan korban PHK
diserap magnet televisi. Berjam-jam setiap hari mereka "disihir"
secara sukarela dan mengikuti segala doktrin televisi tanpa kuasa
membantah.
Tsunami di Aceh dan badai Katrina di New Orleans, mengalihkan
fokus perhatian para pemirsa dari masalah-masalah korupsi ke
narasi dan tayangan puing-puing akibat bencana alam yang terjadi.
Tanpa sadar akan keberadaan mereka sekarang dan masa depan yang
suram, empati dan simpati mereka curahkan pada mayat-mayat korban
yang bergelimpangan di reruntuhan bangunan, sedangkan penyebab
dari tragedi tersebut diabaikan. Mereka lupa kalau tragedi itu
adalah akibat dari penyebab yang mendahuluinya.
Mereka lupa kalau dirinya juga dilanda "badai korupsi".
Korupsi dan koruptor adalah monster kemanusiaan, yang bisa berubah
dalam banyak wujud. Di Indonesia, perkembangbiakan monster-monster
ini menakjubkan dan mengalahkan pertumbuhan populasi tikus dan
kecoa. Tikus dan kecoa akan sembunyi dan tidur di sarangnya bila
perut mereka kenyang, tapi para koruptor tidak! Mata mereka
terbelalak terus untuk melihat semua lubang sebagai kesempatan
guna memperkaya diri buat tujuh keturunan. Tikus dan kecoa bisa
diberantas dengan racun pembasmi, namun koruptor, nanti dulu!
Ketika rakyat sangat yakin terjadi sebuah korupsi dan pelakunya
juga jelas, kata Satjipto Rahardjo, pengadilan lebih banyak gagal
menghukum para koruptornya. Guru Besar Sosiologi Hukum Universitas
Diponegoro itu mengkategorikan ribuan hakim di Indonesia dalam dua
golongan -- hakim yang berpikir dengan hati nurani dan hakim yang
bertanya dulu pada perutnya, baru kemudian mencari pasal-pasal.
Akibatnya, korupsi makin merajalela dan jadi lambang kerusakan
tatanan sosial serta kemerosotan kualitas manusia dan kehidupan.
***
PERGERAKAN kapitalisme global dalam bentuk
korporatokrasi tidak mendapat banyak reaksi di negara-negara
berkembang. Itu tak lain karena bantuan para
kleptokrasi atau birokrat berwatak maling yang menjadi komprador
mereka. Hutan-hutan jadi gundul, perut bumi habis tersedot isinya,
lautan tercemar merkuri dan bahan kimia lainnya, sawah dan ladang
ditanami beton dan cerobong asap pabrik, menyebabkan meningkatnya
pemanasan global, terbentuknya rumah-rumah kaca yang merobek
lapisan ozon kian lebar, menyebabkan cairnya bongkahan es di
Antartika. Itulah penyebab dari akibat yang terjadi di Aceh, New
Orleans dan menyusul Topan Rita di Texas, AS.
Lalu, bisakah orang Indonesia berpikir? Pertanyaan yang menyundul
benak Rubag ini terinspirasi buku, "Bisakah Orang Asia Berpikir?"
karya Kishore Mahbubani. Rubag sepaham dengan Kishore, kalau Asia
merupakan tempat kelahiran peradaban dan agama-agama besar yang
kini tetap dianut sebagian besar umat manusia. Namun ironisnya,
paska Pencerahan Abad XVI dan XVII bangsa-bangsa Asia -- kecuali
Jepang dan Yahudi -- berada di bawah dominasi bangsa-bangsa Barat,
khususnya Amerika.
Kalau diikuti saran Kishore, untuk melihat seribu tahun ke
belakang, Indonesia pada saat itu berada di zaman Airlangga. Di
Jawa Tengah telah berdiri Candi Borobudur, Mendut, Prambanan dan
Pawon dari abad ke-7 yang menandakan tingginya peradaban,
juga sebagai simbol zaman keemasan Nusantara. Kalau mau berpikir,
bangsa Indonesia harus memulainya dari zaman itu.
Bung Karno dalam pledoinya di pengadilan Hindia Belanda Bandung,
yang kemudian dibukukan dengan judul "Indonesia Menggugat"
membanggakan diri sebagai bangsa yang pernah punya zaman keemasan,
yakni Sriwijaya dan Majapahit. Namun karena keserakahan dan
keangkaramurkaan kaum kolonialis dan imperialis, kata Bung Karno,
zaman keemasan itu ditutupi awan kegelapan, sehingga Indonesia
menjadi sapi perahan penjajah. Rubag sedikit menyayangkan kalau
Bung Karno telah memenggal salah satu keping sejarah, karena
sesungguhnya penjajahan tersebut berawal dari hasrat untuk
berkuasa dan hidup mewah Raja Mataram, Amangkurat I. Demi ambisi
itu, dia mengizinkan VOC mendirikan loji atau perkantoran di
Jayakarta pada 1602, yang kemudian bernama Batavia dan selanjutnya
Jakarta.
Padahal pada periode yang sama, Jepang justru melakukan politik
pintu tertutup dengan paham "Xenophobis" atau antiasing. Selama
2,5 abad -- 1600 s.d. 1868 -- Jepang mengisolasikan diri dari
pengaruh asing sembari melaksanakan "character building" dengan
disiplin ketat di bawah rezim Tokugawa. Setelah mantap secara
moral dan material, Jepang meninggalkan sistem feodal yang
bercorak monarkhi absolut menuju monarkhi konstitusional lewat
Restorasi Meiji.
Sangat berbeda dengan Amangkurat I, yang untuk mengukuhkan
kekuasaannya justru menggunakan kekuasaan asing yakni serdadu
kompeni (VOC) untuk menindas rakyatnya. Segala trik, dari cara
mengumpulkan upeti hingga teknik menyiksa rakyat diajarkan calon
penjajah itu dengan imbalan monopoli perdagangan. Di samping
menguras kekayaan Indonesia, politik adu domba antara
kerajaan-kerajaan di Tanah Air terus dilakukan. Bahkan saat VOC
bubar digerogoti korupsi, munculnya kekuasaan Hindia Belanda
mengukuhkan penjajahan Belanda terhadap Indonesia selama dua abad
lebih.
Selama penjajahan, tanpa sadar bangsa Indonesia mengadopsi dan
menyerap "character building" arahan Hindia Belanda.
Korupsi, kesewenang-wenangan, disintegrasi, penindasan penguasa
terhadap yang dikuasai, kemunafikan dan kebohongan menjadi
ciri-ciri menonjol, sehingga pas dengan semiotika komunikasi yang
disebarkan budaya postmo akhir-akhir ini. Tidak meleset
Umberto Eco mendefinisikan semiotika sebagai disiplin yang
mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta.
Kini, "character building" diajarkan infotainment, telenovela,
sinetron bercorak opera sabun dan iklan dengan aktor dan aktris
bertampang Indo dengan nuansa "American Dreams". Ketika dalam
kenyataan mereka harus ngantre berhari-hari untuk beli minyak
tanah, di layar kaca para pemirsa dapat iming-iming BOS. Saat
premium dan solar menghilang di beberapa SPBU, mereka memirsa
tentang kompensasi sebesar Rp 100 ribu per KK per bulan.
Selanjutnya, guna menghindarkan ledakan emosi rakyat yang
sebenarnya juga masyarakat televisi, hampir tiada hari terlewatkan
tanpa hiburan. Kontes dangdut, pop, rock, jazz, lawak, beraneka
ragam kuis, pemburu hantu, sulap, yang menurut istilah Zbigniew
Brzezinski disebut tittytainment. Tit berarti ujung payudara
wanita. Konon istilah itu bermakna campuran antara hiburan riuh
rendah dan pemberian pangan seadanya, guna meredakan nafsu
memberontak rakyat. Character building!
* aridus